Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 49. Pulang Ke Kotamu.



Shaka tidak pernah menyangka akan menginjakkan kakinya kembali di kota ini. Kota yang memberinya kenangan terindah sekaligus terburuk. Kota di mana reruntuhan hatinya masih tertinggal. Dan kota di mana satu nama yang masih terukhir di hatinya itu tinggal.


Tanpa bisa ia pungkiri, saat menghirup udara kota ini, luka hatinya kembali terbuka. Tersayat kembali oleh kenangan yang satu persatu muncul tanpa mampu ia halau. Ah, dua setengah tahun sudah berlalu namun hatinya belum juga sembuh. Pulang ke kota ini justru membuatnya tergelitik untuk mencari tahu kabar tentang perempuan yang telah memporakporandakan hatinya tanpa ampun itu.


Hari pertama bekerja mengelola anak perusahaan milik ayahnya, semua lancar. Shaka hanya melakukan perkenalan dan pemeriksaan proyek-proyek yang sudah berjalan sebelum kedatangannya mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Dan sesungguhnya Shaka memang belum bisa berkonsentrasi penuh dalam bekerja, mengingat ia harus menyesuaikan diri dengan tempat tinggal barunya. Terlebih lagi, menata hatinya kembali di kota ini.


"Bakalan betah nggak kira-kira kamu di sini, Nin?" Shaka mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan Jogja yang padat sore itu. Ia menoleh sekilas pada Ninda yang duduk di sampingnya.


"Betah nggak betah bukannya harus betah?" cebik Ninda. "Tapi, kayaknya betah sih, asal sama Bang Shaka di sini."


Shaka terkekeh. "Loyalitasmu udah nggak diragukan lagi, ya?"


"Ya gimana lagi. Bos-nya baik sih, nggak pelit, nggak galak, trus ... ganteng lagi," ucap Ninda.


Kembali Shaka terkekeh. "Makan dulu, yuk?" ajaknya seraya menepikan mobilnya di depan sebuah restauran bergaya Jawa. Ia memaki dalam hati. Baru disadarinya jika restauran ini dulu pernah ia kunjungi bersama Gendhis, saat selesai menonton makhluk manis itu menari di Keraton.


Hatinya seketika hampa. Shaka masih ingat kursi tempatnya dan Gendhis duduk menikmati makan siang. Ia masih ingat ekspresi wajah Gendhis saat ia mencandai pemilik wajah ayu itu.


"Bang Shaka, ngapain sih senyum-senyum sendiri?" Ninda mengerutkan kening memandang Shaka yang bersikap sedikit aneh. Bos-nya itu menatap tidak berkedip meja di dekat jendela yang kosong, sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Hah? Apa, Nin?" tanya Shaka terkesiap.


"Bang Shaka kenapa senyum-senyum sendiri? Aneh ...."


"Owh, nggak. Cuma keinget sesuatu aja."


"Ada kenangan kah di restauran ini?" goda Ninda.


Shaka terbahak. Ia tidak menyahut ucapan Ninda karena saat itu ada pelayan yang datang membawakan pesanan mereka.


"Selamat makan," ucap Ninda setelah semua menu tersaji di atas meja. "Ini apa namanya tadi? Oseng mercon?"


"Awas pedes tuh, Nin." Shaka memperingatkan. Membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk menyendok potongan daging berbentuk dadu yang bercampur dengan cabe.


"Iya sih, udah keliatan," kikik Ninda menyadari kebodohannya. "Tapi pingin cobain sebenernya. Soalnya sering denger namanya."


"Ya udah cobain aja." Shaka menyodorkan piring itu pada Ninda. "Dikit aja, kamu kan nggak tahan pedes. Jangan sampai kesedak lagi kaya dulu, repot." Ia mengingatkan kejadian beberapa bulan lalu saat Ninda tidak sengaja menelan makanan pedas. Akibatnya, sekretarisnya itu tidak henti-hentinya terbatuk bahkan sampai memuntahkan isi perutnya.


"Ah, gila! Emang mercon bener. Dikit aja udah meledak di mulut." Ninda meraih gelas air putih dan meneguk isinya hingga habis. Hanya sepotong kecil daging yang ia telan, namun mampu membuat kulit wajahnya yang putih bersemu merah.


Shaka terbahak. "Yang penting udah coba kan?"


