
Di kediaman Maxton, 06.00 sore.
Elle tersenyum lebar melihat kedatangan Adelia, ya sejak kecil mereka selalu bermain bersama. "Keponakan aku sehat sehat saja 'kan Elle. " cecar Adelia sambil tersenyum.
"Tentu saja sangat sehat Del. Elle nampak mengelus perut buncitnya dengan lembut dihadapan Adelia.Adel ikut merasakan bahagia melihat sahabatnya menemukan kebahagiaannya.
"Oh ya Del kamu menginap disini 'kan. " Elle terlihat sangat berharap sahabatnya mau menginap namun Adel menggeleng pelan.
Adel merasa bersalah membuat Elle bersedih namun segera dia raih tangan Elle, sambil berkata. "Lain kali aku akan menginap disini kok Elle. Kalau begitu aku pulang ya. "
"Baiklah! Elle mengangguk memperhatikan Adelia yang pergi dari mansionnya. Maxpun langsung duduk disebelah istrinya, membuat Elle menoleh.
"Kenapa sayang! Maxton mengerutkan kening melihat istrinya terlihat bersedih. Elle langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum singkat.
"Enggak papa hubby, tiba tiba aku kangen sama adikku Berliana. " Max langsung mengenggam tangan istrinya lalu mengecupnya sekilas.
"Kamu bisa menghubunginya honey. " Max mengambil ponsel Elle lalu memberikannya pada sang istri.
Elle dengan semangat langsung melakukan panggilan videocall pada Berliana,tak lama sambungan terhubung. "Lian, kakak kangen sama kamu. kenapa kamu enggak pulang sih. " omel Elle.
"Hehe maaf kak aku sibuk kuliah, oh ya bagaimana keadaan calon keponakanku. " ucap Liana. Liana menampilkan senyumnya dihadapan sang kakak.
"Mereka berdua sangat sehat dalam kandunganku, pokoknya sebelum kakak lahiran kamu harus pulang. Liana terkekeh melihat kakaknya tengah merajuk saat ini.
Elle mencebikkan bibirnya melihat adiknya tengah menertawakan dirinya.Max mengulas senyumnya merasa gemas dengan tingkah Elle. "Liana pasti pulang sayang percaya sama aku. " sahut Max.
"Nah benar kata kakak ipar, kak Elle aku pasti pulang kok tenang saja oke. Elle mengangguk dan tersenyum lebar kearah adik kesayangannya tersebut.
"Pasti di sana kamu main sama kangguru ya Liana makanya betah di sana. " tawa Liana pecah mendengar ucapan Elle barusan.Max tersenyum geli dengan perkataan sang istri.
Pfft Liana tertawa terbahak bahak namun tak berselang lama dia terdiam, sambil berkata. "Liana juga kangen kakak Elle, Mommy dan Daddy. Lian janji akan segera pulang kak dan jaga kesehatan kak Elle ya bye. "
Sambungan terputus Elle menaruh ponselnya di meja.Senyuman dibibirnya tak pudar setelah tahu kabar dari Berliana, adiknya. "Hubby, aku bahagia mengetahui kabar adikku. Aku harap dia segera kembali berkumpul bersama kita. "
"Iya sayang. " Maxton tak henti hentinya menyunggingkan senyumnya melihat istrinya bahagia.
Max membantu istrinya berdiri lalu membantunya ke dapur.Di sana dia serius memperhatikan sang istri yang sangat lincah memasak makanan meski perutnya membuncit Maxpun berkata, "Ah istriku semakin lama semakin seksi semenjak dia hamil. "
Max menarik kursi lalu membantu istrinya duduk, Elle tersenyum dengan segala perhatian dari suaminya tersebut. Mereka berduapun makan malam bersama dengan canda tawa menghiasi malam mereka.
💕💕
Di sisi lain, Serra memilih diam mendengar percakapan keluarga Walter. Gladys tampak berdebat dengan Sean, putera bungsunya di meja makan. "Hanya Elle yang aku cintai Ibu, aku enggak mau dijodohkan dengan gadis
lain. " tegas Sean.
"Umurmu sudah cukup matang nak untuk menikah. Apa kamu lupa Elle sudah bahagia dengan suaminya, sebentar lagi mereka memiliki anak. " tegur Ibu Gladys.
"Tapi Bu, aku tidak mau dengan gadis lain. tolong jangan paksa aku. " geram Sean sedikit meninggikan suaranya.
Zachary menatap tajam putera bungsunya, sambil berkata. "Dia ibumu Sean jaga sikapmu. Elle sudah punya suami, kamu lupakan dia
nak. " bentak Zachary dengan tatapan tajamnya.
"Maaf Ibu, Ayah. Sean membuang nafas kasar lalu melanjutkan makannya.Alvaro hanya bisa mendesah pelan melihat adiknya yang keras kepala.
Alvaro tersenyum getir mengingat sikapnya selama ini pada Elle.Menyesal, tentu saja setelah apa yang dia lakukan terhadap Elle. Nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa mengulang keadaan seperti semula. "Maafkan aku Elle, karena keangkuhanku dan sikap dinginku membuatmu berulang kali tersiksa dan menderita. "
"Al ada apa! Serra menyentuh tangan Qlvaro hingga membuat Alvaro menoleh. Alvaro menepiskan senyumnya lalu menggeleng.
"Enggak papa sayang, lebih baik pikirkan pernikahan kita lusa. " Alvaro memaksakan senyumnya dihadapan calon istrinya tersebut. Serra yang menyadarinya hanya bisa tersenyum kecut namun tak bisa berbuat apa apa.
"Apa cintamu padaku hanya cinta sesaat Al. " pikir Serra. Serra diam diam mengamati raut sendu diwajah Alvaro.
Setelah itu makan malam mereka kali ini terlihat tenang dan masih dalam suasana tegang. Hanya suara sendok yang saling berdentingan memecah kesunyian malam itu.
Gladys menghembuskan nafas kasar memperhatikan puteranya Sean, Zach segera mengenggam tangannya membuat wanita paruh baya tersebut menoleh. "Sayang jangan khawatir seiring sejalannya waktu semuanya akan baik baik saja. " gumamnya.
"Iya Ayah. " Gladys menampilkan senyumnya di wajahnya yang terlihat masih cantik diusianya yang terbilang tua. Sean merasa bersalah karena telah membentak wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Maafkan aku Bu, Aku membuatmu kecewa! batin Sean.
TBC