
Kisah Ivander, putera maxton dan Elle aku gabung sini ya, di buku baru othor hapus!
Kaisar Ivander Weil, merupakan putera sulung dari Maxton Antonio Weil dan Elleanor Annabelle Weil. kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang mempesona dan kejam. Dia begitu posesif pada adik kesayangannya, Kanaya Kylie Weil. Demi membalaskan dendamnya pada pria yang membunuh ibunya, pria itu sengaja menyamar, menyembunyikan identitasnya sebagai mafia. Ingin mencari tahu siapa yang menjadi pelaku pembunuh ibunya.
Saat ini Ivander tengah fokus pada perusahaan keluarganya yang di bantu sang Daddy. Pria itu menyugar rambutnya, mendapat laporan mengenai adiknya Kanaya. "Kanaya benar benar menyebalkan, aku sudah berulang kali memberitahunya jika di luar sangat berbahaya untuknya. "
Willy hanya diam saja, mendengar ucapan bossnya ini. Ivander terdiam sejenak, fokusnya kini beralih pada asistennya itu. "Willy, aku ingin kau mengawasi adikku ke manapun, jangan sampai ada yang mengancam nyawanya atau nyawamu yang akan jadi taruhannya. " tegas Ivander.
"Baik Tuan boss. " ucapnya terbata bata, dalam hati pria itu hanya bisa mengumpat pelan. Willypun pamit, Ivander kembali fokus pada dokumen di atas mejanya.
"Mom, seandainya peristiwa keji itu tak terjadi, keluarga kita pasti akan bahagia, Kanaya dan aku pasti akan merasakan kasih sayang mommy. " gumam Ivander lirih. Ivander sebenarnya merindukan sosok mendiang mommynya, dia segera menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini dia tak ingin terlihat lemah dan rapuh di depan orang lain, takutnya musuh mengetahui kelemahannya.
Prang
"Suara apalagi itu. " ujarnya kesal. Bangkit dan ke luar dari ruangan, melihat sekerumunan karyawan tak jauh dari ruangannya.
"Ada apa ini, suara apa tadi? " suara dingin dan datar Ivander mengalihkan fokus para karyawannya yang tampak gugup.
"Em ini semua ulah ob tidak tahu diri ini Tuan Ivander. " adu salah satu staff. Ivander menatap lurus seorang gadis yang tengah menunduk.
"Kamu ikutlah ke ruanganku sekarang. " tegas Ivander. Gadis itu mengangkat satunya, mengangguk dan mengikuti Ivander ke ruangan pria itu.
"Siapa nama kamu nona? "
"Nesya Rivania Wilona. " jawab Nesya singkat.
"Kau tahu, apa kesalahanmu?
"Ya saya tahu Tuan, saya begitu ceroboh hingga menjatuhkan cangkir. " jawabnya jujur.
"Dengarkan saya, sekali lagi kamu melakukan kesalahan tanpa segan saya akan memecat kamu, saya tidak butuh karyawan yang bodoh, dan tidak kompeten. " tegas Ivander. Nesya mendongak, manik birunya bertemu dengan manik kelam milik Ivander, gadis itu kembali menunduk merasakan aura mengintimidasi dari bosnya.
"Bereskan kekacauan yang kamu buat!
"Iya Tuan. " Nesya segera pamit, ke luar dari ruangan Ivander. Dia segera memunguti pecahan kaca, Nesya berusaha menahan kekesalannya akibat ulah Sinta tadi. Setelah selesai Nesya segera kembali ke belakang, melakukan pekerjaan lain.
Jam dua siang Nesya bersiap siap untuk pulang, dia mengamati bosnya yang baru saja melewatinya. "Tuan Ivander memanglah tampan, namun juga misterius dan menakutkan. " gumamnya pelan. Nesya menggeleng, bergegas segera ke luar dari perusahaan. Ya selama ini Ivander memang menyembunyikan identitasnya sebagai ketua mafia, orang orang hanya mengenalnya sebagai CEO.
Nesya Rivania Willona, sesosok gadis cantik yang dulunya ceria kini berubah dalam sekejab semenjak dirinya kehilangan sosok sang ibu. Dirinya harus banting tulang, memenuhi kebutuhannya demi sang adik. Sementara ayahnya, dia tak mengetahui keberadaan ayahnya, pria paruh baya itu seakan menghilang selama bertahun tahun.
Sebelum pulang, Nesya sempat membeli makanan untuk adiknya. "Nilam, ini kakak bawakan makanan untukmu!
Gadis itu berteriak memanggil sang adik, namun rumahnya tampak sepi, dia tak melihat sosok adiknya. Nesya menghela nafas berat, menaruh kantong plastiknya di atas meja.
"Nilam. " panggilnya lagi. Nesya mencari sosok Nilam hingga ke kamar adiknya namun kamarnya kosong. Gadis itu tampak panik, takut terjadi sesuatu dengan adiknya.
