Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/Chapter 17 (Ancol)



Sudah satu tahun Eric memutuskan untuk berhenti mengejar cinta pertamanya.


Eric berusaha menerima dengan ikhlas gadis perenggut hatinya menikah bersama laki-laki lain.


Kabar terakhir yang dia dapat dari Hayu adalah Lidya memang melangsungkan pernikahan.


Eric sempat berharap Lidya mengejarnya dan membatalkan acara pernikahannya, tapi rupanya tidak, Lidya tetap melanjutkan resepsi sakral bersama laki-laki lain.


Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya, Eric memutuskan untuk menerima perjodohan yang ayahnya tawarkan.


Mungkin dengan begitu perasaannya akan secepatnya berpindah pada gadis yang baru, jika Lidya saja bisa menikah dengan laki-laki yang tidak di cintai, kenapa Eric tidak? Dia laki-laki dia pasti bisa melupakan Lidya seperti Lidya yang lebih dulu melupakannya.


Hari ini, Eric di ajak berjalan-jalan ke sebuah taman rekreasi tematik terbesar di Jakarta yaitu taman impian jaya Ancol.


Rinda, dialah gadis yang di pilih Baskara untuk menjadi istri putra bungsunya. Gadis cantik berwajah oriental dengan tinggi badan yang semampai, bertubuh ramping juga seksi.


Jika di pikir apa sih kurangnya? Eric beruntung mendapatkan Rinda yang sangat pandai mengurus dan merawat kecantikannya.


"Kenapa harus ke Ancol? Kaya anak kecil!" Dalam jok kemudi Eric menggerutu karena calon tunangannya meminta kencan di taman rekreasi tematik.


"Aku suka Ric, tempatnya seru, kita bisa coba wahana berdua, biar makin mesra sayang!" Kata Rinda sembari merengkuh lengan pemuda itu.


Mereka duduk berdampingan di dalam sebuah mobil sport berwarna merah, mobil yang dulu sering Eric bawa berjalan-jalan dengan Lidya.


Eric tak berniat menggantinya karena masih banyak kenangan di dalam mobil mewah itu, Eric masih belum mampu melepas kenangan- kenangan indah bersama Lidya meskipun terkadang acap kali menyakitkan.


Setibanya, Eric memarkir mobil kemudian menuruti semua ajakan calon tunangannya ke sana kemari, mencoba wahana, membelikan eskrim dan lain sebagainya.


Rinda sangat menikmati kebersamaan ini, tapi Eric justru teringat dengan perjalanan ke puncak gunung bersama mantan kekasihnya.


Apakah sekarang dia lebih menyukai pendakian, atau kah karena bukan Lidya yang berada di sampingnya? Sehingga sangat sulit untuk Eric menikmati liburannya.


"Eric, aku mau pipis, yuk antar aku!" Gadis itu merengkuh lengan Eric.


Gegas Eric menggiring Rinda menuju toilet umum di sudut tempat, dulu Lidya juga sering meminta di antar pipis dan lagi-lagi kenangan tentang Lidya masih terus menghantuinya.


"Kamu tunggu di sini, aku kayaknya lama, jadi sabar yah!" Rinda mengecup singkat pipi calon tunangannya sebelum kemudian memasuki toilet.


Tak lama kemudian seorang gadis yang keluar dari dalam sana membuat Eric hening tak berkutik.


Sosok cantik dengan dandanan sederhana, rambut berponi lurus di cepol ke atas, sepatu sneaker putih juga celana jeans dan kaos putih sebagai paduan nya. Peluit berwarna biru di kalung kan pada lehernya.


Tak ayal, Lidya lah yang saat ini berdiri tegak di depan tubuhnya "Lidya?" Celetuknya.


Gadis itu juga tak kalah terkejutnya "Eric!"


Sungguh dunia sempit, buktinya setelah sekian lama saling menjauh Eric dan Lidya di pertemukan kembali. Detak jantung mengencang, dada seperti tersengat aliran listrik yang membuat keduanya merasakan kehangatan dalam sekejap.


"Apa kabar Ric!" Setelah lama terdiam Lidya bertanya terlebih dahulu, ada senyum manis yang masih berhasil meraih perhatian Eric.


"Baik, seperti yang kau lihat!" Kata Eric datar, membayangkan bagaimana kejamnya gadis itu mematahkan hatinya membuat Eric tak ingin tersenyum barang secuil.


"Syukurlah, aku seneng kita bisa ketemu lagi seperti sekarang ini." Ucap Lidya masih tersenyum. Sepertinya Lidya bahagia sekali mendapatkan kesempatan berjumpa lagi dengan sang mantan kekasih.


"Sama siapa ke sini? Apa kak Hayu juga ikut?" Tanya Lidya antusias dan Eric hanya diam dengan tatapan yang melekat pada wajah cantik gadis itu.


"Ric, kamu sama siapa ke sini?" Ulang Lidya seraya maju satu langkah.


