Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Rindu?



Seharian kemarin Pinkan benar-benar di buat merutuk oleh kabar mengejutkan dari kampus. Seperti rencana awal, hari ini Pinkan mendatangi kampus guna menyampaikan keluhannya, dan sudah sejak pagi-pagi sekali gadis itu menemui banyak orang dari mulai Dosen, Kahim, Guru Besar, Kadep, Kaprodi, Kajur hingga Dekan untung saja tidak sampai mendatangi Rektor nya.


Sudah berjam jam lamanya Pinkan berkonfrontasi, bernegosiasi dengan pihak kampus tapi mereka terus berkata no! Kamu akan tetap internship di perusahaan Key-food, atau tidak di lulus kan ke semester berikutnya.


Pinkan sempat berpikir kenapa tiba-tiba kampus ini menjadi diskriminatif sekali? Seorang ratu kampus yang biasanya selalu di turuti kenapa hari ini suaranya seolah tak di dengar oleh mereka?


Tak jengah, Pinkan terus mengikuti langkah pria berjambang yang berjalan dengan menenteng buku besar di ketiaknya.


Di sebuah koridor yang mengarah ke perpustakaan Pinkan merengek, menghiba padanya, meski langkahnya sedikit kewalahan hingga sedikit berlari kecil sebab langkah kaki pria tinggi itu terlalu panjang.


"Pak, tolong lah Pak, saya mau di tempat kan di mana saja, asal jangan di sana, pliiiiisss." Pinkan sedikit memiringkan kepalanya berusaha memberikan kedipan manja pada laki-laki itu, mungkin dengan begitu usahanya akan berhasil.


"Saya kan sudah bilang no! Atau begini saja, ..." Laki-laki itu mendadak menghentikan langkahnya lalu memposisikan dirinya untuk bertatap muka dengan gadis cantik ini.


"Apa apa? Katakan apa syaratnya Pak!" Mata Pinkan berbinar cerah, akhirnya ada secercah harapan yang mungkin bisa membuat laki-laki itu menurutinya.


"Kau, menjadi istri ku!"


"Apa? Istri?" Mata Pinkan membulat sempurna "Bapak bukannya udah punya istri tiga? Masih aja mau nambah?" Lantangnya, dasar tua bangka gak tau diri_umpat dalam hatinya.


"Ya itu syaratnya, kalo kamu tidak mau, silahkan urungkan niat mu Pinkan Arora!" Lelaki itu mengangkat satu bahunya sambil tersenyum miring.


"Pak, apa tidak bisa dengan cara yang lain hah? Misalnya jadi pembantu bapak seharian deh, gapapa."


"Wah ide bagus." Lelaki itu berucap dengan nada sedatar jalan layang.


Pinkan sudah akan mengembangkan cengiran gigi putihnya, lalu meredup saat lelaki itu mengatakan "Kau jadi isteri ku seharian penuh, tidak terlalu lama, mungkin tidak terlalu berat."


"Astaghfirullah, Pak, ...." Pekikan lidah yang menggantung di langit-langit mulut hingga terbukalah bibir penuh kejut Pinkan.


"Sudahlah, bapak juga tidak memaksa, kalo tidak mau ya sudah, silahkan pergi, saya masih banyak urusan." Dengan langkah santainya laki-laki itu berlalu dari pandangan Pinkan. Sementara gadis itu masih melongo sambil mengeluarkan dengusan lemahnya.


Usaha apapun hanya sia-sia saja, ternyata menjadi cantik juga tidak semudah yang orang orang bayangkan, Pinkan yang tubuhnya bak model 21+ wajahnya bak Dewi Guan yin di film kera sakti masih saja menemui kesulitan.


"Apakah aku harus menerima takdir? Datang ke perusahaan bang duda kejam itu? Lalu harus rela menyanyikan lagu pertemuan ciptaan om haji Rhoma irama? Oh sungguh terlalu ...Uuuh hiks hiks, kenapa sial sekali nasib ku?" Pinkan menggerutu dengan wajah memelas bahunya sedikit turun lesu.


"Marni, ..." Dari belakang tubuhnya suara yang sudah lama sekali tak terdengar sontak membuat matanya membulat hingga dengan cepatnya gadis itu menoleh. Di lihatnya pemuda tampan dengan ciri khas senyum manis berdiri tepat di hadapannya, sungguh semakin frustasi saja yang Pinkan rasakan saat ini.


"Siang Marni, ..." Dengan senyum sangat manis Murad menyapa, ada binar kerinduan bertengger di matanya. Sungguh penampilan sederhana dari seorang Marni yang ia kenal seakan tak terlihat, Murad benar-benar melihat Pinkan Arora ratu kampus yang di balut dengan pakaian mahalnya.



Dan hening setelahnya, Pinkan hanya menatap dalam diam pemuda itu, lalu perlahan kakinya berderap kearah lain, mungkin baru dua langkah Pinkan berjalan meninggalkan tempat itu tapi terhenti saat telapak tangan seseorang menyatu dengan telapak tangannya hangat.


Saliva tampak tertelan dengan gusar matanya berkedip kedip gugup tapi, tak bisa ia menarik kembali tangannya, terus tenggelam di genggaman pemuda berwajah damai itu.


"Mau kemana hm?" Pinkan memejamkan mata lengkap dengan wajah yang mengernyit gusar.


"Tuhan? Apa lagi ini? Kenapa belum kelar kelar masalah ku dengan keluarga sultan ini?"


"Apa kau menghindari ku?"


