Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Meledek.



Malam ini Pinkan sudah bergumul dengan selimut di ranjang pengantin miliknya bukan memeluk suaminya melainkan putri mungil yang sudah terlelap tidur saking lelahnya.


Di sela istirahat nya lamat-lamat Pinkan mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi, oh, mungkin itu Raka yang sudah masuk kamarnya pikir Pinkan seperti itu, sebab sedari sore Raka membiarkan isteri dan putrinya masuk kamar terlebih dahulu sedang dirinya masih menemui tamu-tamunya karena meskipun prosesi pernikahan sudah selesai para tamu masih terus berdatangan hingga larut malam.


Dengan malas Pinkan meraih ponsel di bawah bantalnya ingin memastikan sudah pukul berapa dan ternyata sudah pukul 03:20 "Sampe dini hari Raka baru masuk?" Gumamnya sangat lirih lalu meletakkan kembali gawai miliknya ke tempat semula dan memejamkan matanya lagi.


Namun tak lama kemudian spring bed yang ia tiduri terasa berdencit seperti ada seseorang yang merangkak ke arahnya dengan gerakan perlahan.


"Sayang." Bisikan mesra yang menyusul di telinganya. Namun Pinkan mempertahankan keheningan nya, tak menyahut.


"Jangan melarikan diri kamu Yank, aku tahu kamu bangun, sudah lama aku menunggu malam ini!" Rengek Raka memelas sambil merembah kan tangan yang sudah mulai menggelenyar nakal.


"Apa si Raka, ngantuk!" Tepis Pinkan menampik.


"Kenapa masih memanggil ku Raka? Aku suami mu!" Sambung Raka berbisik berusaha tak membangunkan bayinya.


"Sayang Raka ku Daddy dari anak ku, aku ngantuk!" Ucap Pinkan tanpa bergerak sedikitpun.


"Hehe, panggilan sayang mu tak membuat ku mengurungkan niatku Yank! Bangun!"


"Mau ngapain?"


"Ya malam pertama lah, pake nanya lagi, jangan polos polos amat kenapa si?"


"Buat apa? Lagian bukannya burung kamu sudah almarhum!"


Raka terkikik pelan mendengar kepolosan isterinya, ternyata semudah itu percaya bualannya bahkan sampai berbulan-bulan lamanya.


"Kamu bener ngantuk Yank hum?" Raka menyisir kan raba tangannya ke seluruh lekuk tubuh gadis itu dan tak mendapat respon yang ia mau, Pinkan terus melanjutkan niatnya untuk tidur.


"Em em, kamu gak liat yah gaun ku berat banget, aku capek Raka sayang." Lirih Pinkan merayu supaya suaminya memberi kelonggaran waktu.


"Ya sudah kita bobok ajah, istirahat lah, I love you." Cup di kecup nya pipi isterinya lalu pipi putrinya yang masih terlelap tidur dalam dekapan hangat isterinya.


Raka lantas membaringkan tubuhnya di belakang tubuh Pinkan, namun tetap dengan posisi yang sangat dekat, ia tekan perut gadis itu kebelakang, menyatukan tubuh mereka hingga tak bercelah, dan kini aroma terapi dari treatment perawatan tubuh yang Pinkan lakukan beberapa hari sebelum pernikahan sudah menusuk hidung bangir nya.


"Wanginya isteri ku." Raka semakin menyatukan tubuh mereka di bawah selimut yang sama dengan isteri dan putrinya.


"Daddy, ..." Panggil Pinkan yang ternyata belum juga tidur.


"Hm?"


"Kamu nyelipin apa sih di saku celana mu? Kenapa rasanya gak nyaman gini sih?" Tanya Pinkan sedikit menggeser kepalanya ke arah suaminya penasaran.


"Apaan memang nya? Celana tidur Daddy gak ada sakunya." Sangkal Raka.


"Lah ini buktinya ada yang ngeganjel di bawah! Coba keluarin dulu gih, sakit." Pinkan mencoba meraihnya namun benda itu sudah tenggelam di antara gundukan padat miliknya.


