Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 46. Jakarta, 12 Februari.



Lelaki paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan luas dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang terlihat dari jendela kaca. Di tengah ruangan terdapat satu meja persegi panjang dengan tiga buah kursi yang sudah diduduki oleh tiga lelaki berkemeja rapi. Wajah-wajah di dalam sana cukup tegang. Termasuk salah seorang dari tiga lelaki berkemeja putih itu.


Ia mengelus rambut sepanjang tengkuknya yang diikat sebagian. Beberapa kali ia menghela napas pelan sambil mendengarkan lelaki berambut putih sebagian di depan sana berbicara panjang lebar.


"Masalah sengketa tanah di Jagakarsa ini harus segera diselesaikan. Terutama ini adalah tanggung jawab kamu, Shaka. Kamu yang saya tugaskan untuk mengurus segala sesuatunya di sana sebelum kamu mengajukannya ke dewan direksi." Lelaki itu menunjuk ke arah Shaka.


"Iya, Pa ... emm ... Pak." Shaka meralat ucapannya. Lelaki paruh baya itu tidak lain adalah ayahnya sendiri, Pak Yofan, pemilik dari perusahaan pengembang yang cukup besar di Jakarta, tempatnya ia bekerja saat ini.


Shaka keluar ruangan ayahnya dengan wajah masam. Baru pertama kalinya selama kurang lebih dua tahun ia bekerja di perusahaan developer keluarganya ini dan menjabat sebagai direktiur operasional, ia mengalami hambatan.


Ia kini sudah berada di dalam ruangannya yang cukup luas. Memeriksa tumpukan file di atas meja yang berhubungan dengan tanah di mana akan dibangun cluster mewah dan tempat rekreasi, yang kini sedang bermasalah.


Pintu ruangannya diketuk seseorang, dan sosok perempuan cantik berbadan ramping dengan setelan blezer dan rok span warna hitam muncul. Namanya Ninda. Sekretaris yang sudah bekerja padanya selama setahun belakangan. Parasnya manis dengan rambut panjang yang selalu tergerai rapi.


"Mau makan siang atau ngopi dulu, Bang?" tawar Ninda sambil melempar senyumnya pada Shaka.


"Pesenin makan dong, Nin. Buat kamu sekalian deh."


"Okay, siap." Ninda menarik kursi di seberang Shaka dan menjatuhkan pan tat mungilnya di sana. "Pingin makan apa, sih?"


"Apa ajalah, terserah kamu." Shaka terkekeh. Ia menatap sekilas ke arah Ninda. Ah, gadis manis itu terlalu mengingatkannya pada makhluk manis yang menorehkan luka begitu dalam dua setengah tahun lalu. Bentuk wajah yang hampir sama, perangai yang lembut dan senyumnya. Ya, senyumnya. Senyum milik Gendhis yang selalu terbayang dalam benaknya.


"Done. Aku pesenin pizza," ucap Ninda seraya beranjak dari duduknya.


"Eh, mau ke mana? Kamu makan sini aja, temenin aku."


Ninda mendecak. "Manja ih!" Ia memang sudah akrab dengan bos-nya itu. Sampai-sampai, kedekatan mereka membuat orang-orang kantor menduga-duga kalau keduanya memiliki hubungan khusus.


"Aku lagi pusing, Nin. Butuh temen ngobrol."


"Iya, iya ...," sahut Ninda mengalah. "Masih belum selesai ya masalah Jagakarsa?"


"Ruwet. Yang meng-claim punya hak atas tanah itu nggak mau berdamai."


"Aduh. Trus gimana, dong?"


"Kalau aku tahu solusinya sih nggak bakal pusing aku, Nin."


Ninda menghela napasnya. "Bukannya sertifikat ada dan resmi semua, ya?"


"Iya, ada. Cuma, si orang ini nih, punya surat wasiat yang menyebutkan kalau tanah itu diwariskan orang tuanya sama dia."


Ninda mengelus dagunya. "Kalau ada surat wasiat atas nama itu orang, kenapa bisa ada sertifikat resmi atas nama si orang lain sih?"


"Nah itu dia yang bikin pusing. Mana orang yang punya wasiat ini nih, muncul saat pembangunan udah mau lima puluh persen. Breng sek!"


Mau tidak mau Ninda ikut pusing mendengar keluhan Shaka. "Makan dulu deh, biar bisa mikir lagi," kekehnya saat seorang office boy masuk mengantarkan pizza yang dipesannya.


