Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 77. Keceplosan.



"Kenapa mukanya suram gitu, Dhis?" tanya Shaka saat baru saja tiba di rumah. Ia teliti wajah Gendhis yang menyambutnya tanpa keceriaan.


"Nggak papa," jawab Gendhis sembari mengambil tas kerja milik Shaka dan menaruhnya di atas buffet.


"Nggak mungkin," decak Shaka. Ia menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. "Pasti ada apa-apa, nih," tebaknya.


Gendhis menggeleng. "Mas Shaka mau makan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Makan di luar aja, ya?" tawar Shaka sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Di sana, ia melepas semua yang melekat pada tubuhnya dan menutupinya dengan handuk.


"Tapi aku belum mandi. Tadi habis ngajar, aku beres-beres rumah dulu, baru selesai, nih, Mas," ucap Gendhis yang mengikutinya masuk ke kamar.


Shaka tersenyum jahil. "Ayo, bareng aja," ucapnya.


"Ih, nggak, ah! Mas Shaka duluan aja." Gendhis mengambil baju Shaka yang tergeletak di atas ranjang dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Yaah, padahal pingin mandi bareng."


"Nggak!" tegas Gendhis tanpa memedulikan raut wajah kecewa Shaka. Kemudian ia mencibir dan berlalu dari dalam kamar.


Ia memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu. Sebabnya, kalau ia ikut mandi dengan Shaka, maka durasi membersihkan badan mereka akan sangat lama.


Dua puluh menit kemudian Shaka dan Gendhis selesai membersihkan diri, dan keduanya kembali bertemu di dalam kamar.


"Kamu mandi di kamar mandi tamu?" tanya Shaka sembari mengeringkan rambutnya.


"Iyalah, biar cepet." Gendhis berjalan menuju lemari pakaian dan memilih-milih baju yang akan dipakainya.


Pilihannya jatuh pada dress sepanjang lutut bunga-bunga favoritnya. Ia sudah beberapa kali memakainya di depan Shaka, dari zaman awal mereka dekat, pacaran, dan saat kembali melakukan pendekatan, lalu saat ini.


Shaka bilang ia sangat suka saat Gendhis mengenakan dress favoritnya ini. Pujian Shaka membuatnya melayang.


"Tahu aja aku suka kamu pakai baju itu," celetuk Shaka. Ia tengah memakai kaos dan celana pendeknya. Kemudian menyisir rambut serapi mungkin.


Gendhis hanya mencebik. Lalu tanpa malu-malu melepas handuk, dan memakai pakaian dalam. "Eh!" pekiknya saat Shaka memeluknya dari belakang.


"Jangan pakai baju dulu," pinta Shaka sambil menciumi lembut tengkuk Gendhis.


"Ish! Mas, katanya mau makan di luar," protes Gendhis sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Shaka.


"Bentar, sih. Ini kamu tumben lagi nggak malu-malu naked di depanku dalam keadaan sadar. Biar aku nikmati moment ini."


Gendhis mengerenyitkan kening. "Dalam keadaan sadar?" tanyanya keheranan.


"Iya. Biasanya kan kalau di atas ranjang, kamu ...."


Gendhis buru-buru memutar badan dan membungkam mulut Shaka dengan telapak tangan. "Nggak usah diterusin!" hardiknya.


Shaka tergelak. Setiap ingin membicarakan aktifitas panas mereka, Gendhis selalu mencegahnya. Entah karena malu atau memang Gendhis tidak ingin membeberkan bagaimana tingkah lakunya saat mereka beradu fisik.


"Eh, Dhis, aku lupa lagi nunggu jawaban kamu atas pertanyaanku tadi," tagih Shaka.


"Beneran?"


"Iya, Mas. Beneran." Gendhis menggandeng lengan Shaka keluar dari kamar.


Keduanya melangkah keluar dari rumah dan secara kebetulan, tetangga mereka, Ratih, juga sedang mendorong stroller; dengan anak balitanya yang sedang tertidur disana, baru saja keluar dari balik pintu rumahnya.


"Mas Shaka!" panggil Ratih sambil melambaikan tangan. Dengan wajah semringah ia berjalan mendekat ke arah pagar pembatas rumah.


Shaka yang hendak melangkah menuju mobilnya pun menyambut lambaian tangan Ratih dengan senyuman ramah. "Sore, Mbak Ratih," sapanya.


"Mau ke mana, nih, ganteng amat?" tanya Ratih tanpa memedulikan Gendhis yang berdiri di samping Shaka. Menoleh padanya dan sekedar memberi senyuman saja tidak.


"Mau makan di luar, nih, Mbak."


"Wah, kok, makan di luar? Mbak Gendhis nggak masak?" tanya Ratih, seakan sedang mencari kesalahan Gendhis.


"Emang aku pingin makan di luar, kok." Shaka mengulas senyumnya kembali.


"Ah, biasanya alasan para suami, tuh, gitu. Padahal, nggak begitu doyan masakan istri, atau, emang istrinya males masak, atau mungkin, istrinya nggak bisa masak."


Ratih melirik ke arah Gendhis, seakan ia sedang menghakiminya. "Itu, sih, yang aku lihat dari temen-temenku, ya. Kalau aku, sih, pinter masak dan Bapaknya Qilla juga suka banget."


..."Masakan istriku juga enak banget," timpal Shaka seraya mengelus lengan Gendhis. "Cuma lagi pingin ajak dia jalan-jalan aja, sih, Mbak."...


"Owh, ya, pantes Mbak Gendhis bisa masak, bisa melayani suami dengan baik. Kan, udah pengalaman kedua, ya, Mbak, ya?" kikik Ratih.


"Duluan, ya, Mbak Ratih," ujar Shaka seraya membuka pintu mobil untuk Gendhis. Ia berpikir, sepertinya wanita itu yang membuat Gendhis terlihat murung saat ia baru pulang tadi.


Shaka melajukan mobilnya pelan keluar dari halaman rumah. Ia melirik Gendhis yang sedang menatap keluar kaca jendela.


"Tahu, nih, aku sekarang. Tetangga, ya, yang bikin kamu murung tadi?" tebak Shaka.


"Hmm? Enggak," kilah Gendhis.


Namun, dugaan Shaka sudah begitu kuat. "Dia bilang apa sama kamu, Sayang?" tanyanya.


Gendhis menghela napasnya berat. Dengan terpaksa ia pun menceritakan obrolan tidak enaknya dengan Ratih.


"Nggak usah didengerin. Ratih emang kaya gitu orangnya. Nyinyir," ujar Shaka sambil menyatukan ujung jemarinya, lalu membuka dan menutupnya.


"Ya, males aja, sih, Mas."


"Biasa dia itu. Dulu waktu Ninda sering main ke rumah juga digituin sama dia."


Gendhis menoleh ke arah Shaka dan menyipitkan matanya. "Ninda dulu sering main ke rumah?"


Shaka menelan salivanya dengan penuh perjuangan. Ia baru menyadari kalau dirinya sudah salah ucap.


***