Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 72. Ich Liebe Dich, Gendhis.



Setelah kejadian di ruangan Ninda itu, hubungan Shaka dan sekretarisnya tidak lagi sama. Canggung. Shaka mulai berhati-hati dalam memperlakukan gadis itu. Ada dua kemungkinan yang Shaka pikirkan tentang sikap Ninda yang membuatnya cukup syok itu.


Pertama, Ninda sedang kalut karena ditinggal oleh tunangannya. Kedua, Ninda diam-diam memendam rasa padanya. Iya, Shaka sadar, dirinyalah yang terlalu dekat dengan gadis itu, sehingga mungkin menimbulkan persepsi yang berbeda dalam diri Ninda. Atau Ninda terlanjur ia buat nyaman, meskipun dalam hati Shaka, jujur, ia hanya menganggap sang sekretaris tidak lebih dari seorang sahabat.


Toh, Ninda seharusnya tahu, hati Shaka milik siapa.


Siang itu, saat Shaka sedang berkutat dengan data-data di laptopnya, Ninda meminta izin masuk ke dalam ruangannya. Dan Shaka mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Ia sedikit menjaga wibawanya di depan gadis itu.


"Bang, emm ... Pak Shaka, saya ingin bicara." Seperti telah menyadari bahwa Shaka kini sedikit menjaga jarak dengannya, panggilan Abang yang biasa ia sematkan untuk Shaka, dengan sendirinya berubah menjadi Pak, layaknya bos dan bawahannya.


Shaka pun tidak menanggapi perubahan panggilan Ninda padanya itu. Pikirnya, mungkin itu lebih baik.


"Duduk, Nin." Shaka mempersilahkan Ninda untuk duduk di deretan dua kursi kosong yang berada di depan mejanya.


Gadis ramping berbalut setelan rok pendek dan blazer berwarna abu-abu itu kemudian mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong. "Saya mau minta maaf atas sikap lancang saya kemarin."


"Okay, baiknya kita luruskan aja ya, Nin. Gini, pertama aku ingin minta maaf kalau selama ini perlakuanku sama kamu bikin kamu salah mengartikan. Aku pikir kamu udah paham hatiku milik siapa. Dan karena aku tahu kamu juga udah punya pacar, bahkan udah tunangan, jadi ... aku santai-santai aja." Shaka menatap gadis yang kini sedang menundukkan kepala itu. "Atau ... mungkin aku yang sangka kalau kamu ngelakuin itu, karena kamu ada rasa sama aku. Mungkin kamu lagi tertekan aja kemarin karena masalah sama tunangan kamu?"


Ninda menarik napas dalam-dalam. Ia sedang menyusun kata-kata untuk disampaikan kepada Shaka. "Aku udah lama suka sama kamu, Bang." Ia kembali menyematkan panggilan favoritnya untuk Shaka. Toh, pikirnya, mereka sedang membicarakan hal pribadi. Ia memendam harapan, tentu saja, harapan saat dirinya berkata jujur, Shaka akan mempertimbangkannya. Lagi pula nasib hubungan Shaka dan perempuan pujaannya itu entah bagaimana jluntrungannya.


Shaka memijit keningnya. Parah. Dirinya terlalu naif. Ketulusannya menawarkan persahabatan dengan Ninda, nyatanya membuatnya kerepotan sendiri.


"Aku tahu aku lancang, Bang. Tapi, seenggaknya aku udah lega, karena aku udah ngungkapin yang aku rasain selama ini," tutur Ninda lirih.


Shaka mengulas senyum tipisnya. Saatnya memperjelas pada sang sekretaris. Bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apapun kecuali hanya sebagai sahabat. "Maaf, Nin. Kamu udah tahu gimana aku dari dulu, gimana perasaanku sama Gendhis. Perasaanku ke kamu nggak lebih dari seorang sahabat, dari awal kita akrab. Maaf kalau aku udah bikin kamu salah paham."


Perih. Itu yang dirasakan oleh Ninda. Sebuah penolakan. Tapi, ia harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Shaka adalah sosok lelaki yang begitu setia memegang teguh komitmennya mencintai seorang perempuan. Dan perempuan itu, Gendhis, betapa beruntungnya dia. Jika dirinya adalah Gendhis, tidak akan pernah ia lepaskan seorang Shaka.


