
"Liatin sapa sih, Bang?" Ninda menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan mata Shaka menuju.
"Hmm? Oh, barusan kaya liat seseorang yang aku kenal." Shaka mengalihkan pandang pada Ninda.
"Sapa tuh?" goda Ninda seraya menyuwir daging burung puyuh goreng di piringnya.
Shaka terbahak. Ia kembali melempar pandang ke arah tempat parkir motor yang berjejer di depan warung tenda. Tadi itu sepertinya matanya menangkap sosok perempuan berambut panjang yang melintas di sana. Bukan sembarang perempuan, melainkan seseorang yang sedang sangat ia rindukan. Ia bahkan masih ingat lekuk tubuhnya yang ramping dan indah. Dan sosok perempuan yang tadi dilihatnya, seperti mengingatkannya pada Gendhis.
"Malah ngelamun, ih!"
Shaka meloloskan tawanya, namun terdengar hambar. "Nggak papa, Nin ... mungkin salah lihat."
Ninda mencebik. "Mantan, ya?" kikiknya.
Shaka meloloskan senyum lebar sembari berpura-pura fokus pada piring rotan beralaskan daun pisang yang diisi dengan burung puyuh goreng itu. "Sambelnya enak banget gila," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
"Seenak sentuhan mantan. Gurih, pedes dan ada manis-manisnya gitu, kan?" gelak Ninda menyindir Shaka.
Tawa Shaka berderai-derai mendengar gurauan Ninda. Namun, gadis cantik di hadapannya ini benar. Akhir-akhir ini, Shaka banyak mengingat malam terakhir bersama Gendhis. Bahkan sentuhannya pun rasanya masih terasa begitu nyata. Serindu itukah ia pada Gendhis-nya itu?
"Bang, hari mingguu ada acara, nggak?"
"Minggu? Kayaknya nggak, sih? Kenapa, Nin?"
"Aku pingin dong jalan-jalan keliling Jogja. Temenin, ya?" pinta Ninda dengan ekspresi wajah yang ia buat semanis mungkin.
"Boleh."
Ninda tersenyum senang. "Pingin ke pantai sih sebenernya," kekehnya. "Kan aku baca-baca tuh katanya banyak pantai cakep di sini."
"Emang."
"Yang agak tersembunyi kalau bisa sih."
"Iyaa, banyak. Tenang, aku temenin kamu maunya ke mana."
Ninda meringis. Dipandanginya wajah Shaka yang tidak seceria beberapa saat lalu sebelum pengakuannya melihat seseorang yang mirip mantan kekasihnya. "Janji loh, ya?" tuntutnya.
"Iyaaa."
"Ntar tiba-tiba ada acara mendadak lagi."
"Enggak, enggak."
Ninda mengulas senyumnya. Entahlah, suasana tiba-tiba tidak seasyik beberapa saat lalu. Shaka lebih banyak diam meskipun sesekali meloloskan tawanya menimpali selorohan Ninda. Namun, terlihat jelas bahwa suasana hatinya sedang tidak baik.
Sementara di tempat yang berbeda, Gendhis baru saja tiba di rumahnya. Setelah memarkir motor di garasi dan memastikan pintunya sudah terkunci, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang tidak menentu.
Tidak lama kemudian, asisten rumah tangganya pun muncul. "Njih, Bu?"
"Mbok Sugi kerso lumpia, mboten (Mbok Sugi mau lumpia, nggak)?"
Perempuan paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih itu terlihat senang. "Ha nggih purun to, Bu (Ya mau dong, Bu)."
Gendhis mengulas senyum tipisnya. Lalu mendorong kotak dalam bungkus plastik itu ke hadapan Mbok Sugiyem. "Kangge kulo sedoyo niki (Buat saya semua ini), Bu?" tanya perempuan itu heran.
"Tadinya mau dibagi dua sama saya, Mbok. Tapi, saya-nya sudah nggak lapar lagi."
"Ealah, apa mau makan nasi, Bu? Biar Mbok hangatkan dulu lauknya."
