Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 31. Bersedia Babak Belur Untuk Kamu.



"Dari tadi ngelamun aja. Mikirin apa, sih?" Shaka yang baru saja keluar dari dapur membawa segelas sirup, menyodorkannya pada Gendhis yang duduk terdiam di sofa.


"Makasih," ucap gadis itu. "Nggak mikirin apa-apa kok, Mas." Ia berusaha menyunggingkan senyuman, meski tampak hambar.


Shaka menggeleng. "Nggak usah bohong, Dhis. Kamu kalau kaya gini pasti ada yang lagi kamu pikirin."


Gendhis menatap Shaka lekat. "Emang ada. Tapi, nggak penting sih. Cuma dikit khawatir aja."


Shaka mengerutkan kening. "Khawatir apa emang?" Ia menaikkan satu kaki ke atas sofa dan menghadap ke arah Gendhis. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Tampaknya ia ragu hendak mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Aku kemarin ngobrol sama Ibu ...."


"Dan?"


Gendhis menghela napasnya berat. "Apa aku termasuk anak durhaka, Mas? Kalau tidak menuruti kata-kata Ibu?"


Shaka terkekeh. Ia tahu arah pembicaraan Gendhis. Tidak lain tidak bukan adalah tentang penentangan sang ibu terhadap hubungan mereka. "Kamu harusnya bisa jawab sendiri, Dhis. Kamu ngerasa durhaka, nggak?"


"Nggak tahu, Mas."


"Sekarang gini. Okay, ada kewajiban anak terhadap orang tua, tapi gimana tentang kewajiban orang tua terhadap anak? Saling timbal balik, Dhis. Kalau jatuhnya memaksa, itu namanya egois."


"Berarti aku egois, dong. Memaksakan kehendakku sendiri sama ibu buat nerima kamu."


Lagi-lagi Shaka terkekeh. Ia mengerti benar seperti apa kekasihnya itu. Gadis yang sangat berbakti pada keluarga. Sayang memang, keluarganya hanya bisa melihat satu saja kesalahan; yang sebenarnya bukan kesalahan, dan dengan besar kepalanya memanfaatkan sifat baik Gendhis untuk kepentingan mereka sendiri.


"Coba kamu pikir gini, Dhis. Simple-nya gini ... orang tua kamu, kalau punya mantu aku nih, rugi nggak? Toh, mereka masih bisa ketemu kamu, masih bisa ngerasain perhatian kamu. Sekarang dibalik, kalau kamu nggak punya suami aku, kamu rugi, nggak? Kalau menurutku sih kamu yang rugi," kekehnya.


"Serius, ish, Mas Shaka! Lagi didengerin juga!" gerutu gadis itu.


"Loh, aku serius, Sayang. Dalam kasus ini, kamu yang rugi, Dhis. Orang tua kamu sih tinggal buang ego mereka yang tinggi itu, beres. Kalau kamu, emang bisa hidup tanpa aku?"


Gendhis mencebikkan bibirnya. Meskipun ucapan Shaka lebih ke arah candaan, tapi jika dipikir-pikir benar adanya. Artinya, dirinya hanya mengikuti hati nurani. Sementara orang tuanya, menuruti ego mereka.


"Jadi, masih merasa durhaka sama mereka?" tanya Shaka, Bak seorang guru yang menanyakan tentang pelajaran yang sudah disampaikan pada muridnya. Apakah Gendhis sudah paham atau belum.


"Enggak, sih."


"Ya udah lah, Dhis. Kuatin hati kamu aja. Nggak gampang emang kalau urusan sama orang tua. Aku udah pernah ngalamin soalnya."


"Cerita dong, Mas," pinta Gendhis.


"Beda kasus, tapi intinya sama sih, tentang keegoisan orang tua. Mereka maunya aku gini, aku maunya gitu. Nah, jeleknya mereka tuh, orang tua pada umumnya, ya ... walaupun nggak semuanya, yang mereka lihat buruk di awal, bakal buruk seterusnya. Kalau belum ada bukti keberhasilan, ya susah buat mereka ngerti."


"Terus Mas Shaka sama orang tua gimana sekarang?"


