
Tanggal 16 November kemarin, bertepatan dengan acara nujuh bulanan Hayu Diajeng yang di gelar di kediaman keluarga Baskara.
Syukurlah acaranya berjalan dengan lancar tanpa kendala, sekarang giliran ibu satu anak ini beristirahat setelah lelah ikut sibuk di acara adik iparnya.
Pinkan cemberut lantaran dirinya kerap mendapat ledekan dari teman juga kerabat dekat nya gemukan, sedari tadi wanita itu tiada lepas memandangi cermin yang menampilkan bayangan tubuh berisi nya.
Pinkan tak mengelak akhir-akhir ini dia memang sulit sekali menjaga pola makan, pagi siang sore malam makan karbohidrat kadang lebih dari empat kali, belum lagi ngemilnya yang terus tak mau berhenti.
Pinkan sadar mungkin pengaruh dari itu tubuhnya mulai gemukan "Sayang, ..." Dari belakang sentuhan lembut merembet ke perutnya.
Sekarang keduanya menatap ke arah yang sama yaitu cermin besar di sisi kamarnya.
"Raka."
"Hmm?"
"Apa menurut mu aku gemukan? Apa menurut mu aku tidak cantik lagi? Apa menurut mu aku, ..."
"Kamu makin seksi." Celetuk Raka seraya mendusel ke leher jenjang nan mulus milik isterinya, menghirup sedalam mungkin aroma damai dari wangi terapi yang Pinkan lakukan setiap hari.
"Ck!" Pinkan berdecak.
"Raka!" Pinkan melepas rengkuhan laki-laki itu lalu berjalan cemberut menuju sofa, tak ayal, wanita memang cepat gulana ketika banyak orang membicarakan postur tubuhnya.
"Kamu kenapa sih hmm?" Raka mengekor di belakang kemudian duduk di sebelah kanan isterinya.
"Orang-orang bilang aku gemukan, apa menurut mu juga begitu? Aku tidak cantik lagi kan?" Sudut Pinkan.
Raka tersenyum "Cantik itu bawaan dari lahir sampai usia tua, mau dia gemuk, mau dia kurus, mau dia ramping, cantik ya tetep cantik! Ga ada ngaruhnya." Jelas nya.
Pinkan terdiam dengan bibir yang masih merengut, tapi syukurlah meskipun dia mengalami perubahan bentuk tubuh, Raka justru semakin menunjukkan rasa cintanya.
Pagi hari sebelum ke kantor Raka sempat kan membuat sarapan juga menyuapinya, hampir di sela kesibukannya tiada luput dari membuat isterinya bahagia, lalu apa lagi masalah nya? Pinkan merenung.
"Sayang, ..." Setelah beberapa saat hening Raka memberanikan diri untuk membuka suara kembali, sesungguhnya ada suatu hal yang ingin sekali dia bicarakan akan tetapi ragu pria itu ungkapkan.
"Hmm?" Pinkan menoleh menghiraukan suaminya.
"Kamu sadar ga, bukan cuma tubuh mu saja yang mengalami perubahan? Tapi, tingkah laku mu juga berbeda, sekarang kamu jadi lebih sering moody, suka aneh-aneh mau nya, kemarin saja masa kamu suruh aku nyium pipi janda tua depan komplek! Kan aneh!" Ujar Raka, sebisa mungkin untuk dirinya mencari kata-kata yang tidak membuat isterinya tersinggung.
"Ya abis gimana, emang maunya begitu! Bukanya kamu seneng di suruh nyium cewek lain? Jarang-jarang loh ada istri nyuruh suaminya nyium cewek lain." Balas Pinkan enteng.
"Ya kalo nyuruh nyium cewek lain yang muda'an dikit ngapa Yank, masa yang pipinya udah keriput begitu? Aku takut kulitnya kebawa kan kasian." Nyengir kuda Raka.
"Uuhh, maunya!"
"Yank, .." Raka berusaha sekali lagi mengutarakan isi hatinya meskipun masih takut menyakiti isterinya.
"Apa sih? Dari tadi kamu tuh aneh!"
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan? Selama beberapa bulan ini jatah Daddy lancar kan, ga ada drama datang bulan padahal biasanya kamu menstruasi setiap memasuki Minggu pertama, tapi ini sudah Minggu ke tiga tapi belum juga menstruasi." Ujar Raka dengan nada sehalus mungkin.
