
Senin, yah, hari ini hari Senin, embun masih mengudara menebar aroma basa, tapi Raka sudah memainkan tangannya di atas setir mobil mewah nya. Kantung mata nya terlihat, sebab semalaman pria itu tak tidur, terus mencari jawaban dari pertanyaan yang ingin ia ketahui.
Di sebuah rumah minimalis modern pria itu memberhentikan mobilnya, turun dengan mantel mahalnya, berjalan cepat menuju pintu masuk utama rumah itu.
Tak ada lima menit asisten rumah tangga di rumah tersebut sudah mempersilahkan nya masuk, sebab sudah terbiasa dan sangat di kenal oleh penghuni rumah minimalis modern itu.
"Tuan." Salah satu pelayan menyapanya, menundukkan kepala sopan.
"Nona kalian di mana?" Tanya Raka datar. Tatapannya pun sulit di artikan.
"Ada, masih di kamar Tuan muda." Jawab wanita itu dengan ibu jari yang menunjuk ke arah salah satu pintu bercat putih.
Tanpa bertanya apa pun lagi, Raka melangkah gontai menuju kamar tersebut, krek!
Tanpa mengetuk pintu, ia membuka kamar itu, kebetulan, kunci pintu itu di buka dengan sidik jari, dan sensor nya di buat bisa menerima sidik jari dua orang dan salah satunya Raka, hingga dengan mudahnya pria itu masuk.
Setibanya di dalam matanya langsung di manjakan dengan tubuh wanita dewasa yang hanya terlilit handuk putih saja, rambut panjangnya basah terlihat seksi, meskipun tak seseksi Pinkan, tapi kulit wanita itu masih terlihat kencang dan ranum.
Raka mendekat, lalu memeluknya erat dari belakang "Sayang..." Bisiknya di telinga wanita itu, wanita yang tidak lain adalah Rani kekasihnya.
"Raka! Kamu di sini?" Rani tersentak kaget, menoleh tiba-tiba ke arah pria itu.
"Hmm." Respon singkat yang Raka keluar kan.
"P-pagi pagi begini? Kenapa tiba-tiba?" Suara Rani terdengar bergetar, masih takut dengan hal yang mungkin akan terjadi di luar dugaannya, keadaan baby Zee dan Marni sendiri masih ingin ia ketahui, tapi tak mungkin juga bertanya, Raka pasti curiga.
"Aku mencintaimu, aku merindukan mu, apa tidak boleh hm?" Raka menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang wanita itu, membuat Rani menggeleng kegelian.
"Raka, kamu, ..." Rani membalikkan badannya mendorong pelan tautan tubuh mereka.
Bukanya senang Rani justru curiga dengan pria ini, pasalnya bertahun tahun lamanya berhubungan, tak pernah Raka berbuat kurang ajar seperti itu.
"Kenapa? Kamu tak mau bermesraan dengan ku hm? Kamu tak mencintai ku?" Raka menatap kecewa wanita itu.
"Tentu saja aku mencintaimu, menyukai mu, menginginkan mu, aku bahkan rela melakukan apapun untuk bisa terus bersama mu." Jawab Rani menatap dalam-dalam wajah sendu lelaki itu.
"Kalo begitu, ini untuk mu." Raka menyodorkan satu buah kapsul salut selaput berwarna hitam pada wanita yang kini menampilkan kerutan di keningnya.
"Apa ini?" Rani bertanya seraya menatap kapsul itu lekat-lekat, tapi tak mau menyentuh benda mungil itu.
"Racun." Jelas Raka "Selama ini kau sudah banyak meneguk madu dari ku, sekarang, minum ini untuk ku, buktikan cintamu, seperti Juliet yang rela mati bersama Romeo nya." Lanjutnya.
"Raka!" Sentak Rani melotot tangannya menampik kapsul itu jauh-jauh.
"Apa kau sudah gila?" Rani mempertajam tatapan matanya.
"Kenapa?" Tanya Raka kemudian "Kamu tidak mencintai ku? Sedangkal itu kah cinta mu hm?" Tuding nya.
"Kamu ini bicara apa sih hh? Ada apa sebenarnya dengan mu? Kenapa tiba-tiba aneh begini?"
Tangan Raka merangkum kedua pipi wanita itu, menggerakkan bola mata nya menyisir setiap inci wajah cantik kekasihnya, wajah yang sudah sepuluh tahun ini menemani hari harinya, bicara tentang rasa, sakit, yang tengah pria itu rasakan saat ini.
"Kau tahu kan Yank, aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku bahkan mengabaikan semua cap buruk mu, aku tahu dulu kau sering merundung teman-teman yang menyukai ku, kau suka menindas gadis gadis yang memberi surat, coklat, hadiah padaku, aku tahu, kau sudah sering bermain dengan tangan mu demi membuat ku tetap bersama mu, aku tahu itu, tapi ku abaikan, karena aku memang tak pernah tergoda dengan wanita lain, aku mengabaikan sikap buruk mu karena aku terlalu mencintai mu, tapi..." Raka menghentikan kalimat nya matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya seakan kelu.
