Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 5. Gemulai Gerakanmu.



Gendhis membenarkan posisi jamang berhias bulu merak di kepalanya. Ia mematut diri di depan cermin lipat yang ia letakkan di atas meja kecil. Sepertinya tidak ada yang kurang dengan riasan wajahnya, begitu juga pakaian dan aksesoris yang menempel di tubuh rampingnya. Namun, hari ini ia merasa lebih gugup dari biasanya. Entah kenapa.


"Dhis, alisku piye?"


"Udah bagus." Gendhis memeriksa wajah gadis yang duduk di sampingnya. Lalu gerakan jari telunjuknya menyempurnakan lukisan pensil alis yang dibuat oleh si gadis.


Dari arah pendopo, terdengar alunan gamelan lembut dengan suara sinden mendendangkan lagu sekaran yang indah. Gendhis melongok ke arah pintu ruangan tempatnya dan teman-teman penarinya merias diri. Sudah banyak wisatawan yang berada di sekitar pendopo.


Saat berbaris dengan enam orang temannya, dadanya kembali berdegup. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan pentas kecil seperti ini. Sudah puluhan kali ia menari disaksikan banyak penonton. Namun, entah kenapa hari ini seperti ada yang salah dengan kepercayaan dirinya.


Di baris keempat, Gendhis berjalan pelan mengikuti langkah ketiga penari keluar dari ruangan rias menuju ke pendopo. Tentunya banyak pasang mata kini memandang ke arah mereka.


Gendhis tidak melihat Bisma di antara wisatawan lokal yang duduk mengelilingi pendopo. Sepertinya pemuda itu mengurungkan niat untuk datang menonton. Pikirnya, begitu lebih baik.


Ia juga belum melihat sosok Shaka di antara penonton. Seperti yang pemuda itu katakan, mungkin ia memang belum bangun. Namun, hal itu justru membuatnya lega. Rasa gugup yang sejak di dalam ruang rias menyerangnya, pelan-pelan menghilang. Tubuh rampingnya kini berharmonisasi dengan suara gamelan lembut menciptakan gerakan-gerakan magis, membuat semua mata yang menyaksikan terpana akan keindahan gemulainya.


Tidak terkecuali sosok pemuda yang duduk di antara turis-turis mancanegara. Pandangan matanya mengikuti ke mana pun gerakan tubuh sang penari berwajah ayu itu.


Sesekali ia mengabadikan momen-momen indah tubuh Gendhis mengikuti alunan gamelan, dengan sebuah kamera mirrorless dari brand ternama. Efek retro yang dihasilkan dari jepretannya, membuat Gendhis terlihat begitu classy.


Gendhis sepertinya tidak menyadari kehadiran Shaka di sana. Sepanjang pertunjukan, gadis itu tidak pernah bertemu pandang dengannya. Hingga akhirnya pentas tari selesai, Shaka memutuskan berjalan-jalan ke museum keraton yang berada di sekitar pendopo, untuk menunggu Gendhis selesai melepas riasannya, mungkin.


Toh, selama beberapa bulan tinggal di kota ini, ia belum pernah sekalipun mengunjungi tempat-tempat yang menjadi aset kota budaya ini. Shaka didampingi seorang pemandu wisata keraton yang sudah sepuh, namun masih begitu enerjik menjelaskan apapun yang Shaka tanyakan tentang barang-barang yang ada di dalam museum.


Empat puluh lima menit berlalu, Shaka selesai berkeliling. Beberapa saat setelah ia keluar dari dalam museum, ia melihat Gendhis keluar bersama seorang temannya. Namun keduanya berpisah dan gadis itu berjalan keluar dari area pendopo.


Shaka segera mengejar langkah cepat Gendhis. Gadis itu tampak terkejut melihat kehadiran Shaka yang tiba-tiba. "Mas Shaka udah lama di sini?" Ia memperhatikan penampilan Shaka yang cukup rapi. Kemeja kotak-kotak perpaduan warna putih dan biru, lalu jean hitam dan sepatu casual. Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini ia sisir rapi ke belakang, dan menyisakan sehelai anak rambut yang jatuh di keningnya.


"Udah, dong. Kan nonton kamu tadi."


"Masa, sih? Aku kok nggak lihat, ya?"


"Nih, lihat." Shaka memperlihatkan hasil jepretannya sewaktu pentas tari berlangsung, pada gadis itu. "Asli. Kamu bikin aku terpukau," kekehnya.


Gendhis tersenyum malu. Untung saja ia tidak melihat kehadiran Shaka tadi.