"Iya lalu?"
"Mungkin saja kamu hamil sayang, bisa jadi kan, hmm?"
Pinkan terkikik "Hamil? Yang benar saja, masa iya hamil ga ada drama mual muntah, ngidam aneh-aneh kayak yang orang-orang bilang itu."
"Justru kamu ga normal Yank, kamu terbiasa menjaga pola makan, mungkin setelah ngidam justru berlawanan dengan kebiasaan mu." Potong Raka.
"Coba deh, inget inget lagi, kapan terakhir kali kamu menstruasi, terus kita suruh Hera periksa kamu, kamu mau kan Yank? Kemarin Hayu juga Hera yang periksa, meskipun dia bukan dokter spesialis kandungan, tapi dia dokter terbaik loh, ngapain jauh-jauh ya kan?"
Pinkan mendadak cemberut mendengar desakan suaminya, sepertinya wanita itu mulai tak suka dengan arah pembicaraan mereka.
"Kamu tersinggung lagi hmm? Maaf, tapi, ..."
"Aku ngantuk Raka." Pinkan memotong ucapan suaminya "Bisa lain kali saja kan ngomongin ini nya?" Tanyanya.
Raka mengangguk "Sekarang istirahat lah." Dia elus kepala isterinya penuh kasih sayang, mungkin begitulah sifat Pinkan yang keras kepala dan terlalu naif dengan mempercayai satu sumber saja, tak heran jika dengan mudah Miska menipunya mentah-mentah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang harinya, Raka dan Pinkan menghadiri sidang keputusan majelis hakim yang pada akhirnya berpihak padanya. Beberapa Minggu lalu Raka mengajukan duplik yang merupakan jawaban tergugat atas replik penggugat.
Pengacara handal Raka sudah lebih yakin karena di tahap pembuktian kemarin, dia mengeluarkan beberapa rekaman kejahatan yang Miska lakukan.
Juga menghadirkan saksi-saksi yang bisa memberatkan penggugat, tak ayal, saksi yang di hadirkan oleh Arjuna ialah ibu-ibu istri dari para pejabat juga pengusaha yang menjadi korban Miska.
Ternyata tidak hanya satu dua direktur saja yang Miska rayu tapi puluhan laki-laki ia rebut dari istri syah nya. Beruntung Raka memiliki asisten personal yang notabene nya seorang Casanova, Arjuna menjadi lebih mudah bergentayangan mencari bukti-bukti yang berpotensi memberatkan Miska di persidangan.
Perlakuan buruk seorang wanita bisa membuatnya kehilangan hak asuh sepenuhnya. Lagi pun, terbukti kondisi Zee terawat juga sehat dalam asuhan ayahnya. Dari awal Raka sudah yakin sekuat apa pun Miska menggugat, Zee takkan pernah lari dari tangannya.
"Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga, selamat ya Bro, Baby Zee tetap berada di tangan lu!" Ucap Arjuna menepuk pelan pundak sahabatnya.
"Terimakasih atas bantuan lu selama ini Juna, gue banyak utang budi ke lu!" Sambung Raka dengan senyum haru nya.
"Pinkan!" Suara keras menggema di koridor pengadilan agama tersebut, Miska dengan cepat melangkah kesal ke arah Pinkan yang kini menggendong Zee di ujung sana.
Greek!
Wanita itu menarik rambut panjang milik Pinkan geram "Dasar perempuan ga tau diri kamu! Perempuan murahan! Perebut suami orang! Penggoda suami orang!" Sarkas nya berteriak histeris.
Zee ketakutan, bayi itu menangis kejang mendapati ibunya di serang ibu kandung yang tak pernah ia kenali.
Pinkan tak melawan bukan karena tidak mau, dia lebih memilih melindungi Zee dalam dekapan nya.
"Miska!!" Raka dan Arjuna berlari ke arah mereka.
Arjuna menarik tubuh Miska dari Pinkan sedang Raka memeluk erat isterinya memberikan perlindungan.
"Ah aw, aw, sakit Daddy, perut ku. Hiks." Pinkan meringis sambil memegangi perut yang tiba-tiba keram.
"Kamu kenapa hmm?" Raka semakin panik.
"Sayang, ..." Mata Raka membesar saat melihat darah dari pangkal paha isterinya mengalir hingga ke betis, sepertinya kecurigaan nya memang benar, Pinkan sedang mengandung.
