Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 21. Proses Awal Tidak Selalu Mudah.



Shaka menepikan mobilnya di depan pagar bambu rumah Gendhis. Pemuda itu menoleh ke arah gadis manis di sampingnya.


"Nggak harus kasih jawaban cepet-cepet, kok. Jangan setres gitu dong, Dhis," kekeh Shaka. Meskipun ia kecewa karena jawaban Gendhis atas pernyataan sukanya belum sesuai ekspektasi.


Gendhis mengulas senyum tipisnya. "Maaf ya, Mas ...." Ia tidak berani menatap Shaka.


"Santai aja, Dhis."


"Bukannya gimana-gimana ... tapi, ini terlalu cepat." Gendhis tidak mau memberi jawaban jika hatinya masih ragu. Jika ditanya apakah ia menyukai Shaka, tentu saja ia menyukai pemuda itu. Namun, Gendhis adalah orang yang terbiasa berpikir matang-matang jika ingin memutuskan sesuatu. Selain ia belum begitu mengenal Shaka, ia juga ingin memastikan apakah Shaka memang orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Pasalnya, umurnya sudah bukan dalam tahap coba-coba atau jalani saja. Selain itu, ketidaksukaan sang ibu pada Shaka yang begitu kentara, juga perlu ia pikirkan dengan serius. Intinya, Gendhis butuh waktu untuk memantapkan diri apakah ia akan menerima Shaka atau tidak.


"Iyaa, Dhis. Aku ngerti."


"Mas, jangan marah, ya," pinta Gendhis seraya menatap Shaka dengan tatapan sendu.


"Dih, siapa yang marah. Udah, kamu pikirin aja matang-matang mau terima aku apa enggak. Aku sabar kok nunggu kamu."


Gendhis mengangguk. Ia berpamitan pada Shaka dan keluar dari mobil, lalu melangkah gontai memasuki halaman rumahnya. Gadis itu melambai sekilas saat Shaka membunyikan klakson dan berlalu.


Masuk ke dalam rumah, Bu Ningsih sudah memasang wajah angkernya menyambut kedatangan Gendhis. "Pulang kerja kok ya sore banget, Ndhis?" sindirnya. Kedua lengan dilipat di depan dada, seraya memandang Gendhis penuh selidik.


"Nggih, Bu, ngapunten. Tadi nemenin Mas Shaka ke Dlingo," jawab Gendhis jujur. Ini adalah langkah awal menunjukkan kedekatannya dengan Shaka pada sang ibu.


"Ibu perhatikan sejak ada dia kamu jadi sering pulang telat, Ndhis?"


Gendhis mengangguk. "Ngapunten, Bu ... saya bukan anak SMA lagi yang bisa ibu marahi kalau pulang telat. Saya sudah dewasa, Bu." Rasanya ia tidak tega mengatakan hal-hal semacam ini pada sang ibu. Tapi, mau bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Dirinya sudah dewasa, sudah bisa mencari uang sendiri, kenapa ibunya masih memperlakukannya seperti seorang gadis kecil?


"Loh, kok kamu sudah berani ngeyel to, Nduk?"


Saat itu, Pak Sasongko sang ayah keluar dari kamar dan menghampiri anak istrinya yang sedang bersitegang. "Ono opo to, ribut-ribut?"


"Tekokno wae anak wedokmu kuwi (tanyakan saja pada anak perempuanmu itu, Pak)," jawab Bu Ningsih sambil bersungut-sungut meninggalkan Gendhis dan ayahnya.


"Kene lungguh, Nduk (Sini duduk, Nak)," pinta Pak Sasongko seraya duduk di atas dipan kayu yang ada di ruang tengah. "Ada apa, Ndhis?" tanyanya setelah Gendhis duduk di sampingnya.


"Ndak ada apa-apa, Pak. Saya cuma pulang telat. Tadi habis nemenin Mas Shaka ke Dlingo, lihat persawahan Songgo Langit."


"Hmmm ... yo kuwi masalahe, Nduk." Pak Sasongko mengelus jenggot tipisnya. "Ibumu ndak suka kamu pergi-pergi sama cah bagus kae."


Gendhis mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Ia memberanikan diri memandang sang ayah. "Mboten nopo-nopo to, Pak ... kalau saya pergi dengan Mas Shaka? Saya kan masih sendiri."


"Yo ndak masalah, Ndhis. Cuma ... kamu kan tahu sendiri, yang menjadi harapan ibumu itu seperti apa."


Gendhis menghela napas dalam-dalam. "Ngapunten, Pak ... masalah hati itu ndak bisa dipaksakan."


"Iyoo, Bapak ngerti. Tapi, membahagiakan dan berbakti pada orang tua itu adalah kewajiban seorang anak, Nduk."


