
Dreeetttt dreeetttt dreeetttt, ponsel milik Eric meminta pengindahan lalu dengan cepat dia menyambar gawai persegi tersebut.
"Iya, kenapa Pak?" Lugas nya pada orang di seberang telepon.
"Nona yang Tuan muda cari sudah ada di depan, dia mau mengambil motornya." Jawaban dari seberang sana lumayan membuat pemuda itu berjingkrak kegirangan.
"Hah? Yang bener Pak? .... Ok, jangan biarkan dia ambil motornya dulu, tahan dia di sana, gue turun sekarang!" Bibir Eric tersenyum. Entah itu senyum dari rasa yang bagaimana, pemuda itu sendiri pun tak mampu menubuatkan nya.
Yang pasti adalah Eric sempat merapikan rambut juga menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya "Oh my God, senangnya hati ku, malem ini ada kesempatan ngerjain lagi tu cewek kampung!" Gumamnya.
Sebisa mungkin beralibi bahwa dirinya antusias bukan karena sudah sangat merindukan gadis perampok bibirnya akan tetapi sebatas ingin mengerjai saja. Tiba di luar Eric melihat sosok indah yang dia tunggu-tunggu selama beberapa hari ini sudah memasuki halaman rumah besarnya.
"Eh!" Pekiknya seraya berlari mendekati.
Tanpa bersuara gadis itu tampak memutarkan bola mata malasnya "Gue sengaja ke sini malem-malem begini, kenapa masih juga ketemu ni cowok manja mulut lemes!" Gerutunya pelan.
"Sini lu!" Titah Eric.
Lidya tak mengindahkan pemuda itu, dia hanya langsung menaiki motor miliknya yang sudah di isi angin oleh Arjuna siang tadi. Rupanya sang Casanova punya hati juga mau membetulkan motor gadis itu.
"Eh, jangan pergi dulu! Gue masih mau ngomong sama lu!" Pekik Eric seraya menarik lengan gadis itu.
Sembari mendengus Lidya menoleh pada pemuda tampan itu "Apa lagi? Lu pengen gue cium lagi hmm?" Tawarnya.
"Boleh juga!" Batin Eric.
"Ogah! Virus!" Eric menaikan ujung bibirnya mencibir "Gue cuma mau nuntut elu!" pemuda itu melotot.
"Nuntut apa?" Sela Lidya.
"Nuntut, ..." Eric terdiam dengan bibir cengok nya "Nuntut apa yah? Masa iya gue ngomong kalo beberapa hari ini gue mikirin dia mulu? Bahkan sampe mimpi basah segala gue sama dia, ahh, tengsin banget gue, ..." Sisi batinnya panjang lebar.
"Ah, ga jelas!" Sela Lidya menghempas tangan pemuda tampan itu "Udah gue pulang! Salam buat nyokap bokap lu, gue ga bisa mampir, bilangin juga gue enek sama anak bungsunya!"
Eric melotot tak terima tapi mau bagaimana lagi? Gadis itu sudah lari dengan motor matiknya.
"Lidya kampung! Sialan lu!" Pekik Eric.
"Aaahh! Kenapa cepet banget dia perginya! Ck! Belum juga setor bibirnya ke gue!" Nada Eric berangsur lirih sambil menatap berlalunya motor Lidya memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari terus berlalu hingga kini sudah berganti bulan, perut Pinkan sudah semakin bertambah besar saja, lagi pun tonjolan sudah nampak di mana mana ada.
Semakin melihat itu, Raka semakin tak mampu membendung rasa ingin bercinta nya, di matanya Pinkan bertambah menggoda saja.
Kini Pinkan berdiri di depan cermin besar, baru saja dirinya keluar dari kamar mandi, handuk putih masih melilit tubuhnya yang berisi.
Raka pun mendekat, di sapunya rambut yang menutupi leher jenjang wanita itu lalu menenggelamkan wajahnya di sana menghirup aroma damai dari tubuh isterinya. Tangannya melingkar lembut hingga mengangkat seluruh bulu roma wanita itu.
"Sayang," Bisik Raka mesra.
"Hmm?"
"Berapa hari lagi perkiraan lahir nya?" Tanya basa-basi Raka.
"Satu Minggu lagi, kenapa? Ga sabar yah? Pengen liat si Dede? Tenang Daddy, pasti mirip kamu gantengnya." Sambung Pinkan tersenyum manis.
"Satu Minggu lagi?" Raka memastikan dan Pinkan mengangguk mengiyakan "Jadi, masih boleh kan Daddy minta jatah hum? Katanya buat mancing baby nya keluar kita harus sering-sering loh Yank." Kata Raka merayu.
"Hmm. Bilang ajah mau!" Sela Pinkan lalu membalikkan badannya menghadap suaminya.
"Hehe, boleh kan?" Tanya Raka lagi sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya nyengir. Hasratnya sudah tak terbendung lagi ingin sekali mempertemukan Bang Hulk dengan makanannya sekarang.
"Emm, gimana ya?" Pinkan ragu, takutnya tiba-tiba kontraksi kan ga lucu.
"Nanti kalo udah lahir lama lagi loh Yank jatah Daddy nya." Bujuk Raka lagi memelas sebab Bang Hulk sudah berdiri ingin menegakkan keadilan rupanya, Pinkan tak menjawab akan tetapi ekspresi wajahnya mengizinkan permintaan suaminya.
Tak ada kata-kata kali ini, seakan sangat hapal mereka sudah tak mau berlama-lama kompromi lagi.
Raka usap gundukan padat yang sudah tak mampu ia raup seluruhnya saking bertambahnya ukuran buah kenyal milik Pinkan itu, mungkin juga pengaruh asi yang sudah terproduksi.
Pelan-pelan sekali Raka menuntun dan membaringkan tubuh isterinya di atas ranjang super king size miliknya, lalu memberi bantal yang nyaman pada kepala Pinkan juga.
Tak ada gaya yang aneh-aneh karena posisi perut Pinkan sudah sedikit sulit di ajak berkreasi maka kali ini hanya satu gaya saja, rencananya.
Setelah menanggalkan sisa kain yang membungkus dirinya. Bibir Raka mulai berkeliling menyisir seluruh lekuk tubuh berisi wanita itu. Pinkan mulai meremang merasakan setiap sentuhan suaminya sambil meremas ujung bantal juga menggigit bibir bawahnya dan itu yang membuat Raka semakin gila.
"Ah, pelan-pelan, Daddy, takutnya Mommy kontraksi." Pinkan sedikit memberi pekikan protes saat sang peranti tak bertulang itu menjelajahi pintu surga miliknya yang sampai detik ini masih kinclong, hanya saja mungkin ukurannya sudah sedikit lebih menantang bagi Raka, terlihat laki-laki itu lebih betah memainkan bibirnya di sana, mungkin gemas.
Sesekali Raka juga mengelus perut isterinya berusaha menenangkan si jabang bayi, sejenak ia berharap sang putra mahkota tak menggangu aktifitas ayahnya terlebih dahulu.
Raka melakukannya dengan sangat hati-hati asal bisa tetap melanjutkan delegasi apa pun pasti ia sanggupi. Namun tetap saja sebagaimana pun hati-hati nya. Erangan kenikmatan terus menggema di ruang kedap suara itu.
Tak ada suara selain dari pada suara hentakan yang Raka ciptakan saja. Yang semakin lama semakin cepat pula iramanya.
"Emmh Ough ahh, Dadd, stop please!" Pada akhirnya Pinkan menggeleng bahkan sudah memejamkan matanya kuat-kuat tanda ia menyerah.
"Stop?" Tanya Raka "Why sayang?" Laki-laki itu sedikit memelas. Sudah sedikit lagi sampai puncak tapi urung saat melihat ekspresi wajah isterinya yang terkesan kesakitan.
Bukan kesakitan nikmat tapi lebih kepada mengeluh "Ogh, Dadd, Emmh, kayaknya Mommy mules!" Kata yang mencelos dari bibir isterinya lumayan membuat dirinya panik.
"What? Yang bener sayang? Kamu mau melahirkan hmm?" Tanpa pikir lama Raka mencabut pedang panjang miliknya dari selongsong.
Lalu berbaring miring mengusap pipi isterinya penuh kecemasan "Apa masih mules Yank?" Tanyanya gusar dan Pinkan mengangguk sambil merem-merem tak keruan.
Padahal seharusnya sudah tinggal guyur saja sang lahar kepada goa berwarna pink itu, tapi terpaksa harus berhenti di pertengahan jalan.
"Ah aw, Dadd, mules, hiks hiks." Pinkan meremas bantal yang ia tumpangi sebegitu hebatnya.
"OMG, gawat!" Raka segera memakai celananya kembali kemudian menekan tombol telepon kabel yang teronggok di atas laci nakas tuuuuttt langsung tersambung.