Shaka mengangkat kedua tangannya. "Awalnya parah banget, Dhis. Tapi, sekarang mereka lihat hidupku udah tertata, ya udah ... silahkan lanjutin."


Gendhis meringis. Ia merinding mendengar ucapan Shaka. "Sungguh?" tanyanya berpura-pura meragu.


"Haduh, jangan ditanya. Sekarang pun ayo aja kalau kamu mau aku melamar kamu di hadapan orang tua kamu. Aku udah siap banget, Dhis. Nggak takut apa-apa aku selama yang aku lakuin itu benar."


"Ya nggak sekarang banget juga kali, Mas."


"Loh, lebih cepat lebih baik. Ngapain ditunda-tunda."


"Ish!" Gendhis memukul lengan Shaka pelan. "Aku siapin hati dulu, Mas. Jangan grasak-grusuk, ah."


Shaka mengulas senyumnya, lalu mengacak ujung kepala Gendhis. "Gemes," ujarnya seraya mencubit pipi gadisnya itu.


Saat hendak saling merengkuh, mereka dikejutkan oleh sebuah ketukan pintu rumah yang terbuka sedikit. Keduanya reflek menoleh ke arah pintu. Ada Reina dan Bu Nonik di sana, yang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh selidik.


"Owh, Tante ...." Shaka segera beranjak dari duduknya. Sementara Gendhis menatap dua perempuan berwajah tidak ramah yang Salah satunya pernah ia lihat dulu saat menemani Shaka membeli topeng. Perasaannya mendadak tidak enak.


"Wah, kita ngganggu nggak nih, Shaka?" Bu Nonik menatap Gendhis penuh kecurigaan. Sementara Reina sudah sejak awal melihat keberadaan Gendhis, memperlihatkan wajah masamnya.


"Emm ... nggak terlalu sih, Tante. Ada perlu apa, ya?" Shaka mempersilahkan dua perempuan itu masuk. Saat keempatnya sudah duduk bersama, Bu Nonik yang melihat putrinya sudah bersungut-sungut, segera mengambil alih situasi.


"Tante pingin main ke sini aja, Shaka. Tadi abis belanja sama Reina."


"Owh, gitu? Oh ya, Tante, kenalin ini Gendhis. Calonnya Shaka," ucap Shaka seraya meraih tangan Gendhis dan menggenggamnya erat. "Kalau Reina sih udah kenal, ya ... dulu pernah ketemu di Mirota."


Wajah Reina seketika pucat pasi mendengar pengakuan Shaka. Bibirnya bergetar tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa memandangi Gendhis dengan penuh kebencian.


"Loh, calon?" ucap Bu Nonik terkejut, lalu menatap Gendhis yang sedang melempar senyum padanya. "Shaka nih sukanya becanda aja."


"Nggak becanda, Tante." Shaka memasang wajah seriusnya. Mencoba menekankan bahwa yang diucapkannya bukan sekedar candaan semata.


"Mama!" Reina yang sudah tidak bisa menahan emosinya kini berdiri. Air matanya sudah mengalir membasahi pipi. "Ayo, pulang!"


"Loh, loh, gimana ini? Shaka ... Tante mau bicara sebentar, bisa?" Sambil memegangi lengan Reina, ia mengajak Shaka untuk keluar rumah dan berbicara di teras. Sementara Gendhis ditinggal sendiri di ruang tamu dalam kebingungan.


Apa yang bisa Gendhis tangkap adalah, Reina menaruh hati pada Shaka. Atau mereka pernah ada hubungan khusus. Yang jelas, ia mendengar suara isakan tangis gadis itu dari tempatnya duduk, dan suara perempuan berpenampilan borjuis itu sedang berbicara dengan Shaka.


Gendhis tidak ingin menguping. Ia memutuskan untuk menunggu saja Shaka selesai berbicara dengan kedua perempuan itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri, dadanya berdebar kencang saat membayangkan apa yang pernah terjadi di antara Shaka dan Reina.


Belum juga ujian terberat dari hubungannya dan Shaka mampu dilalui, sudah muncul riak-riak kecil yang begitu mengganggu. Sepertinya Gendhis harus selalu mengingat kata-kata Shaka;


Mas Shaka bersedia babak belur buat kamu


Iya. Semoga, Mas.


***