Falling In Love With Mafia Boss

Falling In Love With Mafia Boss
Meyakinkan



Nicholas saat ini bersama Hendery tengah melacak keberadaan Renata. Sesekali Nicholas memukul meja yang ada di depannya.


Brak


"Ah sial aku gagal menjaganya. " maki Nicholas.


"Tenanglah dulu brother kita pasti akan menemuikan keberadaan Renata. " sahut Hendery sambil mengotak atik komputernya.


Nicholas membuang nafasnya kasar lalu menghubungi para anak buahnya untuk memeriksa apartemen Renata.Setelah selesai menyimpan ponselnya dalam saku dan kembali duduk di sofa.



Di Istana Ramada



Renata di kurung di sebuah kamar oleh penasehat Roy.Renata tersadar dari pingsannya dan langsung menatap sekelilingnya dengan raut bingungnya.


"Sebenarnya siapa yang membawaku ke mari. " gumamnya pelan sambil memegangi kepalanya.


Cklek pintu di buka dari luar dan masuk pelayan membawa sebuah gaun lalu menghampirinya.


"Anda sudah bangun nona silakan mandi dan berganti pakaian karena pangeran mahkota sudah menunggu Anda. " ucap sang pelayan.


Pelayan langsung berlalu pergi ke luar meninggalkan Renata yang kebingungan. Diapun memutuskan pergi ke kamar mandi dengan penuh tanda tanya dalam benaknya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Renata langsung ke luar dari kamar dan menuruni tangga setelah make up. Tap tap tap suara langkah kakinya terdengar hingga membuat Agra menoleh.


"Silakan duduk nona. " ucap Agra dengan tenang.


Renata menurut dan langsung duduk di sofa. Keduanya saling menatap satu sama lain membuat Renata kian penasaran.


"Kenapa kamu menculik dan membawaku ke mari apa tujuanmu sebenarnya? " tanya Renata to the poin.


Agra tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang terlontar dari gadis di depannya. Sedangkan Renata merasa kesal dengan sikap Agra yang hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.


"Aku menginginkan seorang gadis yang memiliki tanda lahir di bahu kirinya berbentuk bintang dan aku yakin gadis itu Gladys sahabatmu.Aku ingin menjadikannya selirku dan ibu dari anak anakku. " ucap Agra dengan santai.


"Tanda lahir di bahu tapi bukankah Gladys tak memilikinya. " batin Renata mencoba mengingatnya.


"Jadi kamu menculikku agar ditukar dengan Gladys begitu. "


"Ya. " Agra mengakui kecerdasan gadis di depannya yang lebih cepat menangkap maksudnya.


Renata diam diam mengepalkan tangannya atas ucapan Agra barusan.Tak akan


dibiarkan Agra membawa dan merebut Gladya dari sisi Zachary.Diapun bangkit dan menatap tajam kearah Agra.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. " geram Renata emosi.


"Apapun caranya aku akan mengambil Gladys dari tangan si mafia tengik itu. " ucap Agra penuh penekanan lalu melepaskan cengkeramannya pada dagu Renata.


Agra menarik tangan Renata lalu membawanya ke atas.Renata memberontak mencoba membebaskan dirinya namun percuma tenaganya kalah jauh dari Agra.


Keduanya masuk ke dalam kamar dan Agra mendorongnya keras ke atas ranjang dan Renata langsung terjerembab.Renata merasa kesal dan kembali duduk dan melirik tajam kearah Agra.


"Tapi Gladys tak memiliki tanda itu pangeran bodoh. " teriak Renata.


"Ck jangan berani berani membohongiku sialan. " desis Agra dengan tatapan membunuhnya.


"Ya sudah kalau tidak percaya. " Renata mengangkat bahunya acuh.


Agra berlalu ke luar dari kamar Renata dan brak membanting pintunya kasar.Renata terjengit kaget dengan apa yang dilakukan Agra barusan.


"Dasar pangeran pemarah cih. " makinya pelan.


Renatapun segera mencari ponselnya di manapun namun tak di temukan membuatnya kesal.Dia berkali kali membuang nafasnya berat dan memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Aku harap akan ada yang menolongku huft dan jangan sampai pangeran sombong itu tahu jika akulah yang memiliki tanda lahir berbentuk bulan di bahuku. " batin Renata cemas.


💞💞


Sementara putera mahkota Agra kini berada di melampiaskan amarahnya dalam kamarnya.Dia merasa kesal dengan Renata yang berani melawannya.Dia membuang nafasnya kasar setelah itu merogoh ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Cari tahu tentang gadis bernama Renata dan segera laporkan padaku. " perintah Agra.


"Baik Yang Mulia. "


Agra menyimpan ponselnya kembali dalam saku setelah itu ke luar dari kamar dan menuruni tangga.Para pelayan langsung membungkuk memberi hormat padanya namun dia abaikan.


Di ruang tamu Istana


Puteri mahkota Victoria duduk di sebelahnya lalu memperhatikan suaminya tersebut.Dia mengernyitkan dahinya melihat raut kesal kentara di wajah Agra.


"Ada apa Yang Mulia kenapa Anda sepertinya tengah terlihat kesal? " tanya puteri mahkota Victoria basa basi.


"Aku tidak kenapa kenapa puteri mahkota. " elak Agra dengan wajah datarnya.


"Ngomong ngomong aku dengar Yang Mulia menyuruh prajurit menculik seorang gadis Yang Mulia? " tebak puteri mahkota.


"Ya Dia sahabat dari gadis yang aku incar. " sahutnya dengan santai.


Puteri mahkota manggut manggut mendengarnya namun tak lama kemudian diam diam seringai muncul di sudut bibirnya karena telah memiliki rencana dalam otaknya.Setelah itu bersikap normal dan menatap putera mahkota.


Tbc