Ninda dengan cekatan menyiapkan pizza untuk Shaka. Sementara Shaka memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Makasih, Nin."


"Sama-sama, Abang," kekeh Ninda seraya menyodorkan satu cap orange juice pada Shaka.


Makan siang dilalui Shaka dengan obrolan hangatnya bersama Ninda. Gadis itu memang mampu mengembalikan suasana hatinya menjadi baik. Pertama kali Ninda menjabat sebagai sekretarisnya, ia bersikap dingin terhadap gadis itu karena terlalu mengingatkannya pada Gendhis. Namun, pembawaan Ninda yang ceria dan lucu, membuat Shaka lama-lama terbiasa dengan kehadiran Ninda di sekitarnya.


***


"Naik, Nin!" pinta Shaka.


"Ngapain, Bang?" tanya Ninda. "Narawarin tumpangan pulang kah?"


"Ya iyalah. Masa mau nyulik. Buruan!"


Ninda menoleh ke sana kemari, memeriksa barang kali masih ada orang kantor yang lalu lalang di sana. Ia merasa tidak enak jika diantar pulang oleh bosnya, meskipun semua orang tahu mereka berdua dekat.


"Nyari siapa sih? Udah ada yang mau jemput kamu atau gimana?!" Shaka berseru dari dalam mobil.


Ninda meringis. Setelah dilihatnya tidak ada yang memperhatikan, ia pun segera masuk ke dalam mobil Shaka. "Bang, nggak perlu nganter pulang kali. Lagian arah rumah kita beda."


"Nggak papa. Kesian liat cewek cantik jalan sendirian," kekeh Shaka seraya melajukan mobilnya masuk ke jalan raya.


"Ish! Gombalnya itu loh!"


Shaka tergelak. "Garing, ya?"


"Banget."


"Biarin."


Bibir Ninda mengerucut. Ia melirik ke arah Shaka yang sedang fokus ke jalanan. Ia ingat pertama kali bertemu dengan Shaka, bos-nya itu begitu dingin. Shaka bahkan selalu menghindari kontak mata dengannya, dan sebisa mungkin tidak berlama-lama berada di sekitarnya. Entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Dulu, Shaka melihatnya seperti makhluk menakutkan yang harus dihindari.


Sampai sekarang pun Ninda tidak tahu apa alasan Shaka dan ia pun tidak ingin menanyakannya. Yang jelas, hubungannya dengan si bos-nya itu, menyenangkan.


"Kenapa sih senyum-senyum sendiri? Perasaan belum gajian, kan?" celetuk Shaka seraya melirik gadis manis di sebelahnya itu.


"Nggak, nggak papa."


"Ngelamun jorok kayaknya nih."


"Dih, mana ada."


Shaka berbelok ke arah gang kecil searah yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Kemudian ia menepikan mobilnya di depan sebuah rumah bertingkat satu dengan halaman yang penuh dengan motor.


"Makasih, Bang Shaka," ucap Ninda seraya membuka pintu mobil dan menghambur keluar.


"Nggak disuruh mampir, nih?" sindir Shaka seraya mencebikkan bibir.


"Baca tuh, Bang." Ninda menunjuk papan yang menempel di pagar teralis bertuliskan Kos khusus wanita, tidak menerima tamu laki-laki.


Shaka terbahak membaca tulisan di papan nama itu. Ia sudah beberapa kali mengantar Ninda dan tidak pernah memperhatikannya. "Ya udah deh. Sampai besok, Nin. Makan banyak, jangan begadang."


"Bang Shaka tuh yang jangan suka begadang. Tuh mata udah mirip panda," tunjuk Ninda.


"Masa sih?" Shaka melongok ke kaca spion di atas dashboard. Benar juga. Area matanya terlihat cekung dan sedikit gelap.


"Dah, Bang!" Ninda melambai kecil pada Shaka kemudian masuk ke halaman kosnya. Shaka menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.


Kembali ke dalam sepi yang akan menemaninya setiap kali pulang kerja. Jika di kantor ada Ninda yang sedikit mengalihkan pikirannya akan kenangan indah sekaligus menyakitkan di Jogjakarta, namun saat ia sendiri di apartemennya, ia hanya bisa berteman dengan rokok dan sebotol anggur, sampai ia terlelap.


***