
Hari berikutnya
Pagi itu Maxton terbangun lebih dulu dan segera mencium kening dan bibir istrinya sekilas lalu turun dari ranjang dengan hati hati. Dia segera membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian lalu kembali menatap istrinya yang masih tertidur.
"Jaga dirimu baik baik sayang. " bisiknya berlalu ke luar dari kamar.
Maxton mengambil pistol dan belatinya setelah itu menghubungi kedua mertuanya agar datang.Diapun ke luar dari mansion dan tak lama orang tua Elle datang dan berpapasan dengan Max.
"Mommy, Daddy aku titip Elle dan calon anak kami! Aku ada urusan dengan Sean saat ini. " ujar Max lalu masuk ke mobil.
Mobil Max melesat meninggalkan mansion. Daddy dan Mommy membuang nafas kasar melihat kepergian menantu mereka.
"Daddy bagaimana nanti kita menjelaskannya pada Elle mengenai kepergian Max. " ucap Mommy Rose risau.
"Sebaiknya kita masuk dulu Mom. " ajak Daddy Ken merangkul mommy dan masuk ke dalam mansion.
Di dalam kamar Elle meraba tempat sebelahnya kosong sontak membuatnya langsung membuka matanya. lDia bangun dan menatap sekelilingnya tak menemukan sosok sang suami.
"Hubby. " panggil Elle dengan suara serak.
Ellepun turun dari ranjang dengan hati hati lalu pergi ke kamar mandi.Beberapa menit kemudian dia keluar dan berganti pakaian.Elle memutuskan ke luar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan hati hati.
"Max kamu di mana. " ucap Elle memanggil nama sang suami.
Elle berjalan menghampiri orang tuanya di ruang tamu.Dia menatap bingung pada mommy dan daddynya yang terlihat cemas.
"Mom, Dad katakan apa kalian melihat suamiku? " cecar Elle dengan nada tak sabaran.
Mommy Rose mendekati putrinya lalu membantunya duduk di sofa.Dia genggam tangan Elle dengan erat setelah itu menatapnya lekat.
"Sayang suamimu pergi sebentar katanya nanti juga akan pulang nak. " rayu Mommy Rose terpaksa berbohong.
"Iya Mom. " jawab Elle tersenyum tipis.
Elleanor POV
Entah kenapa firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu pada Max tapi aku harap suamiku baik baik saja.Aku tidak akan sanggup kehilangan pria yang aku cintai lagi.
"Sayang mommy harap Daddy kamu akan baik baik saja di luar sana. " gumamnya sambil mengusap perut buncitnya.
🍁🍁
Keduanya masih saling memandang dengan sengit di dalam gudang kumuh Yang sudah tak terpakai lagi itu. Aroma tak menyenangkan dari kayu-kayu lapuk menyapa Indra penciuman mereka. Tatapan mata elang terus diberikan, seakan-akan tidak ada yang mau kalah.
Entah siapa yang memulai duluan, hanya sekarang keduanya sedang bertukar pukulan di wajah satu sama lain. Saling meninju dan menendang, memberikan perlawanan keras tanda tak ada yang ingin mengalah. "Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan Ellie padamu, Kaparat!" bentak Maxton sambil membersihkan darah yang mengalir di sudut bibirnya.
Sean tertawa remeh, lalu berkata, "Pria brengsek sepertimu juga tidak pantas buat Ellie sialan!"
Dengan cepat Sean kembali meninju wajah rupawan Maxton yang sekarang telah dipenuhi lebam biru karena ulahnya. Sean mencengkram kerah baju Maxton lalu meninjunya berkali-kali. Tak mau kalah, dengan sekuat tenaga Maxton melancarkan serangan balasan dengan menendang ulu hati Sean menggunakan lututnya. Sean mundur sambil memegang perutnya, sial! Sepertinya satu tulang rusuknya telah patah.
Melihat bosnya terluka parah, Arlan pun mendekati kedua anak Adam itu, namun Max mengangkat tangannya, memberikan kode supaya Arlan tidak perlu ikut campur dengan urusannya dan kaparat yang ada di depannya saat ini
Dor dor dor
Dor dor tembakannya mengenai dada Max sontsk membuat Sean sangat senang. Max tak tinggal diam mengarahkan pistolnya kearah Sean dan berkali kali melepaskan pelurunya.
Tubuh keduanya langsung roboh ke tanah dan darah bercucuran dari tubuh Max dan Sean. Sebelum kesadadannya menghilang Maxton mengingat senyum manis istrinya setelah itu menutup matanya dan tak sadarkan diri.
Arlan segera menghubuni ambulan setelah itu menghampiiri bossnya.Tak lama kemudian ambulan datang dan para petugas membawa tubuh Max dan Sean ke dalam ambulan setelah itu melesat jauh.
Skipdi rumah sakit
Arlan menunggu di luar menantikan dokter yang tengah mengoperasi tubuh Maxton dan Sean.Dia mengambil ponsel bossnya lalu menghubungi kedua mertua Max.
"Boss bertahanlah demi Nyonya Elle dan calon anak kalian. " gumam Arlan frustasi.
Tap tap tap langkah kaki Elle kian cepat menghampiri Arlan mengabaikan teriakan mommynya.Melihat kedatangan istri bossnya membuat Arlan merasa tidak tega.
"Arlan katakan apa yang terjadi dengan suamiku. " bentak Elle.
Arlan membuang nafas berat lalu mengatakan kejadiannya pada Elle tanpa terlewatkan.Elle membungkam mulutnya dengan tangan dan kini air matanya mengalir dengan deras.
"Max hiks hiks aku mohon kamu harus bertahan sayang. " gumam Elle dengan tatapan sendunya.
Mommy Rose segera merangkul puterinya dan sama sama menangis mengingat keadaan Max saat ini.
"Bagaimana keadaan Sean sekarang. " sahut Gladys.
"Dia berada di ruang operasi Nyonya. " jawab Arlan.
Elle merasa sangat syok mendengar keadaan putera bungsunya setelah Arlan menceritakan semuanya.Dia hampir saja tumbang namun masih ditahan mommy Rose.
"Mom hiks. " Elle menghambur dalam pelukan mommynya.
Tak lama kemudian keluarga Walter datang. Arlan kembali mengatakan semuanya pada keluarga Walter.Alvaro mengepalkan tangannya mendengar kejadian yang terjadi.
"Ini semua gara gara kamu Elle. " geram Alvaro dengan tatapan tajamnya kearah Elle.
"Cukup jangan salahkan Elle dalam masalah ini Alvaro. " bentak Daddy Ken.
"Memang benar Elle penyebabnya hingga Sean kritis seperti sekarang ini Om. " sahut Serra.
Elle menghapus air matanya lalu berjalan ke depan menatap tajam kearah Serra.
Plak Elle langsung menampar Serra dengan sekuat tenaga hingga semuanya terkejut terutama Alvaro.
"Kamu hanya orang luar jangan ikut campur dan aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. " bentak Elle.
"Dan kamu Alvaro jaga mulut busukmu itu jangan terus menerus menyalahkan orang.Cih pikiranmu cukup dangkal ya dan aku sangat menyesal pernah jatuh cinta pada pria tak berguna sepertimu. " desis Elle.
Mommy Rose menenangkan puterinya yang tengah dikuasai amarah.Semua orang di sana kini larut dalam pikiran masing masing.
TBC