Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Problematika.



Rintikan hujan berangsur reda, suara air yang menghujam genteng berganti dengan suara kodok yang bernyanyi seolah gembira.


Sedang Hayu masih terperangah dengan lamaran pemuda tampan di hadapannya, melihat itu Murad kembali meraih tengkuk Hayu dan mendaratkan bibirnya di sana sekali lagi "Emmph!" Pekik tertahan Hayu, kali ini gadis itu meronta dengan memukuli bahunya.


BRAK!


Pintu utama rumah sederhana itu terbuka membuat Murad menghentikan aktivitasnya seketika itu juga lalu keduanya menoleh secara bersamaan ke sumber suara, terlihat di ambang pintu beberapa orang berdiri melotot ke arah mereka.


"Hayu!" Sentak pemuda hitam manis yang agaknya masih seumuran dengan Murad bersamaan dengan wanita yang sepertinya ibunya.


"Kalian berbuat seperti ini di sini Hayu!" Tambah wanita itu memekik.


Murad merotasi kan matanya menyisir setiap wajah orang-orang di hadapannya, rupanya ada dua orang pria yang membuatnya lebih tenang.


"Pak Rahmat, Miko, apa yang mereka giring ini sepupu dan bibi Hayu?" Sisi batinnya karena sebelumnya Murad sudah menyuruh Rahmat mengurus sesuatu di belakang.


Sedang Hayu masih membelalakkan matanya dengan tubuh yang bergetar hebat, ketakutan "Budhe Jenar." Celetuk nya pada wanita itu.


Tangan wanita itu melayang di udara sepertinya sudah mau mendarat di pipi mulus keponakannya "Tante!" Dengan sigap Murad mencekal.


"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya dengan cara seperti ini!" Ucap Murad penuh tekanan.


"Kamu siapa?" Jenar beralih pada Murad lalu melihat pemuda kota itu dari atas hingga bawah "Oh, jadi kamu yang tadi pagi di gosip kan warga? Kamu pemuda kaya yang dulu menghamili keponakan ku? Dasar pemuda kota tidak tahu sopan santun, seenaknya saja menyentuh gadis yang belum kamu nikahi!" Pekiknya melotot.


"Hayu bisa jelasin budhe." Sambar gadis itu kalang kabut.


"Rak ene seng perlu di jelaskan Hayu, semuanya sudah jelas, kamu bawa cah ganteng ini masuk ke rumah, terus, ..." Jenar menghentikan cerocosan nya.


"Wes saiki cepet ndang di resmikan dari pada terjadi zina lagi. Kamu kan tahu Yu, Budhe gak melarang mu menyukai pemuda, umur mu juga wes cukup menikah Yu. Jadi buat apa pacaran seperti ini hah?" Pekik nya lagi.


"Tapi budhe." Hayu mencoba meluruskan ke salah pahaman yang terjadi tapi belum rampung dia berucap wanita paru baya itu sudah lebih dulu menimpali.


"Tapi apa? Koe bener bener lebih seneng zina dari pada menikah?" Tukas nya.


"Budhe, tapi dia bukan pacar Hayu!" Sangkal gadis itu menggeleng.


"Oooh, jadi bukan pacar? Jadi dia mencoba memaksa mu Yu?" Pemuda hitam manis di sebelah Jenar menyambar percakapan mereka, dia Rendra putra sulung Jenar.


"T-tidak juga Mas, ..." Hayu serba salah.


Bugh!


Satu pukulan mendarat di pipi kiri Murad lalu Rendra menarik kerah baju pemuda kaya itu geram.


"Dasar orang kota tidak tahu tata krama! Beraninya mencium adik sepupu ku padahal bukan siapa-siapa!!" Racau Rendra di sela pukulannya kembali hingga Murad terduduk di sofa sederhana milik Hayu.


"Mas, sampun, jangan Mas." Cegah Hayu yang tak kuasa melihat pemilik hatinya teraniaya, apa lagi Rendra sang preman kampung sudah pasti jotosan nya sangat menyakitkan.


Sedang Murad sengaja pasrah tak menangkis atau sekedar menghindari pukulan dari Rendra, dia tahu Hayu yang akan menghentikan aksi sepupunya.


