
"Owalah, Ndhuk ... aku sama bapakmu ndak pernah mengajarkan kamu jadi perempuan nakal. La kok yo koyo ngene kedadeane (La kok begini kejadiannya), Ndhis, Ndhis." Sambil menangis tersedu-sedu, Bu Ningsih memegangi dadanya yang terasa sesak.
Di ruang tengah itu, ada Gendhis, Bisma, Pak Sasongko dan Lingga. Gendhis yang merasa seperti pesakitan tertunduk lesu di kursinya. Ia dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun gagal. Cairan bening itu sudah terlanjur mengalir membasahi pipinya.
"Kamu sudah diapain saja sama dia?!" Suara Bu Ningsih meninggi. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Jika saja Pak Sasongko tidak menahannya, mungkin tamparan kerasnya telah mendarat di pipi sang putri. "Ya Allah, Gusti Pengeran ... aku sudah ndak punya muka di depan Nak Bisma." Perempuan itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bisma segera mendekati Bu Ningsih dan membisikkan kata-kata yang membuat perempuan itu sedikit demi sedikit mulai tenang.
Sementara Pak Sasongko yang hanya bisa terdiam, memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Sesekali keningnya mengerenyit seperti menahan sakit.
"Kowe wes diapakno karo bocah brandalan kae, Ndhis? Ngomong karo Ibu!"
"Bu, sabar, Bu." Bisma menepuk-nepuk pelan bahu Bu Ningsih. Lingga yang duduk di kursi roda dan agak berjarak dari mereka, tertunduk. Entah apa yang sedang ia pikirkan, yang jelas, hatinya kalut.
"Mas Shaka nggak ngapa-ngapain saya, Bu. Dia bukan orang brengsek seperti yang ibu pikir!" Gendhis berdiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, intonasi suaranya meninggi saat berbicara dengan sang ibu. Ia tidak terima kekasihnya disalahkan dan dijelek-jelekkan seperti itu. "Saya yang minta menginap di tempat Mas Shaka!" Kali ini ia menatap tajam pada Bisma, yang seketika menghindar. "Kalau ada yang mau disalahkan, salahkan saya!" tegasnya.
Tentu saja Bu Ningsih shock melihat putrinya semakin berani kepadanya. "Kamu sekarang berani ya bentak-bentak Ibu? Owalah ... mana Gendhis anak Ibu yang lemah lembut dan penurut? Kamu sudah banyak berubah sejak bergaul dengan berandalan itu!"
"Mas Shaka bukan berandalan, Bu!" Gendhis berseru.
"Bapaaak? Bapaak?!"
Suara Lingga membuat dua perempuan yang sedang berseteru, dan juga Bisma, terkejut. Pak Sasongko memegangi dadanya dengan ekspresi wajah menahan rasa sakit yang teramat sangat. Lelaki paruh baya itu pun ambruk ke lantai.
Jeritan Bu Ningsih memanggil-manggil suaminya membuat situasi di ruang tengah kacau balau. Gendhis panik, begitupun Lingga. Sementara Bisma dengan sigap membantu Bu Ningsih dan Gendhis menggotong Pak Sasongko yang sudah terkapar di lantai, membawanya ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
***
Tangisan Bu Ningsih begitu memilukan di samping ranjang Pak Sasongko, di mana lelaki itu telah terdiam untuk selamanya. Terkadang perempuan itu menjerit, mengguncang tubuh suaminya yang sudah dingin itu. Sementara Gendhis, terduduk di lantai, memeluk kedua lututnya, menangis sesenggukan, meratapi malam penuh awan hitam itu.
Langit seakan runtuh menimpanya hingga ia tak kuasa untuk bangkit lagi. Jika ini mimpi, ingin sekali ada seseorang yang membangunkannya. Tidak. Gendhis masih kebingungan mencerna apakah ini mimpi atau kenyataan. Hingga ada seseorang yang meraih kepalanya dan mendekapnya, ia pasrah. Gadis itu tidak peduli siapa yang sedang meminjamkan raganya untuk dirinya bersandar ini. Ia menghujani dada berbalut kemeja warna biru muda itu dengan air matanya yang tidak henti-hentinya mengalir.
