Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 6. Esem-mu.



"Sekitar lima bulan." Shaka mengunyah sate ayam yang baru saja ia ambil dari tusuknya. Ia mengangguk-angguk, lalu membuat gerakan bibir mencebik, sebagai ekspresi bahwa makanan yang sedang dikunyahnya enak.


Sikapnya santai menikmati makan siangnya dengan lahap. Ia sama sekali tidak menjaga image-nya di depan Gendhis, yang notabene baru dikenalnya.


"Itu bengkel punya Mas Shaka?" tanya Gendhis, untuk menciptakan komunikasi dua arah di antara dirinya dan Shaka. Agar ia tidak terkesan terlalu diam dan membosankan.


"Punya temen."


"Owh." Gendhis memperhatikan Shaka secara intens. Penampilannya, meskipun sedikit selengean, tapi ia yakin Shaka datang dari keluarga berada. Dari pembawaan, rasa percaya diri yang terlihat dari sikapnya, dan kulitnya yang putih bersih untuk ukuran seorang seorang pria. Yang jelas, segala yang ada dalam diri Shaka itu, keren.


"Pindah ke Jogja kenapa, Mas?" Gendhis menyeruput es jeruknya guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Pingin cari suasana baru aja."


"Emang dulu di Jakarta kerja di mana? Di bengkel juga?" Gendhis berharap ia tidak terlalu banyak bertanya dan membuat Shaka tidak nyaman.


Dan kekhawatiran Gendhis sepertinya terbukti, saat ia melihat sekilas wajah Shaka berubah muram. Meski hanya beberapa detik saja. "Bantuin usaha bokap. Tapi, akunya nggak cocok," kekeh Shaka.


"Owh ...." Gendhis mengangguk-angguk. Ia tidak berani lagi menanyakan hal selanjutnya.


"Aku nggak cocok kerja kantoran," ujar Shaka. Ia lalu meneguk gelas air putihnya. "Lebih enak membelai-belai mesin," gelaknya.


"Bener sih, Mas ... kalau kerja sesuai dengan bakat dan minat emang rasanya beda. Kita enjoy, dapet duit pula."


"Tepat sekali," sahut Shaka sembari menggerakkan jari telunjuknya. "Oh ya, ngomong-ngomong, ni nggak ada yang marah kamu nemenin aku makan?"


"Maksudnya?" Gendhis mengerutkan keningnya.


"Pacar, pacar." Shaka menjawab santai.


"Owh, nggak ada." Gendhis terkikik sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Baguslah ... maksudku, nggak enak kan ngajak jalan pacar orang."


Gendhis mengulas senyum tipisnya. Ia tidak tahu bagaimana menimpali perkataan Shaka. Kenyataannya memang dirinya masih sendiri, dan bebas jalan dengan siapa saja.


"Ugh ... kenyang," keluh Shaka sambil menepuk-nepuk perut ratanya. "Abis ini mau ke mana?"


"Pulang, Mas."


"Bawa motor, ya?"


"Iya, bawa."


"Yah, kalau nggak bawa kan aku bisa anter kamu."


Gendhis meringis. Ia memperhatikan gerak-gerik Shaka menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan begitu manly. Saat pandangan mereka bertemu, Gendhis buru-buru meraih gelas es jeruknya dan berpura-pura mengaduknya. Padahal, sudah beberapa kali ia melakukannya.


"Minggu depan bisa dong temenin ke mana tuh, yang kaya taman kuno gitu, deket-deket sini."


"Taman Sari?"


"Nah, iya itu."


Gendhis mengelus tengkuknya. "Nanti aku kabarin aja, Mas. Siapa tahu aku ada urusan mendadak."


"Okay-lah." Shaka meggerus rokoknya yang masih setengah di dalam asbak. "Udah, yuk." Ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju meja kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia menyusul Gendhis yang sudah berada di luar restauran.


"Kamu parkir di mana?" tanya Shaka.


"Di sebelah timur, Mas."


"Aku temenin." Tanpa menunggu persetujuan Gendhis, Shaka mengikuti langkah gadis ayu itu menelusuri pinggiran alun-alun yang cukup padat pengunjung.


"Mas Shaka parkir di mana?" tanya Gendhis ketika sampai di samping motornya.


Gendhis mengangguk. "Aku pamit dulu, Mas." Ia meraih helm dan memakainya.


"Okay. Jangan lupa kabar-kabar ya, Dhis. Buat hari minggu depan." Shaka membantu Gendhis mengeluarkan motor dari deretan motor lain. Tidak lupa ia menaikkan standar samping motor Gendhis. Pasalnya, perempuan biasanya sering lupa akan hal itu.


"Makasih," ucap Gendhis seraya menaiki motornya.


