Falling In Love With Mafia Boss

Falling In Love With Mafia Boss
Season 2 Part 23



Gak bisa bikin adegan orang mau melahirkan ☺☺


Dua hari kemudian


Pesta pernikahan Alvaro dan Serra akhirnya di gelar di kediaman keluarga Walter. Kedua mempelai nampak tampan dan juga cantik dengan tuxedo dan gaun pernikahannya. Setelah mengucap janji pernikahan, Alvaro nampak mencari seseorang hal itu tak luput dari pandangan Serra, "Sayang kamu sedang mencari siapa? Ellekah yang kamu cari!


Alvaro menoleh ke samping. Dia merasa bersalah dengan Serra, istrinya. Lagi lagi Serra tersenyum kecut melihat suaminya yang terdiam dan tebakannya sepertinya benar.


"Sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini. Alvaro terkejut mendengarnya, dia segera merengkuh wanitanya dan meminta maaf. "Maafkan aku sayang. " bisiknya.


Alvaro melepaskan pelukannya, mengusap perut buncit istrinya yang membesar.Sebentar lagi calon anak mereka akan segera lahir. Alvaro menekan egonya, berusaha meredam penyesalannya terhadap Elle. "Mulai sekarang kita buka lembaran baru tanpa bayang bayang masa lalu dan maafkan aku yang melukai hatimu. "


"Huum. " Serra memeluk suaminya pelan. tak lupa dia usap perut buncitnya dengan lembut. Setelah itu mereka menyalami para tamu yang memberikan selamat pada mereka berdua. Kedua orang tua dan para anggota BSG memberikan selamat pada keduanya.


"Mulai sekarang Al kamu sudah memiliki istri jadi jaga dia baik baik,apalagi Serra sebentar lagi melahirkan. " Ibu memberikan wejangan pada putera sulungnya tersebut.


Alvaro mengangguk dan tersenyum pada wanita yang mlahirkan dirinya sambil berkata, "Iya Bu aku akan selalu mengingat ucapan


Ibu. "


Sean hanya menatap keluarganya dari kejauhan, mengambil minuman lalu meneguknya hingga tak bersisa.


Puk suara tepukan dipundaknya membuatnya menoleh kearah Dexter, "Kenapa kamu tidak bergabung bersama keluargamu Sean. "


"Lagi Malas. Sean memandang sahabatnya dengan raut datarnya. Dia melirik sekitarnya namun tak menemukan sosok yang dicarinya. Dexter menghembuskan nafas berat menatap iba Sean, "Lupakan Elle dan carilah wanita lain. Jangan hanya terpaku pada wanita yang tak bisa dimiliki olehmu. "


"Aku tidak butuh pendapatmu. lagian urus saja dirimu yang juga masih jomblo itu. " ketus Sean dengan sinis. Dexter hanya bisa menggeleng, melihat sikap dingin sahabatnya itu.


Sean berlalu pergi dari sana. Dekter tak habis pikir dengan perubahan sikap Sean, "Cinta hanya membuat seseorang menjadi bodoh. " pikirnya. Rean dan Kenan menghampiri sahabatnya tersebut, "Sean sepertinya lagi pms ya sensi banget. " gurau Rean sambil terkekeh.


"Kalau berani bicara dihadapannya. Aku yakin kepalamu akan dipenggal olehnya. " Dexter menatapnya dengan raut datar, membuat Rean bergidik ngeri membayangkan ucapan Dexter menjadi nyata.


"Ck dasar teman laknat, aku enggak mau mati muda. " sungutnya. Dexter dan Kenan tersenyum puas melihat raut kesal diwajah Rean.


Siang itu mereka semua menikmati pesta pernikahan Alvaro dan Serra. Sementara Serra mengambil minuman, menatap intens kearah suaminya yang tengah mengobrol bersama anggota BSG. Berulang kali membuang nafas pelan sambil mengusap perutnya yang membesar.


"Mommy sayang kamu. Kelak kalau mommy tidak bisa bersamamu, kamu harus tumbuh jadi anak yang cerdas dan pintar. Diapun memilih menyingkir dari sana merasakan punggungnya terasa pegal.


Alvaro mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan, namun tak menemukan sosok istrinya. Dia berlalu dari aula pesta mencari keberadaan Serra.