"He'em," sahut Ninda seraya mengunyah nasi dan potongan ayam goreng yang ia pesan. "Abang jangan kebanyakan makan pedes-pedes, dong. Kasihan lambungnya tuh." Ia mengingatkan Shaka kalau lambung pemuda itu sudah bermasalah akibat pola hidup yang tidak teratur. Sering minum alkohol dan begadang.


"Iyaa, enggak kok. Udah jarang makan pedes aku, Nin. Baru mau makan pedes lagi ini. Biar inget kalau hidup juga nggak kalah pedesnya," gelak Shaka.


Ninda mencebik. "Cari cewek makanya, Bang. Biar hidupmu tuh nggak pedes-pedes amat," godanya.


"Males!"


"Kan sama kamu ke mana-mana."


Ninda merotasikan kedua bola matanya. "Selain aku, Bang."


"Males nyari. Gimana kalau kamu aja yang jadi cewekku, Nin?" kekeh Shaka.


"Ogah!"


"Sombong banget!"


Ninda mendecak sebal. "Mana ada cewek yang mau diajakin pacaran sama cowok yang masih belum bisa move on dari masa lalu," cebiknya.


Shaka tertawa berderai, meskipun hatinya merasa tertohok dengan ucapan sekretarisnya itu. Ninda seratus persen mengatakan hal yang benar.


"Dia masih tinggal di sini, Bang?" tanya Ninda. Shaka pernah menceritakan padanya tentang sosok perempuan yang menorehkan luka di hati bos-nya itu.


"Hmm? Oh, nggak. Nggak tahu aku. Mungkin udah dibawa suaminya pindah ke kota lain." Terasa begitu perih saat Shaka mengucapkan kata-kata itu.


"Bang Shaka pingin tahu kabar dia kah?" tanya Ninda penasaran.


"Aduh. Nggak tahu aku, Nin." Shaka meraih segelas air putih yang masih penuh dan meneguknya. "Nyari kabar juga buat apa coba? Apa iya aku mau jadi perebut bini orang?" kekehnya.


"Kali aja ada niatan kaya gitu." Ninda mengedikkan bahu.


Shaka menyulut sebatang rokok sesaat setelah suapan terakhir ia telan. Sementara Ninda yang baru selesai menghabiskan makanannya, melanjutkannya dengan menghabiskan segelas es teh. Gadis itu lalu menatap sang bos yang terlihat manly dengan kemeja putih yang digulung lengannya hingga ke siku, serta sebatang rokok yang bertengger di jemarinya. Entah apa yang gadis itu pikirkan tentang bos tampan yang telah mengisi hari-harinya itu.


Setelah selesai makan, Shaka mengantar Ninda ke kosnya. Sementara ia masih ada janji berkunjung ke rumah koleganya yang tinggal di daerah Timoho, tidak jauh dari rumah tinggalnya kini. Bukan sebuah kunjungan yang akan memahas pekerjaan, namun, hanya kunjungan biasa untuk mengakrabkan diri dengan koleganya di Jogja.


Memasuki sebuah perumahan elite, Shaka memelankan laju mobilnya. Dengan petunjuk map yang sudah dikirim oleh koleganya itu, ia menepikan mobil di depan pintu gerbang sebuah rumah bercat putih yang cukup besar. Ia menghentikan mobil sejenak untuk menunggu sebuah skuter warna coklat susu yang dikendarai oleh seorang perempuan bertubuh ramping, keluar dari pintu gerbang. Ia tidak bisa melihat wajah perempuan itu karena tertutup helm berkaca depan yang cukup gelap.


Setelahnya, Shaka pun melajukan mobilnya memasuki halaman yang cukup luas itu. Setelah memarkir mobilnya di depan garasi yang pintunya tertutup, ia segera keluar dan memasuki teras rumah. Di sana, seorang anak perempuan sedang duduk sambil berkutat dengan ponselnya.


"Hallo, Dek," sapa Shaka seraya mendekati anak perempuan itu.


"Hallo, Om." Si anak perempuan berwajah manis itu menyahut.


"Papa-nya ada?" tanya Shaka yang sudah bisa menebak kalau anak perempuan itu pastilah putri dari koleganya.


"Ada, Om. Aku panggilin, ya," tawarnya ramah.


Shaka mengulas senyumnya. "Boleh. Makasih, ya. Namanya siapa, Dek?"


"Marsha, Om."


***