
"Bang, tanda tangan dulu nih." Ninda muncul dari balik pintu ruang kerja Shaka sambil membawa satu map di tangannya.
"Apa nih?" tanya Shaka seraya menerima map yang disodorkan oleh Ninda padanya.
"Laporan dana bulan ini dari kontraktor."
"Owh." Shaka mengulas senyumnya. "Duduk!" perintah Shaka pada gadis itu. Ia lalu membaca dengan seksama laporan penggunaan dana oleh kontraktor pada kertas-kertas yang ada di tangannya. Semua terlihat beres dan sesuai dengan catatan staff accounting yang sempat ia periksa.
Shaka pun segera meraih pulpen dari dalam wadah bundar di sampingnya dan menggoreskan tinta pada bagian paling bawah kertas. "Udah, nih." Ia memasukkan kertas-kertas ke dalam map kembali dan menyerahkannya pada Ninda.
"Makasih, Bang," ucap Ninda seraya mengulas senyumnya.
"Eh, bentar, Nin ... jangan pergi dulu," cegah Shaka saat gadis itu hendak beranjak dari duduknya.
"Apa, Bang?"
"Kamu belum jadi beli peralatan buat di kos, kan?"
"Iya, belum sempat, Bang. Kenapa?"
"Bareng aku ntar ya pulang kerja."
Ninda mengerutkan keningnya. "Bang Shaka mau beli juga?"
"Dikit."
"Ya udah. Aku lanjut kerja dulu."
Shaka membuat huruf O dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Kemudian ia berkutat kembali dengan layar laptopnya memeriksa email-email yang masuk.
Sore harinya setelah menyelesaikan pekerjaannya, seperti yang sudah direncanakan, Shaka menemani Ninda ke sebuah swalayan khusus peralatan rumah tangga yang ada di daerah Malioboro.
"Yang mau aku beli banyak loh, Bang," ujar Ninda sambil melihat-lihat pilihan rak sepatu yang berjejer di depannya.
"Santai." Shaka mengulas senyumnya.
"Lama loh nungguin cewek belanja tuh."
"Udah, santai aja, Nin. Nggak ada acara juga aku. Males pulang cepet-cepet ke rumah. Sepi," kekeh Shaka. Ia hanya membutuhkan beberapa potong handuk, dan sudah didapatkannya. Kini Shaka berniat menemani Ninda berbelanja.
"Makanya cari istri biar ada yang nemenin di rumah," seloroh Ninda.
"Kenal deket sama cewek aja kamu doang, ini malah disuruh nyari istri."
Ninda mencebikkan bibir. "Ya makanya usaha nyari, Bang. Kalau nggak diniatin mana ketemu."
Shaka menggaruk kepalanya sambil meringis. "Nggak ada yang pas."
"Eh, dulu perasaan ada si Reina tuh, anak kolega Papamu, Bang. Beberapa kali dateng ke kantor kan nyariin Abang. Kirain kalian pacaran."
"Enggaklah. She's not my type," kekeh Shaka.
"Duh, susah emang Abang, nih. Susah move on." Ninda tergelak. "Aku penasaran nih sama cewekmu dulu tuh. Kaya apa sih, kok sampai bikin Abang susah move on gini?"
Shaka tertawa. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga saat harus mengingat bagaimana wujud seorang Gendhis Ayuning Ratri. "Cantik lah yang jelas," ujarnya.
"Masih nyimpen fotonya kah?" tanya Ninda penasaran.
"Masih lah."
"Di hp ada?"
Shaka merogoh ponsel di dalam saku celananya. "Ada nggak ya di hp. Aku nyimpennya di laptop soalnya."
Ninda menunggu Shaka menggulir layar ponsel mencari foto mantan kekasihnya itu. "Ada, nggak?" tanyanya tidak sabar.
"Bentar ...." Shaka masih menggulir layar ponsel mencari foto Gendhis. Sepertinya dulu ia tidak menghapus semua foto gadis itu di dalam ponselnya. Ada beberapa yang ia biarkan menjadi penghuni benda itu.
"Mana, Bang?" tagih Ninda membuat Shaka terkesiap.
"Oh, nih." Ia menunjukkan layar ponselnya pada Ninda.
"Waah, cantik banget. Manis dan elegan. Pantesan susah dilupain," kekeh Ninda. "Kalau mau nyari yang modelan begini sih susah emang."
"Paham kan kamu sekarang?"
Ninda meringis. "Paham, Bang. Ya jelas lah cewek-cewek yang mau deket sama Abang pada insecure semua kalau tahu mantan Abang begini penampakannya." Ia memanyunkan bibirnya.
"Bisa aja kamu, Nin." Shaka mengacak ujung kepala Ninda sekilas. Gadis itu mengulas senyum tipis. Ia lalu melanjutkan perburuannya dengan menjauh dari Shaka. Sementara Shaka berdiri tertegun di tempatnya. Obrolannya dengan Ninda tentang Gendhis, serta pendapat sekretarisnya akan perempuan pujaan hatinya membuat Shaka semakin tergelitik untuk mencari kabar tentang si pemilik wajah ayu itu.
