Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 19. Kita Fokus Dengan Kita.



"Bu Gendhis? Alikha belum dijemput?" Perempuan berkerudung bernama Bu Ambar, keheranan saat melihat Gendhis sedang menemani Alikha bermain lego di depan kelas. Pasalnya, hari sudah mulai sore.


"Belum, Bu. Saya coba telepon ke nomer mamanya tapi tidak dijawab. Tidak ada nomer lain yang bisa dihubungi." Gendhis melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul setengah empat sore. Artinya sudah satu setengah jam terhitung dari sekolah selesai, ia menemani anak itu menunggu jemputan.


"Terus gimana ini?" tanya Bu Ambar.


Gendhis berpikir sejenak. Sebenarnya ia ragu-ragu ingin meminta bantuan Shaka untuk menghubungi ibunya Alikha, mengingat keduanya saling kenal. Namun, sepertinya ia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada Shaka. Kasihan juga Alikha tampak kecapaian.


"Saya mau coba hubungi orang yang kenal dengan keluarganya Alikha, Bu."


"Oh, ya sudah. Saya pulang dulu kalau gitu, Bu Gendhis," pamit Bu Ambar disambut anggukan kepala Gendhis.


Gendhis mengambil ponsel di tas yang tergeletak di sampingnya. Gadis itu menggulir layar mencari nomer Shaka.


Mas Shaka, punya nomer telepon papanya Alikha? Alikha belum dijemput ini. Aku telpon mamanya nggak diangkat.


Ia mengirimkan sederet kalimat pesan itu pada Shaka. Kemudian menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Dirapikannya anak-anak rambut Alikha yang menempel di dahi dan pipi chubby-nya karena terkena keringat.


Beberapa saat kemudian ponsel di dalam tasnya bergetar. Ia segera mengambil benda pipih itu dan membaca pesan balasan dari Shaka.


Kamu masih di sekolah, Dhis?


Kening Gendhis mengerut. Ditanya malah balik bertanya, pikirnya. Jemarinya lalu bergerak menuliskan jawaban kembali.


Masih, Mas. Ini lagi nemenin Alikha sampai ada yang jemput.


Tidak ada jawaban apa-apa lagi dari Shaka. Gendhis menghela napasnya berat. Sungguh sia-sia menghubungi pemuda itu, gerutunya dalam hati.


Namun, beberapa saat kemudian, Gendhis melihat ada mobil Honda Civic milik Shaka berhenti di balik pintu gerbang. Dan pemuda itu pun keluar dari dalam mobilnya, mendorong pintu gerbang yang tidak terkunci dan berjalan ke arah Gendhis serta Alikha.


"Alikha ...." Shaka mengacak ujung rambut gadis kecil yang sedang sibuk dengan mainan legonya. "Hei, Cewek." Ia menyapa Gendhis sembari melempar senyum jahil.


"Nggak dijawab pertanyaanku," gerutu Gendhis.


Shaka terkekeh. "Males ngetik, Dhis. Mending ke sini aja langsung."


Gendhis mencebik. "Jadi, Mas Shaka punya, nggak, nomer papanya Alikha?"


"Punya. Bentar aku telponin." Shaka mengambil ponsel dari saku jaketnya dan mulai mengutak-atik layarnya. Beberapa saat kemudian ia menempelkan gawainya ke telinga, menunggu hingga dering telpon berganti suara seseorang di seberang sana. Namun, nihil. Dimas tidak mengangkat telepon.


Shaka mengedikkan bahu. "Nggak dijawab," ucapnya seraya memandang ke arah Gendhis.


"Aduh, gimana, ya, ini?" tanya Gendhis kebingungan.


"Kita anterin aja, yuk?" tawar Shaka membuat Gendhis terlihat senang.


"Beneran?" tanya gadis itu meyakinkan.


"Bener, Dhis."


"Mas Shaka udah selesai kerjanya?"


"Udah, dong. Nih, udah nggak pake seragam." Shaka menunjuk dirinya sendiri. Di balik jaketnya, ia memang sudah tidak memakai seragam kerjanya.


Gendhis mengangguk. Ia lalu berbicara dengan Alikha, membujuk anak itu untuk mengembalikan mainan lego yang berserakan di lantai. Setelah melalui komunikasi yang cukup alot dengan anak itu, akhirnya Gendhis berhasil menggendong Alikha dan membawa perlengkapan sekolah gadis itu ke mobil Shaka.


