
Gendhis menatap lelaki berwajah pucat yang sedang duduk di atas kursi kayu yang ada di taman belakang rumah yang cukup besar dengan desain Jawa modern yang didominasi warna coklat tua. Yang ditatap hanya mengulas senyum tipis.
"Kenapa harus pindah ke sini, Mas?" Gendhis mengulang pertanyaannya pada Bisma yang ia lontarkan beberapa saat lalu dan belum dijawab oleh suaminya itu.
"Nggak papa, Dhis. Biar kamu nggak kerepotan. Jadwal ngajar kamu kan udah padat sekarang."
Gendhis mendecak sebal. "Dari kemarin-kemarin juga aku bisa handle semuanya. Di rumah kan juga ada Mbok Sugi. Aku nggak kerepotan sama sekali."
Bisma menggeleng. "Aku pingin deket sama Bapak-Ibu, Dhis. Udah nggak papa. Sementara aku di sini aja dulu."
Perempuan berparas ayu itu menghela napasnya berat. Ia merasa begitu iba melihat keadaan Bisma sekarang. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. Jika berjalan harus menggunakan walker karena kakinya tidak lagi dapat menopang badannya dengan sempurna.
"Dhis, nggak usah merasa kasihan sama aku. Aku baik-baik saja di sini." Bisma terkekeh saat melihat tatapan iba Gendhis yang tertuju padanya.
Gendhis tidak menyahut ucapan Bisma karena yang lelaki itu katakan benar adanya. Yang dirasakannya terhadap lelaki itu hanya rasa kasihan semata. Tidak lebih.
"Pokoknya kamu harus bahagia, Dhis. Udah cukup kan nangis-nangis sama depresinya?" kekeh Bisma. "Udah saatnya kamu raih lagi kebahagiaan kamu yang udah pernah aku renggut."
"Mas ...." Gendhis menyentuh lengan Bisma pelan. "Aku nggak paham Mas Bisma itu sebenarnya ngomong apa sih? Maksudnya Mas Bisma itu apa? Kebahagiaan yang mana? Kalau yang Mas maksud itu Shaka, apa masih penting? Apa Mas Bisma pikir semua bisa kembali seperti semula?"
Bisma memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan menohok Gendhis. Ia sadar, meminta Gendhis untuk berbahagia mungkin adalah sesuatu yang sudah terlambat dan basi.
"Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku cuma mau bilang, sebaiknya kita fokus sama kehidupan kita yang sekarang. Yang udah berlalu biar saja berlalu."
Bisma meraih telapak tangan Gendhis dan menggenggamnya erat. "Tapi, untuk sekarang biar aku di sini dulu, ya," ucapnya.
"Ya udah lah kalau Mas Bisma maunya gitu. Aku tak pulang dulu, Mas. Mas Bisma mau dianter ke kamar?" tanya Gendhis seraya membalas genggaman tangan Bisma sekilas.
"Nanti aja, Dhis."
Gendhis mengangguk, lalu mencium punggung tangan Bisma dan melangkah masuk ke dalam rumah. Saat melintas di depan pintu dapur, ia berpapasan dengan sang ibu mertua.
"Bu, saya pamit dulu," ucap Gendhis seraya meraih tangan perempuan berkerudung hijau muda itu.
"Seneng to kowe, Ndhis? Saiki wes lego, yo (Senang kan kamu sekarang, Ndhis? Sekarang sudah lega, ya)?" Bu Ratmi menatap Gendhis sedikit sinis.
"Maksud, Ibu?" Gendhis mengerti ke mana arah pertanyaan Bu Ratmi. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi karena dirinya merasa ada sesuatu yang perlu sedikit didiskusikan dengan perempuan itu.
"Laiyo sekarang kan sudah lega, bisa bebas ke sana kemari lagi. Sudah ndak ada yang jadi beban tho?"
Gendhis menghela napasnya seraya menengadahkan kepala. Kemudian ia kembali menatap sang ibu mertua yang sepertinya sedang sangat menunggu reaksinya. "Bu, selama ini saya ikhlas merawat Mas Bisma. Dan semuanya baik-baik saja, sampai Ibu membawa Mas Bisma ke sini."
Dada Gendhis bergemuruh mendengar ucapan yang tidak mengenakan hati dari Bu Ratmi. Jika saja mulutnya diizinkan untuk meloloskan kata-kata makian pada perempuan itu, ia pasti dengan senang hati melakukannya.
