
Acara pingit-memingit pengantin selama lima belas hari rupanya bukan omong kosong semata. Shaka benar-benar harus merasakan betapa tersiksanya dirinya tidak melihat Gendhis selama itu.
Bahkan mereka dilarang untuk berhubungan lewat telepon. Katanya supaya tidak terkena sial. Sebagai orang Jakarta yang tidak terlalu percaya hal-hal semacam itu, Shaka sejujurnya ingin protes. Namun, tidak apalah. Toh, setelah ini, ia akan bersanding dengan Gendhis setiap harinya.
Ia pernah berpisah dengan Gendhis selama lebih dari dua tahun. Lebih menyiksa dari pada sekedar acara pingitan. Tentu Shaka akan melaluinya dengan mudah.
Semua persiapan pernikahan sudah hampir seratus persen. Birokrasi dan *****-bengeknya sudah berhasil diselesaikan. Hanya tinggal menunggu hari H-nya saja.
Dan perjuangan Shaka mendapatkan Gendhis dengan berdarah-darah akhirnya terbayar sudah saat ia ngucapkan janji pernikahan di depan penghulu. Begitu lancar, tanpa halangan suatu apapun.
Sebuah upacara pernikahan yang sederhana, seperti permintaan Gendhis. Namun, begitu hikmat dan sakral.
Semua rasa sakit dan penderitaan serta perjuangan yang berliku antara Shaka dan Gendhis, akhirnya bermuara di sebuah kamar luas milik Shaka yang sudah disiapkan sedemikian rupa.
Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dua sejoli yang telah lama menahan dahaga yang berkepanjangan.
Namun, nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Setelah menjalani prosesi pernikahan dan segala sesuatunya yang cukup menguras energi, Shaka dan Gendhis duduk bersebelahan di pinggir ranjang mereka, dengan perasaan canggung yang luar biasa.
Bahkan untuk sekedar saling menggenggam tangan saja keduanya harus berpikir seribu kali.
"Kok, jadi gini, ya?" Shaka menggaruk kepalanya. Bingung. "Ngobrol dulu aja, lah, ya, Dhis," kekehnya.
"Ya, terserah Mas Shaka ajalah." Gendhis malu-malu sambil menundukkan kepala. Namun, senyumnya terus tersungging di bibirnya yang diolesi pewarna bibir merah muda.
Sebenarnya, malam ini adalah malam kedua mereka akan melakukan aktifitas itu. Namun, berhubung jaraknya sudah sangat lama, malam ini terasa seperti malam pertama bagi mereka.
Ingatan detail lekuk tubuh masing-masing pun sudah mulai memudar. Semua itu membutuhkan penyegaran. Namun, mereka berdua harus melawan rasa canggung yang luar biasa.
"Aku buka baju dulu, ya, Dhis. Gerah, nih." Tanpa menunggu persetujuan Gendhis, Shaka membuka kaus putih yang membalut badannya.
Gendhis sebenarnya sedikit merasa kontra dengan ucapan Shaka. Sebabnya, ruangan kamar ini sudah dilengkapi pendingin ruangan. Jika Shaka merasa kepanasan, itu hal yang tidak mungkin. Jangan-jangan cuma modus, pikirnya.
"Yang panas, tuh, di dalem. Panas dalem." Shaka menimpali apa yang dipikirkan Gendhis. Meskipun Gendhis belum mengucapkannya, namun, ia sudah tahu apa yang ada di dalam benak makhluk manis itu.
"Kamu emang nggak panas, Dhis?" tanya Shaka kemudian.
"Panas, sih ... tapi dingin," timpal Gendhis sambil meringis.
"Oh, panas dingin. Kenapa, tuh?"
Gendhis sebal sekali kenapa Shaka harus melontarkan pertanyaan yang menjebak seperti itu. Seharusnya ia sudah tahu apa yang Gendhis rasakan. Tidak perlu memancingnya seperti itu.
