Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Gusar!



Pagi ini setelah shalat subuh Pinkan memandikan dan mendadani Baby Zee, kemudian setelah itu, gadis itu mendorong stroller baby Zee ke bangku taman halaman belakang, seperti biasanya, bayi mungil itu harus berjemur. Pinkan duduk lalu menempatkan tubuh kecil Baby Zee ke dalam pangkuan nya, menikmati udara segar di pagi hari.


"Kapan kita bisa pergi dari sini Baby Zee? Kenapa sulit sekali membawamu keluar dari sini?" Pinkan berucap lirih menatap lembut wajah mungil Bayi itu.


Hatinya semakin tak karuan, semakin bertambah lama tinggal di keluarga itu, semakin aneh perasaan yang tumbuh tak terkendali, apa lagi akhir akhir ini Raka semakin berani mendekati nya.


"Ekm ekm!" Suara seorang pemuda yang duduk di sebelah kanan gadis itu.


"Pagi Tuan muda." Ucap Pinkan menyapa, gadis ini mulai terbiasa dengan keberadaan pemuda itu setiap kali menjemur Baby Zee.


"Pagi." Singkat Murad tanpa menatap nya. Pandangannya lurus ke depan.


"Tuan muda tidak tidur hari ini? Sepertinya Tuan muda mata panda." Tanya Pinkan menatap Murad dengan seksama.


"Hm! Aku tidak bisa tidur." Jawab Murad datar.


"Kenapa?"


Murad menoleh menatap gadis itu dalam dalam "Memikirkan mu! Apa dosa?" Tanyanya.


Pinkan tersenyum sedikit di paksakan sungguh kedua pria bersaudara ini membuat gadis itu semakin dilema "Dengan gadis yang bukan mahram atau muhrim. Hanya memikirkan pun setau saya dosa Tuan, sebab itu bisa mengarahkan kita kepada zina, bahkan duduk berdua seperti ini saja tidak boleh karena sudah mendekati zina, itu kalau berbicara tentang dosa." Jawabnya.


"Tapi ini bukan mau ku, kamu terus berada di pikiran ku akhir akhir ini, lalu, gimana caranya menghindari itu?"


Pinkan menunduk menurunkan pandangan nya, entah apa lagi yang harus ia jawab, Pinkan sendiri sering memikirkan Raka akhir akhir ini, lalu bagaimana caranya? Ia sendiri tak tahu.


"Apa kamu menyukai bang Raka?" Murad memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka.


"T-tidak, tentu saja tidak." Pinkan mendadak mendongak kembali menatap pemuda itu heran "Kenapa Tuan menanyakan itu? Mana berani aku menyukainya? Dia majikan ku." Sanggah nya.


"Kalo bang Raka memilih mu? Apa kamu mau menerimanya? Kamu tahu Marni? Di keluarga kami tak pernah ada yang melarang dengan siapa kami memilih jodoh. Lalu, bagaimana dengan perasaan mu sendiri?" Tanya Murad lagi.


"Di kampung, saya sudah di jodohkan bapak saya Tuan, saya sudah berjanji, akan menerima siapapun yang akan bapak saya pilihkan. Sebelumnya maaf kan kelancangan saya, tapi tolong jangan tanyakan hal seperti ini lagi."


"Lalu kenapa kemarin kamu mencium bang Raka? Apa kamu serius tidak menyukai nya?"


"Hah?" Pinkan tersentak kaget ternyata secepat itu berita ini sampai ke telinga Murad. Pinkan tertegun menatap nanar pemuda itu, apakah harus menjawabnya?


"Ini terakhir aku menanyakan hal ini padamu, jawab!" Tuntut Murad.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak akan menjawab nya, tidak masuk akal jika saya mengatakan itu terjadi bukan di sengaja. Meskipun kenyataannya demikian." Jelas Pinkan.


"Permisi." Pamit Pinkan lalu beranjak dari duduknya membawa Baby Zee pergi dari tempat itu. Tak betah, Pinkan mulai tak betah berada di rumah ini, pertanyaan tuan muda di rumah besar ini benar-benar membuat dia rikuh.


Sedang di tempatnya Murad tersenyum mendengar penjelasan gadis itu "Tidak sengaja?" Gumamnya.


"Aku percaya padamu Marni, masuk akal jika kamu yang mengatakan nya." Gumam nya lagi, matanya menatap damba punggung gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari hari pun berlalu begitu cepat, sudah hampir dua Minggu Pinkan berada di rumah besar keluarga Baskara.


Drama saling tatap, cemburu, masih terjadi di antara ketiga putra Baskara, sedang Pinkan sendiri sudah mulai ingin menyerah, sepertinya ini misi yang harus rela ia beri cap failed🙅.


Dan siang ini Rani melangkahkan kakinya gontai menuju kamar Baby Zee dengan wajah dingin dan siasat di otaknya, Rani membuka pintu kamar yang ternyata kosong, tak melihat siapa pun di dalam sana.


"Kemana tu dua gadis setan itu?" Gumamnya.


Rani baru akan menutup lagi pintu kamar tapi benda pipih di atas laci nakas membuat nya ingin masuk ke dalam kamar pink milik Baby Zee.


