
...Lidya POV...
Di sini lah aku berada, di antara murid-murid cantik yang sedang bercanda gurau bersama dalam kamar hotel dengan fasilitas ekstra bed,
Tawa riang gembira mereka seperti vitamin bagiku. Mungkin mereka tak mampu mengobati kegelisahan ku, tapi adanya mereka berhasil membuat ku beranjak dari keterpurukan.
Keterpurukan setelah melepas cinta dari dua pemuda sekaligus. Mantan suami dan mantan kekasih ku.
Aku mungkin tak pantas bahagia, aku sudah tidak punya kesempatan untuk memiliki masa depan bersama pria yang paling aku cinta.
"Aku ke sini bersama calon istri ku!" Dia mengatakan itu di hadapan ku sambil memeluk pinggang gadis lain.
Aku sadar siapa diriku, aku sadar aku kehilangan dirinya karena kebodohan ku, aku tahu aku bukan jodoh yang pantas untuk dia yang nyaris sempurna layaknya pangeran.
Aku masih mengingat saat dia meninggalkanku setelah mencumbu mesra diriku, aku akui aku haus akan hal itu, aku rindu sentuhan lembut itu, bahkan aku tidak bisa melupakan itu.
Satu tahun yang lalu. Aku mengejar cinta ku ke bandara, dan seperti di film-film aku tidak bisa menggapainya, ayah bahkan menyusul ku untuk pulang kembali.
"Lidya!" Ayah menatap ku tajam saat aku keluar dari lobby bandara setelah tertinggal pesawat yang di tumpangi kekasih ku.
"Jadi selama ini kamu berhubungan dengan Tuan muda? Apa kamu sudah gila? Sudah ayah bilang, cari jodoh yang setara dengan kita! Biar tidak di injak-injak harga diri mu nanti!" Ujar Ayah.
"Tapi Yah, Lidya mencintai nya, Lidya tulus, Eric juga sangat menyayangi Lidya, Eric datang ke sini untuk Lidya, dia, ..."
"Akad nikah mu sebentar lagi, kita sudah mengundang banyak tamu, apa kamu tega membuat ayah malu? Pulang, kita lanjutkan acaranya. Ayah yakin Rangga juga sangat menyayangi mu. Jangan kecewakan Ayah." Ayah menyergah kata-kata ku.
Mendengar itu Aku terisak, dilema masih terus menderaku, harus apakah diriku? Menurut kah? Atau mengejar cinta ku?
"Ayah tidak pernah meminta apa pun dari mu, kali ini Ayah mau kamu menuruti permintaan ini! Menikah lah dengan Rangga, dia pemuda yang sangat baik. Tapi Tuan muda, dia laki-laki calon penguasa yang mungkin bisa saja menghempas mu kapan saja. Percayalah, Ayah sangat mengenal Rangga, dia pasti bisa membahagiakan mu!" Jelas Ayah lagi dengan tatapan penuh harap padaku.
Kala itu, aku hanya bisa pasrah mengikuti semua ucapan orang tua ku, mengejar seseorang yang mungkin sudah tidak menyukai ku lagi, untuk apa? Bisa saja Eric nanti membalas dendam lagi padaku.
Buktinya, dia meninggalkan aku meskipun sudah tahu tentang perasaan ku, jelas Eric berbeda sifat dengan kedua Mas nya, dulu meskipun jauh dari Kak Hayu, selama delapan bulan Mas Murad tetap memberikan tanggung jawab bahkan aku saksi ketulusan juga kegigihan Mas Murad meraih cinta Kak Hayu.
Aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan melangsungkan pernikahan ku bersama Rangga. Di awali dengan bismillah kemudian di susul oleh kata Syah! Aku menjadi istri Rangga.
"Loh, kok bukan cowok ganteng yang kemarin yah? Kok bedho raine?" Orang-orang berbisik-bisik kenapa wajah Rangga berbeda dengan pemuda yang sebelumnya menemui ku.
Orang-orang taunya Eric lah calon suami ku, pemuda yang berwajah oriental dan berkulit putih, lalu sekarang wajah Jawa manis Rangga yang melakukan ijab qobul bersama ku.
Setelah Syah, kami masih baik-baik saja, Rangga masih bertutur kata lembut padaku, pagi setelah akad kami melakukan iring manten seperti tradisi adat kami.
Sampai tiba lah di malam yang mungkin sudah Rangga tunggu-tunggu. Yaitu malam pertama kami.
