Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 55. Ide-nya Itu Modus.



"Maaf sih, Nin ...." Shaka membujuk Ninda yang sejak dirinya menjemput gadis itu di kosnya, mendiamkannya terus menerus. Hingga kini gadis itu berada di dalam mobil Shaka, bibirnya pun masih terkunci rapat.


"Nin, ngomong, dong," pinta Shaka seraya menoleh sekilas pada Ninda.


"Males!"


Shaka terkekeh. "Gitu, dong," ujarnya lega. "Tadi tuh aku ketemu dia ...."


Ninda menoleh ke arah Shaka. "Mantanmu?"


"Iya, Nin."


"Di mana?"


"Di Kerathon. Tadi kan lewat sana, iseng aja sih mampir. Eh, nggak taunya ketemu dia di sana."


Ninda membulatkan kedua matanya. "Kok bisa kebetulan gitu, Bang?"


Shaka mengedikkan bahu. Semua memang penuh dengan misteri. Terkadang hal-hal yang kemungkinannya sangat kecil menurut manusia, justru bisa terjadi. Seperti pertemuannya dengan Gendhis beberapa saat lalu. Awalnya Shaka hanya mencoba peruntungan saja. Ia tidak berharap alam semesta memberinya keajaiban bisa bertemu dengan perempuan pujaannya itu di sana. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.


"Trus, trus? Gimana?" tanya Ninda penasaran.


"Apanya gimana?"


"Ya dia, Bang. Masih nikah sama cowok yang pilihan ortunya?"


"Nggak tau."


Ninda mendecak. "Gimana sih Abang, nih. Kenapa nggak nanya sih?"


"Alon-alon lah, Nin."


"Hah? Alun-alun? Apa sih maksudnya?" Ninda mengerutkan keningnya.


"Pelan-pelan, Ninda. Pelan-pelan."


"Ooowh." Ninda mengangguk-angguk. "Ah, kelamaan. Ilang lagi ntar dianya, kapok kamu, Bang."


"Kok nyumpahin gitu sih, Nin? Nggak sopan emang kamu sama bos."


Ninda mencebik. "Abisnya, Bang Shaka niat dapetin dia lagi nggak sih? Kalau emang niat ya udah jangan lelet, dong. Cari info kek dari siapa gitu, semisal Abang nggak berani nanya langsung ke Gendhis-nya."


"Boleh juga ya idemu."


"Tapi, harus siap menghadapi kemungkinan terburuk, ya?"


Shaka tertegun. Kemungkinan buruk pasti ada. Tapi, kemungkinan terbaik juga pasti ada. Semuanya bagai bermain judi. Bisa kalah dan bisa juga menang.


"Tenang, Bang. Kalau ntar Abang sakit hati lagi, ada aku yang siap jadi teman penceritamu," kekeh Ninda seraya menyenggol tangan Shaka yang sedang memegang kopling.


"Jadinya mau ke pantai mana, nih? Tapi kok panas, ya?"


Ninda merotasikan bola matanya. Ini kode kalau Shaka malas jalan-jalan sebenarnya, dan ia sadar itu. "Ya udahlah, ke tempat yang sejuk aja. Kaki gunung Merapi kek, ke mana kek."


"Putar balik, nih?" tanya Shaka.


"Seraaah," jawab Ninda asal. Dalam hati ia begitu gondok. Sudah harus menunggu dua jam sampai Shaka menjemputnya, sekarang bosnya itu terlihat ogah-ogahan. Nyebelin nggak, sih?


"Maaf sih. Aku lagi nggak konsen nih."


Ninda menghela napas berat. "Iya, iya, aku ngerti. Kepala Abang lagi penuh sama si Gendhis."


Shaka terkekeh. "Maklumin sih, Nin. Udah lama nggak ketemu. Tiba-tiba ketemu. Kacau banget rasanya."


"Bang, kalau Gendhis ternyata masih punya suami, gimana?"


Mata Ninda membulat sempurna. "Serius?"


"Kamu tahu kan dulu aku pisah sama dia karena terpaksa. Yang jadi suaminya sekarang ini juga dulu ngambil dia dari aku. Ya sekarang aku minta balik lah."


Ninda mengelus dadanya. "Parah emang Bang Shaka."


"Gimana sih, Nin ... tadi katanya aku suruh bertindak?"


"Ya maksudnya, nyari info dulu. Kalau dia udah nggak ada suami, Abang maju. Kalau dia ternyata masih bersuami, ya mundur."


Shaka tergelak. "Liat nanti lah, kemungkinan-kemungkinannya kaya gimana."