Gendhis menggeleng. "Nggak usah, Mbok," ujarnya seraya beranjak dari duduknya. Ia berpamitan pada asisten rumah tangganya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Setelah membersihkan dirinya dari debu jalanan yang mampu membuat kulit kusam, Gendhis membaringkan badannya di atas ranjang. Perasaannya masih begitu kacau. Apa yang dilihatnya beberapa saat lalu benar-benar mampu membuat dadanya terasa sesak.
Kenapa hatinya sakit melihat Shaka bersama wanita lain? Tentu saja Shaka berhak melanjutkan hidupnya, bukan? Sungguh egois jika dirinya menginginkan Shaka tetap terkungkung dengan masa lalunya bersama dirinya.
Mungkin, yang Gendhis sesalkan, kenapa Shaka harus muncul kembali? Lebih baik ia tidak pernah mendengar apa pun tentang Shaka. Ia tidak perlu tahu bagaimana keadaan Shaka saat ini, atau dengan siapa Shaka menjalin hubungan. Ia tidak perlu tahu itu. Tapi, alam semesta terkadang senang mempermainkan perasaannya seperti ini.
***
Hari minggu pagi, Shaka sudah bersiap-siap untuk menjemput Ninda di kosnya. Celana pendek, kaos putih polos lengan pendek, rambut diikat sembarang, sepatu sporty dan tas selempang. Simple seperti biasa. Penampilan Shaka tidak banyak berubah.
Dengan mobilnya Shaka menelusuri jalanan Jogja yang ramai, namun baginya terasa begitu sepi. Yang paling menyiksanya adalah, saat melewati tempat-tempat yang dahulu pernah ia datangi bersama Gendhis. Seperti menonton rekaman video lama yang diputar kembali dalam kepalanya.
Entah kenapa, saat melintas di dekat Kerathon, ia ingin sekali menepikan mobilnya. Dan tanpa berpikir lama, Shaka pun melakukannya. Ini hari minggu. Mungkin saja hari ini jadwal Gendhis menari di sana.
Shaka pun memutar kemudi menuju alun-alun untuk memarkir mobilnya. Dari sana, ia berjalan dengan hati berdebar masuk ke dalam Kerathon. Entah kenapa harapannya begitu besar untuk bertemu Gendhis di tempat itu.
Suasana di dekat pendopo cukup ramai. Pemain gamelan pun sudah mulai memainkan tembang-tembang lembut untuk menarik para wisatawan yang mulai berdatangan. Terlihat juga beberapa orang asing yang duduk di depan pendopo. Sepertinya memang akan ada acara tari-tarian pagi itu. Hal itu membuat dadanya semakin berdebar menanti akankah Gendhis keluar dari bangunan rumah di belakang pendopo?
Shaka duduk di kursi kosong di antara para wisatawan yang menunggu pertunjukan tarian dimulai. Ia menunggu selama beberapa menit hingga pemain gamelan menyelesaikan satu tembang, sepertinya. Sepasang mata coklatnya kini menatap ke arah rumah joglo di mana beberapa orang penari muncul dari balik pintu yang terbuka lebar. Namun, Shaka harus menelan kekecewaan saat tahu bahwa para penari itu masih anak-anak. Ia melihat Marsha, putri dari koleganya, diantara enam anak perempuan berbusana keemasan itu. Ah, sungguh kebetulan. Shaka pun memutuskan untuk menonton barang sebentar.
Di sela-sela gerakan tarian anak-anak yang cukup menghibur itu, mata Shaka menangkap sosok berambut panjang berdiri tidak jauh dari belakang pendopo. Sosok perempuan manis yang sepertinya sedang mengawasi anak-anak perempuan itu menari. Sosok ramping berbalut dress bunga-bunga setinggi lutut, dipadu dengan sepatu klasik vintage yang terlihat manis di kaki mungilnya.
Jantung Shaka seakan berhenti berdetak menatap makhluk manis yang ada di seberangnya itu. Gendhis Ayuning Ratri. Masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Kerinduan yang begitu dalam, kesakitan yang membuatnya hancur, lalu benaknya yang dipenuhi kata tanya, kenapa.
Semua rasa yang berkecamuk di dalam dadanya, menuntun langkahnya memutari pendopo, dan menghampiri sosok yang ingin sekali ia rengkuh, ia peluk erat dan tidak akan pernah ia lepaskan lagi.
"Dhis ...."
***