Aku sudah lengkap dengan pakaian tidur yang di siapkan ibuku. Orang bilang lingerie namanya, yah, aku mengenakan nya untuk suamiku meskipun aku tidak yakin bisa menerima sentuhan darinya.
Lalu kenapa aku berani menerima perjodohan ini? Aku pun tak tahu, mungkin ini sudah menjadi takdir ku, aku lelah dan sudah tidak mau pusing memikirkan hal itu.
Aku duduk sambil menyisir rambut ku, Rangga pun ikut duduk di sisi ku, kemudian aku meletakkan sisir ke atas nakas dan beringsut menatapnya.
Rangga tersenyum "Apa sudah boleh malam ini Dek?" Tanyanya. Dia menatap ku seperti sudah mau menerkam ku.
Aku bisa merasakan dera napas yang tak biasa darinya "Boleh, lakukan saja, aku kan istri mu." Jawab ku.
Rangga merangkum kedua pipi ku, lalu mendaratkan ciuman yang menurut ku tidak sebanding dengan permainan bibir yang Eric berikan padaku.
Eric tidak merokok, wangi napasnya khas seperti anak kecil, aku menyukainya, tapi aroma asap lah yang Rangga berikan padaku.
Aku menerima meskipun tidak menyukainya atau mungkin belum menyukainya, karena belum terbiasa. Ku pejam mataku agar lebih mampu menerima serangan itu.
Tangan Rangga merembet, dari paha hingga ke dada lalu meremas buah kenyal di bagian itu.
Lembut sekali sentuhannya hingga aku melayang di buatnya, sentuhan yang dulu ingin Eric lakukan dan sekuat tenaga aku menolak nya.
"I love you." Ketika bibir nya beralih ke telinga dia membisikkan kata-kata itu sambil terus meremas bagian yang mungkin sudah sangat dia sukai. Perlahan indera peraba nya mulai menyusuri seluruh liukan tubuhku dan berlabuh pada bagian bawah yang paling sensitif milikku.
"Aahhh, Eric, Emmh Eric!" Cemelos ku.
Aku masih merasakan ketegangan yang begitu menyiksa ku, tapi tiba-tiba saja pria itu menghentikan aksinya.
"Eric?" Aku mendengar suara Rangga sangat lantang sampai aku tersadar dari ruang halusinasi ku. Bayangan wajah Eric kemudian pudar bersamaan dengan itu.
Aku membuka mata dan menatap dirinya penuh ketakutan "Ya Tuhan, apa aku salah memanggil nama suami ku?" Batin ku.
"Siapa Eric? Apa kamu sedang membayangkan di sentuh olehnya? Kenapa menyebut nama Eric? Apa Eric yang kamu sebut Eric yang ada di buku diary mu? Cinta pertama juga ciuman pertama mu? Apa kamu sedang membayangkannya saat bersama ku?" Tiba-tiba saja Rangga mencecar ku.
Aku berkerut kening "Diary? Apa kamu membaca diary ku Mas?" Tanyaku.
Sontak Rangga mengeraskan rahangnya "Oh, jadi benar kan, kamu masih mencintainya, atau jangan-jangan dia orang yang di maksud sama para ibu-ibu di dapur?" Sungut nya.
"Apa maksudnya?"
"Aku dengar, bisik-bisik orang, kenapa wajah ku berbeda dengan yang kemarin, apa jangan-jangan kemarin dia menemui mu Lidya?" Rangga bahkan tidak memanggil ku Dek lagi mungkin sudah tersulut emosi.
"Aku, ...." Aku bingung harus menjawab apa? Meskipun sudah menikahi Rangga. Aku memang masih sangat menyayangi dan mencintai Eric saja.
"Jawab Lidya!" Bentak Rangga, sepertinya dia mulai kehilangan kesabaran setelah melihat ekspresi wajah dilema ku.
"Maaf kan aku, dia kemarin memang datang, tapi setelah itu pergi lagi, aku, aku memang masih mencintainya, tapi aku akan berusaha melupakannya, aku akan berusaha memindahkan rasa cinta ku padamu, semua butuh proses kan Mas?" Kataku memelas.
"Proses katamu?" Berang Rangga, tatapannya tajam padaku bibirnya bahkan mengatup sangat geram.
Cukup lama Rangga memandangi ku, dan tiba-tiba saja menyibak rambut ku dan menelisik sesuatu di leher jenjang ku.
"Apa ini?" Tanya Rangga dengan kerutan di keningnya, dia kemudian mendekat kan leherku pada cermin di meja rias ku "Lihat, apa ini Lidya! Apa kemarin dia juga mencium mu? Apa aku hanya mendapatkan sisanya saja?" Berang nya sangat keras.