Jeritan sang ibu terdengar begitu jauh, namun tetap terasa menghujam jantungnya. Sakit. Sungguh sakit sekali. Bayangan wajah sang ayah, menari-nari di dalam benaknya. Seperti sebuah rekaman video yang diputar dari awal ia bisa mengenali wajah sang ayah, hingga terakhir kalinya melihat ekspresi wajah lelaki itu beberapa saat lalu di ruang tengah rumahnya. Begitu singkat, kebersamaan dua puluh tahun bagaikan sekejap mata. Dan kini, yang ia tahu, sang ayah sudah tidak bisa diajak bicara lagi, tidak bisa diajak bercanda lagi, tidak bisa disapa lagi.
Gendhis merasakan semuanya gelap. Kosong, hampa. Hingga ia mendapati dirinya duduk terpekur di sisi ranjangnya, dengan tatapan kosong menuju satu titik yang ia sendiri tidak memedulikannya. Sayup-sayup terdengar suara orang-orang mengaji dari ruang tengah, menambah suasana duka yang entahlah, ia sendiri kebingungan bagaimana men-diksikan perasaannya.
Ia terkesiap saat suara isakan tangis ibunya di luar sana berubah menjadi makian. Makian terhadap seseorang. Seseorang yang sepertinya begitu dibencinya. Sepertinya Gendhis tahu siapa yang datang, namun ia tidak mampu menggerakkan raganya untuk menemui seseorang itu.
Gendhis justru membaringkan tubuhnya yang begitu lelah ke atas ranjang, dan berusaha memejamkan mata. Meskipun pikirannya tidak mampu terpejam. Tubuhnya menggigil. Bukan karena demam, ia menggigil, terserang hampa yang begitu nyata.
***
"Kopinya, Ka."
Handy meletakkan secangkir kopi di samping Shaka. Keduanya duduk di atas balai yang ada di halaman rumah pemuda bertubuh tambun itu.
"Makasih, Bro." Shaka mengulas senyum tipis. Senyum datar yang mengekspresikan bagaimana perasaannya saat ini.
Pulang dari rumah Gendhis, setelah kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh ibu gadis itu, ia dengan perasaannya yang kacau balau, mampir ke rumah Handy, sahabatnya. Rasanya ia harus berbicara pada seseorang agar segala keruwetan di kepalanya paling tidak sedikit terurai.
Terhitung sudah berapa batang rokok yang ia habiskan tanpa ia menyadarinya. Shaka menatap pagar rumah sebelah, rumah tempat Gendhis mengajar tari. Hanya ada bayangan gadis itu tersenyum manis padanya. Senyum yang seketika terasa begitu jauh. Dalam sekejap mata, Gendhis seperti begitu sulit ia raih.
"Kasih waktu mereka berduka, Ka. Kasih waktu buat diri lo berpikir juga." Suara Handy membuyarkan lamunan Shaka.
"Gue ngerti, Han." Shaka mengangguk pelan. "Tadi gue dateng cuma pingin nemenin dia di saat-saat terpuruk kaya gini."
Handy menepuk-nepuk bahu Shaka. "Kalau gue jadi lo, gue juga pasti ngelakuin hal yang sama, Ka." Ia menghela napas prihatin.
"Dia nggak angkat telepon gue, Han. Gue khawatir banget sama dia."
"Dia baik-baik aja, Ka. Percaya aja."
Shaka menghela napas berat sembari mendongakkan kepala. Bulan tertutup awan hitam di atas sana. "Gue ragu apa setelah ini hubungan gue sama Gendhis masih tetap sama."
"Yang mau gue bilang nih klise sebenernya, Bro." Handy terkekeh. "Kalau jodoh pasti nggak akan ke mana. Mendaki gunung, lewati lembah, nyebrang sungai, nyebrang lautan, langit runtuh sekalipun, lo bakal tetep sama dia. Entah gimana jalannya."
Shaka tersenyum getir. Klise memang. Namun, kata-kata klise itu mampu membuat hatinya kembali ditumbuhi harapan yang sempat pupus untuk sesaat.
***