"Xixixixix!" Raka terkikik geli mendengar ucapan isteri lugunya.


"Kok kamu malah ketawa sih! Apanya yang lucu?" Pinkan melepas baby Zee lalu sedikit ingin memutar tubuhnya tapi Raka tak memberinya akses.


"Itu punya ku Yank." Bisik Raka yang kemudian semakin menggesek benda itu ke gundukan padat isterinya.


"HAH?"


PLAK!


Pinkan menepuk tangan nakal suami yang kini sudah merembet ke perutnya "Kamu serius Dadd?" Tanyanya memastikan.


"Em em." Angguk Raka yang seolah tak berdosa.


"Jadi kamu menipu ku? Kamu bilang burung mu sudah mati! Sudah gak mau bangun lagi! Lalu sekarang?"


"Memang begitu lah nasib burung itu Yank, dia sudah mengalami peningkatan setelah mati suri waktu itu, burung Daddy sudah bertransformasi menjadi Hippo." Bisik Raka.


"Lepas gak!" Pinkan memaksa membalikkan badannya ke arah Raka lalu duduk menatap tajam pria itu "Coba sekarang kamu buka! Aku mau liat! Jadi selama ini kamu menipu ku!" Bentak Pinkan yang tak sengaja memekikkan suaranya.


"Ssuutt, nanti Baby Zee bangun Yank." Desis Raka mengingatkan.


"Cepet buka!" Bisik Pinkan memelankan suaranya tapi masih menatap nyalang suaminya.


"Sabar Yank, kok jadi kamu yang napssu sih?"


"Jangan ngada-ngada kamu, cepet buka! Aku mau liat!" Paksa Pinkan menarik paksa celana kolor suaminya.


"Huh, lama banget sih! Timbang buka ginian doang!" Dengan grasak-grusuk Pinkan menarik celana tidur milik suaminya yang sudah terlihat bengkak bahkan sebelum di buka, dan matanya membesar saat sudah melihat bang Hulk nangkring di atas sana.


"Aaaaaaa!" Pinkan histeris seraya menutup matanya dengan jari yang tak rapat "Itu bukan burung Daddy, itu Hulk!"


"Ssuutt, inget ada Baby Zee sayang." Raka menutup mulut isterinya yang hampir saja membangunkan putrinya, terlihat bayi itu menggeliat namun tak sampai terkejut atau mungkin sengaja membiarkan Daddy nya membuat dedek baru untuknya? May be!


"Jadi kamu menipu ku! Curang!" Pekik Pinkan pelan sambil melotot.


Greek


Raka membalikkan posisi tubuh mereka dari yang tadinya dia di bawah sekarang giliran Pinkan yang berada di bawahnya, merasakan bang Hulk milik Raka menusuk nusuk di antara kedua pahanya.


"Ssuutt! Jangan teriak dulu Yank!" Desis lelaki ini sedang tangan kirinya membelenggu kedua tangan Pinkan ke atas, di tindih kan nya tubuh empuk gadis itu membuat Pinkan tak bisa berkutik.


Dan untuk sesaat mata keduanya saling bertemu tatap, semua seolah hening hanya ada suara degup jantung tak beraturan milik Pinkan Arora saja.


Cup Raka memagut lembut bibir sensual isterinya penuh cinta hingga terjadi gerilya diantara benda tak bertulang milik mereka, niat mau tidur tapi justru di buat melek oleh rasa hanyut itu. Raka melepas bibirnya setelah dirasa cukup membangkitkan gelora asmara isterinya.


"Lagi pula memang nya kamu mau punya suami yang burung nya gak bisa bangun. Harusnya kamu seneng Yank, suami mu bukan punya burung, tapi Hippo. Yang gembul gembul lucu." Bisiknya.


