
Raka melotot membuat pemuda itu menciut "Iya iya." Ngalah Eric lalu melengos pergi dengan raut wajah kesal.
"Sialan! Kenapa gue gerah begini liat mereka datang ke kamar Baby Zee?" Batin Raka.
"Eeeeeeeee"
Suara dari dalam kamar Baby Zee terdengar, Murat dan Raka sempat saling menatap, akhirnya mereka menemukan alasan untuk memasuki kamar Marni kembali.
Bruk!
Keduanya nyangkut di pintu karena tubuh mereka yang sama-sama bidang tak bisa masuk ke satu pintu secara bersamaan.
Raka mengerling sinis ke arah Murat yang juga melirik judes padanya "Minggir gak lu, ngapain lu masuk lagi hah?" Tanyanya ketus.
"Lu gak denger bang? Baby Zee nangis, dia butuh gue!"
"Siapa elu? Gue Daddy nya, biar gue yang masuk, lu balik ke kamar lu sana!" Sentak Raka.
"Eeeeeeeee."
Suara tangis Baby Zee terdengar sudah bergetar tantrum, membuat wanita cantik yang masih tertidur terbangun kejut.
"Baby Zee." Pinkan beranjak dari zona nyamannya keluar dari selimut kemudian meraih tubuh mungil Baby Zee dari ranjang bayinya.
"Oh sayang, maaf, Tante ketiduran."
Bruk!
Raka menyikut perut adiknya hingga membuat pemuda itu mundur keluar dari kamar.
"Sialan!" Umpat Murat kemudian melangkah masuk ke dalam kamar kembali, mengekor di belakang Abang nya.
"Suussstt..!" Pinkan memberi desisan pada kedua pria itu supaya tidak berisik.
"Apa dia sudah tidur lagi?" Raka mengintip ke belakang tubuh Pinkan memastikan mata putrinya tertutup sebab saat ini Pinkan mendekap Baby Zee.
"Sepertinya Baby Zee mau susu Tuan." Pinkan berjalan menuju sudut tempat itu di mana biasanya dia membuatkan susu.
"Biar aku saja yang bikin!" Usul Raka mengambil alih tugas Pinkan.
"Iya, kamu duduk saja Marni, di sini." Murat mendorong tubuh Pinkan supaya duduk di sisi ranjang.
Sebenarnya Pinkan sendiri masih bingung kenapa kedua pria itu berada di dalam kamar itu "BTW mereka ngapain di sini? Apa iya tangis baby Zee sampai ke kamar mereka?" Batinnya bertanya tanya.
Raka yang masih sibuk dengan botol susu putrinya sesekali melirik ke arah Murat yang kini duduk di sisi ranjang berdampingan dengan Pinkan "Sialan ni anak, bantuin kagak, masuk masuk ke sini!" Gumamnya pelan merutuki adiknya.
"Eeeeeeee eeeee eeee." Baby Zee masih merintih meskipun sudah berangsur pelan karena masih mengantuk.
"Cup cup cup, sayang, sayang." Senda Pinkan menaik turun kan tubuhnya di atas ranjang, memberikan kenyamanan untuk bayi asuhnya.
"Ya Tuhan, otakku kenapa gak bisa bersih setiap ngeliat gerak tubuh tu cewek!" Pikiran bang duda kemana mana saat melihat tubuh seksi Pinkan mengalun di atas ranjang.
"Lama amat sih bang! Lu bikin susu sedu? apa meres di kandang sapi nya?" Tanya Murat yang sudah tak betah dengan tangisan keponakannya.
"Berisik!" Sahutan dari bang duda ketus.
Tak lama kemudian Raka berjalan mendekati ranjang di mana Murat, Pinkan dan putrinya masih duduk di sana.
"Terimakasih ya Tuan." Ucap Pinkan lalu membaringkan Baby Zee ke tengah ranjang queen size tersebut.
Dan Raka memberikan susu pada putrinya tentunya setelah memastikan susu itu memiliki kehangatan yang pas.
Kemudian ketiganya duduk di sisi yang berbeda ranjang tersebut memutari Baby Zee yang kini terdiam anteng setelah mendapatkan makanan nya.
"Maaf ya, Tuan muda jadi terganggu, harusnya Marni tidak ketiduran tadi." Ucap Pinkan lagi menatap Murat dan Raka secara bergantian.
"Tidak apa-apa. Lain kali kalo perlu apa-apa, panggil gue aja di kamar, gue pasti bantu." Jawab Murat.
"Emang lu dari tadi bantu apa lu?" Raka menatap cibir adiknya dan Murat menarik sudut bibirnya "Gatau apa, gue lagi usaha!" Batin perjaka tampan itu.
"Udah lu pergi sana!" Usir Raka menatap jutek ke arah adiknya.
"Marni, besok kita bawa baby Zee jalan-jalan pagi yuk! Sekalian kita olahraga. Di sekitar sini udaranya seger, kamu harus coba." Ajak Murat bersemangat.
