
Jehan Faradilla nama putri pertama Murad Earl yang sudah mulai bisa tengkurap, tingkah lucu bayi itu selalu membuat tertawa semua orang.
Atha Rayhaan Shakeil yang artinya laki-laki baik berparas tampan dan senantiasa dijaga oleh Tuhan.
Nama yang Raka pilih untuk putra mahkotanya. Malam ini keluarga besar Baskara mengadakan walimah tasmiyah adik Zee Ashley Cyril.
Alasan kenapa nama putranya justru tak memiliki nama belakang ayahnya karena, nama belakang pada Zee sekedar mengingat bahwa putri itu milik Raka sejati meskipun saat pernikahan nanti Raka tak boleh menjadi wali putrinya karena sebuah hubungan yang terlarang.
Biar bagaimanapun juga sesuai aturan yang ada Zee tetap bin ibunya, tapi, setidaknya dengan adanya nama belakang ayahnya Zee menjadi lebih percaya diri bahwa dirinya juga putri milik Raka.
Tak mau Raka membeda-bedakan kedua anak yang lahir dari rahim yang tidak sama itu.
Meskipun masih sering was-was dengan ancaman yang di lontarkan Miska, Raka masih tak menggubris, kali ini ia perketat pengamanan yang Raka tekan kan pada putra-putri terutama isterinya.
Insya Allah, keluarganya aman di tangan para pengawal tangguh nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut tempat acara, Lidya tengah asyik menikmati jamuan lezat yang berjajar di meja prasmanan.
"Heh!" Pekik Eric yang tiba-tiba muncul mengagetkan gadis manis itu. Meski sempat berjingkrak terkejut Lidya tetap acuh melanjutkan makannya.
"Wah, anak kampung lagi numpang makan ni, gimana makanan orang kaya enak kan hmm? Mau tambah hmm?" Ledek Eric.
Tanpa mau berlelah untuk tersinggung Lidya melirik pemuda itu "Bungkus ajah kalo bisa, lumayan buat di kosan, suka ga ada makanan di sana!" Jawabnya enteng.
Eric mengernyit jika di pikir lagi kasihan juga Lidya, di usianya yang masih sembilan belas tahun sudah merantau jauh dari orang tua. Mungkin ini yang membuat gadis itu pemberani.
"Gimana kalo gue ajah yang tiap hari ngirim dimsum ke kosannya? Kan lumayan pacaran di kos sambil suap-suapan pake bibir!" Eric mengulum bibirnya sendiri sambil membayangkan saat rona merah kepedasan dari bibir lembut Lidya mendarat pada bibir miliknya. Rupanya Eric masih candu pada gadis itu.
"Woy!" Lidya menjentikkan jarinya pada wajah tampan nan messum pemuda itu hingga tersentil "Ngapain ngelamun? Boleh nggak gue bawa siomay-siomay ini ke kosan gue?" Tanyanya ketus.
"Serah lu! Bawa ajah semua!" Eric mengibas-ngibas kan tangannya ke arah gadis itu "Dasar kampungan! Masih baek di undang makan sama bokap gue pake minta bungkus segala!" Gerutunya setelah itu.
Eric kemudian melengos pergi menuju ke sembarang arah meninggalkan Lidya sendiri.
"Emang sinting tu cowok! Kadang deketin, kadang marah-marah ga jelas, lagian bukannya kampungan tapi sayang, dari pada mubadzir kan." Gerutu Lidya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut tempat itu lagi, Arjuna tampak sedang berbisik di telinga sahabat sekaligus atasannya, sedari tadi tatapannya tak pernah berpaling selalu saja ke arah Lidya.
"Bro, itu yang namanya Lidya? Cewek solo anak kepala cabang?" Tanyanya.
Raka menoleh ke arah Lidya lalu mengangguk "Emm, kenapa?" Tanyanya.
"Cantik, yang begini sih, tipe idaman gue Bro! Gimana kalo gue ajah yang deketin dia?" Usul Arjuna.
Raka mengernyit "Jangan macem-macem lu! Lu kalo mau main-main sama yang lain, jangan ngancurin masa depan cewek polos!" Tutur nya.
"Yah, belum apa-apa lu udah suudzon, gini-gini gue juga lagi nyari yang pantas di ajak serius! Ya kalo cewek nya model begitu mah rela gue satu seumur hidup!" Sela Arjuna.
"Terserah!" Pada akhirnya Raka berucap demikian, di lihat dari sudut manapun sepertinya tatapan Arjuna pada gadis itu lain. Tak sama saat sang Casanova menatap wanitanya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Eric menemui Ira di dapur bersih klasik nya "Mbak, nanti bawakan semua makanan terenak buat cewek ono noh!" Tunjuk nya pada Lidya.
Rupanya perduli juga pemuda itu meskipun sempat mengejek Lidya yang menurutnya kampungan.
Ira mengangguk "Baik Tuan muda!" Ucapnya menurut.
"Emm, .." Eric kembali ke ruang acara lagi ikut menemui para tamu undangan sampai selesai acara.
