
Happy Reading!
Di taman samping mansion, Serra kini tengah duduk di kursi dekat pohon yang rindang. Berulang kali membuang nafas berat karena dirinya gagal membunuh Alvaro.
"Segala cara telah aku lakukan tapi pria breng***k itu selalu saja lolos dari mautnya. " gumam Serra.
Tatapannya kini beralih pada perutnya yang masih rata lalu mengusapnya lembut. Tap tap tap suara langkah kaki mendekat kearahnya membuat Serra menoleh.
"Sayang apa yang kamu lakukan di sini. " ucap Alvaro basa basi.
"Hanya ingin mencari udara segar honey. " elak Serra.
"Oh ya aku mau tanya! Apa alasanmu yang sebenarnya kenapa kamu berniat membunuhku. " ungkap Alvaro dengan tatapan datarnya.
Deg Serra membulatkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Alvaro barusan.Diapun tersenyum sinis menatap pria yang ada di sebelahnya.
"Baiklah karena aku sudah ketahuan aku akan menjawab pertanyaanmu. "
"Paman Zachary ayahmu dulu membantai dan melenyapkan orang tuaku yang merupakan calon raja dan calon ratu dari kerajaan di negara X yang bernama Agra dan Victoria. " teriak Serra meluapkan amarah dan kebenciannya.
Deg Alvaro terkejut mendapati kenyataan yang disampaikan oleh Serra, wanitanya.Dia menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya apa yang diucapkan oleh Serra mengenai Ayahnya Zachary.Serrapun bangkit begitu juga dengan Alvaro.Dia menatap sinis kearah Alvaro yang diam membeku.
"Aku membencimu dasar anak pembunuh. " ucap Serra dengan sorot penuh kebencian.
Serra berjalan melewati Alvaro lalu masuk ke dalam.Alvaro tersentak dan langsung ke puar dari mansion dan masuk ke dalam mobil.Alvaro melajukannya dengan cepat dan Mobilnya langsung melesat jauh.
"Aku harus tanya sama Ayah dan Ibu. " gumam Alvaro.
20 menit kemudian
Alvaro turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam mansion sang ayah dengan tergesa gesa.
"Ayah. " panggil Alvaro dengan setengah berteriak.
"Ada apa nak kenapa kamu berteriak? " tanya Ibu yang berada di ruang tamu.
"Di mana Ayah, Bu aku ingin bicara sesuatu sama Ayah. " desak Alvaro pada sang ibu.
Tap tap tap suara langkah kaki mendekat
"Ada apa nak kenapa kamu mencari Ayah? " sahut Zachary yang kini duduk di sofa.
"Apakah dulu Ayah menghabisi seorang calon raja bernama Agra dan selirnya bernama Victoria. " cecar Alvaro.
"Iya Nak memangnya ada apa. " Zachary terlihat mengerutkan kening dengan pertanyaan putera sulungnya itu.
Alvaro membuang nafas kasar lalu mengatakan semuanya pada orang tuanya mengenai siapa Serra sebenarnya.Gladys dan Zachary sangat terkejut mendengar kenyataan mengenai Serra calon menantu mereka.
"Al apa yang akan kamu lakukan pada Sera mengingat wanitamu itu mengandung calon anak kalian. " ujar Gladys pada puteranya.
"Entahlah Mom mengingat kebencian ada dalam sorot mata Serra padaku mungkin saja selamanya dia akan membenciku. " ujar Alvaro dengan raut frustrasi.
"Lakukan sesuatu nak sebelum Serra membunuh kamu atau ayah akan bertindak sendiri menghadapi wanitamu itu. " tegas Ayah.
"Iya Ayah Al pergi dulu! Alvaro bangkit dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Ibu langsung menghambur ke dalam pelukan Ayah melihat kisah cinta rumit puteranya yang disebabkan masa lalu mereka dengan orang tua Serra.
"Sabarlah sayang kedua putera kita pasti bisa menghadapi ini semua. " tegur Ayah Zachary.
"Mungkin ini karmaku di masalalu tapi berimbas pada Alvaro dan Sean. " gumamnya sambil menghembuskan nafas berat.
Di Mansion Alvaro
Serra mengambil pistol milik Alvaro lalu mengenggamnya erat sambil menunggu kepulangan Alvaro.
"Serra. " panggil Alvaro.
Serrapun langsung menoleh menatap Alvaro yang datang bersama para sahabatnya.Alvaro berjalan menghampirinya dan Sera segera menodongkan pistolnya kearah Alvaro.
Rean dan Kenan serta Mike terkejut dengan apa yang dilakukan Serra.Mereka hendak menahannya nakun Alvaro memberikan kode agar berhenti melalui tangannya.
"Ayo tarik pelatuknya agar kamu puas telah membalaskan dendam orang tuamu pada orang tuaku dengan cara membunuhku. " ucap Alvaro dengan santai.
"Ya kamu memang pantas mati supaya orang tuamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang orang tercintanya. " seru Serra dengan tatapan penuh kebencian pada Alvaro.
"Tapi ingatlah Serra meskipun jika aku sudah tak bernyawa tapi aku tetap mencintaimu dan calon anak kita. " sahut Alvaro.
Serra menghindar dari tatapan Alvaro yang lembut agar dia tak terbulai dengan apa yang dikatakannya barusan.Rean merasa geram dan segera menghubungi orang tua Alvaro.
Serra hendak menarik pelatuknya namun tiba tiba ada yang merebut dan melempar pistolnya ke sembarang arah.Diapun menoleh dan terkejut melihat kehadiran orang tua Alvaro.
"Serra, Paman tahu paman salah tapi paman membunuh orang tuamu karena mereka menculik Bibi Renata dan menyakiti Bibi Gladys hingga hampir kehilangan nyawanya padahal saat itu bibi Gladys tengah hamil Alvaro. "
"Tidak mana mungkin orang tuaku seperti itu. " ucapnya tak percaya.
"Kenyataannya memang seperti itu nak. " sahut Gladys, ibunya Alvaro.
Serra menitikkan air matanya medengar kenyataan mengenai orang tuanya di masa lalu. Alvaro berjalan menghampiri wanitanya namun Serra memilih menghindar.
"Jangan dekati aku. " pintanya dengan tatapan sendu kearah Alvaro.
Serra berbalik dan bergegas ke luar dari mansion Alvaro sambil menangis.Alvaro menatap kepergian Serra dengan tatapan nanarnya.Dia membuang nafas pelan lalu berlari menyusul calon istrinya yang pergi tanpa berkata apapun.
"Sebaiknya kita tunggu mereka di ruang tamu. " ujar Zachary.
Ibu, Rean dan Kenan menuju ke ruang tamu dan menenangkan diri mereka setelah bersitegang dengan Serra.
Serra berjalan cepat mengingat ucapan orang tua Alvaro mengenai orang tuanya di masa lalu.
"Jadi aku salah paham pada paman Zach dan Bibi Gladys.Ternyata dendam dalam hatiku selama ini ternyata sia sia. " ucanya tersenyum getir menyadari kebodohannya selama ini.
"Serra tunggu! teriak Alvaro dari kejauhan.
Serra menoleh kearah Alvaro yang ada di belakangnya.Dia terus berjalan mengabaikan teriakan dari ayah janinnya itu.
"Maafin Mama yang hampir membunuh Papamu sayang. " gumam Serra.
"Serra aku bilang berhenti. " teriak Alvaro lagi
TBC