Gendhis terkekeh mendengar gurauan Shaka. Ia yang duduk di jok depan di samping pemuda itu, menoleh ke arah Alikha yang berada di jok belakang. Anak itu sudah merebahkan tubuhnya.


"Aduh, nggak ada bantal, ya, Mas?" tanya Gendhis yang melihat Alikha terbaring tanpa bantal.


"Nggak ada, Dhis. Pakai jaketku aja, nih." Shaka melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Gendhis. Gadis itu melipat jaket milik Shaka lalu mencondongkan badannya ke belakang agar lebih mudah menaruh jaket di bawah kepala Alikha.


Dada Shaka berdesir saat tubuh ramping Gendhis yang terbalut seragam hijau tua itu terekspose di hadapannya. Wangi parfum gadis itu begitu lembut nan feninim memanjakan indra penciumannya. Sementara sepasang matanya tertuju pada leher jenjang Gendhis yang indah. Pikiran liarnya, ingin sekali meraih makhluk indah di hadapan matanya itu, dan membawanya dalam dekapan.


Shaka buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan, saat Gendhis kembali ke posisi duduknya semula. "Kenapa, Mas?" tanyanya heran, melihat Shaka terlihat salah tingkah.


"Hah? Kenapa, Dhis?" Shaka menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju pelan ke jalan raya.


"Itu tadi Mas Shaka kelihatan kaget."


"Owh, nggak, nggak," kekeh Shaka seraya menyugar rambutnya yang hari itu ia ikat seluruhnya.


Gendhis mengulas senyum tipisnya melihat Shaka terlihat gugup. Ah, ia hampir lupa ingin menanyakan perihal keadaan rumah Alikha pada pemuda itu. "Mas ...."


"Ya, Dhis?"


"Mas Shaka tahu, nggak, orang tua Alikha lagi kenapa? Nggak biasanya mereka lupa jemput anak. Terus, hari ini Alikha tuh rewel, manggil-manggil mamanya terus. Padahal biasanya enggak, loh," terang Gendhis dengan wajah serius.


Shaka yang tentu saja sudah tahu prahara rumah tangga yang sedang terjadi pada orang tua Alikha, hanya mengulas senyum tipis. Menceritakannya pada Gendhis ia rasa bukan ide yang buruk. Ia percaya gadis itu tidak akan membocorkannya. "Bapak-ibunya Alikha lagi proses cerai, Dhis."


"Ya, Gusti ...."


"Nita pergi dari rumah. Sempat dateng ke rumahku minta tolong mau nginep satu atau dua hari."


"Terus?" tanya Gendhis penasaran.


"Ya, aku nggak bisalah, Dhis."


"Ish!" desis Gendhis. "Sama temen kok gitu, Mas, nggak mau bantuin? Tega, banget!" sungutnya kemudian.


"Aduh, gimana, ya ... jadi gini, Dhis. Aku sama Nita itu dulu bukan cuma sekedar temen. Dia tuh mantanku."


"Oowh," gumam Gendhis.


"Aku nggak bisalah nampung dia di rumahku. Sementara aku tinggal sendiri. Terus, Nita juga dalam proses cerai. Aku nggak mau kena masalah. Ntar aku kena fitnah kalau aku yang penyebab rumah tangga mereka hancur, gimana?"


Gendhis mengangguk-angguk tanda mengerti. Tindakan Shaka tentu sudah benar. "Trus, Bu Nita ke mana sekarang?"


"Aku nggak tahu, Dhis ... aku kasih dia duit buat sewa hotel atau kos sementara."


"Kasihan, ya, Mas?" ujar Gendhis. "Maksudku kasihan Alikha, masih kecil harus menanggung dampak perpisahan kedua orang tuanya," lanjutnya kemudian seraya memeriksa Alikha yang kini sudah tertidur lelap.


"Ya, mau gimana lagi." Shaka mengedikkan bahunya. "Biarin ajalah itu jadi urusan mereka. Lebih baik kita fokus sama kita," kekehnya.


Gendhis menautkan kedua alisnya keheranan. Kita fokus sama kita? Apa maksud kata-kata Shaka barusan? Kenapa pemuda itu selalu mengucapkan kata-kata yang mampu membuat dadanya berdesir aneh?


***