
You make me complete.
Jatuh cinta meskipun untuk sebagian orang terlihat mudah, namun bagi Gendhis, baru pertama kalinya ia jatuh cinta dengan seorang pria, yang langsung membuatnya merasa lengkap. Dan pada Shaka, ia merasa begitu nyaman. Meskipun ia tidak selalu romantis, bahkan lebih sering jahil. Namun, hal itulah yang membuat hidup Gendhis lebih berwarna. Lebih ceria.
"Jadi Reina itu siapamu, Mas?" tanya Gendhis, dengan suara tenang.
Shaka menceritakan dengan sejujur-jujurnya siapa Reina pada Gendhis, tanpa ada satu pun yang ia tutupi. Toh, memang tidak ada apa-apa antara dirinya dan gadis itu. Jika Reina begitu mengharapkannya, bukan pula itu adalah kesalahan Shaka karena selama ini dirinya tidak pernah memberi harapan.
"Aku percaya, Mas." Gendhis mengulas senyumnya.
"Yang penting sekarang gimana kita meyakinkan ibu kamu. Yang lain-lain nggak penting." Shaka menggenggam tangan Gendhis dan menciuminya.
Gendhis mengangguk. Mantap. Sudahlah, memang tidak usah ditunda-tunda lagi. Semakin cepat semakin baik. Pekerjaan tidak akan selesai sendiri jika hanya dipandangi saja, begitu ibaratnya.
Dan keduanya memutuskan untuk menghadap ke orang tua Gendhis malam itu juga. Hal itu membuat Bu Ningsih meradang. Yang menjadi sasaran kekesalannya adalah Pak Sasongko tentu saja.
"Sudah temui dulu mereka, Bu." Pak Sasongko berusaha membujuk.
"Aku ora sudi (Aku tidak mau), Pak!" Perempuan itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya. "Aku sengit ndelokno rupane bocah kae (Aku benci melihat wajah anak itu)."
"Ayo, Bu." Pak Sasongko mendorong pelan punggung sang istri keluar kamar mereka. Di ruang tamu, Shaka dan Gendhis sudah menunggu. Saat pemuda itu hendak meraih tangan Bu Ningsih untuk menyalaminya, perempuan itu menyembunyikan tangannya. Berat sekali untuk menyentuh tangan pemuda yang begitu ia benci itu.
Shaka yang terjebak dalam situasi canggung karena tangannya harus menyalami udara, segera mengatasinya dengan senyuman. Ia sudah memprediksi hal itu sebelumnya. Ya, seperti yang sudah-sudah.
"Apa kabar, Pak, Bu, sehat?" tanya Shaka berbasa-basi, mengawali obrolan.
"Baik, Nak Shaka." Yang menjawab adalah Pak Sasongko. Meskipun tidak menanyai balik apakah kabarnya juga baik. Sementara Bu Ningsih sama sekali tidak mau melihat ke arah Shaka. Wajah sinisnya masih ia pertahankan.
"Ehmm ... Jadi maksud saya datang kemari itu, ingin melamar Gendhis, Pak, Bu."
Bu Ningsih seketika berdiri dan memandang Shaka remeh. "Gendhis sudah punya calon," ucapnya lantang.
"Bu!" Gendhis pun mengikuti gerakan sang ibu beranjak dari duduknya. Saatnya pertarungan dimulai. "Saya belum punya calon!" tegasnya.
Bu Ningsih tidak menggubris ucapan Gendhis. "Gendhis anak saya." Pandangannya masih tertuju pada Shaka. "Saya tahu yang terbaik untuk anak saya."
"Bu, saya benar-benar serius dengan Gendhis. Mungkin saya belum bisa menjanjikan kalau Gendhis bisa hidup sejahtera dengan saya. Tapi, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Gendhis, Bu."
"Saya menolak lamaran kamu untuk anak saya. Titik!"
"Paak," panggil Gendhis lirih pada Pak Sasongko yang hanya bisa menghela napas sembari memegangi dadanya, tanpa bisa melawan sang istri.
"Gendhis sudah memilih saya, Bu. Kami berdua saling mencintai." Shaka meraih tangan Gendhis dan menggenggamnya. Ia tahu, saat ini gadisnya itu sedang kalut.
