
"Kak Shakaaa."
Baru datang saja, yang keluar dari mulut Reina adalah suara rengekan. "Ditelpon nggak diangkat, ish!" gerutunya seraya mendekati Shaka dan Nita. Reina menatap Nita, dan begitu juga sebaliknya. Seakan sudah tertulis di kening masing-masing perempuan itu, sebuah kata rival.
"Hp-nya di kamar," sahut Shaka sekenanya. Sudahlah ia dibuat kesal dengan adanya Nita, masih ditambah lagi dengan si gadis annoying ini.
"Eh, ada tamu, ya ... hello, Bu," sapa Reina dengan senyum yang dipaksakan. Sudah jelas di matanya kalau perempuan yang sedang duduk berseberangan dengan Shaka itu adalah lawannya. Ia bisa melihat kalau perempuan itu menyukai Shaka.
Dipanggil dengan sebutan Bu, tentu saja membuat Nita dongkol. Apalagi oleh seseorang yang sepertinya jarak umurnya tidak terlampau jauh. Namun, wajah tak suka Nita membuat Reina merasa perlu lebih mengerjai perempuan itu.
"Dengan ibu siapa, ya?" Reina mengulurkan tangannya. "Aku Reina," ucapnya memperkenalkan diri.
Nita tidak menyahut. Ia hanya menyambut uluran tangan Reina dengan hanya menempelkan ujung jemarinya ke ujung jemari gadis itu.
"Sombong amat," gerutu Reina pelan seraya mengambil tempat duduk di sebelah Shaka. Gadis itu langsung bergelayut manja di pundak Shaka. Namun, pemuda itu menepisnya pelan, membuat Nita yang menyaksikan penolakan Shaka terhadap gadis itu, tersenyum mengejek.
"Ini siapa sih, Kak?" tanya Reina seraya melirik sengit pada Nita.
"Nita temenku," jawab Shaka pendek. Ia meraih sebungkus rokok yang entah sudah sejak kapan tergeletak di atas meja, bersama koreknya. Diambilnya sebatang lalu menyalakannya. Ia tidak meminta izin pada dua perempuan itu untuk merokok. Lain halnya jika bersama Gendhis, dirinya pasti akan meminta izin terlebih dahulu jika ingin menyulut rokoknya.
Shaka begitu cueknya menikmati hisapan-hisapan tembakau berbalut kertas itu. Ia tidak berniat mengajak ngobrol kedua perempuan itu. Ia hanya menunggu kapan mereka akan pergi dari rumahnya.
"Serius ibu ini temen Kak Shaka?" tanya Reina seraya memandang remeh ke arah Nita.
"Nggak cuma temen, ya. Tapi pernah ada sesuatu yang spesial," sinis Nita. Pikir perempuan itu, si gadis bernama Reina ini mencari perkara dengannya.
Shaka mendecak. "Nggak usah dibahas lah, Nit!"
"Loh, gimana sih, Ka? Emang kenyataannya gitu kok," sahut Nita membela diri.
Sementara Reina mencebik. "Serius ibu ini mantan Kak Shaka? Baru tahu aku," ujarnya. Terlihat jelas gadis itu sedang menahan tawanya.
Shaka beranjak dari duduknya. "Aduh, maaf banget, ya. Aku posisi baru pulang kerja dan pingin istirahat kayaknya. Capek." Ia mengusir secara halus dan berharap dua perempuan itu mengerti.
"Kak, aku kan baru dateeeng," rengek Reina.
"Makanya kalau mau dateng tuh kasih kabar dulu lah, kebiasaan macam jaelangkung kamu," sungut Shaka. "Sorry ya, Nit. Aku mau istirahat." Ia memandang ke arah Nita yang tampak jelas menunjukkan ekspresi kekecewaan di wajahnya.
Shaka tidak memedulikan lagi dua perempuan itu. Ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Menyebalkan memang. Ada dua peerempuan yang membuatnya risih dengan terus mengejar-ngejar dirinya, sementara di sisi lain, perempuan yang ia harapkan justru cukup sulit untuk ia dapatkan.
Dalam benak Shaka kini, sedang menyusun strategi bangaimana cara mendapatkan hati Gendhis.
***
Kini justru perasaannya yang tidak menentu. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang sedang dipikirkan Shaka saat ini. Apakah pemuda itu mundur dan kini menghindarinya? Ataukah Shaka masih menunggu jawabannya?
