
Cup!
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kanan wanita cantik yang kini duduk di sisi ranjang dengan pakaian dalam saja, dia sibuk memakai losion di seluruh tubuhnya. Satu Minggu sudah Pinkan tinggal di rumah utama milik Baskara menjadi Nyonya muda Tuan Raka Cyril sekaligus Mommy dari Baby Zee.
Rencananya hari ini Pinkan sudah mau masuk kuliah lagi, setelah menikah rasanya Pinkan ingin segera menuntaskan pendidikan terakhirnya, yah, terakhir, sebab setelah itu Pinkan tak berniat melanjutkannya lagi.
Menjadi istri Tuan Raka, mengurus anak serta membantu butik milik ibunya saja sudah cukup menyita waktu, akan sulit di bagi jika harus melanjutkannya lagi.
Lagi pula setelah lulus, Raka berniat langsung memberikan adik untuk putrinya. Pasti, rumah akan semakin ramai saja, Baskara dan Irma sudah tentu bahagia.
"Pagi sayang." Ucap suaminya dengan tangan nakal yang mulai bergentayangan kemana mana, Raka menyatukan dadanya pada punggung isterinya.
"Bisa gak sih gak begini Raka, aku juga butuh waktu buat dandan dan lain-lain, bukan cuma beribadah di ranjang saja." Pinkan mulai risih dengan kelakuan suaminya.
"Hehe, namanya juga pengantin baru Yank." Sela Raka nyengir.
"Kayaknya cuma kamu deh, yang gada capeknya ngajak begituan mulu, tulang tulang ku remuk begini sampe males mau ngapa-ngapain." Pinkan menggerutu dengan bibir yang cemberut.
"Iya deh, aku pijit." Raka memijit lembut pundak isterinya, saking lembut nya boro-boro terasa enakan yang ada Pinkan malah geli di buatnya.
"Udah gak usah," Tepis Pinkan "Pasti modus lagi kamu tu! Nanti gituan lagi ujungnya." Lanjutnya.
"Kamu bosan Yank? Kamu menolak ku hum?"
"Bukannya nolak tapi hari ini ada pertemuan penting sama dosen pembimbing sebelum masuk kelas."
"Mau ngapain?" Tanya Raka.
"Aku kan bilang aku mau ambil skripsi,"
"Baru juga semester tujuh kamu Yank. Buru-buru amat."
"Gapapa, selama otakku mampu mah, lebih cepat lebih baik, lagian aku udah lulus 120 SKS, terus, di semester enam kemarin juga nilai ku selalu dapat A sama B, sudah memenuhi syarat pengambilan skripsi, jadi ngapain di tunda lagi."
"Iya deh terserah, lagian kamu punya suami ganteng yang cerdas juga, pasti bisa bantuin bikin skripsi, iya kan hm?" Rak mendusel ke leher jenjang wanita itu. Sedang Pinkan menarik rambutnya merenggangkan tautan hidung bangir meresahkan milik suaminya.
"Gak perlu, aku bisa sendiri, lagian udah ada dosen pembimbing juga." Sela Pinkan.
"Dosen messum itu? Kamu gak takut di godain sama tu orang?"
Pinkan tersenyum cibir seraya memutar badan menghadap ke arah suaminya "Kamu dengerin ya sayang. Semessum messum nya dosen ku, lebih messum suami ku! Jadi udah gak takut aku sama orang messum! Udah kebal!" Jawabnya.
Raka terkekeh geli mendengar ucapan isterinya "Cuma sama kamu messum nya Yank." Ucapnya "I love you." Bisiknya menyusul di telinga isterinya "I love you too Daddy."
"Sekarang pake baju gih, dari pada Daddy khilaf." Pinkan mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan anggun mengambil pakaian dari dalam lemari.
Setelah rapi dengan pakaian, keduanya keluar dari kamar menuju kamar baby Zee yang mungkin masih tidur bersama dengan babysitter nya. Akhir akhir ini Raka jarang sekali mengajak putrinya tidur di kamar miliknya, dan lagi, Baby Zee seolah tak mau mengganggu kemesraan pasangan baru itu.
"Pagi Papi." Ucap Pinkan tersenyum manis pada mertua tampannya yang kini duduk di sofa ruang tengah.
"Pagi sayang." Ucap balik Baskara menoleh menghiraukan menantunya.
"Papi, ..." Raka duduk berhadap-hadapan dengan ayahnya.
"Hmm?"
"Papi kenapa?"
Baskara beralih pada Raka "Murad, Papi mengkhawatirkan dia, sudah lama sekali dia gak mau mengangkat telepon Papi, kamu tahu Bang, ..." Lelaki tampan itu menatap wajah putranya intens dan berhasil membuat Raka penasaran "Akhir akhir ini pengeluaran kartunya membludak. Tidak biasanya dia seperti itu." Ucapnya curiga.