"Gendhis bahagia dengan saya, Bu." Shaka tetap tidak mau mengalah. Ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
"Kamu memang tidak tahu malu, ya?" Bu Ningsih sudah mengangkat tangannya untuk menampar Shaka. Saat itulah Pak Sasongko bertindak menangkap pergelangan tangan sang istri.
"Bu, sabar to," bujuk lelaki paruh baya itu.
Suasana begitu tegang di antara keempat orang yang sedang berada di ruang tamu itu, ketika dering ponsel dari saku celana Pak Sasongko memecah ketegangan di antara mereka.
"Nggih? Pripun? Nggih leres Lingga Nareswara anak kulo (Iya? Bagaimana? Iya benar Lingga Nareswara anak saya ...." Bibir Pak Sasongko bergetar. "Kecelakaan?" tanyanya pada seseorang yang berbicara dengannya di ponsel, membuat Bu Ningsih, Gendhis dan Shaka terperanjat.
***
Di ruang tunggu rumah sakit Panti Rapih, Bu Ningsih tidak henti-hentinya menangisi putranya yang kini sedang ditangani di ruang IGD setelah kecelakaan motor yang cukup parah di ring road utara. Kabarnya Lingga menjadi korban tabrak lari sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, saat menaiki motor masuk ke jalan.
Sementara itu Gendhis, yang duduk tidak jauh dari ayah ibunya, juga terisak di samping Shaka yang berusaha menenangkannya. Sungguh malam yang kacau. Setelah insiden kecil di rumah yang membuatnya kalut, kini justru ditambah dengan peristiwa yang membuatnya shock.
Shaka hanya bisa memeluk bahu gadisnya itu, mencoba memberi penguatan. Ia sadar, ini pasti berat untuk Gendhis dan keluarganya. Sesekali ia menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis pujaannya itu.
"Bu! Bu! Mau apa?"
Suara Pak Sasongko membuat membuat Gendhis dan Shaka mengangkat kepala dan mendapati Bu Ningsih sedang berjalan dengan wajah angker ke arah mereka. "Iki kabeh salahmu (Ini semua salahmu), Dhis!" seru perempuan itu membuat beberapa orang yang berada di ruang tunggu memandang ke arah mereka.
"Ibu sudah bilang kalau kamu nggak nurut kata-kata Ibu, keluarga kita yang akan kena sial!"
"Bu! Wes to, jangan menambah masalah. Kita berdoa saja semoga Lingga ndak apa-apa." Pak Sasongko meraih lengan sang istri, namun perempuan itu segera menepisnya.
"Ora iso!" teriak Bu Ningsih di sela-sela tangisnya. Matanya yang memerah menatap Gendhis dan Shaka secara bergantian dengan sengitnya. "Ojo sepisan-pisan ngremehake pituturane Ibu. Sing wes nglairake kowe (Jangan sekali-kali meremehkan kata-kata Ibu. Yang sudah melahirkan kamu)!"
Gendhis merasa tiba-tiba dihujani anak panah yang menusuk tepat di jantungnya. Ucapan sang ibu membuatnya lemas dan keringat dingin pun mengalir membasahi keningnya.
"Kamu pergi! Saya ndak mau lihat kamu lagi!" tunjuk Bu Ningsih pada Shaka. Perempuan itu tidak peduli dirinya sedang menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
Pak Sasongko memberi isyarat pada Shaka untuk menuruti saja perkataan But Ningsih. Ia hanya tidak mau suasana semakin keruh jika Shaka mulai mendebat perempuan itu.
"Mas ...." Gendhis memanggil lirih, menatap kekasihnya itu dengan hati hancur.
"Nggak papa, Dhis. Aku pergi dulu. Kabari perkembangan adikmu, ya?" pinta Shaka seraya mere mas telapak tangan Gendhis, sebelum akhirnya memutar badan meninggalkan gadis itu.
Sepeninggal Shaka, Gendhis hanya duduk termangu di kursi tunggu yang keras. Bu Ningsih masih berbicara dengan nada tinggi, memojokkan dan menyalahkannya. Namun, Gendhis sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Hatinya sungguh kacau, sekacau-kacaunya.
***