
Sementara Matthew dan Yuri kini masih berada di teras. Yuri masih kesal dengan sikap Matthew yang sangat menyebalkan baginya.
"Ke mana menghilangnya sikap bawelmu tadi Yuri. " cerca Matthew sambil menatap gadis disebelahnya.
"Berhentilah berbicara paman. " dengus Yuri.
"Aduh. " Yuri meringis kesakitan kala Matt menyentil dahinya keras.
"Jangan memanggilku paman bodoh. " Matthew memasang wajah datarnya kearah Yuri.
Yuri mencebikkan bibirnya kearah Matthew sontak membuat Matthew menelan ludahnya melihat bibir mungil Yuri yang menggodanya dan kini tengah merutukinya kesal.
Matthew dengan sigap meraih pinggang Yuri lalu merapatkannya ke tubuhnya dan setelah itu menempelkan bibirnya ke bibir Yuri. Yuri melongo merasakan benda kenyal berada di atas bibirnya dan tengah menjelajahi dalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian mereka melepaskan diri dan langsung menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Kedua pipi Yuri langsung memerah dengan apa yang mereka lakukan barusan.
"Bibirmu sangat manis dan mulai sekarang kamu milikku Yuri. " bisik Matthew di depan wajah Yuri.
Yuri merasa gugup dan salah tingkah mencoba mendorong Matt namun tidak bisa. Diapun memilih pasrah kala tubuhnya di rengkuh dengan posesif oleh Matt.
"Apakah Kamu takut padaku karena aku anggota mafia Yuri? " tanya Matt pada gadisnya.
"Tidak tapi hanya saja Aku takut kalau Aku hanya akan jadi bebanmu dan juga kak Louis dalam menghadapi musuh kalian. " imbuh Yuri.
"Tenanglah Aku akan melindungimu. " sahutnya sambil tersenyum tipis.
Yuri merasa lega mendengarnya kemudian dia menelusupkan kepalanya di dada bidang Matthew dengan nyamannya.
Dari kejauhan Louis memperhatikan mereka lalu menggelengkan kepalanya setelah itu pergi dari sana tanpa menganggu adiknya yang bersama Matt.
Yuri pov
Berada dalam pelukan Matt membuatku nyaman dan juga aman. Entah kenapa Aku merasa tertarik dengan pria yang memelukku ini selain itu Aku juga tidak takut dengannya meskipun tahu siapa Matt sebenarnya.
Matt melepaskan pelukannya lalu mengajak gadisnya masuk ke dalam dan Yuri menurutinya. mereka berdua bergegas menghampiri Zach dan lainnya di ruang tamu.
Semua orang langsung menatap kearah Matt dan Yuri dengan intens sontak membuat Yuri tersenyum kikuk. Sementara Louis sang kakak tengah meneguk segelas wine sambil memperhatikan adiknya.
"Cie uhuk sepertinya sebentar lagi si Louis punya adik ipar. " ucap Erick sambil tersenyum meledek Louis.
"Sepertinya ini harus kita rayakan karena Matt sebentar lagi akan menjadi adik ipar Louis. " sorak Hendery sambil tersenyum senang.
Namun berbeda dengan Zach yang acuh tak acuh dengan apa yang dilakukan anggotanya. Dia lebih memilih mengumbar kemesraan dengan wanitanya.
"Sayang bagaimana kalau kita pergi ke kamar sekarang. " ajak Zach sambil tersenyum nakal pada Gladys.
Nicholas hanya bisa berdecih melihat kepergian kakaknya dan sudah tahu alasannya Zach membawa Gladys pergi ke kamar mereka.
"Lihat si boss sepertinya ingin melakukan genjatan senjata atau making love agar segera tercipta Zach junior. " celetuk Tomy asal.
Uhuk uhuk Erick dan Hendery langsung tersedak makanan yang mereka makan mendengar penuturan Tomy barusan. Sementara Yuri hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona di dada Matt kekasihnya.
Plak Louis yang kesal langsung menggeplak kepala Tomy dari belakang.
"Jangan berbicara vulgar dihadapan adikku bodoh. " maki Louis dengan kesal.
Tomy meringis kesakitan lalu menatap kesal kearah Louis yang menatapnya tajam. Diapun mendengus lalu mengusap kepalanya yang terasa nyut nyutan.
"Louis sialan kepalaku sakit bre*******k. " umpatnya dengan raut jengkel.
Louis mengabaikan ringisan Tomy dan dia kembali menatap adiknya dan Matt secara bergantian.
"Jaga adik aku Matt jangan kamu sakiti dia jika tidak aku akan menebas kepalamu. " sergah Louis memasang wajah datar.
"Siap kakak ipar. " goda Matt dengan senyum meledek kearah Louis.
Sedangkan Nicholas merasa jengah dengan sikap kawan kawannya tersebut. Diapun langsung pergi dari sana meninggalkan Louis dan lainnya.
Di Kamar Zach
Zachary dan Gladys selesai bergulat di atas ranjang. Kini keduanya masih bergelung di bawah selimut yang sama dengan keadaan mereka yang naked. Gladys dengan usil membentuk pola pola abstrak di dada bidang polos kekasihnya.
"Sayang hentikan jika tidak Aku akan kembali melahapmu lagi. " geram Zach menahan gairahnya yang kembali naik.
Zach segera menahan tangan wanitanya dan kembali berada di atas tubuh Gladys setelah meyingkap selimutnya.Mereka kembali bercumbu mesra mengabaikan ranjang yang berderit kencang akibat ulah sepasang kekasih tersebut.
Satu jam kemudian mereka menyudahi ronde ke tiga mereka dan Zach segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Sayang, Kamu enggak pakai pengaman kalau Aku hamil bagaimana? " tanya Gladys sambil menetralkan nafasnya yang tersengal.
"Jika kamu hamil maka kita akan segera menikah dan akan sangat bahagia jika kamu mengandung benihku. " tutur Zach dengan lembut.
"Sebaiknya kita tidur sekarang karena hari sudah malam sayang. "
Gladys mengangguk lalu berhambur ke dalam pelukan Zach. Zach memeluk tubuh wanitanya mengabaikan gairahnya yang kembali berdiri karena merasa kasihan dengan Gladys yang sudah lelah melayani dirinya.
Keduanya langsung tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
TBC