Jenar menghalangi Hayu "Kamu bilang dia bukan pacar mu! Wis ben sekalian babak belur wae!" Pekik nya enteng.


"Tapi, kasihan budhe, ..." Hayu berusaha menarik t-shirt Rendra yang sudah menjatuhkan Murad, pukulan demi pukulan masih terus berlangsung di atas sofa.


Miko dan Rahmat sempat ingin melangkah maju hendak menolong tapi tangan Murad memberi tanda untuk tidak ikut campur.


"Terus saja Rendra hajar orang kota ini supaya kapok!" Tambah Jenar dengan nada geram yang menggertak kan giginya.


"Sudah Mas sampun, jangan, iya, dia pacar ku, nggih, setelah ini kami menikah." Hayu meracau saat mencoba menarik laki-laki itu dari tubuh Murad sebelum kakak sepupunya benar-benar membuat Murad babak belur.


Mendengar itu Rendra lalu beralih pada Hayu "Kamu bilang dia bukan pacar mu!" Tanyanya memekik terbawa emosi.


"Maaf Mas, tadi Hayu asal bicara saja. Sebenarnya dia ke sini mau melamar Hayu." Hayu beralasan, tapi memang benar itu tujuan Murad mendatangi nya.


Rendra beralih lagi pada Murad yang masih rajin menyeka bibir berdarah nya "Bener begitu? Koe mau menikahi adik sepupuku hah?!" Tanyanya tegas.


Lalu Murad mengangguk pasti "Iya Mas!" Jawabnya mantap, bibirnya tersenyum melirik ke arah Hayu yang sepertinya tidak tega melihat kondisinya sedikit meringis kesakitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jakarta, masih di hari dan waktu yang sama seorang pria tengah memainkan tangannya di atas setir mobil mewah berwarna hitam mengkilap.


"Tega kamu menikahi Pinkan! Sekarang kembalikan putri ku Raka!" Kalimat dari jandanya terngiang di telinga Raka.


"Awas kamu Raka! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan mu bahagia di atas kesakitan ku!"


"Ah! Sial!" Raka memukul setir dengan geram kala mengingat ancaman dari jandanya.


Pria itu lantas memutarkan setir sebab mobil itu sudah harus terparkir di garasi luas padat kendaraan mewah di sisi rumahnya. Kemudian turun dan berjalan gontai memasuki kediaman keluarganya.


Keadaan rumah itu sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 22:00, beberapa hari ini Raka memang sering pulang malam karena sebuah tuntutan dari tugas terakhirnya sebagai direktur keuangan. Raka harus memastikan bahwa divisi keuangan sedang tidak rancu saat ia menyerahkan posisinya pada Murad.


Tiba di kamar, sang istri dan putrinya sudah bergumul dalam satu selimut mungkin juga sudah terlelap tidur, terlihat lampu di kamarnya sudah di matikan hanya mengandalkan lampu tidur di atas nakas saja yang berpendar remang-remang.


Langkah Raka langsung menuju kepada meja kerja di kamar tersebut ia meletakkan ponsel tas laptop lalu dompet miliknya di atas sana. Sebelum kemudian ia memasuki kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Dua puluh menit berselang, Raka keluar lalu mengganti pakaiannya dengan piyama, ia pun menaiki tempat di mana anak dan istrinya sudah terlelap tidur.


Raka berbaring miring tepat di sebelah tubuh isterinya. Dikecupnya lembut pipi putrinya lalu bibir istrinya penuh kasih sayang, sejenak matanya menatap kedua perempuan miliknya, alangkah bahagia hidupnya saat ini memiliki dua wanita cantik penyemangat hari harinya.


"Semoga bahagia selalu menyertai kalian." Raka mengecup sekali lagi pipi isterinya yang ternyata membangunkan wanita cantik itu.


Bibirnya tersenyum menyambut terbukanya netra sang istri "Malam sayang." Bisiknya.


"Daddy," Pinkan masih mengerjap sambil mengernyit "Kamu baru pulang?" Tanya Pinkan sembari mendekati pria tampan itu, meraih bibirnya dan menyatukannya kembali cukup lama, karena rindu.