"Eh, Dhis, aku belum sarapan, nih. Ada rekomendasi tempat makan enak, nggak, di Alkid?"


"Ini sarapan apa makan siang, Mas?" kekeh Gendhis seraya melirik jam di pergelangan tangan.


"Digabung ajalah," sahut Shaka.


"Ada banyak, Mas. Mau pinggir jalan, warung makan atau restauran?"


"Restauran ajalah. Biar enak buat ngobrol."


"Owh, mau makan siang bareng temen?"


"Owh ...." Gendhis mengelus tengkuknya canggung. "Aku udah makan sih, Mas."


"Temenin aja kalau gitu, atau ngemil apa kek. Nggak buru-buru pulang, kan? Hari minggu inih."


Gendhis mengulas senyumnya sambil tertunduk. Shaka benar-benar membuatnya canggung luar biasa. Pasalnya, pembawaan pemuda itu santai, tatapan matanya hangat, dan gesture tubuhnya luwes hingga sesekali lengan mereka bersentuhan tanpa sengaja.


"Ini tempat makannya?" tanya Shaka saat keduanya sampai di depan sebuah rumah makan dengan desain Jawa klasik.


Gendhis mengangguk. Lalu mempersilahkan Shaka untuk masuk ke dalam restaurant terlebih dahulu.


"Ladies first, dong," protes Shaka, lalu meminta Gendhis untuk mendahuluinya. Ia mengikuti gadis itu masuk. Seorang pelayan dengan pakaian kebaya dan kain jarik, menyambut keduanya dan mempersilahkan mereka memilih makanan yang tersaji dengan konsep prasmanan.


"Wih, mantap hih," ujar Shaka sambil tangannya sibuk memilih-milih lauk yang terdiri dari banyak macamnya itu, dan menatanya di atas piring yang tadi ia ambil. "Yakin, nih ... nggak mau makan?" godanya pada Gendhis yang hanya melihat-lihat lauk tanpa berniat mengambil.


"Yakin, Mas ... udah kenyang. Minum aja paling."


"Mau minum apa? Nanti tak pesenin. Kamu pilih kursi aja, Dhis."


Gendhis mengangguk. "Es jeruk aja, Mas."


"Ngemil?" tawar Shaka.


"Enggak usah, Mas." Gendhis menggerakkan telapak tangan ke kanan dan kirinya.


"Takut gendut, ya?" Shaka mengerling ke arah Gendhis. Tepatnya ke arah tubuh bagian atasnya yang terbalut kaus lengan panjang tanpa kerah yang sedikit kedodoran.


Gendhis tertawa renyah. Ia lalu memutar badan dan melangkah menuju meja kosong yang berada di dekat jendela. Gadis itu menarik kursi dan menaruh pan tatnya di sana. Sepasang matanya tertuju pada Shaka yang sedang berbicara dengan pelayan sembari menyerahkan piring penuh lauknya pada si perempuan berkebaya.


Beberapa saat kemudian Shaka melangkah ke arah Gendhis dan menarik kursi di seberang gadis itu. "Nggak enak sebenernya makan sendirian," kekehnya sembari duduk di kursinya.


Gendhis kembali mengulas senyum tipisnya. Duduk berhadapan dengan pemuda ini semakin membuatnya mati gaya.


"Tadi tuh keren banget kamu," puji Shaka. "Aku sampai nggak sempet ambil foto kamu banyak-banyak soalnya fokus nonton." Gendhis hanya bisa tersenyum mendapat pujian dari Shaka. "Tahu nggak, Dhis. Ini sih lucu, ya ... waktu pertama ngobrol sama kamu di bengkel, aku pikir kamu cocok jadi penari. Eh, nggak tahunya bener, ya."


"Gitu ya, Mas?" timpal Gendhis.


Shaka mengangguk. Ia menata piring-piring berisi menu makan siangnya yang baru saja diantar oleh si pelayan.


"Next time bisa nggak jadi pemanduku datengin tempat-tempat asyik di sini? Aku belum sempat keliling-keliling." Ide itu muncul begitu saja di dalam benaknya. Meskipun sebenarnya ia bisa minta tolong Handi jadi pemandu wisata dadakan untuknya, namun, ia pikir akan jauh lebih menyenangkan jika Gendhis yang menjadi pemandunya. Tentunya gadis itu lebih sedap dipandang mata dibanding dengan Handi.


"Memangnya Mas Shaka udah berapa lama tinggal di Jogja?"


***