Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Main sikat!



"Benar begitu Marni?"


"Eeeeeee eeee eeee." Baby Zee yang terus menangis membuat Pinkan lebih memilih keluar dari kamar, melewati sepasang kekasih itu.


Rani sinis menatap Pinkan "Tu kan Raka, kurang ajar kan, kamu aja di kacangin sama tu pembantu sialan." Sela nya dengan wajah penuh provokasi.


Raka melepaskan rengkuhan tangan Rani lalu menyusul Pinkan yang sudah keluar dari kamar "Tunggu Marni!" Pinkan menghentikan langkahnya menatap Raka yang memasang wajah curiga, kecewa, menyudutkan, lengkap.


"Aku tanya padamu! Apa benar yang Rani katakan hh?" Ulangnya bertanya penuh penekanan "Kau lupa aku yang menggaji mu! Jangan coba-coba mengacuhkan pertanyaan ku!" Sentak nya menunjukkan siapa dirinya.


"Kekasih mu benar Tuan muda, kau lebih mengenalnya dari pada saya yang hanya pembantu mu, yah, saya sadar saya takkan bisa makan jika kau tak menggaji ku." Jawab Pinkan kecewa, hingga menyindir halus lelaki itu, entah kenapa, rasa sakit mulai terasa saat melihat tatapan menuduh dari Raka yang notabene nya bukan siapa-siapa nya.


"Untuk apa bertanya lagi? Tuan sendiri pasti lebih menginginkan Marni mengakui tuduhan kekasih Tuan! Tuan lebih mengenal baik kekasih Tuan bukan? Di sini Marni hanya orang asing, jadi untuk apa Marni buang waktu menjelaskan nya padamu Tuan? Tatapan mu bahkan sudah menuduh ku. Jadi yah, anggap saja Marni yang salah, dan kekasih mu yang benar." Lanjut Pinkan.


Baru saja Raka ingin menjawab lagi Pinkan mengalihkan pandangannya ke arah Baby Zee yang mulai menangis lagi "Cup cup cup, Baby Zee mau cari udara segar hm?" Senda nya kemudian melanjutkan langkah menuju taman halaman belakang meninggalkan Raka yang masih menatapnya nanar, ada binar merasa bersalah dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Desir angin mulai menerpa rambut poni Pinkan, dengan tatapan nanar mengarah pada langit biru, kedua tangan gadis itu masih mendekap erat tubuh kecil Baby Zee, bayi mungil itu mulai anteng lagi saat merasakan udara segar di jam sembilan ini.


"Sebenarnya ada apa dengan hati Tante Baby Zee? Kenapa Tante sakit melihat tatapan tuduhan Daddy mu? Kenapa Tante cemburu sama cewek perawan tua itu?" Pinkan menepuk nepuk punggung baby Zee pelan mengajak nya curhat.


Kemudian mendengus, memejamkan matanya mencari kedamaian "Kapan gue bisa pergi dari sini? Gue takut jatuh cinta sama tu cowok!" Gumamnya lagi gundah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang di tempat lain Raka sudah memasuki kembali kamar miliknya di ekori sang kekasih, langkah Raka menuju layar datar dan menyentuhnya, menyalahkan kamera CCTV yang mengarah ke bangku taman halaman belakang, Raka duduk di sofa sambil mengawasi Pinkan termenung menatap langit dengan wajah galaunya.


Rani yang melihat itu berkerut kening seakan protes "Kamu ngapain sih Ka? Ngeliatin tu pembantu?" Pekiknya seraya duduk di sebelah pria itu.


"Aku bukan ngeliatin Marni, tapi mengawasi putriku." Raka melirik sekilas sedikit judes ke arah Rani dan itu baru terjadi akhir-akhir ini saja, sebelumnya Raka selalu hangat meskipun tahu kekasihnya salah.


"Kamu kenapa jutek gitu? Kamu mencurigai ku hh? Sudah jelas jelas pembantu itu mengaku salah, kenapa tidak kamu pecat saja sekalian sih?"


"Bisa gak, tidak usah di bahas lagi hm? Aku lagi capek, kamu tahu kan? Punya bayi harus banyak banyak melek mau siang mau malam, harus punya tenaga ekstra pas lagi rewel, jadi sekarang biarkan aku istirahat sejenak." Pinta Raka menatap penuh harap pada kekasihnya.


"Kenapa harus capek? Jadi apa gunanya tu cewek sial di sini? Kalo ternyata kamu masih saja ikut capeknya? Apa susahnya pecat satu orang doang!"


"Rani, please!" Raka mempertajam tatapan matanya memohon. Pusing rasanya meladeni wanita itu, justru karena Raka tahu sifat Rani, Raka justru lebih percaya pada Pinkan, selama ini Rani yang Raka kenal ya seperti itu, kekanak-kanakan, pemarah, angkuh, suka merendahkan, hanya saja selama ini Raka sudah buta oleh cintanya.


