
Dua minggu Shaka habiskan untuk menenangkan diri, memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Hingga ia sampai pada keputusan, ia akan kembali ke Jakarta. Entah apa yang akan ia lakukan nanti di Jakarta, apakah akan bekerja pada ayahnya atau mencari penghidupan sendiri, ia akan memutuskannya nanti.
"Kak Shaka serius mau balik ke Jakarta selamanya?" Reina, hari itu datang ke rumah, saat Shaka sedang mengemasi barang-barangnya. Gadis itu rupanya sudah mulai bisa menjaga sikap setelah mengalami penolakan berkali-kali oleh Shaka. Meskipun tidak dipungkiri dirinya masih berharap akan sebuah keajaiban. Berjodoh dengan Shaka suatu hari nanti, misalnya.
"Serius." Shaka menjawab acuh tak acuh sembari menata pakaian di dalam koper.
"Kok tiba-tiba gini? Kenapa, Kak?"
"Nggak papa."
Reina yang melihat wajah tampan Shaka tampak suram, tergelitik untuk mengorek keterangan dari pemuda itu. "LDR-an dong sama Mbaknya itu," pancingnya.
Shaka hanya mengulas senyum tipis sekilas. Ia tidak berniat untuk menjelaskan apa pun pada gadis cantik di hadapannya itu.
"Kapan sih baliknya, Kak?"
"Besok."
"Naik pesawat atau kereta?"
"Pesawat."
"Owh, udah beli tiketnya belum?"
Shaka yang tampak jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Reina, menghela napas pelan. "Udah."
"Yah, kirain belum."
Shaka menggeleng. Ia tahu arah pembicaraan Reina. Jika ia menjawab belum membeli tiket pesawat, maka sudah pasti gadis itu akan ikut dengannya ke Jakarta dengan membeli tiket pesawat yang sama.
"Padahal pingin ikut balik juga."
Tepat dugaan Shaka. "Kan belum liburan semester, Rei."
Reina meringis. Ia memperhatikan wajah Shaka yang sejak tadi tertunduk, fokus menata barang-barang yang akan dibawanya pulang ke Jakarta. "Muka Kak Shaka kok gitu?" godanya.
"Kenapa emang?"
"Surem," kikik Reina.
"Capek, kurang tidur." Shaka menutup resleting kopernya dan membawanya ke sudut ruang tengah.
"Ada lagi yang mau dipacking, Kak? Sini aku bantuin."
"Nggak. Cuma bawa satu koper sama satu tas doang. Udah beres semua." Shaka menunjuk ke arah tas punggung yang tergeletak di atas kursi.
"Aku mau ke bengkel dulu, Rei." Shaka menyambar kunci mobil di atas lemari pendek di sebelah layar televisi. "Aku antar kamu ke kosan dulu?" tawarnya. Reina tidak membawa mobilnya. Sudah tentu gadis itu memiliki niat untuk meminta Shaka mengantarnya pulang.
Hari itu Shaka berniat untuk berpamitan pada rekan-rekan kerjanya di bengkel. Semalam ia datang ke rumah pemilik bengkel untuk berpamitan sekaligus mengundurkan diri. Dan setelah mengantarkan Reina ke kosan gadis itu, ia pun meluncur ke bengkel. Di sana ia berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya yang tampak tidak rela dirinya pergi. Bagaimanapun, Shaka termasuk tenaga ahli di bengkel yang menjadi andalan di sana.
***
"Auch!" Gendhis mengaduh saat pisau yang sedang ia pakai untuk memotong irisan bawang merah, ujungnya tidak sengaja mengiris kulit jari telunjuknya. Meskipun tidak sampai mengeluarkan darah, namun rasanya cukup perih. Tadi, untuk sesaat, jiwa Gendhis terbang entah ke mana, jauh meninggalkan kota ini.
Sudah dua hari ini Gendhis merasa suhu badannya panas. Ia terserang demam saat sore hari, meskipun tidak parah. Perutnya sering kram dan badannya sedikit lemas. Ia berpikir mungkin ini efek dari beban berat yang sedang ia tanggung saat ini, kehilangan kekasih yang begitu dicintainya, dan juga rasa bosan yang mulai menyerangnya. Ia sudah resign dari sekolah tempatnya mengajar. Bisma memintanya untuk tinggal di rumah saja dan mengurus segala sesuatunya, selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Namun hari ini, Gendhis benar-benar merasa gelisah. Dadanya berdebar kencang tanpa tahu apa sebabnya. Ia bahkan harus menghentikan kegiatannya memasak pagi itu karena kepalanya mulai terasa berputar-putar.