Aku yakin dia sangat marah padaku "Aku minta maaf, hiks hiks." Hanya itu saja yang mampu ku ucap jika dia memaafkan ku Alhamdulillah, tapi jika tidak dan mencerai kan ku pun aku terima dengan lapang dada.
Mungkin aku belum sanggup membohongi perasaan ku "Aku minta maaf, ..."
"Kamu pikir semudah itu memaafkan mu Lidya? Setelah aku memberikan semua padamu? Aku menghabiskan seluruh tabungan ku untuk menikahi mu, sekarang kau memberikan barang sisa padaku?" Sarkas nya.
Ucapan Rangga memang benar adanya tapi aku sakit di katakan barang sisa! Sampai detik ini aku masih menjaga keperawanan ku, lalu dia menyebut ku barang sisa?
"Lalu apa mau mu Mas?" Ku tantang suamiku sambil mencuatkan wajahku padanya.
"Kembalikan semua uang yang sudah ku habis kan untuk mu, kita bercerai!" Putusnya tanpa Ba-bi-bu.
Suara dan nada Rangga yang sangat lantang, benar-benar berhasil membuat tubuhku bergetar hebat.
"Cerai? Kita baru menikah Mas!"
"Aku tidak perduli! Kau menyakiti ku, aku kecewa padamu Lidya!" Rangga keluar dari kamar setelah sekuat tenaga mengendalikan amarahnya dengan tangan yang terus mengepal.
Crack!!
"Ada apa Rangga?"
Ayah Rangga bertanya, bahkan saking terkejutnya dia melototi putranya "Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Aku talak Lidya, dia bukan lagi istri ku!" Pria itu melangkah panjang, keluar dari rumah ayah ku.
Siapa sih pria yang mau mendapatkan barang sisa? Mungkin aku memang sudah hanya sisa Eric saja.
Semua cibiran, caci maki, ujaran sarkas tertuju padaku, yah, aku yang orang bilang hanya barang sisa, aku yang orang bilang tidak pandai menjaga kehormatan.
Aku Lidya Natalia Shinta, tidak pantas menikah dengan siapa pun saja, karena orang sudah menganggap ku wanita bekasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Author POV ....
Kring.....
Telepon kabel di atas nakas berbunyi, segera Lidya mengangkat benda putih itu dan meletakkannya ke telinga "Halo." Sahutnya.
📞 "Dengan Nyonya Lidya?"
"Iya saya sendiri." Jawab Lidya, kemudian berusaha mendesis pada para gadis yang tengah tertawa renyah di atas ranjang masing-masing.
"Anak-anak, bisa diam sebentar, Ibu tidak bisa mendengar suara dari telepon." Tuturnya.
"Iya Buk." Semuanya hening menatap Lidya dari tempat masing-masing.
📞 "Ada yang mencari mu Nyonya."
"Mencari ku?" Lidya mengernyit "Apa hotel ini tidak bisa menjaga privasi?" Berang nya.
"Maaf Nyonya tapi, ...."
BRUK!
Lidya menutup teleponnya secara sepihak, kemudian berjalan menuju pintu "Anak-anak Ibu keluar sebentar, kalian tidur lah dulu." Ujarnya.
"Iya Buk!"
Pintu itu pun Lidya buka dan di balik sana tatapan tajam sudah menyambut kedatangannya "Eric?!"
Di tariknya tangan gadis itu kemudian berjalan menuju lift "Eric, mau apa kamu hah? Jadi kamu yang memaksa resepsionis memanggil ku?" Berang Lidya.
Sekarang Lidya tahu kenapa hotel ini memberikan informasi tentang keberadaannya, rupanya salah satu pewaris Baskara yang sudah menyalah gunakan kekuasaan.
"Eric! Mau kemana kita hah?" Lift terbuka dan Eric menyeret gadis itu masuk ke dalam ruangan kosong itu "Ric!"
"Diam dan menurut lah!" Pekik Eric sambil terus menggenggam tangan gadis itu.
Meronta sudah pasti Lidya lakukan, namun tak seberapa kuat karena sejatinya dirinya juga ingin berdekatan dengan pria tampan ini.
Tepatnya pukul 20:50, Eric mencari tahu tentang di mana keberadaan Lidya, sore tadi dia sempat mendengar bahwa rombongan Lidya akan kembali ke hotel.