Cukup lama Eric terdiam terpaku sampai suara sepatu heels terdengar dari dalam toilet menuju keduanya "Sayang!"


Eric dan Lidya menoleh secara bersamaan. Rupanya Rinda baru saja tiba dan berjalan menuju calon tunangannya "Sudah." Katanya sembari melebarkan senyum pada Eric.


Rinda beralih pada Lidya "Loh ini siapa?" Tanyanya penasaran, karena Eric dan Lidya berhadap-hadapan dengan jarak yang lumayan dekat.


"Sayang, dia siapa?" Rinda bertanya sekali lagi sambil menggoyangkan lengan Eric.


Lidya merasakan dentuman keras yang menyengat jantung hatinya hingga tak dapat lagi berkata-kata. Sebelumnya bahagia karena pertemuan itu tapi setelah ada yang memanggil Eric sayang, sungguh hatinya hancur berkeping keping seketika itu juga.


"Dia teman kuliah ku!" Jawab Eric sambil merangkul tubuh ramping Rinda "Aku ke sini sama calon istri ku!" Lanjutnya pada Lidya.


Rinda tersenyum bahagia sambil menautkan kepalanya pada leher pemuda itu "So sweet!" Batinnya.


"Aku teman kuliah, sedang gadis itu calon istri?" Lidya mendadak menampilkan kaca-kaca di matanya


"Oh, selamat, semoga kalian selalu bahagia, hidup bersama sampai maut memisahkan!" Ucap Lidya.


Eric justru terlihat sangat geram mendengar ucapan selamat dari sang mantan, kenapa masih berpura-pura tidak cemburu, padahal kenyataannya mata indah itu berkaca-kaca.


Sebuah tepukan berhasil menjatuhkan satu bulir air yang mengintip di sudut netra gadis itu "Buk Lidya, kita sudah, yuk!" Ajak tiga gadis berusia tujuh belasan tahun pada Lidya.


Lidya memang mengajar di sekolah menengah atas, dan hari ini sekolah tempat dia bekerja mengadakan kunjungan wisata ke Jakarta.


Tak di sangka rupanya di sela liburannya, dirinya harus mendengar berita menyakitkan dari sang mantan. Eric menikah? Hancur sudah kepingan hatinya menjadi debu yang beterbangan kemana-mana.


Lidya membalikkan tubuh sambil menyeka satu bulir air mata yang kadung meluncur "Iya, kita kembali ke restoran!" Kemudian menggandeng satu tangan milik muridnya.


Keempatnya pergi meninggalkan Eric dan Rinda tanpa berpamitan "Dih, aneh! Main nyelonong gitu aja!" Gerutu Rinda sambil menaikkan ujung bibirnya.


"Kita juga makan yuk, kamu pasti lapar kan?"


Setelah sekian lama bergeming, Eric menarik pergelangan tangan Rinda mengikuti langkah Lidya, entah kenapa matanya masih ingin menatap wajah cantik gadis itu.


Meskipun sakit, Eric tetap di buat ingin menikmati perjumpaan yang mungkin tidak akan terjadi lagi. Setelah ini dia menikahi Rinda dan Lidya pun sudah menikah. Biarlah hari ini hari terakhir dirinya menikmati pertemuan tidak di sengaja ini.


Eric duduk berhadapan dengan Rinda tapi ekor matanya terus mengamati setiap inci ekspresi wajah sang mantan.


Tawa renyah para murid Lidya terdengar menggema, sesekali juga seorang guru menggoda Lidya yang memang satu-satunya guru muda dan cantik, bahkan ada murid SMA yang menyukai guru matematika itu.


"Buk Lidya saranghaeyo." Satu murid tampan bernama Arif memberikan tanda hati dengan jemarinya ala remaja K-Pop.


"Huuuh, kamu nggak pantes sama buk Lidya, dia cantik kamu jelek!" Timpal satu perempuan yang mencibir pemuda itu.


"Cinta tidak memandang fisik, seperti aku yang tak memandang usia dan status buk Lidya. Bagiku, buk Lidya tetap cantik, awet muda meskipun sudah menjadi janda!" Sambung Arif menyengir dan semua orang tergelak.


Di tempatnya Eric mengernyit mendengar penuturan pemuda itu, janda? Lidya janda? Apa masalah nya? Kenapa janda? Sejak kapan menjanda?


Sekarang Eric semakin di buat penasaran dengan status mengejutkan mantan kekasihnya.


Tawa keras para siswa yang bising di telinga seakan tak terdengar, hanya ada monolognya yang terus bertanya-tanya.


"Eric, kamu pesan apa?" Rinda menepuk pundak pemuda itu dan berhasil membuat Eric buyar dari lamunan "Apa saja, terserah!" Jawabnya.


Eric lantas kembali memandang ke arah Lidya yang tersenyum- senyum karena hiburan dari seluruh anak didiknya.


