Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 39. Pangrasa Ingkang Ajur Lulur.



"Maafin aku, Dhis ...." Shaka berbisik di sela-sela cumbuannya pada leher Gendhis. Bagaimana ia bisa menolak semuanya, sementara dirinya pun telah menyerahkan diri, jiwa dan raga pada gadis itu malam ini.


Gendhis menggeleng pelan. "Aku yang mau, Mas. Ini keputusanku." Setengah melenguh ia menjawab ucapan Shaka. Ia tidak menyangka, menyatukan diri dengan lelaki yang sangat dicintainya ini, akan semengharukan ini. Gairah, kenikmatan, kepedihan, keharuan, semua tumpah ruah di atas ranjang berpenutup kain lembut itu.


Dan Gendhis sama sekali tidak menyesalinya. Ia akan rekam setiap detiknya di dalam memorinya. Bagaimana ekspresi wajah Shaka, gerakannya, hembusan napasnya, bisikannya, lenguhannya, semuanya. Semuanya tentang malam ini.


"Kenapa nangis, Sayang?" tanya Shaka, berbisik. Ia menciumi kedua mata Gendhis yang basah. "Apa aku nyakitin kamu?"


"Enggak, Mas. Mas Shaka bikin aku bahagia banget. Sampai-sampai aku nggak tahu cara mengekspresikan rasa bahagiaku ini." Gendhis terisak pelan. Ia memeluk punggung Shaka begitu erat. Jika boleh ia meminta pada alam semesta, panjangkankah malam ini, agar ia bisa memeluk Shaka lebih lama.


"Aku sayang banget sama kamu, Dhis. Janji ya kita bakal berjuang buat lewatin semua. Jangan tinggalin aku, Dhis," pinta Shaka.


Gendhis memejamkan matanya. Bagaimana ia mampu berjanji, sedangkan semuanya akan berakhir saat matahari mulai menampakkan wajahnya esok hari. "Aku sayang Mas Shaka. Selamanya." Ia berbisik di telinga pemuda itu, dengan air mata yang tumpah di pipinya. Dan ia pun menyaksikan, kalau mata Shaka pun telah basah.


Dua insan itu melebur dalam penyatuan yang mengharu biru. Cinta dan kepedihan. Kedua rasa yang mendorong mereka untuk tidak berhenti hanya satu kali saja. Hujan yang turun dengan derasnya, mampu meredam suara-suara indah yang keluar dari bibir keduanya.


Gendhis telah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah ia menghabiskan malam ini dengan Shaka. Jika nantinya ia mendapat souvenir yang bersemayam dalam perutnya maka ia akan menjaga kenang-kenangan dari kekasihnya itu dengan sepenuh hati.


"Aku cinta kamu, Dhis, banget, banget, banget," bisik Shaka sambil memeluk tubuh Gendhis yang masih menempel padanya, tanpa busana.


Gendhis tersenyum sembari mengelus pipi Shaka, menikmati wajah tampan itu dan merekamnya dalam memori. Ia tidak akan pernah melupakan semua yang ada di wajah itu. Mata Shaka yang indah kecoklatan, alis tebal, pipi dengan rahang tegas, bibir tipis dan hidung yang cukup mancung. Tidak melupakan bagian yang menjadi favoritnya dari penampilan Shaka, rambutnya yang selalu ia ikat sembarang.


Lalu pandangan mata Gendhis turun menelusuri leher Shaka, turun lagi ke dadanya, menghapal lukisan yang ada di sana, dan juga lengan kirinya. Tato naga bertinta merah, cocok sekali menghias kulit lengannya yang putih.


Gendhis mengerutkan keningnya saat matanya menangkap seraut wajah terlukis di perut samping kanan Shaka. Saat ia melepaskan pakaian Shaka beberapa saat lalu, ia tidak begitu memperhatikan wajah yang terukir di sana.


"Mas ...."


"Ya?" Shaka menyahut dengan mata terpejam.


Gendhis mengelus perut samping Shaka. "Kapan kamu bikin gambar wajahku di sini?" tanyanya.


Shaka membuka matanya. "Seminggu lalu," kekehnya. "Rencananya mau aku tunjukkin ke kamu saat malam pertama kalau nanti kita nikah. Tapi, ya udahlah, udah terjadi malam ini."