Eric menelepon seluruh hotel yang dekat dengan Ancol, satu jam kemudian Eric mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Eric bergegas mendatangi satu hotel, tempat dimana Lidya menginap bersama dengan rombongannya.
"Eric, mau apa kita hah?" Lidya semakin curiga saat Eric membawanya ke lorong yang sepertinya presidential suite.
"Kita bermalam di sini, berdua!" Jawab Eric datar, tubuh Lidya terus di seret hingga memasuki kamar VVIP tersebut.
Brugh!
Tubuh Lidya Eric hempas ke atas ranjang hingga sedikit memantul "Eric!" Pekik Lidya.
Eric melepas jaket jeans-nya sebelum kemudian lutut miliknya mengapit kedua paha Lidya "Apa-apaan kamu hah?" Berang Lidya.
Lidya mendorong sekuat tenaga namun tak berhasil karena tubuh Eric sudah bertambah bidang dan kuat.
Kedua tangan Lidya pria itu cekal ke atas, Eric berada di atas tubuh Lidya tapi tidak terlalu rekat bersentuhan, keduanya renggang hanya paha dan tangannya saja yang bertautan.
Eric memandangi Lidya dari wajah hingga ke dadanya "Cantik, seksi, manis." Bibir pemuda itu tersenyum ringan.
"Sebenarnya apa mau mu Ric? Bukannya kamu sudah punya calon istri, apa kau berencana membalas dendam padaku?" Tanya Lidya.
"Kamu tahu Lidya? Aku menyesal di lahir kan sebagai keluarga Tuan Baskara dan Nyonya Irma. Kenapa aku harus mewarisi sifat ini? Setia, dan sulit melupakan cinta ku meskipun sudah bertahun-tahun lamanya mendapat penolakan mu!" Ujar Eric. Entah apa yang dia ekspresikan kali ini, Lidya tak mampu membacanya.
"Kenapa sulit sekali menerima bahwa kau bukan jodoh ku? Kenapa sulit sekali Lidya!" Tambah Eric ketus.
"Kenapa setelah kamu menjanda, aku justru ingin kembali padamu? Kenapa kau menggoda ku lagi, setelah sekian lama aku mencoba melupakan mu?" Sungut nya.
"Aku juga sulit melupakan mu, lalu apakah bisa aku menjawab pertanyaan mu?" Batin Lidya.
"Kenapa kamu di ceraikan? Apa tidak bisa aku mendengar berita baik dari mu?" Tanya Eric kembali.
"Dia tidak menginginkan ku, itu saja." Jawab Lidya datar dan lirih.
"Apa karena aku?" Cecar Eric. Rasa bersalah juga nampak di kelicak matanya.
"Alasan lainnya memang itu." Sahut Lidya.
"Katakan padaku, kamu masih mencintai ku!" Tuntut Eric.
"Aku masih mencintaimu!" Lidya tak ingin menyembunyikan perasaannya lagi, meskipun harus berpisah setelah ini setidaknya dia sudah berani menyatakan cintanya. Cinta yang selama ini selalu dia pendam sendiri saja.
Mendengar itu Eric menurunkan tubuhnya hingga menyatu dengan raga Lidya, bibir merona nya pun ikut beradu pada bibir lembut gadis itu.
Hubungan yang salah, mereka pun lalui kembali, selalu ingin bersatu walau kenyataannya tidak pernah mampu.
Sesaat keduanya tenggelam dalam permainan bibir yang sangat liar, aroma damai dari tubuh lawannya membuat keduanya mabuk berjamaah.
Setelah itu, Eric lantas duduk kemudian menarik Lidya untuk ikut duduk berhadap-hadapan dengan dirinya. Tangan Lidya Eric genggam begitu hangat.
"Aku mau hidup bersama mu, menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah seperti pernikahan bang Raka juga bang Murad. Apa kamu mau menikah dengan ku?" Ujar Eric dengan tatapan penuh harap.
Lidya mengangguk "Munafik kalo sampai aku menolak mu lagi, tapi aku sudah tidak lagi pantas untuk kamu nikahi, aku sudah janda Ric. Gimana orang-orang menilai hubungan kita? Apa pantas, kamu memutuskan hubungan mu dengan calon istri mu yang masih gadis, lalu menikahi janda?" Tanyanya.
Eric hening, semua yang di katakan Lidya memang benar adanya, dirinya sendiri belum berani memutuskan Rinda sedang ayah Rinda sudah banyak berjasa pada perusahaan yang Eric kelola.
Putus atau terus? Eric kali ini yang dilema.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...