Gedhis menjatuhkan badannya di atas sofa ruang tengah. Sebuah ruangan berdesain minimalist yang tertata rapi. Ia mengatur napasnya pelan. Hatinya mencelos. Separuh jiwanya seakan terbang entah ke mana. Ia dilanda kehampaan yang begitu dalam. Bersamaan dengan perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Beberapa saat kemudian, Gendhis terpaksa berlari ke kamar mandi tamu, dan memuntahkan isi perutnya di sana.
Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Sungguh rasa yang luar biasa. Ia tidak menyangka, rasa sakit kehilangan Shaka, akan berakibat parah pada fisiknya. Gendhis benar-benar tidak berdaya dibuatnya.
"Kamu sakit, Dhis?" Bisma, sore itu, yang baru pulang dari kantornya, mendapati Gendhis berbaring lemas di kamar.
"Maaf, Mas. Aku belum masak. Badanku lemes seharian," sahut Gendhis dengan suara parau.
Bisma sempat melongok ke dapur beberapa saat lalu saat tiba di rumah. Ia melihat bahan-bahan makanan yang ditinggal begitu saja di sana. Sepertinya Gendhis sempat berniat untuk memasak, namun tidak menyelesaikannya.
"Nggak papa, aku pesen GoFood aja." Bisma menyentuh kening Gendhis dengan punggung tangannya. Panas. "Kamu demam eh, Dhis."
"Dikit."
"Aku beliin obat ya ke apotik."
"Nggak usah, Mas. Nanti sembuh sendiri. Aku bawa tidur aja."
Bisma menghela napasnya berat. "Ya udah, aku pesenin makan sekalian, ya? Kamu pingin makan apa?"
"Terserah."
"Capcay kuah seafood, mau?"
"Hmmm."
Bisma menepuk-nepuk lengan Gendhis pelan. Lalu beranjak meninggalkan perempuan itu sendirian di dalam kamar. Ia menggulir ponsel untuk memesan makanan. Setelah selesai, ia melangkah ke dapur dan membereskan bahan-bahan makanan yang masih berserakan di atas meja kitchen set. Menyimpannya ke dalam tupperware dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Kemudian ia duduk di kursi meja makan seraya menumpu lengannya ke atas meja.
Dua minggu lebih usia pernikahannya dengan Gendhis, dan aral rintangan sudah tampak nyata bahkan sejak malam pertama mereka. Kekecewaannya terhadap Gendhis yang ternyata sudah tidak bersegel belum juga hilang. Gendhis yang dingin, dan dirinya yang tidak mampu melampiaskan hasratnya sebagai laki-laki normal, meskipun ia sudah mencobanya berkali-kali, membuatnya kacau.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia lelaki normal. Miliknya pun bisa berfugsi dengan normal saat mendapat rang sangan. Melihat tubuh tanpa busana Gendhis, ia juga sangat bergairah untuk menjamahnya. Namun, selalu berakhir dengan tidak baik. Ekspresi datar Gendhis dan bayangan istrinya itu bercumbu dengan lelaki lain, Shaka, membuatnya tidak bisa menuntaskan gairahnya yang menggebu.
Ia marah. Ia frustrasi. Namun, ia tidak bisa menyalahkan Gendhis. Toh, dari awal ia tahu, pernikahan ini begitu terburu-buru atas permintaan Bu Ningsih. Lebih tepatnya, Bu Ningsih mengancam akan menyusul Pak Sasongko jika dirinya dan Gendhis tidak segera menikah. Saat itu Bisma tidak bisa berpikir jernih. Ia sudah menunggu Gendhis selama bertahun-tahun. Dan hatinya begitu panas melihat Gendhis berada di pelukan lelaki lain. Tanpa pikir panjang ia pun menyetujuinya.
Bisma mengacak rambutnya kasar. Ia yang semula berpikir, jika sudah satu rumah dengan Gendhis, maka ia bisa dengan mudah mendapatkan hati gadis itu, kini harus dihadapkan dengan sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terbayang dalam benaknya.
***