Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Kaget!



"Kamu sudah kan belanjanya?" Raka menatap ke tangan kekasihnya yang kini menenteng banyak paper bag.


Rani mengangguk tersenyum "Udah, aku juga lapar, kita makan yuk!" Ajaknya.


"Iya." Raka mengambil alih paper bag dari tangan Rani, membantu membawanya. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju restoran fine dining, dan kebetulan restoran langganan mereka tempat yang sama di mana Pinkan dan Murad makan siang.


Karena bertepatan dengan jam makan siang, restoran itu terlihat lebih ramai dari jam jam biasanya, meja di restoran itu juga sudah hampir semua nya terisi, maka mau tak mau Rani harus setuju duduk di meja kosong yang bersebelahan dengan Pinkan dan Murad.


Pinkan masih repot dengan Baby Zee maka seperti biasa gadis itu perlu di suapi. Dan kali ini Murad yang menyuapinya makan, sushi matang lah yang mereka pesan sebab keduanya sama-sama tak menyukai sushi mentah, Murad sendiri tak mencurigai kenapa Pinkan seolah tak asing dengan makanan yang keluarganya makan, padahal Marni yang mereka kenal adalah Marni si gadis desa terpencil.


Dari tempatnya masing-masing mata Raka dan Pinkan masih sering bertemu, tentunya masih terus bergulat dengan pikirannya masing-masing, diam-diam keduanya menanggung cemburu. Raka cemburu pada Murad dan Pinkan cemburu pada Rani.


"Kalo boleh tau, apa kamu punya pacar Marni?" Murad mulai membuka obrolan di sela sela makan nya sambil sesekali menyuapi Pinkan.


Pinkan yang barusan menatap ke arah Raka sontak menoleh kembali pada Murad menghiraukan pemuda itu "Emm, pacar?" Pinkan memastikan dan Murad mengangguk dengan harapan Pinkan menjawab tidak.


"Siapa yang mau sama saya Tuan? Saya cuma Baby sitter." Kilah Pinkan tersenyum merendah.


"Aku, aku mau sama kamu." Murad berucap dengan bibir yang tersenyum.


"Uhuk-Uhuk!" Pinkan tersedak mendengar ucapan pemuda tampan itu dan Murad menyodorkan sedotan padanya "Hati-hati minum dulu." Tawarnya hangat.


Pinkan pun meneguk minuman dari tangan Murad sedang matanya melirik sekilas ke arah Raka yang semakin menunjukkan wajah cemburu nya.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku Marni, kamu punya pacar atau tidak di kampung?" Ulang Murad bertanya lagi masih penasaran, sesekali menatap ke arah Baby Zee yang terus mengoceh bahagia.


"Tidak Tuan, saya kan bilang, tidak ada yang mau sama Baby sitter seperti saya." Jawab Pinkan sekali lagi.


"Kan aku bilang aku mau! Gimana menurut mu?" Tanya Murad lagi.


"Buset, apa barusan dia nembak gue? Ganteng sih, keluarga kaya, perhatian, ramah, pengen banget jadi cewek nya, tapi gue ke sini bukan mau pacaran, gue cuma mau ngambil Baby Zee, itu doang."


Batin Pinkan, sedang matanya menatap pemuda itu dalam dalam.


"Kenapa malah melamun hm? Jadi gimana menurut mu kalo aku menyukai mu?"


"Tuan muda bisa saja, lebih baik jangan Tuan muda, kita tidak sederajat, lagian memangnya, Tuan muda gak punya pacar? Pasti di kampus banyak cewek yang suka sama Tuan, iya kan?" Sambung Pinkan setelah itu.


"Makanya kamu jangan memanggilku Tuan, biar kita sederajat, panggil aku Murad saja. Aku gak punya pacar Marni, terakhir pacaran, SMA kelas tiga, gak pernah lagi setelah itu, di kampus juga tidak sempat melirik cewek, males."


"Kenapa?"


"Ada alasan yang membuat ku sulit menyukai gadis lain selain mantan kekasih ku, tapi semuanya berubah setelah bertemu dengan mu."


"Ada deh!" Seru Murad yang pada akhirnya berucap demikian.


"Memang kalo boleh tau, Tuan muda kuliah di mana?" Pinkan baru terpikirkan menanyakan itu padahal sudah satu Minggu bersama.


"Universitas Xx."


"Uhuk-Uhuk!" Pinkan tersedak kembali mendengar jawaban dari Murad dan kali ini nampaknya lebih dalam.


"Universitas Xx? Itu kan kampus gue! Kenapa gue gak tau kalo ni anak kuliah di sana? Muka ganteng begini harusnya populer kan? Di antero jagat perkampusan? Tapi mungkin ni cowok gak caper kali ya? Makanya gak terlalu di kenal? Tapi gue kan di kenal sebagai ratu kampus, kenapa ni cowok sampe gak kenal gue? Secuek itu kah dia di kampus?"