Gendhis mengulas senyum getir. "Aku nggak nyesel, Mas. Peluk aku, Mas. Yang erat."


Tidak ada alasan bagi Shaka untuk menolak permintaan Gendhis. Ia meraih tubuh gadis itu dan mendekapnya erat. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu. Dan Shaka pun terlelap dengan gadis pujaan yang ada dalam pelukannya. Tanpa ia tahu, hari esok akan menjadi hari di mana hidupnya akan diselimuti awan hitam yang tiada habisnya.


***


"Dhis?" panggil Shaka saat ia menyadari Gendhis sudah tidak ada di pelukannya. Mungkin gadis itu ada di kamar mandi. Tapi sepertinya tidak ada pergerakan atau suara apa pun dari dalam kamar mandi yang ada di kamarnya itu.


Ia beranjak dari tidurnya, memeriksa lantai di samping ranjang, barangkali masih ada pakaian Gendhis yang berserakan di sana. Bersih. Pakaian gadis itu tidak terlihat lagi.


Shaka menyambar celana boxer dan kaos lalu memakainya sembari berjalan keluar kamarnya. Ia mencari keberadaan Gendhis di setiap sudut rumahnya. Gadis itu memang sudah pergi. Shaka menghela napasnya berat. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Gendhis.


Berkali-kali ia mencoba menelepon gadis itu, namun nomernya tidak aktif. Ia lalu melihat jam di layar ponsel. Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Mungkin Gendhis pulang tanpa membangunkannya.


Meskipun perasaannya diliputi kekhawatiran dan selenting firasat tidak enak terlintas di benaknya, Shaka mencoba untuk tetap berfikir positif. Ia berencana untuk membersihkan diri terlebih dahulu, lalu mengisi perutnya yang mulai lapar, kemudian menyusul Gendhis di rumahnya.


Gendhis sudah menjadi miliknya seutuhnya, tidak ada alasan untuk menunda-nunda lagi. Ia akan menikahi Gendhis, dengan atau tanpa restu dari ibunya. Namun, semua rencananya itu menguap begitu saja saat melihat selembar kertas yang ada di atas meja di sudut kamarnya. Selembar kertas berisi tulisan tangan Gendhis. Shaka membacanya dengan dada sesak dan mata yang basah. Ia merasa tubuhnya terhempas ke dalam jurang yang begitu dalam, gelap dan hampa udara. Begitu sakit, begitu menyiksa. Hingga mati sepertinya masih jauh lebih baik dari pada hidup dalam kehampaan yang abadi.


Mas, Shaka ...,


Makasih untuk malam terindah dalam hidupku. Aku nggak nyesel sudah menyerahkan sesuatu yang aku jaga selama ini. Mas Shaka-lah orang yang pantas mendapatkannya. Tolong, simpan kenangan kita semalam selamanya dalam hatimu, Mas. Hatiku akan selamanya bersamamu.


Meskipun mungkin hari ini ragaku akan dimiliki oleh orang lain, aku sudah tidak peduli lagi karena Mas Shaka-lah orang pertama yang memilikinya.


Maafin aku, Mas. Aku harus jadi anak yang berbakti untuk ibu. Usianya sudah senja, beliau baru kehilangan suami yang sudah menemaninya selama puluhan tahun. Aku tahu betapa tersiksanya terjebak dalam kehampaan, Mas. Mungkin itu yang sedang ibu rasakan saat ini, sampai-sampai beliau nekat ingin menyusul bapak.


Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Aku sayang banget sama Mas Shaka. Sekarang dan selamanya.


Jaga diri ya, Mas. Semoga Mas Shaka suatu saat bisa berbahagia.


Gendhis-mu.


Tangan Shaka bergetar memegang selembar kertas itu. Untuk beberapa saat ia kebingungan apa yang harus ia lakukan. Blank. Hingga ia tersadar, lalu melipat kertas itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. Ia menyambar kunci mobil di atas nakas, kemudian mengganti celana boxer dengan jeans. Shaka menghambur keluar kamarnya, memakai sepatu seadanya, dan berlarian ke arah mobilnya.


***



Mau promo novel baru, ah, selengkapnya boleh DM. Oh ya, kalau ada yang masih pingin baca Elric (Bad Boy Of Manhattan), lagi ditulis lagi sama saya loh, tunggu aja malam ini update-annya Elric pasti nongol.