Ninda melempar pandangannya ke luar jendela. Jalanan Jogja begitu padat siang itu. Meskipun ia merasa nyaman dengan udara yang sejuk di dalam mobil Shaka, namun ia yakin di luar sana udara begitu panas. Ninda bisa merasakannya.


***


Shaka sempat menanyakan pada Marsha saat bertemu di pendopo Keraton, kapan jadwal les menarinya. Meskipun anak itu sedikit heran kenapa Shaka menanyakan demikian padanya.


Dan hari itu pun tiba, hari di mana jadwal Marsha kursus menari bersama Gendhis. Shaka pun membuat Bakti, ayah Marsha keheranan karena bersikeras untuk mengantarkan file yang berhubungan dengan proyek kerjasamanya dengan Bakti, ke rumah. Padahal biasanya Bakti lah yang ke kantor untuk mengurus hal itu.


"Harusnya aku aja yang ke kantor, Mas Shaka. Nggak perlu repot-repot ke sini," ujar Bakti yang merasa tidak enak sendiri.


"Nggak papa, Mas. Sekalian silaturahmi aja. Pingin nyobain kue buatan Marsha lagi. Bikin nggak kira-kira dia?"


Meskipun Bakti merasa alasan Shaka sedikit aneh, namun ia tidak mempertanyakannya lebih lanjut. "Bikin kayaknya tadi sama mamah-nya sebelum guru les tarinya dateng."


"Oh, udah dateng, ya? Hmm ... maksudnya, udah bikin, ya?" Shaka meralat ucapannya. "Boleh nanti kalau Marsha selesai aku cobain, deh."


"Boleh-boleh ...." Bakti yang menganggap Shaka benar-benar menyukai kue buatan Marsha tersenyum senang.


"Marsha selesai les jam berapa, Mas?"


"Sejam lagi kayaknya."


"Bagus nggak gurunya?"


"Bagus. Marsha cocok. Cantik lagi," kekeh Bakti dengan suara pelan. Ia tidak ingin istrinya mendengar dirinya memuji perempuan lain.


Shaka mengulas senyumnya. Tiba-tiba terbersit sebuah ide dalam benaknya. "Orang-orang kantor tuh kayaknya kurang kegiatan, ya. Aku pikir kalau ada kegiatan seni gitu seminggu sekali, yang nggak ada hubungannya dengan kerjaan, bakal lebih mengeratkan hubungan antar karyawan. Iya nggak, Mas?"


"Gimana ini maksudnya, Mas Shaka?" Bakti mengelus dagunya, merasa kurang menangkap ucapan Shaka.


"Gini, Mas. Itu gurunya Marsha, bisa aku minta buat ngajar tari cewek-cewek di kantor nggak, ya? Buat kegiatan aja, sih."


Bakti mengangguk-angguk. Meskipun ide Shaka sedikit tidak lazim, namun ia memutuskan untuk mengiyakannya saja. Toh, Shaka yang punya perusahaan. "Coba ngobrol sama Mbak Gendhis-nya aja, Mas. Kalau jadwal dia nggak padat sih kemungkinan mau lah."


Shaka mengangguk-angguk senang. "Okay, ntar aku ngobrol sama gurunya Marsha. Oh, Gendhis ya namanya. Kaya nama temen lamaku. Jangan-jangan emang temenku, ya? Penari juga soalnya," ujarnya berpura-pura.


"Oh, gitu. Kalau emang orang yang sama ya malah enak tuh, Mas, ngobrolnya."


Shaka begitu senang dengan idenya. Jika berjalan lancar, maka ia akan memiliki alasan untuk sering bertemu dengan Gendhis. Waktu satu jam menunggu Marsha selesai les-nya seakan begitu lama. Shaka sudah tidak sabar untuk membicarakan idenya itu dengan Gendhis. Sampai-sampai ia tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan Bakti padanya, sehingga ia hanya menyahut sekenanya saja.


"Nah, itu Mbak Gendhis-nya," ujar Bakti membuat Shaka spontan menoleh ke arah pintu di mana sosok ayu itu melangkah bersama Marsha.


"Eh, ada om Shaka!" seru Marsha girang. "Mau cobain kue buatanku lagi nggak, Om? Tadi aku bikin sama Mama."


"Boleh, boleh," sahut Shaka seraya menatap Gendhis seraya mengulas senyumnya.


"Wah, beneran nih Mbak Gendhis temen lamanya Mas Shaka?" Bakti menginterupsi dua pasang mata yang sedang beradu pandang itu.


***