***


"Duuh, gendhuk e lagi berbunga-bunga tenan iki loh, Ibu sawang-sawang kok mesam mesem wae (anak perempuannya sedang berbunga-bunga, Ibu liat-liat kok senyum-senyum terus)," ucap Bu Ningsih sambil berdiri di ambang pintu kamar Gendhis.


Sang putri yang sedang mematut dirinya di depan cermin, tersenyum malu-malu. Gendhis baru menyadari kehadiran ibunya karena terlalu fokus memperhatikan penampilannya.


"Mau ke mana to, Ndhis?" tanya Bu Ningsih sembari berjalan mendekati Gendhis.


"Mau kulineran, Bu, sama Mas Shaka." Gendhis memeriksa riasan wajahnya sekali lagi, lalu melangkah ke arah ranjangnya untuk mengambil tas selempang yang tergeletak di sana.


"Oh yoo, yoo," goda Bu Ningsih. "Sekalian saja diobrolkan berdua itu kapan mau diresmikan hubungan kalian itu loh."


Gendhis terkekeh mendengar perkataan sang ibu. Namun, hatinya diselimuti rasa bahagia. Perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini sudah jauh berubah. Gendhis bisa merasakan kehangatan sikap sang ibu, dan hal itu membuatnya begitu nyaman.


"Eh, la itu, cah bagus wes teko," ujar Bu Ningsih saat mendengar seseorang mengucapkan salam dari pintu depan.


"Aduh, cantik banget sih, Dhis," puji Shaka tanpa malu-malu di depan Bu Ningsih yang langsung mencebikkan bibirnya.


"Lah yo jelas cantik to, ibuk e wae ayu ok." Bu Ningsih menyeletuk.


"Eh, Ibu ...." Shaka meringis sambil meraih tangan perempuan paruh baya itu dan mencium punggung tangannya. "Putrinya aku culik dulu ya, Bu."


"Ojo muleh mbengi-mbengi loh, Nak Shaka. Tak kon ndang dirabi anakku loh kowe."


"Apa, Bu? Nggak ngerti artinya," ucap Shaka seraya meraih tangan Gendhis, lalu berpamitan pada Bu Ningsih.


"Ati-ati, loh!" seru Bu Ningsih saat Shaka dan Gendhis melangkah menuju mobil yang terparkir di depan pagar rumah.


"Siap!" sahut Shaka seraya mengangkat tangan dan ia tempelkan ke keningnya, lalu membukakan pintu mobil untuk perempuannya itu.


"Mau makan di mana nih kita?" tanya Shaka saat mobilnya telah melaju di jalanan. "Terserah." Ia menyahut sendiri pertanyaannya.


Gendhis terbahak. Shaka sudah bisa membaca pikirannya. Dan ia memang belum punya ide tempat kuliner mana yang akan mereka kunjungi.


"Mas Shaka pingin makan apa?" tanya Gendhis.


"Makan kamu," jawab Shaka dengan entengnya.


"Ish!" desis Gendhis. Tangannya spontan bergerak ke pinggang Shaka dan mencubitnya.


"Beneran, kok." Shaka meringis. Cubitan Gendhis adalah cubitan paling mesra yang pernah ia rasakan setelah sekian lama. Sambil tangan kanannya memegang kemudi, tangan kirinya ia daratkan di kepala Gendhis, lalu mengelus rambutnya lembut.


Interior mobil Shaka dipenuhi oksitosin yang menguap dari energi baik kedua sejoli itu, mengikat mereka melalui sentuhan-sentuhan lembut penuh kasih sayang.


Dan Gendhis bagi Shaka laksana endorfin yang menghilangkan luka, kesakitan, dan penderitaannya selama ini. Begitu juga sebaliknya. Hubungan percintaan mereka kini begitu menenangkan. Seperti sungai kecil di tengah padang rumput yang airnya begitu jernih, dan mengalir tanpa riak.


"Ich liebe dich, Dhis."


***


Ooooi, aku mau spill novel baru yang akan tayang setelah ini, di sini yaaa. Hanya di Noveltoon tercinta. Hihihihi.



Tentang kisah-kasih di sekolah (dengan si dia) empat seKEWAN bernama, Alea, Kendy, Lala dan Nova yang jahat, julid, tukang bully, tukang rusuh, tukang santet, tukang iri dengkul dan bla bla bla, pokoknya mereka itu ekstrimis antagonis gitu lah. Hihihi


Seru, kan? Ya iyalah!