Eric yakin, Lidya cemburu saat dirinya memperkenalkan Rinda sebagai calon istri, lalu apakah ini alasannya? Apakah putusnya hubungan antara Lidya dan mantan suami karena masih mencintainya?


Eric masih ingin mendengar penjelasan dari gadis cantik itu, tapi ternyata keadaan tidak memberikan kesempatan padanya.


Di sela aktivitas makannya Eric dan Lidya acap kali bertemu pandang, Rinda sampai di buat cemburu oleh tatapan mata Eric pada Lidya yang tidak seperti biasanya.


"Ok, anak-anak cek semua barang bawaan kalian sebelum meninggalkan tempat ini!" Kata Lidya sambil menepuk tangan menghimbau kepada anak didiknya.


"Setelah ini kita kembali ke hotel kan Buk? Aku capek banget ni!" Satu gadis mengeluh dengan cemberut karena seharian ini dia berkeliling menyisir taman tematik tersebut.


"Iya, kita langsung ke hotel!" Jawab satu guru lainnya.


"Yeay!" Seluruh siswa berdecak girang.


Setelah selesai makan Lidya dan para siswa beranjak dari posisinya kemudian berjalan bergerombol keluar dari restoran.


Eric masih hanya bisa menatap berlalunya punggung mantan kekasihnya dengan segudang pertanyaan yang masih membebani pikirannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dari Ancol Eric mengantar calon tunangannya pulang, dan di depan pagar besi berhiaskan bunga-bunga mobil itu berhenti.


"Loh kok berhenti di sini Yank? Kamu nggak mampir?" Tanya Rinda.


"Aku langsung pulang, aku capek, salam buat Om sama Tante!" Sambung Eric.


"Iya deh." Rinda mengecup pipi pemuda itu sedikit lebih lama sampai Eric sendiri yang menghindari kecupan itu.


"Bye, hati-hati di jalan calon suami!" Ucap Rinda sebelum kemudian turun dari mobil mewah Eric.


Eric bergegas untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa penasarannya membuat pemuda itu ingin segera sampai ke rumahnya.


Tak ada satu jam, Eric sudah menuruni mobil dan berlari memasuki rumah besar ayahnya "Kak, kak Hayu mana?" Pemuda itu bertanya pada Pinkan yang tak sengaja dia temui saat baru saja akan menaiki anak tangga.


"Di taman belakang lagi main sama baby Jehan sama baby Atha, kenapa, kok kayaknya penting banget?" Tanya balik Pinkan penasaran.


"Emmh. Gada apa-apa kok!" Eric bergegas menuju halaman belakang, tempat di mana biasanya keluarga mereka berkumpul sambil ngopi-ngopi.


Di sana Hayu tengah asyik bermain dengan putrinya juga keponakan gantengnya "Jehan, Atha, lihat sayang!" Wanita itu menunjukkan satu lembar kertas bergambar yang di warnai.


"Uuuh, cantik!" Kata Jehan dan Atha manggut-manggut setuju dengan ucapan adik sepupunya.


"Kak!" Tepat di sebelah kanan Lidya Eric memberhentikan langkahnya "Kak Hayu!" Panggil nya.


Hayu menoleh "Iya, kenapa?" Jawabnya.


Eric duduk berhadap-hadapan dengan wanita itu "Lidya janda? Apa Kaka juga tau hal ini?" Tanyanya dengan nada yang tak biasa.


"Lidya?" Hayu sedikit kebingungan melihat ekspresi wajah Eric yang seakan-akan menyudutkan dirinya "Janda? Maksudnya?" Tanyanya.


"Aku dengar Lidya janda, apa itu benar?" Tanya Eric lagi mencecar.


Hayu mendesis pada kedua cucu Baskara yang ripuh minta di perhatikan kemudian kembali menatap adik iparnya "Bukanya dulu aku pernah bilang ke bang Murad, Lidya di ceraikan satu hari setelah ijab qobul!" Jelasnya.


"Apa?" Kerutan kening tertampil di wajah tampan Eric "Satu hari setelah pernikahan?"


"Iya, dia sudah menjanda dari satu tahun yang lalu, suaminya menceraikan Lidya tepat di malam pertamanya. Bukannya aku sempat bercerita? Atau mungkin bang Murad tidak sempat mengatakannya padamu." Terang Hayu.


Eric terdiam, mengingat kembali saat Murad berusaha membahas Lidya setelah pulang dari kampung isterinya. Bahkan Eric sempat berang pada Murad kala itu.


"Ya Tuhan!" Eric mengusap wajahnya dengan hati yang terasa sangat panas.


Apakah dia yang menjadi alasan perceraian Lidya? Lalu selama satu tahun ini, dia justru tidak tahu menahu tentang hal ini?


Setelah mendatangi pernikahan Lidya, Eric benar-benar menutup diri dari yang namanya Lidya. Dirinya berusaha untuk tidak menoleh kembali ke belakang.


Buktinya apa sekarang? Eric masih penasaran, bahkan semakin ingin menemui gadis itu setelah tahu status jandanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung......