Falling In Love With Mafia Boss

Falling In Love With Mafia Boss
part 12



Terimakasih buat temanku yang mau membantu revisi bab ini wkwk


Keesokan harinya,


Mentari pagi memancarkan sinarnya dengan terang, cahayanya masuk ke kamar Gladys melalui celah-celah gorden yang terbuka.


Gladys menggeliatkan tubuhnya lalu bangun perlahan dan duduk dengan tegak sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Gladys bangkit dari dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya dengan malas menuju ke kamar mandi yang terletak tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Setelah mandi dan membersihkan diri Gladys akhirnya ke luar(keluar) dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Gladys mengambil sisir yang ia letakkan di tempat biasa dan mulai merapikan diri.


Tidak lama, Gladys meraih tasnya yang ada di atas meja lalu berjalan perlahan ke luar dan menuruni tangga dengan hati-hati.


Gladys melangkahkan kakinya menuju ke meja makan di mana kedua orangtuanya sudah menunggu. Gladys hanya bertindak tidak peduli ketika kehadiran sang kakak, Rafael belum kelihatan batang hidungnya sama sekali.


Pagi Mom, Dad!" sapa Gladys dengan senyuman tipis di bibirnya. Gladys menarik mundur kursi yang akan didudukinya dengan pelan.


"Oh ya, di mana Kak Rafael?" tanya Gladys kemudian.


"Pagi juga Sayang! Kakakmu sudah pergi ke kantor tadi, kelihatannya ia sedang terburu-buru." Mommy Gladys membalas pertanyaan tadi dengan senyuman lembut juga di bibirnya.


Mendengar itu Gladys menganggukkan kepalanya dan tidak lagi melontarkan pertanyaan. Gladys mengambil roti dan memberi selai di atasnya sebelum memakan roti tersebut.


Setelah menghabiskan sarapan sederhananya Gladys langsung menenggak susu yang selalu tersedia untuknya hingga tandas.


Gladys membuka tasnya perlahan dengan wajah penasaran akibat getaran yang ditimbulkan oleh ponselnya yang berbunyi. Gladys menghela nafas ketika melihat siapa yang telah menghubungi dirinya saat ini.


"Halo Rena, ada apa?" tanya Gladys dengan tenang.


"Dys, aku mau curhat sama kamu nih. Bagaimana kalau kita bertemu di cafe tempat biasa duduk?" tawar Renata dengan suara pelan.


"Oke," jawab Gladys singkat. Gladys memutus sambungan telepon sepihak dan langsung menyimpan ponsel itu kembali ke dalam tas.


"Mom, Dad. Gladys pamit dulu ya, Gladys mau ketemu Renata di cafe biasa dulu," pamitnya sambil tersenyum.


"Iya, kamu hati-hati di jalan ya Sayang!" nasehat mommyanya dengan lembut.


Gladys mengangguk dan dengan cepat beranjak pergi meninggalkan meja makan berlalu pergi ke luar mansion.


Ketika mencapai halaman, Gladys menemukan keberadaan Zach yang bergegas menghampiri Gladys saat mata mereka bertemu.


"Zachary," panggil Gladys dengan lembut, senyumnya merekah dengan begitu indah.


Zach yang mendengar suara lembut Gladys semakin mempercepat langkahnya agar cepat sampai di dekat Gladys.


"Pagi sweety," sapa Zach tidak kalah lembut.


"Hmm, pagi juga Zach! Hari ini aku memiliki janji dengan sahabatku Renata," cetus Gladys langsung.


Gladys mengangguk, lalu ke-duanya berjalan menuju ke arah tempat mobil Zach terparkir. Zach membukakan pintu untuk Gladys sebelum ia masuk ke bagian kemudi dan meninggalkan halaman rumah Gladys setelah mesin mobil hidup.


Tanpa Zach dan Gladys sadari ada sebuah mobil yang dengan warna cat hitam mengikuti mereka dari belakang sejak melewati gerbang rumah Gladys. Di tengah jalan yang sepi mobil itu menyalip dan seseorang langsung menembak ke arah kaca mobil Zach tepat ke arah kemudi.


Zach yang tersadar langsung mengeluarkan pistol miliknya dan menurunkan kaca mobil sedikit hingga tangannya mengarahkan pistol ke arah mobil tadi.


"Sweety tundukkan kepalamu ke bawah dan tutup matamu jika tidak ingin melihat," perintah Zach cepat sebelum menekan pelatuk pistolnya.


Dor


Satu tembakan berhasil menembus kaca mobil Zach namun tembakan itu tidak mengenai Zach ataupun Gladys.


Zach mencebik marah karena ketenangannya terganggu dan ia kini tengah menyeringai senang dengan senyuman aneh tercetak di bibirnya nan rupawan.


Zach mengarahkan pistolnya ke arah mobil lawan yang ternyata di dalam sana juga ada dua orang sama seperti dirinya.


Ketika ban mobil pecah dan mobil si pengganggu mengalami masalah, Zach kembali menekan pelatuk. Tembakan Zach begitu tepat sasaran hingga melubangi dahi ke-dua orang itu dalam waktu yang bersamaan.


Segera, setelah selesai dan mengenai sasaran hingga mobil lawan berhenti barulah Zach menyimpan pistolnya kembali dan melaju pergi meninggalkan tempat kejadian.


"Sweety, angkat kepalamu kembali dan bukalah mata indahmu yang menawan itu." Zach tersenyum, satu tangannya mengusap rambut Gladys dengan lembut.


Perlahan, Gladys mengangkat kepalanya dan bersandar ke kursi dengan nafas lega. Dia berusaha meredakan detak jantungnya yang berdetak kencang dan tidak terkendali akibat kejadian yang baru saja berlangsung.


Gladys menoleh ke arah Zach dengan raut wajah penasaran.


"Apa yang terjadi sebenarnya Zach? Kenapa mereka mengincar kita?" tanya Gladys


"Maaf Sweety aku belum bisa menjelaskan mengenai kejadian tadi, " tolak Zach dengan lembut.


Gladys terdiam mendengar ucapan Zach dan kini dia semakin penasaran dengan identitas Zach yang sebenarnya.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan Zach, " batin Gladys penuh tanda tanya.


"Kita pergi ke Cafe Dahlia, " tandasnya.


Sementara Zach kini tengah fokus menyetir menuju ke alamat Cafe yang disebutkan oleh Gladys barusan.


TBC


jangan lupa like, vote dan komentar


..