"Lucu apanya! Itu Hulk, serem, aku gak mau. Singkirkan benda itu dariku Raka!" Ketus Pinkan, keduanya bersahutan dengan suara yang sengaja ia pelan kan takut membangunkan putri cantik mereka.


"Kamu yakin hm?" Raka tersenyum menggoda, tangan kanannya mulai beraksi, bermain di bukit yang sudah sangat lama ingin ia naikin.


"Naik naik, ke puncak gunung, tinggi, besar sekali." Raka menyanyikan lagu itu sembari menyatukan kedua bukit Pinkan dengan satu tangan nya.


"Emmhh." Pekik Pinkan melotot, tubuhnya menggeliat mencoba meronta, namun sayangnya si pemilik bang Hulk ini punya tenaga yang membahana dahsyat.


"Coba dulu Yank, siapa tahu suka, jangan menolak sebelum merasakan, jangan menjudge buku dari sampulnya, siapa tahu yang kekar seperti Hulk, bisa memberikan kelembutan, iyakan?" Ujar Raka membujuk.


"Gak mau! Pokoknya jangan! Aku takut! Euughh..." Tolak mulut Pinkan yang berlawanan dengan tubuhnya, terlihat ia justru menggeliat kegelian.


"Tuh liat kamu minta lebih loh Yank, coba dulu deh." Bisik Raka lagi sedang dibawah sana bang Hulk sudah mulai naik turun di balik celana tidur Raka, menyatu dengan lembah surga dunia milik Pinkan yang masih terbungkus CD tali kecil, dan sepertinya gerakan itu berhasil membuat gadis ini mulai menikmati.


"Gimana? Kamu suka?"


Bibir Raka tak mau diam terus memagut lembut puncak gunung tinggi besar putih mulus itu sedang tangannya ia pakai untuk menekan punggung Pinkan dari bawah hingga semakin menyembul kan gundukan gunung tinggi itu menjulang ke wajahnya.


Suara oh.. Emmh.. sssssshhh.. Daddy ahh.. terus keluar dari bibir Pinkan. Tak bisa gadis itu pungkiri, semakin lama bang Hulk nya Raka menyatu dengan lembah surga dunia nya, semakin serakah rasa ingin bercinta nya.


Cup!


Dengan mata yang terpejam Raka memagut lembut bibir sensual gadis itu lagi, sudah lama sekali lelaki ini di buat candu oleh nya, gila, rasa ini bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya, betapa ternyata tak sia-sia baru menikah di usia yang sudah matang, terbayar tunai dengan rasa yang lebih melayang dari pada mengonsumsi cocaine.


Pinkan pasrah, dalam diam ternyata gadis itu sudah merem melek tak karuan dengan sedikit meminimalisir suaranya masih takut membangunkan bayi di sebelahnya.


Tapi setelah melihat raut candu isterinya Raka justru sengaja menghentikan seluruh aktivitas nya total, lalu berbaring di sebelah kanan gadis yang kini menatapnya protes "Daddy!" Pinkan meraih piyama di bagian dada suaminya, seolah memintanya lagi.


"Katanya tadi gak mau!" Ledek Raka.


"Emmm..." Pinkan memelas manja.


"Bujuk dulu Daddy kalo begitu, .." Raka giliran sok jual mahal.


Cup!


Pinkan yang lebih dulu memagut lebih rakus dari pagutan Raka sebelumnya, memainkan benda tak bertulang miliknya masuk menyelusup menyisir setiap jengkal barisan gigi putih kesat milik suaminya.


"Yank, ..." Raka mendorong bahu isterinya melepaskan perlahan.


"Hm?"


"Kamu yakin siap?" Raka memastikan.


"Memangnya kamu gak mau?" Tanya balik Pinkan dengan muka merah padam, yang sudah terlanjur mendamba sesuatu.


"Jangan di sini, kita pindah ke sofa saja gimana hum? Di sini pasti mengganggu tidur Baby Zee Yank, ranjang ini pasti berdencit hebat karena gerakan kita." Ujar Raka. Lalu Pinkan mengangguk sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....