
Rani melangkah mendekati Pinkan "Bangun kamu! Ambil bayi kamu, kerjain tugas kamu! Kamu pikir kamu di gaji cuman buat enak-enakan makan siang sama Tuan mu hah!!" Susul nya lebih ketus dari sebelumnya, dan kali ini tangannya menunjuk geram wajah Pinkan yang masih terdiam menatap sinis wanita galak itu.
"Sepertinya nih Mak Mak knalpot racing ini cemburu sama gue deh, gimana kalo gue manfaatin ini buat bikin mereka bubar aja? Gue yakin gue lebih cantik di mata tu manusia kejam, body kagak ada tikungannya aja bertingkah, tu body apa jalan tol? Lurus! Gue godain aja sekalian ni bang duda, biar ni Mak Mak knalpot racing ngerasain yang Miska rasain!" Cibir Pinkan dalam batinnya dengan rencana bulusnya.
"Malah ngelamun lagi! Bangun! Ambil bayi kamu!" Bentak Rani lagi.
Crack!
"Aaahh, sepatu mahal ku!" Rani histeris saat Pinkan sengaja menyenggol gelas yang masih berisi air putih dan tertumpah ke sepatu heels nya "Kau!" Tuding nya melototi Pinkan.
Pinkan menutup mulutnya seraya berdiri pura-pura terkejut "Aduh maaf Nona, uh ya ampun, Marni gak sengaja Nona, Marni emang ceroboh." Sahut Pinkan dengan wajah polosnya, kemudian pandanganya beralih ke arah Raka.
"Maaf yah Tuan muda, Marni salah lagi." Ucapnya menunduk sambil mere mas ujung bajunya dengan nada yang di buat sememelas mungkin.
"Gak papa, sekarang kamu bawa Baby Zee pulang saja." Sambung Raka menyerahkan Baby Zee padanya.
"Iya Tuan." Dengan senyum kemenangan Pinkan mengambil alih baby Zee dari gendongan Raka.
"Hmm, gue bilang apa, Raka pasti belain gue, jangan main-main lu Mak, sama ratu kampus! Bakal gue rebut ni cowok dari lu!" Batin Pinkan.
Rani melotot "Apa? Gak papa katamu Ka? Kamu gak liat sepatu mahal ku basah begini hah?" Bentak nya.
"Eeeeeeeee" Baby Zee menangis mendengar suara keras Rani yang memekik seluruh ruangan.
"Oh sayang, sayang, jadi kamu takut hm? cup cup cup, jangan takut, ada Tante kok, cup cup!" Pinkan sengaja menyudutkan Rani di hadapan Raka.
"Rani, lihat lah, Baby Zee ketakutan!" Pekik Raka pada kekasihnya.
"Jadi kau setuju dengan pembantu sialan ini Ka?" Tanya Rani melotot, hari apa ini? Kenapa harus berantem dengan kekasihnya?
Tapi Raka justru mengalihkan pandangan ke arah Pinkan "Sekarang kamu pulang lah, baby Zee perlu istirahat." Ucapnya lagi dan gadis itu tersenyum mengangguk kemudian meraih pouch botol dan susu milik baby Zee di tas stroller.
"Tapi sebelumnya, Marni mau kasih Baby Zee susu dulu Tuan, bisa bantu saya kan Tuan?" Tanya Marni dan Rani semakin geram melihat pengasuh bayi kekasihnya banyak maunya.
"Iya, biar saya saja yang buat!"
Kemudian Raka membuatkan susu putrinya dan Pinkan masih mencoba menenangkan Baby Zee yang masih menangis sedang Rani masih hanya diam saja, mencoba lebih sabar, tak mau membuat bayi kekasihnya takut lagi karena teriakkan nya.
Setelah Raka memberikan botol susu, gegas Pinkan membaringkan tubuh mungil Baby Zee ke stroller kembali, kemudian membiarkan bayi itu mendapat makanan ekslusif nya, usianya masih dua bulan maka hanya boleh di berikan susu saja, meskipun bukan ASI karena yang empunya ASI di tendang jauh-jauh oleh bapaknya.
"Kalo begitu, Marni permisi Tuan!"
Raka mengangguk kemudian mencuatkan wajahnya ke arah pintu, mempersilahkan gadis itu pergi membawa putrinya.
Bersamaan dengan berlalunya Pinkan Raka duduk di kursi putarnya kembali menatap laptop miliknya, wajahnya muram, kesal pada Rani, kekasihnya.