"Itu rencana gue ngapain lu jiplak, gue Daddy nya, gue yang mau ajak anak gue jalan-jalan, lu mendingan gak usah repot-repot ngurusin baby Zee, kuliah aja yang bener, skripsi lu tu urusin." Sambar Raka yang tak mau kalah.
"Gue gak jiplak, lu kali yang terinspirasi ide gue." Sambung Murat kemudian pandangannya beralih lagi ke arah Pinkan "Gimana Marni, lu mau kan, jalan-jalan pagi bareng gue." Tanyanya.
"Iya. Boleh." Pinkan tersenyum terpaksa "Ni dua orang ngapain sih? Kok gue berasa lagi di rebutin mereka?" Batinnya.
"Ok, gue ke sini lagi setelah shalat subuh!" Sambung Murat dengan senyum manisnya yang lalu di jawab dengan anggukan kecil Pinkan.
Murat lantas merangkak ke atas ranjang, mencium gemas pipi keponakan lucu nya "Bye Baby Zee, Om mencintai mu." Bisiknya sebelum kemudian berlalu dari sana meski sebenarnya tak rela meninggalkan Pinkan berdua dengan Raka saja.
Kini, tinggal Pinkan dan bang duda yang masih duduk berhadapan di atas ranjang itu, tapi tatapan mereka justru tak saling bertemu. Raka lebih rajin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena canggung.
"Emm, ya sudah, aku ke kamar lagi, kamu telepon saja nomor ku kalo Baby Zee menangis lagi." Pesan Raka yang pada akhirnya memecah keheningan yang sempat terjadi di dalam kamar tersebut.
Pinkan mengangguk "Iya Tuan." Ucapnya.
Raka lantas menundukkan wajahnya mendekati putrinya "Daddy love you baby." Bisik lelaki itu.
Cup!
Raka menciumi seluruh wajah mungil Baby Zee yang wangi khas anak bayi lalu beranjak dari duduknya berjalan perlahan keluar dari kamar.
"Kenapa gue gak rela keluar dari sini."
Pingkan yang mengekor di belakang Raka segera menutup pintu kamar setelah pria itu keluar.
Huff!
Pinkan memejamkan matanya seraya meletakan telapak tangannya ke belahan dadanya, merasakan degup jantung yang berdetak kencang.
"Kenapa setiap bertatap muka dengannya jantung gue dag dig dug begini si?" Gumamnya.
"Gue jadi gak berani godain tu cowok, kayaknya gue bakalan suka beneran sama dia kalo lama-lama deket sama tu manusia kejam."
Pinkan menghela napas pelan.
"Pokoknya, secepatnya gue harus bisa bawa Baby Zee keluar dari rumah ini, sebelum gue jatuh cinta sama tu cowok." Gumamnya lagi.
Kemudian kembali berjalan menuju tempat tidurnya, menarik selimut lalu merengkuh tubuh mungil Baby Zee.
"Ok, kita bobok satu ranjang saja ya sayang, supaya kalo kamu bangun, Tante bisa langsung denger." Pinkan bermonolog sebab Baby Zee belum bisa menjawab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain yang lumayan jauh dari sana, di dalam kamar yang terlihat sangat rapi, dan di dominasi warna abu-abu, Rani menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Wajahnya muram menatap layar ponselnya, sedari tadi gadis dewasa itu mendial nomor kekasihnya tapi tak jua mendapat jawaban.
"Raka kemana sih? Gak mungkin udah tidur kan? Biasanya juga jam segini telepon, ini boro boro. Chat gue aja gak di baca baca dari sore."
Rani mendengus kasar matanya menatap langit langit kamarnya, dan perlahan tubuhnya terbaring, gelisah, perasaannya sukar di jelaskan.
"Ini pasti gara-gara pembantu sialan itu!" Rani mulai bermonolog.
"Gue harus bisa singkirin tu cewek sebelum Raka tertarik sama dia, tapi gimana caranya? Raka baru aja ganti baby sitter?"
Rani mendengus lagi namun kali ini lebih pelan.
"Semua ini terjadi gara-gara Miska sial itu, kenapa juga Raka harus punya anak? Mana anak nya anak haram lagi. Kenapa gak mati aja tu bayi di dalam perut wanita setan itu?" Serapahnya.
Rani bergeming, dan tiba-tiba saja gadis dewasa itu terpikirkan untuk membabat bunga yang baru akan mekar dari akarnya "Kenapa tidak aku habisi saja tu bayi, lagian belum tau merasa sakit ini kan? Pasti gak terlalu dosa, lagian, cuma anak haram ini." Gumamnya bersiasat.
"Kalo bayi haram itu meninggal, tu baby sitter ****** gak kan kerja di situ lagi, ET tunggu tunggu, gimana kalo sekalian aja gue kambing hitam kan tu cewek. Biar tau rasa, ini balasan dari gue, karena udah nyiram sepatu mahal gue."
Rani tersenyum miring.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Bersambung.... Tapi terimakasih yang udah pernah like karya ku, satu like sepuluh semangat untuk ku, wabilkhusus untuk yang selalu like dari bab awal sampai bab ini, mendukung karya amatir ku yang banyak kurangnya ini, semoga rezeki melimpahi kalian 😍 Aamiin 🤗