Pemuda itu juga sempat melerai saat Arjuna mencoba mendekati Lidya tanpa mengakui perasaan cemburunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menenteng sesuatu dari Ira Lidya kemudian berjalan menuju teras rumah yang ternyata di luar sedang turun hujan "Wah wah, dari dalam ga kedengaran suara hujan saking kedap nya ni rumah!" Gumamnya sambil sedikit menyodorkan tangan merasakan tetesan air dingin malam ini.
"Ekm ekm!" Dari belakang suara seseorang terdengar sangat dekat.
Gadis itu membalikkan badannya dan wajah tampan Arjuna tampak jelas sekarang "OMG, Om ganteng ini lagi, ini bukanya asisten pribadi nya pak Raka kan? Ganteng nya!" Batinnya.
Mata Lidya membulat dengan debar jantung yang berdetak tak beraturan saat melihat keindahan wajah lelaki itu, tak di pungkiri Arjuna memang sangat tampan itulah alasan Raka tak pernah membiarkan isterinya bertatap muka dengan laki-laki ini.
"Eh, O-om. Hehe." Kikuk Lidya begitu saja merayap hingga tak terkendali pengucapan sapaan nya.
"Om?" Dalan batin Arjuna terheran heran dengan sebutan yang gadis itu lontarkan "Gue emang udah 32 tahun, tapi, kenapa harus Om manggilnya? Berasa tua bener gue! Tapi ga papa ni cewek emang masih seumuran ponakan gue" Gerutunya masih dalam hati.
"Ada apa Om?" Tanya Lidya.
"Gimana kalo Om, antar saja dedek pulang pake mobil Om, dari pada kehujanan kan?" Tawar Arjuna dengan bahasa tubuh yang di sukai para wanita.
"Emmh, gimana ya? Hehe." Lidya bingung, satu sisi sudah ingin pulang sisi lainnya lagi belum terlalu kenal dengan Om ganteng ini.
Namun, rupanya alam masih berpihak padanya hujan reda seketika itu juga.
"Eh Om, Lidya pulang sendiri ajah deh! Baay!" Tanpa ragu gadis itu berlari menghampiri motor matik miliknya bergegas pergi dari halaman rumah besar itu.
Arjuna mendengus "Susah juga deketin tu cewek!" Gumamnya lirih sambil menatap berlalunya punggung gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasanya, pagi ini keluarga Baskara melakukan ritual sarapan bersama. Bedanya, hari ini Niko dan Arjuna juga ikut nimbrung di meja panjang tersebut.
Akhir-akhir ini mereka selalu saja lembur maka sudah seharusnya Baskara juga menjamin terisi nya perut sang pekerja.
"Bungsu," Irma menatap putra manjanya yang baru saja duduk di kursi andalannya "Kamu bawa apa? Kok gede banget tas nya?" Tanyanya. Terlihat Eric membawa tas ransel besar seperti pendaki gunung.
"Eric mau daki gunung Mi, .."
Semua orang membulatkan matanya terkejut, apa tidak salah? Anak manja ini kuat mendaki gunung? Semua orang serempak tak percaya.
"Eh bungsu, lu jalan dari sini ke luar ajah suka pake skuter injak lu! Gaya-gayaan naik gunung? Yakin lu hh?" Raka memastikan.
"Yee, yakali Eric kalah sama Lidya kampung itu, dia ajah ikut, masa gue laki kagak! Hekm! Gengsi dong!" Sambar Eric percaya diri lalu meraih roti yang sudah di siap kan Ira.
Baskara sempat menangkap gelagat aneh putra bungsunya tapi lelaki itu masih hanya diam menyimak percakapan anak muda saja.
"Eh Beneran, Lidya manis itu, ikutan daki gunung Ric?" Arjuna menyeletuk penasaran saat mendengar nama gadis lugu yang lumayan membuat dirinya mesam-mesem di kamarnya.
"Kenapa emangnya lu?" Sambar Eric dengan lirikan mata curiga.
"Gue ikut," Arjuna kemudian beralih pada Raka "Bro, gue izin dulu rapel dah rapel, gue mau ikut Eric daki gunung!"
"Aaahh, ogah, daki lu ajah tu di gosok! Gue ga izinin!" Serampang Eric menolak.
"Ga papa gue setuju!" Sambung Raka,
Lagi pula sudah berminggu-minggu Arjuna lembur jadi untuk kali ini Raka menuruti.
"Thanks Bro!" Arjuna nyengir kuda tanpa menggubris tatapan protes putra bungsu Baskara
"Iya, ga papa deh sayang, sekalian biar Arjuna jagain kamu! Biar Mami ga khawatir di rumah!" Timpal Irma.
Eric mendengus tak ikhlas sepertinya semua orang membela Arjuna "Serah!" Ucapnya ketus.
Sejatinya Eric sempat melihat gelagat aneh saat Arjuna menatap dalam diam Lidya kemarin malam. Bisa di pastikan ikutnya Arjuna karena adanya Lidya yang juga ikut "Dasar buaya darat! Udah Om Om, bukanya nikah malah nyecer cewek desa lu!" Batin Eric.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih bersambung, ....