
Happy Reading!
Yuri menghembuskan nafas kasarnya dan menatap kedua pria yang sangat penting dalam hidupnya tersebut dengan tatapan tajam dan kecewanya.
"Kenapa kak Louis tidak mengatakan padaku kak perihal beberapa hari yang lalu jika kamu melakukan operasi. " cecar Yuri menahan kekesalannya.
"Maafkan kakak, kakak hanya tidak ingin khawatir dengan kondisiku kemarin.Lihatlah sekarang keadaanku sudah sehat dan pulih Yuri. " terang Louis pada adiknya.
Yuri menghembuskan nafas berar mendengar penjelasan kakaknya Louis.Kini dia memilih mengalah dan kembali menatap saudara satu satunya tersebut.
"Lain kali jangan tutupi hal apapun dariku kak karena aku merasa menjadi adik tak berguna yang tidak bisa membantumu kak.Apalagi aku yang tak tahu keadaanmu yang melakukan operasi kemarin. " ucapnya dengan suara tertahan.
Matthew segera merengkuhnya dari samping melihat gadisnya menahan tangis. Louis merasa menyesal telah memyembunyikan keadaannya kemarin pada Yuri adiknya.
"Maafkan kakak Yuri. " ujar Louis menyesal.
"Iya Kak. "
Drt drt drt ponsel Matthew berbunyi
Matthew segera saja meraih ponselnya setelah itu langsung mengangkatnya.
"Halo Hen ada apa? " tanya Matthew tanpa basa basi.
"Matthew susul aku ini aku dan Clara tengah diikuti seseorang dari belakang. " ujar Hendery diujung seberang.
"Ok kirim alamatnya aku akan ke sana. " Matthew menyimpan ponselnya ke dalam saku.
Cup Dia mencium kening kekasihnya sekilas setelah itu berpamitan pada kekasih dan calon kakak iparnya tersebut.Matthew meraih pistolnya lalu memasukkannya ke dalam jaket setelah itu pergi.
Yuri menatap kepergian kekasihnya dengan raut cemas namun dipatahkan Louis sang kakak yang meyakinkannya bahwa Matt akan baik baik saja.
Skip
Dor dor suara bunyi tembakan yang menggelegar di jalanan.Hendery dengan gesit menembaki satu persatu para cecunguk yang mengangguk moment loveydoveynya.Clara merasa ketakutan dan berlindung dibelakang tubuh Kekar Hendery.
"Cih sialan bedebah kalian. " umpat Hendery penuh emosi sambil menembak kearah para musuhnya.
Dor dor sekali tembakan mengenai jantung para musuhnya hingga mereka jatuh merosot ke jalanan.Bau anyir terhembus sampai tercium Clara membuat Clara merasa mual dan semakin bergidik memyaksikan pertumpahan darah di depan matanya langsung.
Tak lama kemudian Matthew datang membantu dirinya membawa angin segar untuknya.
"Hendery sebaiknya kamu bawa Clara menjauh biar aku urus sisa para tikus kecil itu. " ucap Matthew.
"Oke! Ayo Clara kita pergi nanti aku jelaskan. " Hendery peka dengan tatapan Clara yang terlihat bingung dan penasaran.
Hendery mengenggam tangan Clara lalu membawanya pergi dari sana menggunakan mobilnya.Matthew memasukkam pistolnya dalam jaket setelah itu berganti mengeluarkan belatinya yang sudah haus akan darah musuhnya.
Matthew bergegas menghampiri salah satunya lalu menjambak rambutnya dan menodongkan belatinya dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak akan berbicara padamu. " kekeh pria tersebut.
Crash tanpa aba aba Matthew langsung menebas kepala pria tersebut tanpa belas kasih.Diapun kembali berdiri dan langsung membersihkan belatinya dan juga jaketnya yang terkena cipratan darah setelah itu pergi dari sana dan melajukan mobilnya kencang.
Di dalam mobil Matthew langsung memberikan informasinya pada Zach tentang kejadian barusan.
"Boss sepertinya ada orang yang ingin menyerang kita secara diam diam karena menurut pengamatanku para tikus tadi bukan anak buah si pangeran keparat itu. " desis Matthew.
"Hemm Matthew kamu bantu Hendery mencari tahu siapa yang menyuruh mereka dan setelah dapat segera beritahu aku! " titah sang tiran.
Matthew menutup ponselnya lalu kembali fokus menyetir sambil mengawasi sekelilingnya dengan hati hati.
Dia berulang kali menghembuskan nafas berat mengingat musuh di mana mana dan dirinya mengkahwatirkan Yuri kekasihnya.
"Yuri apapun terjadi aku akan melindungi segenap jiwaku meskipun nyawaku jadi taruhannya. "
Beberapa menit berlalu
Matthew kini kembali ke mansion Zach dan masuk ke dalam mansion.Dia bergegas membersihkan tubuhnya di kamar mandi kamarnya sebelum kembali menemui gadisnya nanti.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Matthew menemui Zach dan Nicholas yang berada di ruang tamu.Zach memberi kode pada Renata agar membawa Gladys pergi dan Renata mengangguk.
"Kita ke teras yuk Dys biarkan suamimu berbicara dengan Matt dan para anggota BS lainnya. " ajak Renata.
"Ya sudah ayo. " Renata dan Gladys langsung pergi dari sana meninggalkan para pria.
Sepeninggal istrinya, Zach menatap kearah Matthew dengan raut wajah seriusnya begitu juga dengan Nicholas dan lainnya.
"Menurutku sih Boss ada pihak lain yang menginginkan nyawa dari salah satu kita atau kita semua yang menjadi incarannya. " desis Tomy menyampaikan apa yang ada diotaknya.
"Cih pengecut beraninya bermain dari belakang! geram Zach mengeraskan rahangnya mengingat musuhnya bertambah membuatnya khawatir tentang keselamatan istri dan calon anaknya.
"Jika sampai mereka berani menyentuh istri dan calon anakku maka aku akan mengoyak tubuhnya hingga tak bersisa. "desis Zach penuh amarah disetiap kalimatnya.
Semua orang bergidik merasakan aura dingin membunuh yang terkuar dari boss mereka tersebut tapi terkecuali dengan Nicholas adiknya hingga suasana di dalam ruang tamu terasa mencekam.
"Siapkan senjata senjata serta obat yang sudah teruji efek samping atau bahayanya untuk melawan musuh kita nanti agar sewaktu waktu kita tidak kecolongan. " perintah sang boss tiran dengan muthlak.
"Iya Boss. " jawab Tommy dengan sigap
Tommy dan Erick langsung pergi meninggalkan mansion mendengar perintah Zach.Sedangkan Zach memilih pergi ke ruangan rahasianya yang merupakan tempat kedua menyimpan berbagai senjata.
Dia mengambil snipper lalu mengisinya dengan peluru emas lalu meletakkannya kembali di meja.Seringainya terbingkai di sudut bibirnya karena merasa sudah tidak sabar bermain dengan para tikus yang ingin membangunkan singa.
TBC