Dengan langkah pelan Rani masuk lalu mengambil ponsel milik Pinkan yang terlihat sangat mahal, bahkan ponsel itu keluaran terbaru.


"Ini serius punya babu itu? Apa jangan-jangan Raka yang ngasih ini ke dia!" Hardiknya sok tahu.


Klik pesan teks masuk dan itu dari Miska my best friend, ponsel itu terkunci, tapi di layar line latar belakang ponsel itu bisa terbaca separuh pesannya.


Karena hanya separuh yang bisa di baca dari line latar belakang ponsel itu.


"Apa??" Rani mengernyit tak menyangka "Jadi Marni itu suruhannya Miska?" Kejut nya.


Rani tertegun sejenak, memikirkan ke anehan seorang Marni yang memang tampak janggal "Pantas saja, cuma Baby sitter bisa punya hape semahal ini, jadi pekerjaan baby sitter nya cuma kedok!" Gumamnya mencerna.


Selang beberapa saat, wanita itu mulai teringat kembali misi jahat yang sudah ia siapkan untuk membuat Pinkan dan bayi Raka musnah.


"Aku lanjutkan saja rencana ku!" Gumamnya lagi. Rani menoleh ke arah kiri di sana terdapat meja tempat biasa Pinkan membuat susu Baby Zee.


Kemudian berjalan menuju tempat itu, mengeluarkan botol kecil berisikan serbuk dari dalam tasnya, lalu, membuka tutup kaleng susu Baby Zee dan membubuhkan serbuk dari botol yang ia bawa ke susu Baby Zee, mencampur adukkan kedua zat bubuk berbeda sifat itu.


"Tamatlah riwayat mu Marni!" Gumamnya dengan smirk setannya.


Tak lama dari itu suara langkah kaki dari luar terdengar mendekat membuat Rani berinisiatif untuk bersembunyi, dan wanita itu bersembunyi di sisi ranjang mengamati Pinkan yang ternyata mau membuat susu Baby Zee.


"Huuhhh!" Pinkan terlihat menghela napas berat, sepertinya ia sudah sangat lelah.


"Besok aku pergi saja dari sini, maaf Miska, aku menyerah, bukannya bisa membawa Baby Zee keluar, aku justru terbelenggu oleh Tuan muda posesif di rumah ini." Gumamnya pelan dengan raut pesimis nya.


"Bagus! Akhirnya kamu menyerah juga! Tapi sebelum kamu pergi, kamu harus menjadi tersangka terlebih dahulu Marni!" Gumam Rani matanya menatap ke arah Pinkan yang masih mengaduk susu Baby Zee.


"Gak sangka, ternyata kamu suruhannya Miska si tupai jelek itu! Kalian sama-sama perempuan iblis yang harus di singkirkan dari keluarga calon suami ku!" Gumamnya lagi dengan smirk jahat nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Pinkan sudah selesai membuat susu, dan tiba-tiba saja Murad masuk mendekati gadis yang kini tengah mencicipi susu bayi, demi memastikan susu itu memiliki kehangatan yang pas.


"Marni?" Sapa Murad tersenyum.


"Eh Tuan," Pinkan menunduk memberikan sapaan sopan pada pemuda itu.


"Jadi sebelum Baby Zee, kamu lebih dulu nyusu Marni?" Murad terkikik menggodanya.


"Hihi, sedikit Tuan."


Marni menilik ke arah jam dinding besar di kamar itu "Wah, ternyata sudah jam dua, aku sampe lupa, belum shalat dhuhur." Gumamnya pelan dan Murad masih bisa mendengar nya.


"Kalo begitu. Biar aku yang mengantar susu ini ke bang Raka, kamu shalat dulu saja." Ucap Murad mengusul.


Pinkan menggeleng "Emm, gapapa Tuan, biar Marni sendiri saja." Tolaknya tak nyaman.


"Udah gak usah gak enak begitu." Murad mengambil alih botol susu dari tangan Pinkan lalu melengos pergi tanpa berucap apapun lagi.


"Ya udah deh, makasih." Gumam Pinkan menatap berlalunya pemuda itu, Pinkan lantas memasuki kamar mandi, mengambil wudhu, kemudian berjalan menuju lemari mengambil dan memakai mukenanya.


"Hhhhh!!"


Saat sudah akan memulai ibadah nya Pinkan merasakan cekikan di tenggorokan nya, matanya membulat, bibir seketika kelu, kini tangannya mengusap usap leher jenjang nya berusaha mengurangi rasa panas yang tiba-tiba muncul.


Bruk!


Pinkan terjatuh dengan napas yang sulit sekali di hela, sontak ingatan nya terarah kepada susu baby Zee yang beberapa saat lalu ia cicipi.


"Apa ini karena itu??" Otak encer Pinkan dengan cepat mencerna.


Tertatih, gadis itu berlari dengan masih mengenakan mukena putih yang ia singsing tinggi tinggi.


"Baby, jangan sampai kamu meminum nya." Pinkan berujar dalam hati sambil terus berlari cepat menuju taman halaman belakang, mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan, setidaknya jika ia keracunan dan meninggal, cukup dia saja, tidak dengan bayi yang baru memulai hidup di dunia yang fana ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung... Terimakasih like nya 🤗 terima kasih yang masih mengikuti cerita remahan ku ini😚