Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 26. Semakin Jatuh.



Setelah memastikan semua anak dijemput oleh orang tuanya, termasuk Alikha yang tadi dijemput oleh papanya, Gendhis pun berpamitan pada rekan-rekan gurunya untuk pulang. Hatinya sudah tidak karuan sedari tadi membayangkan bertemu Shaka yang akan menjemputnya.


Jatuh cinta memang seindah ini. Gendhis akui sosok Shaka selalu membuatnya rindu. Bahkan sejak sebelum pemuda itu menyatakan perasaan cinta padanya. Bahagia yang membuncah di dada membuat senyum tipis di bibirnya terus tersungging.


Namun, begitu membuka pintu gerbang, senyumnya pun hilang saat matanya menangkap sosok Bisma yang sedang berdiri menyandarkan punggung ke mobilnya. Pemuda itu sibuk memainkan ponsel hingga tidak menyadari kehadiran Gendhis.


"Mas Bisma?" sapa Gendhis membuat pemuda berseragam coklat tua dengan rambut rapinya itu mengangkat kepala, mengalihkan pandangan dari ponsel ke arah Gendhis. "Kok di sini?"


"Iya, Dhis. Mau njemput kamu," jawab Bisma sembari mengulas senyum. "Ayo, kita ke rumahku, ya? Tadi ibu telepon, nyuruh aku njemput kamu."


"Kenapa? Kok tumben?" tanya Gendhis heran. Memang tidak biasanya ibunya Bisma, Bu Ratmi, mengundangnya ke rumah.


"Iya, kata ibu, beliau masak-masak hari ini, tadi kan kedapatan tempat arisan. Sayang kalau nggak ada yang makan soalnya kebanyakan."


Gendhis memijit tengkuknya pelan. "Aduh, gimana, ya, Mas? Aku udah ada janji ...." Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, mobil Honda Civic milik Shaka muncul dan menepi di depan mobil kijang milik Bisma.


Shaka keluar dari mobilnya dan buru-buru mendekati Gendhis yang sedang berhadapan dengan Bisma. "Sorry, Dhis, telat dikit. Tadi ada gangguan," ucapnya. Ia lalu menoleh ke arah Bisma dan tersenyum sekilas.


"Dhis, ibu udah nunggu masalahnya ini, Dhis," kata Bisma tanpa memedulikan adanya Shaka.


"Sampaikan maaf ke ibu, Mas. Lain kali aja aku sowan, soalnya ini udah mau jalan sama Mas Shaka."


Bisma tampak menahan geram. Sementara di sisi lain, Shaka tersenyum puas. Ia meraih tangan Gendhis dan menggandeng gadis itu menuju mobilnya. Layaknya gentleman, ia membukakan pintu untuk gadis pujaannya itu. Lalu sembari memutar langkah, ia menarik sudut bibirnya sembari memandang Bisma penuh kemenangan.


Masuk ke dalam mobil, Shaka melempar senyum pada Gendhis yang sudah duduk manis di kursi penumpang yang ada di sampingnya. "Nggak nyerah juga tuh orang, ya?" kekeh Shaka seraya melajukan mobilnya pelan dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan.


Gendhis meringis. "Biarin ajalah, Mas. Yang penting aku sekarang udah coba tegas kok nggak kasih harapan," terangnya.


"Ah, seneng banget aku dengernya," ucap Shaka seraya mengelus pipi Gendhis dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kemudi.


"Nggak enak juga sebenernya, Mas."


"Lah, ngapain? Aku juga nggak bakalan ngizinin kamu dijemput sama dia."


"Maksudnya, nggak enak sama ibunya."


Shaka mendesis. "Alahh, bawa-bawa nama ibunya biar kamu nggak enak nolaknya."


Gendhis terkekeh. Shaka terlihat sewot sendiri. Wajahnya yang tampan itu tampak sedikit tegang.


"Bahaya nih orang-orang kaya gini."


Gendhis mengerutkan keningnya. "Bahaya kenapa?"


"Suka nggak tahu malu. Udah dikasih clue kalau kita nggak demen, maju aja terus." Sepertinya Shaka tidak hanya membicarakan tentang Bisma, namun juga Nita dan Reina.


Gendhis terbahak. "Ih, ada pengalaman nih kayaknya," godanya.


Shaka menggaruk kepalanya sembari meringis malu. "Pengalaman buruk lebih tepatnya."


"Dikejar mantan, ya?" kekeh Gendhis.


"Ah, pusing aku."


Gendhis meloloskan tawa renyahnya. "Mamanya Alikha?" tanyanya kemudian.


"Ya gitu, deh."


Gendhis terdiam beberapa saat. Ia memperhatikan Shaka yang kini fokus ke jalanan. Sejujurnya ia merasa sedikit tidak nyaman jika mengingat Shaka memiliki mantan yang sampai saat ini masih menjalin komunikasi. Hal itu membuatnya berpikir apa saja yang sudah mereka lakukan dulu. Membayangkan Shaka berdekatan dengan perempuan lain membuatnya merasa cemburu.


"Mas ...," panggil Gendhis pelan.


"Iya, Dhis?" Shaka menoleh sekilas ke arah Gendhis, lalu kembali menatap jalanan.