Gendhis mencoba mempertanyakan pada diri sendiri perasaannya terhadap Shaka. Apakah ia benar-benar menyukai pemuda itu, atau hanya perasaan kagum semata? Kagum atas semua yang ada dalam diri Shaka. Tampan, sudah jelas, pekerja keras, mapan, hangat, lucu, sopan dan baik. Gendhis mulai membuat daftar dalam benaknya, hal-hal menyenangkan tentang Shaka. Mungkin, seandainya orang tuanya menyambut baik kehadiran Shaka, Gendhis tidak akan berpikir sedalam ini. Sejujurnya ia masih sangat memikirkan tentang kebahagiaan orang tuanya. Terutama sang ibu, perempuan yang telah melahirkannya.
Tapi kenyataannya, malam ini Gendhis berdiam diri di dalam kamarnya, menatap layar ponselnya yang tertera nomer Shaka. Ia hanya tinggal menekan tanda panggil dan ia akan mendengar suara pemuda itu. Namun, hal itu tidak kunjung ia realisasikan. Hingga ketukan pelan di pintu kamar membuat Gendhis terkesiap.
Bu Ningsih masuk ke dalam kamar dan menghampiri Gendhis yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Perempuan paruh baya itu duduk di tepi ranjang, memandang sang putri yang tampak gelisah.
"Wonten nopo (Ada apa), Bu," tanya Gendhis seraya menegakkan punggungnya.
"Belum tidur, Ndhis?" Bu Ningsih bertanya basa-basi memulai sebuah pembicaraan.
"Sebentar lagi, Bu. Ada apa, Bu?" ulang Gendhis.
"Gini, Dhis. Besok malem itu, bapak ibunya Nak Bisma mau ke sini, sama Nak Bisma juga."
Gendhis mengerutkan kening. "Ada keperluan apa, Bu?" Dadanya berdebar memikirkan apa yang akan keluarga Bisma bicarakan dengan keluarganya besok.
"Yo ndak ada apa-apa, Ndhuk. Cuma mau silaturahmi aja. Kan sudah lama mereka ndak berkunjung ke sini."
Gendhis tentu saja tidak mempercayai begitu saja jawaban sang ibu. Pasti ada sesuatu yang penting sampai-sampai Bisma dan keluarganya menjadwalkan pertemuan dengan keluarganya. Lamaran? Tubuh Gendhis panas dingin memikirkan hal itu. Doanya, semoga itu hanya akan menjadi kunjungan biasa saja.
"Cuma itu yang mau ibu sampaikan, Ndhis."
"Nggih, Bu." Gendhis menyahut lirih. Bu Ningsih melangkah meninggalkan kaki keluar dari kamar. Hingga beberapa saat lamanya Gendhis terbengong, dengan perasaan yang begitu kacau.
Jemarinya pelan menggulir dan menekan layar untuk masuk ke dalam aplikasi pesan yang tertera nama Shaka di sana. Gendhis membulatkan tekad menuliskan sebuah pesan untuk pemuda itu.
Mas Shaka, kalau besok nggak sibuk, sepulang aku ngajar, aku pingin ngobrol. Bisa? Tapi, kalau Mas Shaka sibuk, nggak papa, nggak usah.
Gendhis menekan kata send, dan pesan pun kini terkirim ke ponsel Shaka, yang tanpa Gendhis tahu, si penerima pesan di tempat lain, terlonjak kegirangan. Meskipun, ia belum bisa memastikan, jika besok ia akan mendapat jawaban dari pernyataan hatinya terhadap Gendhis, namun, setidaknya taktik menghindar selama beberapa hari dari Gendhis membuahkan hasil. Gadis itu mengiriminya pesan terlebih dahulu. Mungkinkah Gendhis rindu padanya?
Shaka terpaksa meminta pendapat Danang, rekan kerjanya di bengkel, yang memproklamirkan dirinya sebagai dukun cinta. Meskipun anehnya, pemuda kurus itu selalu gagal dalam membina sebuah hubungan serius. Danang justru mengusulkan agar Shaka menarik diri dan tidak menghubungi Gendhis untuk sementara waktu.
Dan, voila!
Optimis. Alam semesta bersamanya dan merestuinya. Seperti saat Dia mempertemukan dirinya dan gadis ayu itu pertama kali.
***