Jika sudah seperti ini, maka perdebatan harus segera diakhiri. Gendhis ingin menuntut haknya untuk membahagiakan diri sendiri pun tidak mampu. Ia tidak ingin dicap egois.


***


Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian santai, Shaka merebahkan dirinya di atas ranjang. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya, sembari melipat kedua lengan di bawah kepala.


Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, jawabannya adalah cukup kacau. Jawaban Gendhis memang belum final. Masih ada harapan gadis itu akan menerima dirinya sebagai kekasih. Waktu. Ya, gadis itu perlu waktu. Dan Shaka akan memberikannya.


Shaka sadar, ada dua hal yang menjadi penghalangnya saat ini. Pertama, kemantapan hati Gendhis, kedua, ibunya Gendhis yang sepertinya tidak menyukainya.


Lamunannya buyar saat mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Dengan malas Shaka turun dari ranjangnya dan melangkah menuju keluar kamar. Dari balik jendela kaca ruang tamu, ia bisa melihat sosok perempuan sedang berdiri di balik pintu, yang hanya terlihat separuh badannya saja. Namun, Shaka sudah bisa menebak siapa perempuan itu.


"Hei, Nit," sapa Shaka malas, saat membuka pintu. Alih-alih mempersilahkan perempuan itu masuk, ia lebih memilih menyuruh Nita duduk di teras.


"Aku ngekos di dekat-dekat sini, Ka. Lagi ngelamar kerja juga di konter HP, nggak jauh dari kos," terang Nita tanpa ditanya terlebih dahulu oleh Shaka.


"Anakmu gimana?" tanya Shaka kesal.


"Ada sama Mas Dimas."


Shaka mendecak. "Kamu tahu nggak, hari ini nggak ada yang jemput Alikha di sekolah?" Ia menatap tajam pada Nita.


"Owh, tahu dari mana, Ka?" tanya Nita seraya mengerutkan keningnya.


"Dari gurunya lah, tahu Gendhis, kan?"


"Kok bisa gurunya Alikha ngasih tahunya kamu? Mau nyari perhatian ke kamu apa gimana?"


Dada Shaka bergemuruh mendengar ucapan Nita yang memojokkan Gendhis. Perempuan itu sudah keluar dari kontek permasalahnya. "Gendhis coba telepon kamu tapi nggak kamu angkat, Nit. Dia nelpon aku minta nomernya Dimas."


"Terus?"


"Dimas juga nggak ngangkat telpon. Jadi aku sama Gendhis yang nganterin Alikha pulang. Untung ada Mbok Giyem loh. Dimasnya juga minggat nggak tahu ke mana," ucap Shaka kesal, tentu saja.


"Alasan aja tuh bu guru pengen deket sama kamu," celetuk Nita sinis.


"Eh, Nit ... nggak usah melebar ke mana-mana, deh. Ini tentang anak kamu, loh. Kamu gimana sih sebagai ibunya kok kaya nggak peduli gitu."


Nita menghela napasnya berat. "Hak asuh Alikha kan jatuh di tangan Mas Dimas. Aku juga udah pergi dari rumah itu. Aku kan juga lagi sibuk nyari kerja. Seharusnya Mas Dimas tahulah tanggung jawabnya."


Lama-lama Shaka bisa dibuat darah tinggi jika meneruskan pembicaraannya dengan Nita. Pemuda itu mengangkat kedua tangan dan berucap, "Aku nggak mau ikut campur urusanmu sama Dimas, ya. Aku di sini cuma ngingetin soal Alikha aja."


"Iya, aku tahu," ucap Nita dengan bibirnya yang ia majukan. Suaranya dibuat semanja mungkin, seakan-akan sedang ngambek dengan sang kekasih.


"Lagian, Nit ... kamu ngapain sih ke sini terus?" tanya Shaka tanpa basa-basi.


"Emangnya nggak boleh, Ka? Kita dari dulu temenan, loh. Lupa?"


Shaka mendecak. "Kamu nggak lupa kan, yang udah terjadi di masa lalu? Aku nggak mau ada prasangka yang nggak-nggak, Nit."


Nita mengulas senyum tipisnya. "Kaya kita CLBK, gitu?" tanyanya seraya terkekeh. "Aku nggak akan lupa kisah kita dulu, Ka. Kamu juga enggak, kan?"


Shaka menyugar rambutnya kasar. Susah sekali berbicara dengan perempuan ini. Mungkin IQ-nya jongkok. "Intinya, jangan sering dateng ke sini lah, Nit ... apa lagi kamu baru-baru bercerai gitu. Aku sama Dimas aja jarang ngobrol, jarang ketemu."


Nita hendak menyahut ucapan Shaka, namun segera diurungkannya saat melihat sebuah mobil sedan warna silver metalic memasuki halaman. Dan yang membuat perempuan itu berdebar adalah, sosok gadis cantik dengan dandanan elegan yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.


***