"Hubungan Mas Shaka sama mamanya Alikha emang sedekat apa dulu?" tanya Gendhis hati-hati. Meskipun sejujurnya ia tidak mau Shaka menjawabnya, namun rasa penasarannya cukup tinggi.


"Aduh, ngapain sih nanya itu, Dhis? Males aku ngebahasnya."


Gendhis merengut. "Males kenapa, Mas?"


Gendhis tersenyum kecut. "Terlalu sakit ya kalau diinget?" pancingnya.


"Udah nggak sama sekali. Maksudku tuh, males banget ngebahas hal nggak penting, Sayang."


Gendhis terkekeh mendengar kata sayang yang diucapkan oleh Shaka. Terdengar begitu manis di telinganya. Dan ia suka.


"Mau ke mana dulu nih kita, Dhis? Masa langsung nganter kamu pulang sih?" Shaka sengaja membelokkan arah pembicaraan tentang Nita, karena ia takut akan merusak suasana hangat antara dirinya dan Gendhis. Dan sejujurnya memang ia sudah tidak ada rasa apapun pada perempuan itu, sudah sejak lama.


"Terserah Mas Shaka ajalah," jawab Gendhis pasrah.


"Belanja aja yuk? Trus masak-masak di rumahku."


"Manut (nurut)."


Shaka terbahak. "Manut, ya? Kalau diapa-apain manut, nggak?"


Gendhis mengerutkan kening memandang ke arah Shaka. "Mesum, ih!"


"Maksudnya tuh, disayang, Dhis. Kaya gini nih." Shaka mengelus kepala Gendhis lembut. "Mana ada aku mesum," protesnya. "Ya, kadang-kadang, sih," kekehnya kemudian.


"Ish!" sungut Gendhis.


"Namanya juga cowok, Dhis. Tapi tenang, aku nggak mesum kok sama kamu. Nggak tega aku mesum sama kamu beneran." Shaka memutar kemudi masuk ke halaman sebuah supermarket.


Gendhis mencebik. Meskipun jantungnya saat ini sepertinya sedang melompat-lompat saking berdebarnya. Cara Shaka berbicara dan memperlakukannya sungguh membuatnya tersanjung. Hampir-hampir Gendhis berpikir, kalau antara mesum dan sayang itu bedanya tipis sekali. Buktinya, momen saat Shaka mencium bibirnya hingga kini masih menyisakan gelenyar aneh di dadanya.


"Ayo, Dhis, turun. Malah ngelamun. Ngelamun mulu, aku cium juga nih lama-lama," kekeh Shaka.


Gendhis terkesiap dan meringis malu. Lalu dengan gugup gadis itu membuka pintu dan melangkah keluar dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya.


Keduanya masuk ke dalam supermarket dan mulai memilah milih bahan makanan yang akan mereka masak nanti. Tentu saja acara belanja berdua itu diselingi dengan tingkah jahil Shaka yang membuat Gendhis gemas.


***


"Sini, aku aja yang ngerjain, Mas." Gendhis hendak mengambil alih pekerjaan Shaka memotong daging.


"Kamu di situ aja. Liatin aku," tolak Shaka seraya menyingkirkan pelan tangan Gendhis. Namun, sebelumnya, ia sudah mencium punggung tangan gadis itu.


"Kenapa sih, Mas?" tanya Gendhis.


"Biar aku masakin. Aku jago masak loh." Shaka berucap bangga. "Jadi, menu makan siang kita ini, sapi brokoli lada hitam."


"Enak tuh," celetuk Gendhis. "Ya udah, deh ... aku bantu potongin brokolinya, ya? Biar cepet selasai, Mas. Aku udah laper."


Shaka terkekeh. "Iya deh, iyaa," ucapnya menyerah. Gendhis tersenyum senang. Diraihnya satu buah pisau yang masih bersih dan mulai memotong brokoli segar sembari mencucinya.


Posisi berdirinya kini bersebelahan dengan Shaka. Tinggi badan Shaka yang jauh di atas Gendhis, membuat pemuda itu dengan mudah mencuri-curi kecupan di ujung kepala sang kekasih. Yang dikecup pun tersenyum malu-malu.


"Pakai bawang putih sama bombai doang, kan?" tanya Gendhis. "Aku kupasin ya, Mas."


"Iya, Sayang," ucap Shaka dengan manisnya. "Pipi mana pipi?" tanyanya.


"Pipiku?" tanya Gendhis seraya menyentuh pipinya dengan jari telunjuk.


"Ambung sek (cium dulu)," ujar Shaka seraya mengecup pipi Gendhis tanpa aba-aba.


Gendhis hendak melancarkan protesnya, namun gadis itu keburu meloloskan tawanya mendengar logat bahasa Jawa Shaka yang terdengar lucu. "Mas Shaka, ih! Nyuri-nyuri mulu dari tadi."


"Nggak boleh? Ya udah nih aku balikin," sahut Shaka seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Gendhis.


"Apa sih, Mas?!" Gendhis mendorong wajah Shaka pelan menjauh. "Masak dulu!" titahnya.


Tawa Shaka berderai. "Masak dulu, ya? Berarti lanjut nanti ya ciumnya, abis masak," ledeknya seraya melindungi perutnya dengan menyilangkan kedua lengan, dari ancaman cubitan maut Gendhis.


***