Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 61. Pamit.



Hari ini Jogja mendung, namun awan hitam belum juga menumpahkan airnya. Seperti air mata Gendhis yang masih menggenang di pelupuk mata, saat mendapat kabar dari Pak Noto, bahwa Bisma terbangun dari komanya, namun kini dalam kondisi drop.


Ia yang sedang mengajar tari seorang muridnya, tanpa pikir panjang mengakhiri kelasnya sore itu dan bergegas ke rumah sakit di mana Bisma dirawat. Dan di sana, ia hanya medapati Bu Ratmi, ibu mertuanya, sedang menangis di pelukan Pak Noto.


"Pak, gimana keadaan Mas Bisma?" tanya Gendhis.


"Tadi sempat komunikasi sama Bapak dan Ibu. Tapi, sekarang drop lagi."


Gendhis melempar pandang ke arah Bu Ratmi. Perempuan paruh baya itu tidak mengacuhkannya. Bahkan, sejak Gendhis datang, ia sudah memasang wajah tidak bersahabat, meskipun sembari menangis di pelukan suaminya.


Namun Gendhis tidak ingin mempermasalahkan itu. Ia duduk di samping Bu Ratmi dan mengelus punggung perempuan itu dengan penuh kasih. Ia tidak membenci ibu mertuanya itu meskipun selalu dipojokkan. Mungkin dirinya sudah berada di level, berserah diri pada alam semesta. Ia tidak berharap apapun akan masa depannya. Yang jelas ia akan menerima dan menjalani apa yang sekarang ia miliki.


Obrolannya dengan Shaka kemarin, saat sang mantan mengatakan dirinya bukan malaikat yang harus selalu berbuat baik pada orang lain tanpa timbal balik, membuatnya berpikir bahwa mungkin takdirnya memang memiliki hati semurni malaikat. Tidak apa-apa. Jika ia mampu berpikir, bahwa hidup itu bukan tentang untung rugi, maka Gendhis akan menjalaninya tanpa pamrih apapun.


"Istrinya Pak Bisma ada di sini?" Seorang perawat keluar dari ruang ICU menghampiri tiga orang yang sedang saling diam itu.


Gendhis berdiri. Si perawat mempersilahkannya masuk. Bu Ratmi sempat memaksa ingin ikut masuk, namun perempuan berseragam putih itu menahannya.


"Pak Bisma berpesan, dia ingin berbicara empat mata dengan istrinya." Gendhis sempat mendengar si perawat berbicara pada Bu Ratmi sebelum ia menutup pintu.


Setelah menerima dan memakai pakaian khusus penjenguk yang diberikan oleh seorang perawat, ia masuk ke ruangan di mana Bisma terbaring di sana. Ya Gusti, sungguh hati Gendhis bagai tersayat melihat keadaan suaminya yang tidak berdaya, tergolek lemah di atas ranjang berukuran sembilan puluh centimeter itu. Hidungnya dipasangi selang kanul untuk membantu pernapasannya.


Bisma menatap sayu ke arah Gendhis yang kini sudah duduk di sampingnya dengan wajah tertutup masker. Lelaki itu mencoba untuk memberikan senyumnya pada sang istri.


"Dhis ...," panggil Bisma lemah. Gendhis meraih pelan telapak tangan Bisma dan menggenggamnya erat. "Aku ... mau pamit."


"Mas, jangan ngomong kaya gitu. Mas Bisma akan sembuh," potong Gendhis. Buliran bening yang telah menggenang di pelupuk matanya pun tumpah membasahi masker di pipinya.


"Jangan nangis, Dhis." Bisma ingin mengusap air mata di pipi Gendhis, namun ia terlalu lemah. "Kamu harus bahagia, ya?"


"Mas Bisma ...."


Bisma menggeleng pelan. "Dengerin aku, Dhis," ucapnya. "Kamu harus bahagia."


"Aku udah bahagia sama Mas Bisma. Makanya Mas Bisma cepat sembuh, biar kita bisa mulai lagi dari awal, menjalani rumah tangga yang sesungguhnya."


"Mas Bisma ...." Gendhis tergugu. Ia tidak sanggup lagi menahan tangisnya.


Bisma mengelus lembut bahu istrinya yang sedang terguncang karena tangis itu. "Inget, Dhis. Kamu harus bahagia. Itu pesanku. Bahagia yang sebenarnya." Ia terus mengucapkan kata-kata itu. Seolah-olah ia ingin benar-benar memastikan, Gendhis akan mengabulkan permintaannya. Tidak ada yang ia inginkan saat ini, kacuali melihat senyum di wajah ayu Gendhis, sebelum ...,


Dan awan hitam tidak mampu lagi membendung butiran air. Ia pun tumpah membasahi bumi. Hari itu Bisma berpamitan. Membebaskan Gendhis untuk mengejar kebahagiaannya, agar Bisma bisa tersenyum di atas sana.


Sakit, perih, seperti saat dulu ia berpisah dengan Shaka. Namun kali ini, rasa sakit atas kepergian Bisma berbeda. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya.


***


Gundukan tanah itu masih basah saat Gendhis bersimpuh di sana, mengucapkan doa-doa indah di bibirnya, untuk sebuah jiwa yang kini telah pergi, dan hanya meninggalkan raga yang terbaring diam di pangkuan bumi.


Gendhis masih betah di tempatnya bersimpuh, hingga Bu Ningsih yang dengan sabar menunggunya, memintanya untuk beranjak dari sana karena hari sudah mulai sore.


Ia diantar ke rumah Bu Ratmi dan Pak Noto. Namun Bu Ningsih tidak tega meninggalkan Gendhis sendirian di tengah-tengah keluarga Bisma yang hampir semuanya mencibir putrinya itu. Sedangkan Gendhis tidak ingin memedulikan hal itu. Selama tujuh hari ia akan tinggal di rumah mertuanya, melakukan tahlil untuk Bisma.


"Kamu ndak harus tidur di sini, Nduk." ujar Bu Ningsih yang khawatir akan perlakuan keluarga Bisma terhadap putrinya itu.


"Ndak papa, Bu. Aku mau nemanin Ibu sama Bapaknya Mas Bisma. Mereka sedang terpuruk. Begitupun aku, Bu. Biar nanti bisa saling menguatkan." Gendhis menjawab seolah-olah ia tidak peduli bahwa keluarga Bisma kini membenci dirinya.


Bu Ningsih menghela napas berat. "Yo wes nek ngono. Nanti setelah tujuh hariannya Nak Bisma selesai, pulang ke tempat Ibu, ya?" Perempuan paruh baya itu tahu, keluarga Bisma akan mengambil rumah yang dibeli oleh menantunya itu semasa hidupnya.


"Mbak, Gendhis, Nderek bela sungkawa, nggih (Ikut berbela sungkawa, ya)."


"Sing sabar yo, Ndhis."


"Yang kuat ya, Mbak Gendhis."


Ucapan dan pelukan dari orang-orang yang mengunjungi keluarga Bisma ia terima dengan baik, meskipun dikelilingi dengan tatapan-tatapan penuh kebencian. Terutama Bu Ratmi yang sepertinya tidak ikhlas dengan kepergian putranya.


***