
Di sebuah gedung pernikahan megah yang sudah begitu sibuk dengan suara cek sound dan segala kegaduhan persiapan resepsi yang akan di selenggarakan besok pagi. Baskara sudah mengerahkan seluruh tenaga kerja yang dia miliki guna membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan ke dua putra pertamanya namun bedanya kali ini pernikahan Raka di meriahkan, semua kerabat di undang dari yang pejabat penting hingga aktris ternama tanpa terkecuali.
Tapi di sudut tempat itu seorang wanita justru tampak gusar mendatangi suaminya yang masih mengatur para pekerjanya "Pi, ..." Panggil Irma pada suaminya membuat laki-laki tampan itu menoleh padanya.
"Hmm? Kenapa?"
"Murad gimana Pi? Apa dia benar-benar gamau pulang ya?" Tanya Irma lagi berkata sendu.
"Iya, Papi sudah menyuruh Miko membujuknya tapi tetap tidak mau pulang, sepertinya anak itu masih belum rela Pinkan di nikahi abangnya." Sambung Baskara.
"Masa ada resepsi pernikahan rame begini Murad gak dateng si Pi, gimana sama orang orang yang nanti menanyakan nya? Belum lagi rekan bisnis Papi yang mungkin meliriknya untuk di jadikan menantu, mereka juga pasti mau melihatnya kan Pi. Lagi pula Mami juga sudah kangen anak itu. Coba sekali lagi bujuk Murad Pi, siapa tahu berubah pikiran."
Baskara mengangguk dengan perlahan "Papi coba sekali lagi." Ucapnya lalu meraih ponsel miliknya berusaha sekali lagi menghubungi Miko.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di tempat lain, suara merdu seorang gadis cantik terdengar riuh di panggung empuk miliknya, si mungil memulai konser eksklusif nya.
"Tittak tittak din dindin, diam diam meyayap, datang seekon namut, HAP, ...." Baby Zee menangkup wajah tampan ayahandanya membuat pria itu terkikik geli.
"Yayu di taaaakaaaap."
"Yeay, anak Daddy sudah bisa nyanyi. Pinter." Ucap Raka dengan tepuk tangan kagumnya, keduanya bergumul dengan selimut di kamar sang ayah.
"Nama kamu siapa Baby?" Tanya Raka mencoba memberikan stimulasi pada putrinya yang sudah belajar mengingat, Zee sudah satu tahun lebih maka sudah semakin pintar dan kritis saja.
"Zi aseloley." Jawab gadis itu.
"Zee Ashley Cyril." Tekan Raka di setiap katanya.
"Zi aseloley."
"Ashley Cyril sayang bukan aseloley. Coba lagi Ashley Cyril."
"Aseloley."
"Ya serah lah, kamu pemenangnya sayang." Raka mencebik kan bibirnya lalu menjatuhkan kepalanya di atas bantal.
"Daddy, Zi tanen Mommy, yok tita temu Mommy, yok yok yok. Tita temu Mommy!" Ajak baby Zee menarik narik t-shirt putih ayahnya. Gadis mungil itu sudah merindukan calon ibu yang selama empat bulan ini menemani hari harinya.
"Sayang, untuk sementara kita gak boleh ke rumah Mommy dulu, sekarang Mommy lagi sibuk, dia kan lagi di pingit, biar makin cantik, pangling, besok kita ketemu Mommy saat Daddy sudah meminangnya, jadi sabar, ok."
Zee mencebik kecewa "Zi tanen Mommy, Daddy, ..." Lirihnya dengan kaca-kaca di matanya yang tampak sangat menggemaskan. Kedua pipi bulatnya sudah seperti bakpao hangat.
"Sabar, Daddy juga kangen, besok malam, kita sudah bisa tidur di tempat yang sama, Daddy, Baby Zee dan Mommy." Raka melebarkan senyumnya menenangkan anak gadisnya "Zee mau kan tidur bersama Mommy cantik mu?" Tanyanya lagi.
"Mauuuuu, yeay, Zi tuta, Daddy." Celoteh Zee bersemangat sambil mengangkat kedua tangannya girang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Inggris, Britania raya pukul 23:00.
"Tuan muda sudah di tunggu, pernikahan Tuan Raka sudah tinggal satu hari lagi, secepatnya kita kembali ke Indonesia Tuan muda, Tuan dan Nyonya besar sudah merindukan mu." Ucap Miko asisten pribadi yang Baskara utus untuk melayani putra keduanya, hampir semua kegiatan dan kebutuhan Murad selama di Inggris di urus oleh Miko.
"Aku tidak akan pulang, sampai kan saja begitu kepada Tuan dan Nyonya besar mu!" Murad berujar dingin seraya memakai mantel mahalnya.
"Tapi Tuan muda, jet pribadi sudah di kirim langsung oleh Tuan besar, jadi, ..."
"Pergilah! Aku tidak punya waktu mengulang kata-kata ku!" Murad memotong ujaran asisten pribadi nya membuat laki-laki itu terdiam tak menjawab.
Kemudian Murad meraih kunci mobil lalu menuruni anak tangga, apartemen miliknya memang memiliki dua lantai. Dengan wajah datar pemuda itu keluar dari apartemen tersebut, lalu segera membawa kendaraan beroda empat miliknya menuju ke tempat yang ia harapkan bisa menenangkan pikiran, menyejukkan hati, meredakan amarah, semoga saja bisa, itu harapan Murad mendatangi tempat itu.
"Silahkan Tuan."
