
"Daddy sayang Mommy kan?" Pinkan menyapu pipi berjambang tipis milik suaminya dengan tatapan penuh arti.
"Tentu saja, sangat-sangat menyayangi mu." Bisik laki-laki itu syahdu.
"Makanya sekarang bikinin Mommy sarapan, pagi ini Mommy mau makan nasi goreng pake telur orak-arik terus di kasih bakso iris tipis, jangan lupa kacang polong juga, yang pedes." Sambung Pinkan merengek.
"Daddy mana tau cara bikinnya Yank, lagian Daddy takut ga enak." Timpal Raka.
"Alasan! Bilang aja kamu males, kamu ga sayang istri mu! Kamu pasti bosen sama permintaan istri mu!" Cemberut Pinkan merajuk.
"Sssutttt, ok, ok." Raka menghela napas kembali, sepertinya hari ini kedua perempuan cantik nya memang lagi manja "Aku bikinin, sekarang kamu mandi gih." Ngalah nya.
Pinkan mengangguk.
Raka lantas keluar dari kamar kemudian menuju dapur klasik mewah di lantai bawah. Mirah, Ira dan yang lainnya sudah sigap di tempat tengah berkutat dengan bahan-bahan mentah.
Mereka menatap bingung ke arah yang sama, tak biasanya Raka menyambangi dapur pagi-pagi sekali.
"Ada apa Tuan?" Sapa Mirah bertanya.
"Emmh," Raka menggaruk tengkuk yang tak gatal "Istri ku minta di bikinin sarapan, nasi goreng, pake telur orak-arik, bakso iris tipis, pedes, juga kacang polong, kira-kira gimana cara bikinnya? Kalian kasih tau aku, biar aku yang masak." Jelasnya.
"Hah?" Ira dan Mirah saling menatap penuh tanya sebelum kemudian beralih kepada Raka kembali "Tuan muda, ga salah? Nasi goreng? Pagi-pagi begini, buat Nyonya Pinkan? Bukanya Nyonya muda biasanya cuma makan wafel Belgia, atau panekuk original Tuan? Nyonya Pinkan kan tidak memakan nasi di pagi hari?" Tambahnya mengingatkan.
"Hah?" Raka tercengang memikirkan ucapan Mirah yang benar adanya, selama ini Pinkan selalu menjaga pola makan "Emmh, tapi barusan, begitu dia mintanya," Ucapnya.
"Ya udah lah mbok. Kalian ajarin aku saja, ga ada salahnya kan?" Lanjut nya kemudian.
Mirah mengangguk "Iya Tuan muda, saya siapkan bahan-bahan nya dulu yah." Raka mengangguk.
Mirah meletakkan bakso sapi juga cabai merah besar yang sudah di iris tipis, dua telur, secomot kacang polong, canola oil (minyak kanola), seperti pesanan Raka kedalam wadah yang berbeda tapi masih satu nampan agar lebih mudah di jangkau saat Raka memasaknya.
"Silahkan Tuan." Ira dan Mirah senyum-senyum sendiri melihat ekspresi bingung majikannya, selama ini Raka tak pernah memasak bahkan kakinya pun tak pernah memasuki dapur barang sebentar, lalu sekarang istrinya membuat laki-laki itu garuk-garuk kepala karena keder yang mendera.
"Terus gimana Mbok?" Raka bertanya menatap Mirah sambil memposisikan dirinya di depan tumpu-tumpu kompor mahalnya.
Mirah menyebut satu persatu langkah-langkahnya lalu sebisa mungkin Raka mengingat step by step cara memasaknya.
"Oh, gampang ini mah, ngapain ngasih tau sih Mbok, padahal aku cuma ngetes doangan tadi!" Raka terkekeh songong.
Mirah dan Ira juga ikut terkekeh mendengar celetukan pak presiden direktur itu.
"Baru ada kan Mbok presiden direktur disuruh masak, tapi bismillah, semua ini demi Nyai tercinta." Cemelos nya di bibir sambil menyiram kan sedikit minyak ke dalam wajan lalu di susul oleh telur.
"Astaghfirullah," Raka berlari menghindari cipratan minyak akibat percikan telur "Mbok! Kenapa telurnya galak begini?" Teriak nya sambil mengusap tangannya yang terkena percikan panas dengan wajah ketakutan.
Mirah terkikik geli "Ya memang begitu Tuan, tapi kalo telurnya sudah di orak-arik pasti tidak Tuan." Jelasnya.
"Aku takut Mbok! Ayamnya pas bertelur lagi ngambek sama suaminya gue rasa ni, jadi senewen begini bawaan telurnya!" Raka memelas, antara mau melanjutkan atau tidak akan tetapi permintaan Pinkan harus dia turuti sesuai janjinya.
"Jangan menyerah Tuan muda, katanya demi Nyai tercinta." Sindir Mirah terkikik geli.
"Iya Tuan, ayok semangat." Sambung Ira.
"Ok bismillah lagi." Raka menghela napas panjang "Ambil napas Mbok, tahan, jangan buang!"
Mirah semakin terkikik mendengar celetukan-celetukan Raka yang menggemaskan di sela aktivitas memasaknya.
Tertatih-tatih Raka membuat sarapan pagi untuk isteri tercintanya yang pada akhirnya berhasil juga meskipun harus mengalami kendala telur gosong karena lambatnya Raka mengorak-arik.
Dia justru lebih rajin berargumen dari pada memainkan tangannya tapi tak apa, selama masih layak di makan Pinkan pasti menghargai usahanya.
"Taraaa, ..." Raka menyambut kedatangan isteri dan anaknya dengan aroma wangi dari nasi goreng perdananya.
"Ini beneran kamu yang masak Yank?" Tanya Pinkan.
"Beneran lah, ga liat apa t-shirt Daddy bau telur begini."
Pinkan menatap haru iris sebening embun pagi ini "Masya Allah, baiknya suami ku, terimakasih ya." Ucapnya di susul dengan kecupan lembut di pipi suaminya.
"Tapi Mommy mau di suapi dulu."
"Hah?" Raka terhenyak dengan tampilan wajah protes.
"Daddy kenapa menatap ku begitu? Bukanya Daddy biasa suapi Mommy sama baby Zee dulu sebelum ke kantor?" Sela Pinkan.
"Iya itu biasanya, sekarang udah kesiangan Yank gara-gara waktu Daddy di pake buat masak."
"Ga mau tau, ..." Pinkan cemberut.
"Mommy, Zee lapar." Zee menyeletuk dengan bahasa cadelnya.
Pinkan duduk di kursi meja makan kemudian menempatkan Zee ke tempat duduk khusus balita.
"Baby mau sarapan roti selai?" Pinkan menawarkan pada putrinya lalu Zee mengangguk "Tapi, Daddy yang kasih oles selai nya." Pintanya manja.
"What?!" Raka kembali memelas menatap protes kedua perempuan miliknya "Kalian ini pada kenapa sih hah? Kenapa kompak begini manjanya? Jam sembilan ini Daddy ada pertemuan penting di kantor." Keluhnya.
"Oh, Daddy protes? Daddy udah ga sayang kami lagi?" Sudut Pinkan.
Raka mendengus "Ok, ok." Pertanyaan pamungkas Pinkan membuat Raka mengalah untuk menurut, dia duduk lalu menyuapi anak dan isterinya makan secara bergantian.
"Emmm, ini kok Enak, kamu bisa masak Yank?" Pinkan menatap bangga setelah mencicip masakan perdana suaminya.
"Bang Raka mah, apa sih yang ga bisa?" Raka tinggi hati padahal Mirah sengaja mengatur ukuran rempahnya sesuai porsi supaya tidak hambar ataupun keasinan.