Tapi, dari mana ia akan memulai? Dan untuk apa? Bagaimana jika Gendhis ternyata sudah melanjutkan hidupnya dan berbahagia dengan lelaki pilihan orang tuanya? Jika begitu kejadiannya, bukankah ia akan semakin terpuruk dalam luka yang tidak berkesudahan?
Di sisi lain hati kecilnya mengatakan jika ia harus mencoba untuk berjuang sekali lagi, melanjutkan perjuangannya yang sempat terhenti. Meskipun, mungkin perjuangannya kali ini akan semakin berat, di mana bukan hanya orang-orang di sekitar Gendhis yang harus ia hadapi, namun juga hati Gendhis yang harus ia raih kembali.
Setelah mengantar Ninda pulang, Shaka nekad pergi ke rumah sahabatnya Handi, sebagai langkah awal ia mencari informasi tentang Gendhis. Tentu ia bisa langsung pergi ke rumah gadis itu. Namun, ia pikir itu adalah sebuah tindakan yang gegabah. Ia pun tidak ingin membuat shock Gendhis dan orang-orang di sekitarnya dengan tiba-tiba muncul dan menabuh genderang perang.
"Udah lama aku nggak denger kabar Gendhis, Ka," ucap Handi saat ditemui Shaka sore itu. Keduanya duduk di balai kecil yang ada di halaman rumah Handi, yang menghadap ke arah halaman sanggar tari yang tampak sepi. Hanya terdengar suara gamelan mengalun lembut dari dalam sanggar. "Nah, coba nanya ke sanggar, deh."
"Emangnya dia masih ngajar di situ?" tanya Shaka seraya mengambil secangkir kopi yang disajikan oleh Handi beberapa saat lalu.
"Udah lama nggak liat juga. Kayaknya enggak, deh, sejak dia ... nikah."
Dada Shaka bergemuruh saat mendengar satu kata paling menyebalkan yang diucapkan oleh sang sahabat. Rasanya, kenangan buruk hari itu saat ia mengejar Gendhis hingga ke masjid Agung, dan terlambat menghentikan acara akad nikahnya dengan Bisma, kembali menyeruak menorehkan luka kembali.
"Han ... aku mau minta pendapatmu kayaknya," ucap Shaka.
"Apa, Ka?" Pemuda berbadan tambun itu menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Aku pingin dapetin Gendhis lagi. Aku pingin lanjutin perjuanganku dulu."
Handi mengulas senyum tipis. "Coba temui Bu Ratna yang punya sanggar itu, Ka. Mungkin dia punya info tentang kehidupan Gendhis sekarang." Ia memajukan dagu menunjuk ke arah sanggar. Beberapa anak perempuan baru saja keluar dari balik pintu.
"Semoga lancar, Ka. Aku support apa pun yang terbaik buatmu lah," kekeh Handi saat Shaka hendak berjalan keluar halaman rumahnya dan masuk ke area sanggar.
Shaka berjalan melewati beberapa anak perempuan yang masih berada di halaman, sambil melempar senyumnya. "Bu Ratna ada, Dek?" tanyanya pada anak-anak itu.
"Ada, Om. Masuk aja."
Shaka mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam bangunan rumah joglo yang tampak sudah berumur itu. Ini pertama kalinya Shaka masuk ke dalam sanggar tari tempat dulu Gendhis mengajar. Suasana teduh langsung terasa begitu ia menginjakkan kaki di dalam ruangan yang tampak seperti pendopo itu, dengan aroma dupa yang membuat Shaka seperti sedang berada di masa lampau.
"Hallo, Bu. Selamat sore," sapa Shaka pada seorang perempuan paruh baya yang sedang berjalan gemulai ke arahnya sambil mengulas senyum ramah.
"Injih, Mas, pripun (Iya, Mas, gimana)?"
"Bu Ratna, ya?"
"injih, kulo, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" Bu Ratna dengan bahasanya yang halus, bertanya.
"Mbak Gendhis-nya masih ngajar di sini?" tanya Shaka berbasa-basi.
"Oh, Mbak Gendhis sudah lama ndak ngajar di sini. Panjenengan siapanya Mbak Gendhis, njih?"
"Saya teman lama dari Jakarta. Sudah lama hilang kontak, Bu," pancing Shaka. Ia berharap perempuan itu mau memberinya informasi tentang Gendhis tanpa ia bertanya secara detail.
"Mbak Gendhis sekarang sepertinya masih ngajar tari, tapi yang saya tahu ngajarnya prifat."
Mengajar tari prifat. Ingatan Shaka langsung melayang pada Marsha. Ayahnya mengatakan kalau Marsha sedang les tari di rumah dan diajar oleh seorang guru les tari. Mungkinkah guru Marsha itu Gendhis?
Guru les tari di Jogja pasti banyak, Shaka. Tidak mungkin kebetulan guru anak koleganya itu adalah Gendhis.
Tapi, Shaka teringat dulu bagaimana alam semesta berkonspirasi saat mempertemukannya pertama kali dengan Gendhis. Bukan tidak mungkin, setelah kesakitan yang ia lalui selama dua setengah tahun ini, alam semesta berbelas kasihan padanya dan memutuskan untuk melakukan konspirasi kembali.
***