"Ka, aku bicara pada mu!" Tuntut Rani lagi dan Raka masih hanya diam saja.
"Apa kamu begini, karena baby sitter baru mu yang cantik itu hah? Kau mulai mengacuhkan ku Ka?" Tukasnya.
"Sejak kapan kamu cemburu begitu? Sama Miska yang aku nikahi saja kau tak cemburu!" Tanya balik Raka mendongak menatap wajah kekasihnya.
"Berbeda Ka, kamu tidak pernah menyukai Miska, kalo saja wanita ular itu tidak menjebak mu di hotel waktu itu, kamu juga takkan pernah menghamilinya, kamu menikahinya bukan karena suka, tapi karena dia hamil anak haram mu! Lagi pula, Miska tak secantik pembantu baru mu itu! Untuk apa aku cemburu padanya?"
"Jadi sekarang, aku harus menjawab apa padamu hm? Apa kamu benar-benar mau tahu yang sekarang ini ku rasakan?" Tanya Raka lagi dengan alis yang naik sebelah.
"Aku begini karena dirimu sendiri, tidak ada hubungannya dengan wanita lain. Kamu bisa tidak menyukai anakku? Apa kau tahu? Sakit rasanya saat kamu menolak nya, bagaimana pun juga, dia putriku, darah daging ku! Tapi setiap aku mencoba mendekat kan mu dengan nya kau menolak!" Tambahnya ketus.
"Raka, kamu kan tahu, aku tidak menyukai aroma bayi aku...."
"Apa aku harus percaya padamu hah? Aroma bayi itu candu Ran! Siapa pun dia, aku rasa akan setuju dengan pendapat ku! Kau bukan tidak menyukai aromanya, tapi tidak mau menerima nya!" Sergah Raka memangkas ucapan Rani.
"Yah! Aku memang tidak menerima, kamu pikir mudah menerima anak haram mu?" Jujur Rani yang pada akhirnya berkata demikian.
"Rani!"
"Berhenti menyebut nya anak haram! Dia putriku! Apapun itu, bagaimana pun datangnya, Tuhan sudah memberi ku seorang putri, dia keturunan ku!" Raka berujar ketus lengkap dengan rahang yang mengeras.
"Sekarang keluar dari sini! Aku masih banyak pekerjaan!" Usir Raka kemudian menatap layar laptopnya kembali.
Rani mengernyit "Jadi kamu mengusir ku Raka?" Tanyanya.
"Sebelum kekasih tampan mu di jebak wanita lain, lebih baik pikir kan! Bersedia ku nikahi, dan berhenti mengejar karir mu yang tidak jelas itu!" Tuntut Raka tanpa menoleh.
"Raka..."
Lelaki itu kembali mendongak menatap nanar wajah kekasihnya "Kita sudah berhubungan sepuluh tahun lamanya Ran, dari usia ku dua puluh tahun, sampai sekarang tiga puluh tahun, kamu masih belum siap aku nikahi. Aku capek berhubungan dengan mu yang tak pernah ada progres nya, di sini sini saja!" Tambahnya.
"Raka." Rani mendekat kemudian memeluk lelaki itu dari belakang mengiba "Kasih aku waktu satu tahun lagi saja, tahun depan aku siap kamu nikahi, tahun ini tahun terakhir ku bekerja, setelah itu aku mau fokus mengurus mu dan putra putri kita, ku mohon, mengertilah." Bujuknya.
Raka luluh, setia, yah begitulah original bang duda satu ini, bahkan saat di goda wanita lain, di jebak hingga menikahi wanita lain, Raka masih memilih Rani saja, hubungan mereka sudah dari masih sama-sama kuliah.
Delapan bulan ini Miska hadir di tengah-tengah mereka, tapi perasaan Raka masih sama, tak berubah sedikit pun pada gadis dua puluh sembilan tahun itu, dan ini bukan kisah yang di jebak menikahi lalu jatuh cinta, karena Raka benar benar tak pernah bisa menyukai Miska, bahkan setelah menikah, Raka tak pernah menyentuh ibu biologis Baby Zee, alasannya menikah pun karena Miska hamil darah daging nya, tidak lebih dari itu.
"Ok! Aku tunggu satu tahun lagi, tapi jangan gantung aku lagi setelah itu." Ucap lelaki itu dan Rani tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.....