"Hati-hati, ya." Shaka melambaikan tangan saat Gendhis mulai melajukan motornya. Gadis itu menyambutnya dengan membunyikan klakson sekali.


Shaka tersenyum memandangi Gendhis hingga gadis itu luput dari jangkauan pandangnya. Ia lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, saat didengarnya ada suara notifikasi pesan masuk.


Kak Shaka, di mana, sih? Reina di rumah, nih.


***


Shaka memutar kemudi masuk ke halaman rumah kontrakannya yang cukup luas. Rumah cukup besar dengan desain modern yang sudah ditinggalinya selama lima bulan ini.


Sebuah mobil silver keluaran brand ternama sudah terparkir di sana. Dan di teras, seorang gadis cantik dengan penampilan elegan telah menunggu. Si gadis tersenyum senang melihat Shaka yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Dari mana, sih?" tanya si gadis sambil memasang wajah cemberut.


"Keraton. Kamu ngapain ke sini?" tanya Shaka acuh tak acuh seraya membuka kunci pintu kayu bercat putih.


"Ngapain ke keraton? Jadi turis?" Gadis itu tertawa renyah seraya mengikuti langkah Shaka masuk ke dalam rumah. "Norak banget sih, Kak." Ia menjatuhkan badan ke atas sofa dengan santainya.


"Apanya yang norak?" tanya Shaka seraya memandang tidak terima ke arah gadis itu.


Si gadis meringis. Namanya Reina Anastasia Gunawan. Anak perempuan dari rekan bisnis ayah Shaka yang sedang berkuliah di kota ini. Mahasiswi fakultas kedokteran dari sebuah universitas ternama.


"Bosen nih, Kak. Jalan, yuk." Reina memberi tatapan manja pada Shaka. Berharap pemuda itu mau mengabulkan permintaannya.


"Males, ah. Panas." Shaka melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia tidak menyadari kalau Reina mengikutinya dan berdiri di ambang pintu, menyaksikan dirinya melepas kemeja dan menggantinya dengan kaus oblong.


"Rei, keluar sana, ah!" Shaka yang hendak membuka celana jean dan menggantinya dengan boxer rumahan segera mengurungkan niatnya. Ia mendorong tubuh ramping Reina keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Terdengar suara kikikan gadis itu dari balik pintu.


Setelah mengganti semua pakaian yang dikenakannya, ia pun keluar dan mendapati Reina sedang berbaring di atas sofa sambil memainkan ponsel.


"Temenin aku nge-mal, Kak," rengek Reina manja.


"Duh, males banget aku, Rei." Dan memang ia selalu menolak setiap kali Reina mengajaknya jalan. Entahlah, gadis itu di mata Shaka sangat annoying. Meskipun tidak dipungkiri kalau Reina adalah gadis cantik yang selalu menjaga penampilan. Siapa lelaki yang tidak bergetar saat melihat si cantik ini? Hanya dirinya, mungkin.


"Kakak kenapa sih nggak pernah mau kalau aku ajak jalan? Yang sibuk, yang males, ada aja alasannya," sungut Reina sebal. "Aku bilangin papa loh, kalau kakak nggak mau jagain aku di sini."


"Papa kamu nggak kasih tugas aku buat jagain kamu loh, Rei. Beliau cuma bilang, kalau bisa. Denger, nggak? Ka-lau bi-sa." Shaka membela diri dan mempertegas kata-katanya.


"Ish, kakak nyebelin!" gerutu Reina seraya melipat kedua lengan di depan dada.


"Bodo amat!" sahut Shaka seraya beranjak dari duduknya dan melangkah kembali menuju kamarnya saat mendengar ponselnya berdering.


Beberapa saat kemudian, Shaka keluar dari kamar sambil berbicara dengan seseorang di telepon. "Bisalah. Sekarang? Okay." Ia melangkah menuju ke arah dapur dan mengambil sebotol bir di dalam lemari pendingin. Ia masih berbicara dengan seseorang di telepon sambil membuka penutup botol. "Ya. Gue ke sana sekarang, Bro."


"Kakak mau ke mana?" tanya Reina yang kini berdiri di pintu dapur.


"Ngecek mobil temen." Shaka meneguk birnya dan melangkah melewati Reina keluar dari dapur.


"Tadi katanya males jalan. Giliran ditelepon temen mau," protes Reina sebal.


"Ini penting." Shaka masuk kembali ke dalam kamarnya. Lalu lima menit kemudian ia keluar dengan celana boxer yang sudah diganti dengan celana pendek.


"Ikuuutt, Kak."


Shaka mendecak. "Kamu pulang aja, Rei." Ia menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar rumah diikuti oleh Reina. Gadis itu memasang wajah cemberut. Kecewa, sudah pasti. Usahanya selama ini untuk mengambil hati Shaka sepertinya masih panjang dan penuh perjuangan.


***