Skip di Kamar mandi


Hosh hosh keringat mulai membasahi kening dan leher Serra.Dia menahan rasa sakit di perutnya yang menjalar ke pinggangnya, "Sayang apa kamu mau lahir sekarang. " gumam Serra sambil mengatur nafasnya.


10 menit kemudian


"Bawa aku ke rumah sakit. " Alvaro mengangguk. Dia membopong tubuh Serra lalu membawanya ke luar kamar. Kedua orang tua Alvaro langsung menyusul puteranya itu.


Ayah melajukan mobilnya kencang menuju ke rumah sakit. Alvaro tak tega melihat istrinya menahan rasa sakit, "Sayang bertahanlah demi aku dan calon anak kita. "


"Hn. " Serra mengangguk lemah, menahan rasa sakit diperutnya. Tak butuh lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Alvaro membopong ke luar istrinya dan menaggil dokter.


Dokter dan suster datang, Alvaro mebaringkan istrinya di bangsal. Suster mendorongnya masuk ke ruang persalinan. Sedangkan Alvaro dan orang tuanya menunggu di luar.


Di dalam ruangan bersalin


Serra merasakan sakit dibagian perutnya, dia mencoba mengatur nafasnya agar tidak panik. "Mari Nyonya dorong sudah pembukaan sepuluh. " seru dokter. Serra mencoba melakukan apa yang dokter perintahkan.


"Ayo coba lagi Nyonya, anda pasti bisa. " Serra mencoba sekuat tenaga melahirkan bayinya.


Oek oek oek suara tangisan bayi, membuat dokter dan suster bernafas lega. Suster segera membersihkan bayinya, namun tak lama Serra tak sadarkan diri. "Dokter, Nyonya Serra pendarahan hebat. " seru suster.


"Kita lakukan sebisanya untuk menghentikan pendarahannya. " Dokter berusaha menghentikan pendarahan Serra dibantu suster.


5 jam kemudian


Suster ke luar dari ruangan bersalin, Dia menghampiri keluarga pasien. Alvaro merasa berdebar melihat raut wajah suster yang langsung memberikan bayinya. Alvaro dengan sigap menggendong puteranya, dan tersenyum lebar. "Puteraku. " gumamnya.


Alvaro menoleh kearah suster sambil berkata, lalu bagaimana keadaam istriku Sus. " Suster hanya bisa menggeleng membuat semua orang menahan nafas. Tak lama kekudian Dokterpuj ke luar dengan raut sendunya.


"Begini Tuan, Nyonya Serra mengalami pendarahan hebat di dalam tapi maafkan kami yang gagal menolongnya. " Semua orang terkejut mendengar penuturan dari dokter.


Deg jantung Alvaro seolah terhenti seketika, mendengar kabar istrinya tak bisa tertolong. Dia menggeleng. Tak percaya sambil melirik puteranya yang ada dalam gendongannya.


"Maafkan kami dan kamu ucapkan turut berduka cita. Dokter dan suster berlalu dari sana meninggalkan keluarga Walter. Ayah dan Ibu segera menghampiri putera sulungnya itu.


Alvaro menangis dihadapan putera kecilnya serta kedua orang tuanya. Dia masih tidak bisa menerima kepergian Serra yang begitu mendadak, " Serra. " jeritnya sesegukan.


Ibu langsung mengambil alih cucunya, membiarkan ayah menenangkan Alvaro putera mereka. Gladys ikut menangis dan kasihan melihat puteranya yang ditinggal Serra untuk selamanya.


"Ayah ini pasti mimpi 'kan, Serra tidak mungkin pergi meninggalkan aku dan putera kami. " ucap Alvaro.


Ayah Zachary menepuk bahu puteranya, mencoba menguatkan Alvaro yang tengah berduka saat ini, "Nak relakan kepergian Serra agar dia tenang diatas sana. "


"Aku enggak bisa hidup tanpanya ayah, begitu juga dengan putera kami yang baru lahir. " Alvaro memeluk ayahnya sambil menangis terisak meratapi kepergian Serra.


"Kenapa kamu tinggalin aku dan putera kita sayang. " batin Alvaro.


TBC