"Mau kopi? Makan? Atau apa?" Sebisa mungkin Raka ia layani sendiri meskipun pelayan berderet di rumah mertuanya.


"Gak, ..." Raka berucap lirih dengan raut wajah yang sedikit sendu.


"Kamu kenapa Yank? Ada masalah di kantor?" Tanya isterinya saat melihat ekspresi tak biasa di wajah suaminya.


Pinkan menggeliat saat Raka menggesek manja tangannya dengan bulu-bulu tipis di pipi "Geli Yank, kamu udah mulai tumbuh lagi loh, cukur gih, risih." Protesnya.


"Hmm." Respon tak biasa Raka kembali terdengar, biasanya pria itu selalu menggoda ataupun sekedar meminta jatah tapi kali ini terkesan sendu.


"Kamu kenapa Yank?" Ulang Pinkan sekali lagi mengusap wajah tampan suaminya.


"Kamu sudah telat belum?" Tiba-tiba saja Raka menanyakan itu dengan nada lirih penuh harap.


Pinkan mengernyit lalu menggeleng "Belum, baru ajah aku datang bulan. Jadi malam ini jangan berharap dulu, Mommy lagi gak bisa." Ucapnya terkekeh.


"Huuuff!" Raka menghembus napas pendek seperti tidak suka lalu berbalik dan berbaring membelakangi isterinya.


Pinkan mengernyit heran melihat sikap tak biasa suaminya "Kamu kenapa sih hm? Kamu mau?" Pinkan menawarkan sesuatu mungkin saja bisa dengan cara lain dia membantu.


Raka berdiam diri sejenak lalu membalikkan badannya ke arah Pinkan kembali, kini keduanya saling berkonfrontasi "Kamu mau?" Tanya isterinya lagi.


"Bukan itu,"


"Lalu?"


"Kenapa lama sekali hamil nya? Ini pasti karena kita lama menunda nya." Nada Raka terdengar kecewa pada isterinya.


Sontak Pinkan berkerut kening mendengar ucapan suaminya "Jadi kamu lagi nuntut anak dari ku Yank?" Tanyanya.


"Lalu apa lagi? Bukannya kita menikah mau punya keturunan hmm?" Pikiran yang masih bercelaru membuat Raka tak sengaja mengucapkan itu.


"Ya sabar dong, kita ajah baru delapan bulan menikah, kita juga baru usaha beberapa bulan terakhir, aku tahu aku akan segera lulus tanpa hambatan makanya sebelum itu aku setuju untuk kita program hamil, tapi gimana dong, memang belum di kasih Raka." Pinkan sedikit menekan kata katanya kecewa.


Raka menghela napas panjang dan Pinkan tahu pria itu sedang menahan sesuatu di dadanya.


"Kamu marah padaku?" Tanya Pinkan memojokkan.


"Ck!" Bibir Raka berdecak "Mana bisa sih aku marah padamu Yank!" Meski berucap demikian tapi kenyataannya nada Raka penuh tekanan.


"Ya kamu gak biasanya begini, kamu mulai menuntut sesuatu dari ku, kita baru delapan bulan menikah tapi kamu sudah menuntut begitu, gimana kalo ternyata sampai dua tahun aku belum bisa hamil? Kamu mau menikah lagi hh? Apa jangan-jangan kamu lagi membanding kan aku sama Miska yang langsung bisa ngasih kamu keturunan begitu?" Jawaban Pinkan panjang lebar, kebiasaan perempuan memang suka sekali mengutarakan apa yang dia pikirkan saat itu juga.


"Aku, ..." Belum selesai ucapan Raka Pinkan sudah membalikkan badannya ke arah Baby Zee kembali, memeluk gadis mungil itu lalu memejamkan matanya, ada rasa panas di dasar hatinya yang membuat dadanya terasa begitu sesak. Problematika pernikahan memang tak jauh dari anak, dan ternyata sedangkal itu pikiran Raka di mata Pinkan saat ini, kenapa tidak mau lebih bersabar lagi? Pikir wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Monggo di Like dulu 🤗