Kalian semua memang tidak tahu diri. Sekarang kalian memperlakukanku seakan-akan akulah penjahatnya. Padahal aku sudah berlapang dada untuk menerima semua yang terjadi. Apa kalian tidak pernah tahu sakit yang selama ini aku rasakan? Proses menyakitkan yang harus aku jalani? Apa kalian sudah melupakan itu?
"Bu, saya sudah berusaha menjalani kewajiban saya sebagai istri Mas Bisma ... saya ...."
"Penyakit Bisma ndak akan kambuh kalau dia bahagia."
"Jadi Ibu menyalahkan saya?" tanya Gendhis. Ia benar-benar sudah muak selalu diperlakukan seolah-olah dirinya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaan yang orang-orang di sekitarnya alami. Luka hati atas perlakuan ibunya dulu saja masih membekas. Gendhis muak menjadi orang yang selalu diam, diam dan diam.
"Lho yo mbok pikir wae to, Dhis (Ya coba dipikir saja, Dhis)."
Gendhis menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. "Pareng, Bu (Permisi, Bu)."
Saat sudah mampu mengendalikan gemuruh dalam hatinya, Gendhis pun meninggalkan rumah itu. Ia bersyukur tidak jadi masih bisa mengontrol ucapannya terhadap sang mertua. Percumah juga menjelaskan atau pun membela diri. Toh, ia tidak akan bisa menang menghadapi orang yang keras kepala.
Melewati daerah di sekitar Malioboro, Gendhis menepikan motornya di depan gerobak lumpia yang ramai pembeli. Setelah memesan dua bungkus untuknya sendiri dan Mbok Sugi, ia pun duduk di antara pembeli yang sedang mengantre.
Dipandanginya jalanan yang ramai meskipun tatapannya kosong. Sepi kembali menghampiri. Saat-saat hatinya dilanda hampa seperti inilah yang membuat Gendhis merasa sepertinya ia tidak tahu ke mana arah hidupnya menuju. Ia menjalani hari-hari dengan sewajarnya, dengan rutinitas yang hampir sama.
Gendhis menghela napas pelan, lalu melempar pandang ke arah warung lesehan yang tampak ramai di sebelah. Warung lesehan yang cukup terkenal dengan menu burung puyuh goreng yang gurih.
Namun, matanya tertumpu pada sosok yang sedang duduk di atas tikar di antara pembeli di warung tenda itu. Sosok yang membuat Gendhis menajamkan pandangannya untuk memastikan dirinya tidak salah.
Shaka? Apa dirinya tidak salah lihat? Atau apa yang ia saksikan ini hanya fatamorgana. Buah dari kerinduannya akan sosok berambut panjang sebahu yang diikat sembarang itu?
Gendhis memiringkan badan karena pandangannya terhalang oleh penjual bakpia yang sedang menyerahkan pesanan pada seorang pembeli. Lalu, matanya kembali tertumpu pada sosok yang sedang menatap layar ponsel di tangannya itu.
"Mas Shaka ...." Bibir Gendhis berucap lirih. Sepertinya kini otaknya menyetujui kalau sosok itu benar-benar Shaka. Sosok yang kini sedang menggulung lengan kemejanya hingga siku, dan memperlihatkan lukisan kepala naga yang menghiasi kulit lengannya.
"Gusti ...." Dada Gendhis berdetak dengan kencangnya sampai-sampai ia harus meredamnya dengan sentuhan tangan di dada. Yang dilihatnya bukan fatamorgana. Ia memang benar-benar Shaka. Shaka yang ia rindukan.
Tubuh Gendhis seperti terhipnotis untuk beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Shaka. Namun, sebelum hal itu benar-benar terjadi, kehadiran seorang perempuan cantik berambut panjang dengan tubuh ramping berbalut setelan blus kerja elegan di hadapan Shaka, membuat Gendhis mengurungkan niatnya.
Untuk beberapa saat lamanya Gendhis tertegun menyaksikan kedekatan keduanya. Cara Shaka menatap dan memperlakukan perempuan itu, membuat retak di hati Gendhis akhirnya patah. Tapi ini bukan salah Shaka. Ia berhak melanjutkan hidupnya. Seharusnya Gendhis sudah tahu itu.
"Jadi empat puluh lima, Mbak."
***