Sekitar dua puluh menit Raka baru selesai menyuapi anak isterinya kemudian gegas bersiap untuk kemudian pergi ke kantor, Eric, Baskara juga Irma hanya terkekeh melihat adegan budak cintanya sang presiden direktur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah rapih dengan pakaian eksekutif nya, Raka keluar dari rumah luas itu sementara Arjuna sudah bersiap di atas jok kemudi mobilnya.
Brugh!
Raka masuk ke dalam mobil duduk di kursi bagian depan dan wajah lesunya mengambil perhatian Arjuna "Lu kenapa Bro?" Tanyanya sembari menancap gas perlahan untuk kemudian berlalu dari halaman luas kediaman Baskara.
"Ini udah jam delapan, lu baru nongol, lu lupa yah, jam sembilan ini ada pertemuan penting sama duta brand ambassador, juga perencanaan evaluasi kinerja." Tambahnya.
Raka mendengus "Anak bini gue, hari ini aneh-aneh, yang satu minta ini yang satu minta itu. Padahal dari jam tiga gue udah siapin berkas evaluasi karyawan sekalian mempelajari file yang lu kirim semalam tentang produk baru dan kerjasama brand ambassador. Eh paginya anak gue minta di mandiin lah, bini gue minta di masakin sarapan lah, abis tu harus di suapi juga." Lelaki itu menggerutu dengan wajah lesu.
"Biasanya kalo ada yang aneh-aneh, tandanya ada sesuatu Bro, mungkin ajah Nyonya muda lagi ngidam." Sela Arjuna melirik sekilas ke arah Raka.
Raka mendadak menoleh pada Arjuna menatap dalam pria itu "Ngidam? Emang begitu orang ngidam? Bangun siang, males mandi, manja, lebih rewel dari biasanya, begitu?" Lelaki itu memastikan.
"Tepat, biasanya begitu!" Sambung Arjuna yakin.
Raka menaikan ujung bibirnya setelah ingat yang di ajak bicara masih membujang "Hieleh, kayak udah nikah ajah lu. Sok tau!" Ketus nya.
"Eh, jangan salah, biar belum pernah nikah, tapi gue sering berhubungan sama bini orang!" Arjuna tergelak renyah dengan bangganya.
"Dasar pebinor lu!" Sarkas Raka tapi setelah itu ia kembali memikirkan ucapan Arjuna "Tapi, ngomong-ngomong masalah ngidam, kayaknya ga mungkin deh." Ucapnya.
"Kenapa? Emangnya lu ga pernah nanam benih?" Sela Arjuna.
"Bukan itu! Tapi, sekitar dua bulan setengah yang lalu, Pinkan periksa kesuburan, terus di vonis anovulasi. Jadi ga mungkin bisa hamil dia." Jelas Raka pelan.
"Anovulasi?" Raka mengangguk membenarkan.
"Lu udah pastiin kalo tu dokter ga salah? Coba lu ajak Nyonya muda periksa lagi ke tempat lain Bro," Arjuna mengusulkan ide dengan sesekali menoleh pada sang Tuan.
"Kalo gue ajak ke dokter lain, itu lebih terkesan gue ga mau nerima dia apa adanya. Gue ga mau nyakitin hati rapuhnya." Raka berangsur sendu jika sudah berbicara tentang keterbatasan isterinya.
Meskipun kata-kata Pinkan selalu ketus tapi hati wanita itu selembut salju yang dengan mudahnya meleleh saat di beri hawa panas. Raka hanya tak mau memperdalam luka lama isterinya. Di vonis anovulasi sudah pasti sangat menyakitkan bagi seorang wanita apa lagi jika sampai di vonis dua kali dari dokter yang berbeda, Raka tak bisa membayangkan bagaimana pedihnya Pinkan nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Terimakasih yang masih mengikuti cerita ini sampai di halaman ini,🤗😘😚