"Iya Tuan muda!" Sahutan dari seberang sana seperti biasanya selalu sigap.
"Dok! Istri saya mules! Cepat ke atas Dok!" Titah nya gusar. Lalu menutup telepon sepihak.
"Emmh, Raka, hiks hiks, ..." Pinkan menggigit bibir bawahnya menahan rasa nikmat yang ia rasakan karena kontraksi rahimnya.
"Aku bersihkan dulu sayang, cup, tenang, dokter Aryana segera ke sini." Raka membereskan sisa-sisa perbuatannya, lalu memberikan atasan longgar isterinya, setidaknya saat dokter datang Pinkan tidak dalam keadaan polos.
Di tariknya selimut menutupi tubuh Pinkan yang masih menggeliat kesakitan "Sabar sayang, cup, demi putra kita." Ucap Raka menenangkan.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, gegas Raka membukanya lalu dua orang dokter masuk di ikuti beberapa perawat.
Aryana lantas memeriksa pembukaan yang ternyata sudah hampir lengkap "Alhamdulillah, kenapa bisa secepat ini? Padahal sebelumnya belum ada keluhan apa pun kan Nyonya?" Ujarnya.
Pinkan mengangguk mengiyakan akan tetapi dirinya tak mungkin mengatakan bahwa mules itu terjadi setelah mendapat hunjaman sang junior.
"Dasar Daddy bucin messum!" Dalam batinnya Pinkan masih sempat merutuki suaminya yang tak bisa menahan gairahnya barang sebentar, selalu saja meminta jatah.
Hera dan beberapa perawat lain menyiapkan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan persalinan. Tak perlu operasi Caesar, sebab pembukaan sudah sepenuhnya lengkap hanya dalam waktu sekejap saja.
"Baik, Nyonya lakukan yang saya perintahkan yah! Kita akan segera melakukan proses persalinan." Ucap Aryana lalu Pinkan mengangguk.
Raut wajahnya sudah tak keruan, Raka tahu itu menyakitkan tapi laki-laki itu berusaha memberikan dukungan energi lewat usapan demi usapan lembut di bagian kepala wanita itu.
"Bismillah sayang, kamu pasti bisa, berjuang sayang, sebentar lagi putra perdana kita lahir." Cup tanpa malu-malu Raka memagut lembut bibir Pinkan berusaha mentransfer energi pada sang isteri.
"Raka! Stop cium cium! Ga liat apa aku begini hah!" Berang Pinkan.
"Hehe, kan biar semangat Yank." Sambung Raka nyengir kuda dia.
Dokter Aryana sempat geleng-geleng kepala melihat kelakuan bucin nya sang Tuan.
"Sabar Nyonya, sekarang mari kita mulai." Aryana pun mulai mengintruksikan semua aturan-aturan yang harus Pinkan lakukan.
Sementara Raka harus rela menjadi bahan pelampiasan isterinya saat wanita itu mengejan. Terkadang Pinkan menarik rambut suaminya, terkadang menarik hidung mancung suaminya.
"Eeeeeeee....."
Apa pun itu pada akhirnya dalam kurun waktu kurang dari satu jam saja sang putra mahkota terlahir di dunia yang fana.
"Hiks hiks hiks!" Pinkan menangis haru bersamaan dengan tangisan bayi mungil itu.
"Alhamdulillah," Raka Hera Aryana dan beberapa perawat lainnya mengucap syukur saat lahirnya sang pewaris tahta.
Bulir keringat di seluruh wajah Pinkan pria itu sapu, sembari mengulas senyum bahagianya.
Sementara ekor mata Pinkan mengikuti berlalunya Hera yang membawa putra perdananya ke kamar mandi untuk kemudian di bersihkan.
Tak henti Raka mengecup kening isterinya tanda terimakasihnya kepada sang isteri karena sudah rela berjuang, bahkan berkorban nyawa sekalipun demi memberinya keturunan.
"I LOVE YOU Pinkan Arora ku!" Bibir itu bergetar mengurai senyum haru saat mengucap kata cinta teruntuk isterinya.
_
...Kalian maunya gimana?...
...A: Bersambung.... B: Tamat........
...Di mohon untuk tidak membatalkan favorit, jangan habis manis sepah di buang😭...
...Oiya gais karya baru ku, mampir yuk, kisah romantis bucin yang bikin BAPER meleleh, siapa tahu kalian syuka! Klik profil penulis Amatir lalu cari judulnya, di bawah ini.👇...