
Shaka menepikan mobilnya di depan pagar bambu rumah Gendhis. Ia menghambur keluar tanpa mengunci pintu mobilnya. Yang ada di benaknya saat ini adalah, menemukan Gendhis. Sebelum semuanya terlambat.
"Nyari siapa, Mas?" Seorang perempuan paruh baya berkerudung bunga-bunga menyapa Shaka yang sudah menginjakkan kaki di teras rumah.
"Gendhisnya ada, Bu?"
"Panjenengan temannya Gendhis?"
"Iya, Bu." Shaka mengangguk, sambil melongok ke dalam rumah melalui pintu depan yang terbuka lebar. Beberapa orang terlihat hilir mudik di dalam.
"Acara ijab qobul-nya ndak di sini, Mas. Di masjid Gedhe. Sudah tadi jam sembilan." Si ibu memperhatikan penampilan Shaka yang kelewat santai untuk menghadiri sebuah acara sakral.
Shaka merasa sekujur tubuhnya tidak lagi bertulang. Sampai-sampai dirinya harus berpegangan pada tiang di teras agar tidak terjatuh. Dadanya berdebar kencang, dan kepalanya pun berdenyut.
"Loh, Mas-nya sakit?"
Shaka mengangkat satu tangannya. "Nggak, Bu. Masjid Gedhe di mana, ya?"
"Oh, Mas-nya dari sini lurus saja, belok kanan ...."
Shaka seperti orang linglung. Ia bahkan tidak bisa mencerna kata-kata perempuan paruh baya itu yang sedang menunjukkan arah Masjid Gedhe. Ia segera berpamitan dan memutuskan untuk menggunakan map saja menuju ke sana.
Doanya dalam hati, semoga ia belum terlambat untuk menggagalkan pernikahan Gendhis dan Bisma. Ya, tentu Bisma adalah mempelai prianya.
Tidak. Tidak boleh.
Shaka melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi, mengikuti petunjuk dari map. Tidak henti-hentinya ia memaki saat beberapa kali terjebak lampu merah. Ia tidak boleh terlambat. Jika ia terlambat, maka ia tidak tahu lagi bagaimana dirinya akan menjalani hidup tanpa Gendhis.
Your destination is on the right.
Ia menghentikan mobilnya tepat di depan halaman sebuah masjid berpintu gerbang hijau. Beberapa mobil sudah terparkir di halaman yang ditumbuhi pepohonan besar nan rindang.
Saat Shaka turun dari mobilnya, dari pintu masjid tampak rombongan pria berjas juga perempuan yang memakai kebaya serta kerudung, baru saja keluar. Sosok Gendhis yang mengenakan kebaya putih dan kain jarik serta selendang putih yang menutupi sebagian rambutnya,menyusul keluar digandeng oleh Bisma yang tampak rapi dengan setelan jas dan kemeja putih.
Dunia seakan berhenti berputar, saat mata Shaka beradu pandang dengan mata sembab Gendhis. Lidah terasa kelu dan dada bagai dihujam anak panah bertubi-tubi. Shaka berharap ini hanyalah mimpi buruk. Sebentar lagi ia akan terbangun dan Gendhis masih ada di pelukannya.
"Mas, jangan buat keributan di sini!"
Shaka tersadar saat dadanya didorong dengan keras oleh seseorang. Ia terhempas ke dalam dunia nyata dan menyaksikan kenyataan pahit yang ada di hadapannya.
"Dhis! Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? Kamu tahu aku belum mau nyerah memperjuangkan kamu!" teriak Shaka. Ia kini sudah dijegal oleh beberapa lelaki yang menghalanginya untuk mendekati Gendhis yang sedang digandeng oleh Bisma, Bu Ningsih menuju mobil.
"Dhis! Gendhis! Ya Tuhan!" Shaka masih memberontak mencoba melepaskan diri dari kungkungan para pria berbadan besar itu.
"Ora usah mbok gagas (Nggak usah dipedulikan)!" Bu Ningsih mendorong Gendhis masuk ke dalam mobil, saat ia tahu putrinya itu hendak berbalik menghampiri Shaka yang masih memanggil-manggil namanya.
Bisma mengambil tempat duduk di sebelah Gendhis di jok tengah, di susul Bu Ningsih, Lingga dan keluarganya. Sopir pun menjalankan mobil meninggalkan halaman masjid.
Gadis itu mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi. Tangan kirinya digenggam erat oleh Bisma. Pikiran gilanya adalah, membuka pintu mobil dan berlari memeluk Shaka. Namun, nyatanya, ia hanya bisa menatap refleksi Shaka yang semakin menjauh.
***
"Han, lo bisa jemput gue, nggak? Gue di Mesjid Gedhe. Iya, Kota Gedhe. Ke sini aja dulu lah pake taksi. Gue tunggu."
Shaka menutup teleponnya. Ia duduk menyandarkan punggung di tiang masjid. Badannya seakan tidak bertenaga dan dadanya terasa sesak. Sesak menghadapi kenyataan bahwa gadisnya telah menjadi istri lelaki lain. Lalu apa yang bisa ia lakukan sekarang? Semenit ke depan saja sudah terasa suram. Lalu bagaimana ia menghadapi hari-hari selanjutnya?
Handy datang menumpang ojek motor. Ia tentu sudah mengerti apa yang sedang terjadi. Terlihat dari beberapa orang yang sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam masjid, yang tampak seperti baru saja berlangsung sebuah acara akad nikah, seperti vas-vas bunga besar, meja dan kain penutupnya.
Shaka memberikan kunci mobilnya pada Handy dan melangkah gontai mengikuti sahabatnya itu menuju ke mobil Honda Civicnya yang berada di luar pagar masjid.
"Mau gue antar ke rumah lo atau ke mana nih, Ka?" tanya Handy.
"Nggak tahu gue. Nggak bisa mikir. Di mana-mana juga sama aja, hampa," kekeh Shaka seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Ia menautkan kedua telapak tangan lalu menjadikannya sebagai bantal. "Gila sih ini. Sakit banget gue. F uck!" makinya.
Handy menghela napasnya. "Lo mau minum sesuatu sambil ngobrol gitu? Biar rileks dikit lah."
"Beli bir ajalah, minum di rumah gue."
Handy mengangguk setuju. Ia melajukan mobil pelan menuju rumah Shaka. Sebelumnya ia berhenti di toko liquor yang ada di daerah Gejayan untuk membeli bir.
"Wine sekalian, Han, satu botol aja," pinta Shaka sambil menyerahkan beberapa lembar seratus ribuan pada Handy.
Sepuluh menit berlalu, Handy keluar dari dalam toko sambil membawa pesanan Shaka. Namun Shaka tahu betul, sebanyak apapun botol minuman beralkohol yang ia tenggak, tidak akan mampu mengobati luka hatinya yang begitu dalam. Tidak akan ada yang bisa melipur lara kecuali Gendhis kembali padanya.
"Gue udah hancur, Han. Gue nggak tahu mau gimana hidup gue ke depannya. Brengsek!" Shaka hanya bisa memaki, memaki dan memaki. Nasibnya yang ia maki-maki. Pasalnya, rasa sakit di dalam dadanya sepertinya mampu untuk membunuhnya detik itu juga.
Handy menyerahkan satu botol bir pada Shaka yang sudah ia buka penutupnya. Keduanya kini sudah berada di ruang tengah rumah Shaka.
"Nggak ada jalan lain selain menghadapi rasa sakit itu, Ka."
Shaka terkekeh. Ditenggaknya bir hingga turun hampir setengahnya. "Kayaknya gue nggak bisa tinggal di sini lagi. Mungkin gue balik aja lah ke Jakarta."
"Senyamannya lo aja, Ka. Tapi, menurut gue sih, jangan mutusin apa-apa dulu sekarang. Lo tenangin diri aja dulu."
Shaka membakar ujung rokoknya. Kemudian mengisapnya dalam-dalam. Ia hembuskan asapnya, berharap rasa sakit dalam dadanya pun ikut terbawa keluar. "Sumpah, Han ...." Shaka menghembuskan napasnya kasar. "Gue bener-bener hancur, tau nggak lo?"
"Iya, gue ngerti. Baru kali ini gue lihat lo kaya gini."
Shaka memejamkan kedua mata lalu memijitnya. Ia tidak ingin ada buliran bening keluar dari sana. Meskipun, kini matanya terlihat basah.
"Gue bener-bener nggak bisa tinggal di sini lagi, Han. Terlalu banyak kenangan. Terlalu sakit. Nggak sanggup gue." Shaka tertawa hambar. Sebuah tawa yang menggambarkan betapa pedih hatinya saat ini.
***