"Ka.!" Rani berkerut kening "Apa maksud mu? Putus? Kenapa tiba-tiba?" Tanyanya bingung.
"Oh, apa karena Marni? Kau menyukainya? Kali ini kau tergoda oleh nya?" Tukasnya seraya menepis tangan Raka dari wajahnya.
"Rani!" Wanita itu memejamkan matanya kuat-kuat saat tangan Raka melayang mengudara tapi tertahan di sana, rasanya Raka tak tega menyakiti wanita cantik ini.
"Aaaaaargghh..!!"
BRAK!
Cermin meja rias minimalis milik Rani hancur berkeping keping, Raka hanya berani menghancurkan benda mati saja, bahkan sampai detik ini, Raka masih belum bisa menyakiti wanita ini.
Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu melihat murkanya pria itu, meskipun belum cukup tahu, hal apa yang membuat Raka bisa semarah itu padanya.
"Kita putus, jangan pernah berpikir untuk mendekati rumah kantor, dan keluarga ku lagi." Setelah sekian lama terdiam, Raka berkata demikian.
Sontak Rani mendongak tatapan matanya tajam mengarah pada wajah muram lelaki itu.
"Apa maksud mu sebenarnya? Apa salah ku? Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan ku?" Tanyanya tangannya mencengkram erat jaket di bagian dada pria itu.
"Jauhi Baby Zee ku, jangan pernah berpikir untuk membunuhnya lagi." Ucap lirih Raka, nanar.
"Hah?" Mata Rani nyalang dan saliva tiba-tiba meluncur ke tenggorokan nya, gugup, takut, cemas, semua yang menggambarkan kegelisahan tengah wanita itu rasakan.
"Jadi Raka tahu? Sejak kapan? Apa bayi itu belum mati?" Batin Rani yang belum mengetahui lebih lanjut lagi, sebab saat Pinkan masuk ke kamar mandi, mengambil wudhu, Rani langsung keluar dari kamar Baby Zee dan pulang.
"Kamu mencampur adukkan bubuk racun ke dalam susu Baby Zee ku, kamu sudah berusaha menghilangkan nyawa putri ku! Iya kan hah!" Nada Raka berangsur tinggi, menggema di ruangan kedap suara itu.
"Ini salah paham, aku tidak..."
"Mau mengelak apa lagi Rani! Aku sudah melihatnya sendiri, satu jam sebelum Marni masuk rumah sakit, kau masuk ke dalam kamar Baby Zee ku, kau, kau yang membuat susu putri ku beracun!" Raka menukas lengkap dengan rahang yang tegas.
"Rumah sakit? Jadi Marni yang ke rumah sakit?" Ceplos Rani yang tak sengaja penasaran.
"Yah, dia yang mencicipi susu Baby Zee lebih dulu, dia juga yang menyelamatkan putri ku, sekarang dia yang di rawat di rumah sakit! Kau puas hah?!"
Rani tertegun, ternyata rencana yang ia pikirkan, justru berimbas kepada dirinya sendiri, awalnya, ia berpikir, Baby Zee akan keracunan lalu Marni yang membuat kan susu, yang akan di salah kan. Tapi nyatanya tak sesuai ekspektasi.
"Dengar kan dulu aku Ka. Aku bisa jelasin." Bujuk Rani mencoba meraih tangan pria itu dan Raka menepis, pria itu justru melengos, melangkahkan kakinya panjang keluar dari kamar.
"Raka, jangan putus, oke aku mengaku, aku sudah khilaf, maafkan aku, aku benar-benar tidak mau kau meninggalkan ku, jika saja kamu menurut memecat Marni, aku pasti takkan pernah melakukan hal itu, ini semua juga salah mu, kamu mulai berpaling dari ku!" Rani berujar seraya mengikuti langkah cepat Raka.
"Raka, Rani." Di ruang tengah seorang wanita mencegat jalan mereka dengan wajah bingung nya, menatap calon menantunya keluar dari kamar putrinya yang hanya memakai handuk saja.
"Kalian kenapa?"
"Bilang ke putri Anda, jangan pernah mengganggu keluarga ku lagi! Aku memutuskan hubungan ku dengan nya! Lamaran, pernikahan, takkan pernah ada di antara kami! Permisi Tante." Raka berucap tegas kemudian melanjutkan langkah cepatnya menuju teras. Tak memperdulikan ibu Rani yang masih kebingungan dengan ucapannya.
"Raka, jangan pergi Raka, kamu sudah tertipu, Marni itu suruhannya Miska Raka, dia datang ke rumah mu, cuma mau menculik baby Zee saja. Tolong kali ini percaya padaku." Rani mulai memanipulasi Raka kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Dukung author dengan Vote, Like, komen dan tekan tombol love nya.