Lalu dengusan lemah Pinkan terdengar jelas di telinga Murad yang justru membuat pemuda itu menarik sudut bibirnya tersenyum.


"Ikut aku, ..." Murad melangkah melewati tubuh Pinkan tanpa melepas genggaman tangannya, ia menarik paksa gadis itu mengikuti langkahnya.


Pinkan mendengus sedang ekor matanya menyinggahi seluruh sudut tempat ramai itu, di lihatnya semua orang menatap kejut ke arahnya.


Eh eh si ratu kampus sama kulkas kampus, bersatu, apa mereka jadian? Oh beruntung nya jadi Pinkan, cowok senior sedingin Murad bisa meliriknya, uuh iri, iri banget, __ Begitu lah decak kagum para gadis di sekeliling yang pandangannya mengikuti gerak langkah kedua makhluk indah berlainan jenis ini.


Pinkan masih pasrah mengikuti langkah kaki Murad sebab sekuat apapun gadis itu mencoba menarik tangannya, Murad lebih menguasai gerakkan tangannya. Sampai di kantin yang cukup ramai Murad mendudukkan Pinkan ke salah satu kursi kosong sebelum kemudian dirinya juga duduk di kursi yang menghadap ke arah gadis itu. Sedang di sekeliling mereka berpasang pasang mata masih menyimak kegiatan keduanya.


"Kamu mau minum apa? Makan siang dengan apa hm? Pasti kamu belum makan kan?" Murad bertanya menawarkan.


"Tidak perlu, baru saja aku makan." Tolak Pinkan memalingkan wajahnya, bukan karena benci, karena sejatinya Murad bukan orang yang harus ia benci, tapi karena Pinkan benar-benar sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga sultan ini.


"Seharian ini aku mengikuti mu, belum pernah aku melihat mu makan, bukannya dari pagi kamu terus membujuk semua bapak bapak di kampus ini?"


Mendengar itu Pinkan menoleh ke arah Murad memperlihatkan kerutan di keningnya "Jadi kamu mengikuti ku?" Tukasnya lalu pemuda itu mengangguk sambil tersenyum.


"Kita makan saja dulu di sini, pulihkan energi mu, lagi pula, mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir sebelum aku pergi ke negara lain." Ucap Murad dengan nada yang berangsur lirih.


"Memangnya mau kemana?" Wajah polos Pinkan tampak penasaran.


"Sesuai tradisi keluarga kami. Aku harus mengambil S2 di Inggris."


"Jadi wisuda kemarin, angkatan mu?" Pinkan bertanya lalu Murad memperlihatkan senyum sambil mengangguk.


"Kenapa harus di Inggris?"


"Di sana lebih cepat waktu studi nya cuma satu tahun saja, aku masih belum kepikiran berlama-lama tinggal di negara lain."


"Oh," Suara Pinkan terdengar lirih dengan kepala yang perlahan manggut-manggut.


Kemudian keduanya memesan makanan lengkap dengan minumannya, Pinkan pasrah karena memang dia juga sudah sangat lapar, dan lagi, Murad bilang ini terakhir kali sebelum keberangkatan nya ke Inggris, fine lah, lagi pula Murad tak punya salah padanya, tidak ada alasan untuk Pinkan menolak.


"Jadi, Minggu depan kamu mulai magang di perusahaan Papi?" Di sela makannya Murad membuka obrolan karena sedari pagi pemuda itu mendengar setiap keluhan Pinkan.


"Iya, mungkin, ..."


"Duh, jadi ni orang tau yah, gue ngemis ngemis sama bapak bapak di kampus ini? Malu banget kan gue!"


"Kenapa harus protes? Bukanya sudah tradisi dari tahun tahun sebelumnya? Kampus ini dengan perusahaan Papi bersinergi demi mencari tenaga kerja yang mumpuni? Lagi pula, perusahaan Papi salah satu perusahaan terfavorit untuk lulusan jurusan finance bukan?"


"Iya sih, ..." Pinkan masih lelet menjawab semua pertanyaan pemuda itu, gamang, tidak mungkin berkata aku takut bertemu Abang mu, pasti memalukan.


"Emm, gimana kabar Baby Zee?" Pinkan tak kuasa menahan dirinya untuk menanyakan hal itu. Setelah melihat Murad entah kenapa wajah Raka menari nari dihadapannya, semua situasi dan kondisi saat masih tinggal bersama keluarga Baskara terngiang kembali dalam ingatan nya.


"Sekarang sudah baik, tapi sempat mengamuk tidak mau minum susu beberapa hari setelah kau meninggalkan nya, ..." Murad menjelaskan dengan bibir yang sedikit mencebik.


Dan Berhasil membuat Pinkan terdiam, ternyata bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan, Baby Zee pun sempat mengalaminya.


"Rumah kami selalu terbuka lebar untuk mu, datang, hanya sekedar membesuk baby Zee tidak ada larangan, kamu pasti pangling, sekarang baby Zee sudah lebih berat sudah bisa merangkak ke mana mana, pengasuhnya bahkan sering tak tidur terus di ajak ngobrol." Murad terkikik setelah menceritakan keponakan lucu nya.


Entah kenapa mendengar itu, mata Pinkan mulai berkaca-kaca, tergenang di pelupuk mata, antara akan terjatuh atau ia tahan di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung... Hai reader, muup baru bisa up, beneran dr kemarin males banget nulis, jadi aku gunain waktu ku buat baca nopel seharian, karena emang itu hobinya akoh dari awal ya kan, sekarang aja pake gaya gayaan ikutan nulis🤭 tapi terimakasih dukungannya yah😍 Love you😘