Wanita ayu itu juga terheran-heran kenapa Shaka yang biasanya jahil, kini menjadi mati kutu seperti itu. Gendhis sebagai wanita tentunya hanya bisa menunggu. Maksudnya, wanita yang memiliki karakter lemah lembut seperti dirinya, tentu saja akan terlihat aneh jika tiba-tiba ia bersikap agresif-nanti penulisnya dituduh kontradiksi.
Jadi, selama hampir satu jam keduanya tidak ada yang ingin memulai terlebih dahulu.
"Boleh tanya sesuatu, nggak, Dhis?" tanya Shaka.
"Apa, Mas?" Gendhis menatap Shaka lekat; lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.
"Ini agak pribadi, sih. Janji nggak boleh marah, ya?"
"Enggak marah."
"Jadi, dulu selama menikah dengan Bisma, udah pernah ...." Shaka menautkan kedua telapak tangannya, membuat simbol penyatuan.
"Pernah."
"Kalau boleh jujur, aku nggak pernah menikmati, Mas."
"Iya, aku tahu." Shaka memanyunkan bibirnya. "Kamu inget aku terus, kan?"
Gendhis hampir saja tersedak Saliva yang hendak melewati tenggorokannya. "Kayaknya gitu."
"Jelas lah, nggak ada yang bisa memperlakukan kamu seperti aku," ucap Shaka dengan congkaknya.
"Kamu sama Ninda belum ngapa-ngapain, kan, Mas?" tanya Gendhis seraya melayangkan tatapan curiga.
"Ya, enggak pernah lah. Aku kan nggak ada hubungan apa-apa sama dia."
"Sama Reina?"
"Apalagi sama dia."
"Sama Nita?"
"Hmmm ...." Shaka mengelus dagunya, berpura-pura ia sedang mengingat sesuatu. "Ini doang," ucapnya sambil menyentuh bibirnya sendiri. "Sama ini ...." Shaka menyentuh pelan dada Gendhis.
"Ish!" Gendhis menepis tangan Shaka sambil bersungut-sungut.
"Dijawab jujur salah, nggak dijawab jujur salah. Susah emang perempuan," gerutu Shaka.
"Mas Shaka yang mulai duluan."
"Kan aku nanya sekali doang. Kamu malah ngebalesnya nanya berkali-kali. Mirip investigasi," keluh Shaka.
Gendhis mencebik. Namun, tanpa mereka sadari, rasa canggung di antara keduanya mulai memudar. Dan obrolan mengalir tiada henti. Sesekali diselingi suara gelak tawa bahagia.
Hingga malam semakin larut, dan obrolan berhenti dan kini tubuh merekalah yang berbicara.
"Nyaman banget, ya, Dhis. Cuma, adrenalinnya kurang greng," kekeh Shaka. Ia sudah memosisikan dirinya di atas perempuan yang kini bertatus sebagai istrinya itu.
"Aku nggak suka adrenalin. Aku suka yang normal aja," sahut Gendhis seraya berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah dengan rambutnya.
"Iket dong rambutmu," pinta Shaka.
Gendhis menuruti. Ia meloloskan ikat rambut yang melingkar di lengannya. Kemudian dengan gerakan yang anggun ia mengikat rambut hitam panjangnya.
"Manisnya, ya, ampun," puji Shaka. Ia pandangi wajah ayu yang menyejukkan matanya itu. Ia ciumi bibir tipis nan lembut itu dengan penuh kasih sayang. Rasanya, ia tidak tega untuk berbuat liar pada makhluk istimewa itu.
Keduanya melalui malam panjang yang terasa begitu manis. Bersatu saat dunia merestui dan mengamini. Saling melengkapi satu sama lain. Karena esok hari, lembaran baru fase kehidupan Shaka dan Gendhis akan dimulai.
Bersambung ....
***
Hi, Teman-teman, maaf, ya, lama banget masuk petinya. Di dunia nyata aku bener-bener lagi sibuk kemarin. Permusikan, tidur, deadline novel di apk lain, tidur, tidur, tidur dan tidur.
Intinya sibuk TIDUR. Wkwkkwk.
Mudah-mudahan kalian masih menunggu dan setia membaca tulisan-tulisanku.
Love, y'all.