Di sela batuknya Pinkan berucap dalam hati, mengutarakan kebingungan nya.


Pinkan pun menyedot minum dari tangan Murad lagi dan lagi-lagi matanya sering kali melirik ke arah Raka yang masih terus menatapnya cemburu.


"Terimakasih ya, Tuan muda, maaf jadi merepotkan." Ucapnya tak nyaman kemudian menerima sentuhan lembut Murad yang menyeka bibirnya dengan tissue, Pinkan benar-benar merasa di perlakukan sebaik mungkin oleh pemuda itu.


"Gapapa, aku seneng bisa sedekat ini dengan mu, biasanya, bang Raka menyuruh ku pergi, mumpung bang Raka lagi ada pawangnya, aku manfaatkan waktu ini sebaik mungkin bersama mu." Sambung Murad yang tak henti hentinya tersenyum.


"Ah elah. Bukannya harusnya gue bisa pamer ke temen gue, kalo gue di tembak sama cowok terganteng di kampus, tapi malah begini jadinya! Ahh! Sial bener nasib gue!"


Pinkan menatap Murad dengan wajah memelas sedang di sisi lain, Raka masih mencuri curi pandangan cemburu padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Detik demi detik pun berlalu begitu saja, kini senja mulai menampakkan keindahan sementaranya, di taman halaman belakang Raka berjalan mendekati Marni yang kini duduk di sofa memangku putri mungilnya.


Hari ini baru sempat Raka mendekati Baby Zee dan pengasuhnya, padahal biasanya makan siang bersama di kantor, tapi saat libur justru tidak bisa menyempatkan waktu, karena terpaksa harus menemani kekasihnya jalan-jalan.


Rindu sudah menyeruak, maka kali ini tak canggung lagi, Raka duduk di sisi kanan gadis itu "Ekm ekm!" Lelaki itu memberi kode supaya Pinkan tahu kehadirannya.


Pinkan pun menoleh dan sedikit memberi tundukkan sopan padanya "Selamat sore Tuan." Ucapnya.


"Emm." Sedikit respon saja dari lelaki itu. Dan hening setelahnya.


Raka masih cemburu, begitupun Pinkan yang masih kecewa dengan tuduhan Raka pagi tadi, Baby Zee hampir saja di celaka kan oleh kekasihnya, tapi justru Pinkan yang mendapat teguran tak mengenakan dari lelaki itu.


"Gimana, apa, Baby Zee rewel hari ini?" Akhirnya Raka memecah keheningan di antara mereka.


Pinkan menggeleng "Tidak Tuan, justru, dia senang, hari ini di ajak jalan-jalan, sepertinya dia suka bepergian." Jawabnya tersenyum tipis menoleh sekilas menghiraukan lelaki itu.


"Syukurlah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain tempat itu, dua orang pemuda tampan asyik berbincang sembari berjalan beriringan menuju sofa yang Raka dan Pinkan duduki, mereka tidak lain adalah Eric yang membawa teman sekolah nya Tito sang Playboy, di sekolah Eric terus menceritakan tentang Pinkan pada temannya itu hingga kini Tito penasaran di buatnya.


"Gue jadi pengen cepet cepet liat Baby sitter baru lu itu, kayak apa si cantiknya? Sampe lu repot bener ceritain tu cewek!" Tanya Tito.


"Beh,!" Eric memukul pelan punggung temannya "Pokoknya model papan atas aja kalah To! Bener ni cewek bodinya aduhai banget, mukanya cantik, mirip bule Rusia, lu harus liat." Sambung Eric bersemangat.


"Rusia? Itu kan negara leluhur gue! Kalo gitu cocok dong ma gue, bisa kali gue coba godain." Tito menaik turunkan alisnya.


"Iya juga ya! Gue lupa kalo lu juga keturunan orang sonoh, ET tapi," Eric menghentikan langkahnya menarik bagian belakang jaket Tito "Jangan macam-macam lu, Marni itu milik keluarga gue, lu cukup liat dia aja, jangan coba-coba godain!" Pekiknya.


"Ah elah, lu pamer ke gue, tapi gak boleh gue godain gimana si!" Tito menarik sudut bibirnya kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di sofa, lamat-lamat Pinkan mendengar percakapan kedua pemuda itu dan dengan reflek nya gadis itu menoleh ke arah nya, alangkah terkejutnya dia, melihat pemuda yang sangat sangat ia kenal berjalan mendekati nya.


"Tito!" Mata Pinkan membulat sempurna, tersentak kaget "Ngapain tu anak ke sini?" gusarnya yang hanya dalam hati saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Insya Allah hari ini up lagi.