"Baby Zee sudah bergantung pada nya, aku takkan pernah memecatnya, kau lihat, Baby Zee selalu nyaman dengan nya." Raka menunjuk layar CCTV nya.


Rani mendengus kecut "Terserah!" Kemudian berpaling.


Dan Raka kembali menatap layar CCTV nya di sana masih terpampang wajah cantik Pinkan yang sudah sedikit ceria lagi sepertinya gadis itu mulai bisa mengontrol emosi nya, mungkin Baby Zee obat hati paling instan bagi gadis itu, terlihat Pinkan tersenyum manis bersenda gurau dengan bayi mungil itu dan dengan reflek nya bibir Raka tersenyum menatapnya.


Rani belum melihat senyuman Raka, karena posisi pria itu membelakangi kekasihnya.


"Raka, kamu tidak memasang CCTV di kamar Baby Zee kan?" tiba-tiba saja Rani teringat tentang itu, bagaimana jika Raka tahu yang sebenarnya, beberapa saat yang lalu Rani mau membunuh putri nya?


"Raka, dari pada kamu marah, gimana kalo kita jalan-jalan hm? Belanja, kamu udah lama loh gak ajak aku belanja Yank, semenjak ada tu cewek pembantu itu." Rani menggeser duduknya lebih dekat lagi, bergelayut pada pria gagah itu, merayu.


"Kamu pergi sendiri saja, aku kan bilang hari ini aku capek, aku mau istirahat." Raka mengambil black card dari dompetnya lalu meletakkannya di atas meja.


Rani mengernyit "Aku mau bareng kamu Yank, ayok." Rengek nya.


"Kalo begitu, tidak usah belanja saja sekalian." Raka sudah mau mengambil kembali black card dari atas meja tapi dengan cepat Rani mengambilnya.


"Iya iya, aku pergi sendiri." Ucapnya tersenyum.


"Makasih ya." Rani mengecup pipi kiri Raka, selama ini meskipun berpacaran cukup lama, Raka tak pernah meminta lebih dari ciuman singkat di pipi dan bibir saja, meskipun terkadang Rani menggodanya tapi pria itu selalu mengutarakan "kita belum menikah Yank," mungkin karena tulus atau bisa jadi karena Rani tak semenggoda Pinkan.


Setelah itu Raka mengalihkan pandangan lagi ke arah layar datar di sisi kanannya, bersandar membelakangi Rani lagi. Kening nya mengerut saat melihat pemuda tampan duduk di sisi Pinkan "Murat?" Gumamnya pelan tapi Rani masih bisa mendengar.


"Ngapain si Murat duduk akrab begitu sama cewek sial itu?" Tanya Rani.


"Ck!" Decak Raka melirik sekilas lagi ke arah Rani judes.


"Bisa tidak, memanggil Marni dengan sebutan yang bener, dia juga punya nama Ran, kamu gak boleh begitu, semua manusia sama derajatnya di mata Tuhan, kamu jangan merasa lebih tinggi darinya." Ucap Raka kemudian.


"Kamu kok marahin aku? Kamu lebih bela dia hh?"


"Bukan bela, tapi kamu calon istri ku, tingkah mu, semuanya akan menjadi tanggung jawab ku di akhirat, jadi sebelum kita menikah, rubah lah sikap mu Yank." Raka menyisipkan kata Yank, demi membuat Rani tak marah lagi "Sekarang kamu belanja gih, biar fresh pikiran mu, jadi gak sentimen terus, pergilah, kabari aku setelah sampai di sana." Bujuk Raka mengusir halus.


Rani tersenyum "Ok, sebelumnya cium aku dulu Ka!" Pintanya dan Raka hanya mengecup singkat saja pipi wanita itu.


"Kenapa kamu gak pernah bisa romantis sih? Cium aku sedikit lebih lama bisa tidak sih?"


"Aku takut kelepasan, menambah dosa yang sudah banyak, kamu pergilah." Usir Raka.


Rani tersenyum mengangguk setuju kemudian memberikan kecupan singkat di pipi pria itu sekali lagi sebelum kemudian ia keluar dari kamar.


Huuuff


Raka menghembuskan nafas lega setelah bisa jauh dari kekasih rewelnya kemudian menatap kembali layar datar di sisi kanan nya yang sudah kosong, sosok cantik Marni nya sudah tak nampak lagi di layar itu.


"Kemana Baby Zee sama Marni?" Gumamnya kemudian mengalihkan gambar CCTV di tempat lain nya.


"Kemana Murat bawa Marni?" Raka mengalihkan semua CCTV di sekitaran rumahnya dan tak satupun yang memperlihatkan sosok cantik Marni nya, fix, Murat sudah membawanya.


"Ck! Sialan, gak bisa bener liat Marni sendiri, main sikat aja tu anak!" Gerutunya.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Boleh yang mau dukung dengan vote dan hadiah 😘😍🤗 seikhlas nya 😁♥️❤️