"Mungkin, hidup di negara lain memang membutuhkan banyak pengeluaran Pi, dulu Raka juga begitu kan?"
"Kamu berbeda, pengeluaran kamu banyak karena kamu juga menjamin fasilitas Rani mantan mu itu!" Baskara merutuk "Lalu, Murad buat siapa?" Tanyanya penasaran.
"Mungkin sudah punya gebetan baru, pacaran sama cewek bule semok di sana dia, lagian bukannya bagus, dia jadi gak perlu sakit hati lagi, masalah duit, kapan Papi mempermasalahkan pengeluaran putranya?" Sambung Raka.
Baskara termenung, bukan soal pengeluaran yang membengkak, tapi, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada putranya, ikatan batin antara orang tua dan anak akan tetap terjalin meski berpuluh puluh pulau terlampaui.
"Sudah jangan terus di pikirkan, Murad bisa menjaga dirinya sendiri." Raka mengelus pundak ayahnya, menenangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Inggris Britania raya pukul 09:00.
Miko dan Murad tengah menatap berlalunya pesawat jet yang di tumpangi Hayu Diajeng, sudah satu Minggu ini Miko bolak-balik mengurus kepulangan kilat gadis desa itu.
Paspor KTP, semua surat-surat palsu di buat semirip aslinya mungkin demi bisa membuat Hayu melakukan penerbangan kilat ke Indonesia. Tentunya dengan biaya yang tidak murah, dan Murad lah yang menanggung semuanya tanpa terkecuali.
Namun sayangnya selama satu Minggu ini, Hayu justru tak mau bertemu dengan pemuda itu, susah payah Miko membujuk agar Hayu mau kembali lagi ke apartemen, tapi gadis itu malah mengancam bunuh diri, murka semurka murkanya, tak sudi lagi bertatap muka dengan seorang Murad Earl, si perampas keperawanan nya.
Ok, Miko pun setuju untuk tidak mempertemukan nya kembali dengan Tuan muda nya, mengingat saat itu salju yang begitu melimpah hampir membekukan tubuh Hayu.
Setelah itu Miko segera membawanya ke hotel terdekat, di sana Hayu di berikan pelayanan terbaik karena saat itu Miko langsung menghubungi Murad untuk membayar sewa hotel dan langsung di berikan kelas presiden suite room, kemudian esok harinya Miko bergegas mengurus kepulangan Hayu ke Indonesia secara kilat tanpa di pertemukan lagi dengan Tuan muda yang menurut Hayu sangat buruk.
Murad pun setuju, meskipun sebenarnya pemuda itu ingin sekali bertemu dan meminta maaf secara langsung pada gadis cantik yang sudah dia renggut kesuciannya.
Tapi tidak apa, sementara ini Murad memberikan waktu untuk Hayu meredam emosi dan trauma nya, sembari menunggu dia bisa pulang dengan gelar S2 nya, yah, begitulah niat pemuda tampan itu, setelah kembali ke Indonesia nanti Murad berniat meminta maaf pada Hayu secara langsung.
"Sekarang kita pulang Tuan." Ucap pria berusia dua puluh sembilan tahun itu mengajak anak majikannya.
"Ya, ..." Murad mengangguk lalu segera berjalan memasuki mobil sport miliknya. Lagi, Miko yang mengambil alih kemudi. Mobil itu pun mulai bergerak dengan laju sedang berlalu dari halaman parkir Bandara Heathrow, London.
"Setelah ini hubungi teman seangkatan mu yang di tempat kan di pabrik Solo, suruh dia mengurus Hayu, juga awasi dia, aku takut dia hamil seperti ibu kandung Baby Zee waktu itu. Pastikan dia aman tidak sampai kekurangan uang, beri pekerjaan di kotanya dengan gaji yang besar," Murad memberi titah panjang lebar pada asisten pribadi nya.
"Tapi, kalo menurut saya, jangan terlalu besar juga Tuan, atau dia bisa curiga, dia hanya lulusan SMP, pasti akan terkesan janggal nantinya, tadi saja dia tidak mau menerima sepeserpun uang dari ku, selain dari pada meminta bantuan di pulangkan kembali ke kota asalnya." Sambung Miko yang masuk akal.
"Terserah saja, yang penting terus pantau Hayu dan berikan kabar terbaru nya, padaku." Nada Murad berangsur lirih, rasa cinta mungkin belum ada tapi jika sampai Hayu hamil Murad akan bertanggung jawab sepenuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Masih ada yang menunggu Carita ini gak sih?