Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 27. Kambing (Guling) Hitam.



"Makasih, Mas," ucap Gendhis saat Shaka mengantarnya pulang. Ia mengambil tasnya yang ada di kursi belakang dan bersiap untuk membuka pintu mobil.


"Eh, mau ke mana?" cegah Shaka seraya menahan lengan Gendhis.


"Ya turun lah, Mas."


"Ini belum." Shaka mengetuk-ngetuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk. Meminta Gendhis untuk menyentuhnya dengan bibir, tentu saja.


"Apa sih, Mas? Nggak, ah!" tolak Gendhis dengan wajah merona merah.


"Pelitnyaaa ... dikit doang sih, Dhis. Biar nyenyak entar malem tidurnya," pinta Shaka dengan wajah memohon.


Gendhis memutar bola matanya. Bukan dirinya tidak mau, tapi, rasanya ia masih merasa canggung dan gugup jika bersentuhan dengan Shaka. Meskipun pemuda itu sudah menjadi kekasihnya dan syah-syah saja jika harus menunjukkan rasa sayang dengan sebuah kecupan.


"Buruan, Dhis." Shaka memohon.


Gendhis menghela napasnya berat. Lalu, cepat dan singkat ia menyentuhkan bibirnya pada pipi Shaka.


"Singkat, padat," kekeh Shaka sembari mengelus pipinya. "Nggak papa, deh. Lumayan."


Gendhis meringis. Lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia berdiri di samping mobil menunggu Shaka melajukannya pergi.


"Aku jemput lagi besok. Pokoknya tiap hari aku jemput, ya?" ujar Shaka dari dalam mobilnya, sebelum ia berlalu dari hadapan Gendhis.


Gadis itu mengangguk, lalu melambaikan tangannya saat mobil Shaka mulai menjauh. Ia menunggu hingga mobil kekasihnya itu menghilang di persimpangan jalan.


Gendhis masuk ke dalam rumah, dan saat hendak melangkah menuju kamarnya, ia berpapasan dengan sang ibu. Gadis itu berniat untuk meraih tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya, namun perempuan paruh baya itu melengos dan tidak membiarkan tangannya disentuh oleh sang putri. Bu Ningsih berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Gendhis melongo menyaksikan sikap sang ibu yang begitu dingin. Namun, sebenarnya ia sudah siap dengan hal itu, yang mungkin akan ia terima setiap harinya. Ini adalah resikonya saat memutuskan untuk memilih Shaka. Gendhis menghibur diri dengan menanamkan di benaknya pemikiran bahwa cinta itu memang butuh perjuangan.


"Mbak, ibu lagi kenapa, sih? Dari siang ngomel-ngomel wae." Lingga, sang adik, menghampiri Gendhis.


"Nggak tahu." Gendhis mengedikkan bahu. "Mau ke mana, Le?" tanyanya saat memperhatikan penampilan sang adik yang sudah cukup rapi.


"Nongkrong," kekeh Lingga. Remaja berparas cukup tampan dengan rambut cepaknya itu menaik-naikkan alisnya.


"Yowes, hati-hati," ucap Gendhis.


"Siap, Mbak." Lingga memakai jaketnya dan berlalu dari hadapan Gendhis.


"Mulihe ojo mbengi-mbengi, Le! Sing iso diatur, ojo koyo mbakyumu kuwi (Pulangnya jangan malam-malam, Nak! Tolong yang bisa diatur, jangan kaya kakakmu itu)." Suara Bu Ningsih terdengar dari arah dapur. Menyindir Gendhis, tentu saja. Meskipun telinganya terasa panas dan ingin sekali menyahut sindiran sang ibu, namun Gendhis masih menahan diri untuk tidak memulai perdebatan dengan perempuan itu. Ia memutuskan untuk melanjutkan langkah menuju kamarnya.


***


Shaka memperhatikan penampilan Dimas yang semakin terlihat necis. Hari itu, lelaki yang kini berstatus duda itu datang untuk mengganti velg mobil di bengkel Shaka.


"Yang paling bagus lah pokoknya. Gue sih percaya kalau lo yang pilihin," kekeh Dimas saat Shaka menanyakan velg seperti apa yang ia inginkan.


"Yang bagus pastinya harga nggak miring, Dim," sahut Shaka seraya mengecek keadaan velg lama mobil sedan berwarna silver milik Dimas.


Dimas mendecak. "Tenang. Gue bayar berapapun." Ia menepuk-nepuk dadanya congkak.