Dengan bahasa asing satu pria berwajah bule yang menyambut kedatangannya terlihat antusias hanya dengan melihat merek pakaian yang Murad kenakan.
"VVIP room."
Setelah bercakap cakap dengan barista bule tersebut, Murad di arahkan ke sebuah ruangan di mana dia akan menikmati waktu kesendiriannya di temani minuman haram yang sudah beberapa hari ini membantunya melupakan seseorang.
Yah, pemuda itu duduk di sofa panjang bernuansa remang-remang hanya seorang diri, lalu setelah tak sadarkan diri barulah biasanya sang asisten pribadi menjemput. Awalnya Murad hanya tak sengaja di ajak salah satu teman Casanova nya, lalu beberapa hari ini pemuda itu sering mengunjungi tempat ini, di mana dia bisa sejenak melupakan wajah cantik Pinkan Arora yang satu hari lagi menjadi kakak iparnya, persaingan sehat yang dia bicarakan ternyata tak berlaku lagi, buktinya sekarang Murad patah hati dan merasa sangat kecewa saat mendengar berita penyatuan Raka dengan Pinkan, bahkan beberapa Minggu terakhir pemuda itu tak mau mengangkat telepon dari ayah ibunya.
Dreeetttt satu getaran yang menunjukkan ikon amplop berwarna kuning di layar gawai tipis miliknya.
📩 "Bang, Eric kangen, balik sini cepet!"
Murad tersenyum getir membaca pesan teks dari adik bungsunya "Buat apa gue balik, anak Tuan Baskara cuma elu sama bang Raka!" Gumam nya sinis sambil meneguk dengan cepat koktail di gelas kecilnya.
Tap tap tap!
Suara gaduh dari dentuman sepatu heels milik seorang gadis berpakaian sangat mini, tiba-tiba saja menyelundup masuk ke ruangan VVIP miliknya membuat Murad menoleh padanya dengan kerutan di kening menatap bingung gadis yang berwajah tak asing baginya, wajah gadis itu seperti warga negara Indonesia.
"Excuse me sir, can you help me?" Suara gadis itu seakan menghiba padanya, dengan napas yang tersengal-sengal dan raut ketakutan.
"Apa yang bisa saya bantu?" Murad memancing dengan bahasa tanah air tercinta, mungkin saja gadis itu memang warga negara Indonesia.
"Hah? Tuan bisa bahasa Indonesia?" Gadis itu tampak terkejut tapi di sisi lain dia juga terlihat lebih lega, ia pun mendekat "Aku di kejar orang jahat Tuan, dia mau menjual ku, tolong aku Tuan, ku mohon! Sebagai gantinya aku akan menuruti semua keinginan mu." Gadis itu terus menghiba pada pemuda tampan yang belum ia kenal.
"Apa untungnya aku menolong mu? Aku sudah mempunyai segala nya, asisten pribadi, uang, kesenangan seperti apapun bisa aku dapatkan!" Murad yang sudah terpengaruh alkohol menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Ku mohon Tuan, aku mau melakukan apa saja, asal kau mau membantu ku lari dari orang orang itu." Gadis itu menyatukan kedua tangannya memohon bahkan berlutut di hadapan pemuda itu.
Dengan smirk dingin Murad mendekatkan wajahnya lalu menatap intens setiap lekuk wajah gadis itu yang terlihat cantik sebagai gadis Indonesia asli, kemudian pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada sofa tangan kanannya melepas satu persatu kancing bajunya sedang tangan kirinya menepuk pahanya "Kemari lah!" Pintanya.
"Emm, apa maksud Tuan?" Gadis itu tampak gugup dan takut niat menghindari buaya buntung apakah harus masuk ke dalam perangkap buaya tampan? Tapi itu lebih baik daripada harus di setubuhi laki-laki menyeramkan sekelas gangster mafia.
"Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya mau menyembunyikan tubuh mu, mereka tidak akan berani mendekat kalo mereka berpikir kita sedang bercinta." Sambung Murad saat tahu sesuatu yang bertengger di pikiran buruk gadis itu.
"Emm, iya Tuan maaf, aku hanya, canggung saja, ..." Tepis gadis itu menunduk segan.
Tak lama kemudian suara gaduh dari sepatu boots pria pria kekar terdengar mondar mandir di depan pintu ruangan itu, dan sepertinya sudah akan menyidak ke dalam.
BRAK!
"Oh. Emmh, You're so amazing Baby, Emmh ahh, ..." Desah pura-pura yang mencelos dari bibir seorang Murad saat pria pria kekar itu memasuki ruangannya.
Murad seolah tak mengindahkan pria pria itu justru menggigit bibir bawahnya sesensual mungkin dan semakin menenggelamkan kepala gadis ini di antara kedua pahanya, mantel mahalnya ia gunakan untuk menutupi sebagian tubuh gadis yang saat ini berada di bawah sofa VVIP miliknya.
"Ah... emmhh."
"Shiitz!!" Umpat salah seorang pria kekar itu lalu keluar lagi dari ruangan tersebut dengan raut kesal, rupanya niat mencari buruan kaburnya justru melihat laki-laki tengah terengah-engah dengan desah nya, seakan menikmati permainan cinta wanitanya.
Setelah memastikan pria pria kekar pergi Murad membuka mantel yang menutupi tubuh gadis itu lalu keduanya saling bertatap mata masih dari posisi yang sama "Mereka sudah pergi! Sekarang pergilah dari sini!" Usir nya dingin.
"Tapi, ..." Gadis itu tampak enggan meninggalkan tempat itu. Siapakah dia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....