"Kamu ke mana sih Nilam. " gumam Nesya lirih. Gadis itu ke luar, memilih bertanya pada salah satu tetangganya, namun tak ada yang tahu. Nesya kembali ke dalam rumah, menemukan secarik kertas di meja ruang tamu.
Untuk kak Nesya
Maafin Nilam kak, Nilam memilih pergi dari rumah. Tadi Ayah datang menjemput Nilam setelah sekian tahu baru bertemu, tentu saja kedatangan Ayah, membuat Nilam bahagia karena rindu Nilam pada Ayah terobati. Ayah menawari Nilam tinggal bersamanya, dan Nilam setuju. Nilam memilih tinggal dengan Ayah kak. Jangan khawatirkan Nilam ya kak, Nilam sekarang akan tinggal di rumah Ayah yang cukup besar tidak seperti rumah kita yang kecil. Jaga diri kakak, aku harap setelah ini kakak harus bekerja lebih giat lagi agar kehidupan kakak berubah lebih baik.
Hati Nesya tampak hancur setelah membaca pesan dari adiknya, satu satunya keluarga yang dia punya meninggalkan dirinya. "Kenapa kamu ninggalin kakak, Nilam. Kenapa? "
Cairan bening turun membasahi pipinya, gadis itu menangis tersedu sedu. Nesya memukul dadanya yang terasa sesak, meremas kertas yang dia genggam lalu melemparnya. "Ini semua karena ayah, kenapa Ayah harus kembali dan membawa Nilam bersamanya. " gumam Nesya lirih.

Tubuhnya luruh ke lantai, gadis itu menangis histeris meratapi nasibnya. Dia sekarang sendirian, tanpa ada seseorang yang menemani dirinya. Selama ini dia berusaha kuat dan tegar menjalani hidup, bekerja keras demi membahagiakan sang adik namun sekarang tak ada lagi alasan dirinya untuk bertahan. "Aaah, kenapa aku harus mengalami ini semua, kenapa!
"Bu, Nesya kangen ibu, kenapa semuanya ninggalin Nesya sendirian!
Nesya menghapus air matanya kasar, dengan hanya mengeluh Nilam tak akan kembali bersamanya. Terdengar helaan nafas berat, dia harus berjuang demi dirinya sendiri menjalani hidup sendirian tanpa ada keluarga.
tok
tok
Nesyapun bangkit, mendorong pintunya dan melihat seorang laki laki berdiri di depan rumahnya. "Lian. " gumamnya. Nesya berhambur ke pelukan lelaki yang di panggil Lian itu.
"Nesya ada apa? " tanya lelaki itu dengan lembut.
Julian merasakan kemejanya basah, pria itu diam mendengar suara isak tangis Nesya. Nesya mengeratkan pelukannya ke tubuh pria jangkung di hadapannya. Julian menuntunnya duduk di sofa, meskipun bingung namun dia membiarkan Nesya memeluk dirinya.
"Nilam pergi ninggalin aku Lian. " dengan sesegukan gadis itu mengatakan tentang kepergian adiknya pada Julian. Julian mengusap punggungnya, merasa kasihan dengan nasib Nesya.
"Bagaimana kalau kamu tinggal aja di mansion orang tuaku atau di apartemen milikku? " tawar Julian.
"Gak Lian, orang tuamu pasti akan berfikiran macam macam tentang kita. " tolak Nesya halus. Nesya merasa tidak ingin menjadi beban untuk Lian, selama ini dia banyak menyusahkan Julian. Julian menghela nafas berat, kecewa dengan penolakan Nesya atas tawarannya.
"Kalau ada masalah ceritalah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu Nesya!
"Oh ya aku bawakan buah untuk kamu nih. " Nesya mengangguk, mengucapkan terimakasih padanya.
"Mm Lian, aku boleh nanya sesuatu gak? " ucap Nesya ragu ragu.
"Boleh aja Nesya!
"Sebenarnya pekerjaan kamu apa sih, bagaimana bisa kamu memiliki banyak uang dalam kurun waktu yang dibilang cepat? " Nesya bertanya hati hati, dia takut menyinggung perasaan Julian. Julian merasa gugup mendengar pertanyaan Nesya barusan, pria itu dengan mudah mengontrol ekspresinya.
"Tentu saja seorang CEO, bukankah kamu tahu selama ini aku bekerja keras memajukan perusahaan papi aku. " elak Julian dengan wajah serius. Nesyapun mengangguk, percaya akan penjelasan Julian padanya. Julian bernafas lega, dia terus memperhatikan Nesya yang tengah mengupas buah.
"Dengar Nesya, kamu tidak sendirian di dunia ini. Masih ada aku, aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi. " ujarnya sambil tersenyum.
-
"Makasih Lian, kamu sangat baik sekali padaku. Aku belum bisa membalas kebaikan kamu!
"Sudahlah jangan di pikirkan, aku harap kamu selalu bahagia Nesya. " tekannya yang di balas anggukan oleh Nesya.