Shaka terbahak. "Lagi cair lo?" guraunya. Tidak ingin berburuk sangka, namun Shaka sedikit banyak tahu pekerjaan sebagai Debt Collector yang dilakoni oleh Dimas. Berapa kira-kira gajinya, atau permainan di baliknya.


"Cair lah, jangan sampai enggak," sahut Dimas sembari terbahak.


"Okay-lah kalau gitu. Lo gue rekomendasiin pake velg yang carbon. Kasta tertinggilah."


"Aman. Barang ready stock. Terus lagi nggak banyak kerjaan juga." Shaka menoleh ke arah Danang yang berdiri tidak jauh darinya. "Ambilin ring 17 C-nya, Nang," perintahnya pada pemuda kerempeng itu.


"Siap, Mas." Danang segera melakukan apa yang diperintahkan Shaka.


Sementara itu Dimas menarik kursi aluminium dan duduk di dekat Shaka yang sudah mulai membongkar-bongkar roda mobilnya. "Ka, gue bisa tanya sesuatu, nggak?"


"Apa tuh?" tanya Shaka tanpa mengalihkan fokusnya pada baut-baut di roda mobil Dimas yang sedang ia lepaskan satu persatu.


"Tentang Nita, sih. Gue nggak gimana-gimana, Ka. Lo deket lagi sama Nita?"


Pertanyaan Dimas membuat Shaka menghentikan kegiatannya. "Dari mana lo dapet ide nanya gue kaya gitu, Dim?"


"Yaa, nebak aja, sih. Karena, gue pernah liat Nita dateng ke bengkel lo ini."


Shaka terkekeh. "Oh, iya, dia pernah dateng sekali, nganter makan siang."


"Gue sih seneng-seneng aja kalau lo balikan sama Nita. Itung-itung, ngebayar apa yang udah gue lakukan ke lo dulu."


Shaka menggeleng. Malas rasanya menanggapi obrolan Dimas. Ia pun memutuskan untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Gue tuh sadar, Ka. Kalau Nita masih cinta sama lo. Makanya gue stres dan melampiaskannya ke perempuan lain. Gue akui gue yang selingkuh, Ka."


Shaka mendecih dalam hati. Payah. Mencari pembenaran untuk perbuatannya yang salah. Playing victim. Klise!


"Beneran, Ka. Gue iklas kalau lo balikan sama Nita sekarang."


"Gue nggak ada niatan balikan sama Nita, Dim. Dan jangan libatin gue dalam masalah rumah tangga lo sama mantan istri lo itu, ya?"


Dimas mengulas senyumnya. "Tapi, Nita masih cinta banget sama lo, Ka. Pernah gue inget dulu suatu malam gue maen ama dia, pas ******* yang dia sebut nama lo!"


"Dim, Dim, gue nggak mau tahu apapun tentang lo dan Nita. Buku cerita gue sama Nita udah gue tutup, bahkan udah gue bakar." Shaka memberi perumpamaan. "Gue udah ada cewek, Dim. Dan gue serius banget sama dia."


"Owh, gitu."


"Ya. Begitu!" tegas Shaka. Lama-lama ia merasa risih dengan lelaki bergaya perlente ini. Kesannya ia ingin cuci tangan dari perbuatannya. Dan Dimas ingin melibatkannya. Secara tidak langsung, ia ingin menyalahkan Nita dan juga dirinya, sebagai penyebab ia selingkuh sehingga berujung perceraian.


"Tinggal aja dulu, Dim. Gue hubungin lo ntar kalau udah sesai," ujar Shaka saat melihat Danang datang dengan membawa barang yang ia minta. Ia berharap Dimas bisa enyah dari hadapannya.


"Okay-lah, Ka. Gue tinggal dulu," pamit Dimas sembari beranjak dari duduknya.


Shaka mengangguk. Lalu melambai sekilas pada Dimas yang kini sudah melangkah meninggalkan bengkel.


"Itu temennya Mas Shaka to?" tanya Danang.


"Yep." Shaka meraih satu velg warna hitam dari tangan Danang.


"Wah, horang kaya pasti. Mintanya velg carbon."


Shaka mendesis. "Pastinya," ucapnya ironis. "Nang, lo kerjain yang kanan, ya?!"


Danang terkikik. "Siap, Mas Shaka," sahutnya sembari memberi hormat dengan memiringkan satu telapak tangan di dahinya.


***