Miska masih meracau dalam dekapan Arjuna "Pengawal!" Laki-laki itu berteriak dengan geramnya sambil mencengkram tubuh wanita itu.
"Lepas!" Miska histeris masih ingin menyerang mantan sahabat baiknya.
"Siap Tuan!"
"Bawa jallang ini, lempar ke hutan yang tidak berpenghuni sekalian! Segera!!" Titah Arjuna berteriak saking geramnya.
Empat orang membawa Miska entah kemana arah tujuannya, mungkin hanya dengan cara itu saja Miska tidak lagi berani mengganggu mantan suaminya.
Arjuna kemudian mengejar Raka yang sudah berlari lebih dulu membawa isterinya menuju mobil. Arjuna tahu, pasti terjadi sesuatu pada Nyonya muda nya. Terlihat di sana Zee menangis dalam gendongan Nara si pengasuh.
Raka mendudukkan tubuh isterinya di jok belakang, lalu dirinya juga duduk di kursi sebelahnya sementara Nara duduk di kursi bagian depan dan Arjuna mengambil alih kemudi.
"Jalan! Ke rumah sakit! Cepat!" Gusar Raka, tangannya menggenggam erat tangan isterinya penuh kecemasan, dalam perjalanan Zee menangisi ibu tirinya yang terlihat sangat kesakitan.
Mobil berjenis MPV itu melaju sangat kencang tanpa menakuti penumpang nya, Raka justru terus menitah kan Arjuna untuk menambah kecepatan.
Tak ada dua puluh menit mobil hitam mengkilap milik Raka sudah memasuki halaman parkir rumah sakit elit "Bertahan sayang."
Pinkan di bawa masuk dengan ranjang pasien dan langsung menuju kelas presiden suite room sementara Arjuna mengurus administrasi agar segera mendapat penanganan.
Satu dokter masuk memeriksa kondisi pasien kemudian menyuntikkan pereda nyeri hingga kini Pinkan berangsur tenang. Darah yang mengalir dari pangkal paha sudah dokter bersihkan sekaligus mengganti pakaian Pinkan dengan busana steril pasien.
Tak lama dari itu satu pria berpakaian tim medis mendorong troli memasuki ruangan presiden suite room tersebut, rupanya kali ini Dokter memerlukan alat Ultrasonografi (USG) untuk memastikan kondisi pasiennya.
Setelah itu Raka di persilahkan masuk ke dalam ruangan isterinya "Sayang, are you Okay?" Pinkan mengangguk, sudah lebih baik.
"Syukurlah." Ucap lega Raka kemudian beralih kepada dokter wanita itu "Ada apa dengan istri saya Dok?" Tanyanya.
"Istri anda tidak apa-apa Tuan. Tapi saya sangat menyayangkan sekali kenapa harus terjadi seperti ini? Untung benturan nya tidak kuat, syukurlah bayi dalam kandungan Nyonya tidak apa-apa." Ujar dokter Aryana.
"Apa?" Raka terkejut dan Pinkan bersamaan.
"Bayi Dok? Maksud dokter saya hamil?" Tanya Pinkan memastikan dan Raka sudah mengembangkan senyuman bahagia.
"Apa kalian belum mengetahuinya?" Sambung Aryana setelah menangkap raut kejut sepasang suami istri itu.
"Bayinya bahkan sudah bisa di lihat jenis kelaminnya karena di perkirakan dari perkembangannya bayi laki-laki anda sudah masuk ke Minggu dua puluh."
"Alhamdulillah. Laki-laki Dok?" Celetuk spontan Raka dengan binar bahagianya, kecurigaannya selama ini terjawab sudah, untungnya dia selalu menjaga isterinya dengan sangat hati-hati.
"Iya Tuan, bayi anda laki-laki." Jawab Aryana lagi membenarkan.
Sungguh, tak bisa di ungkapkan lagi bagaimana bahagianya Raka Cyril saat ini, setelah lama menanti akhirnya berita akan hadirnya penerus tahta sudah menampakkan figur nya.
"Tapi Dok, apa mungkin itu terjadi, saya saja tidak mengalami mual muntah bahkan pusing seperti yang terjadi pada kebanyakan wanita hamil." Tampik Pinkan sementara Raka hanya menyimak percakapan kedua wanita itu.
"Saya tahu, itu memang bisa terjadi di sebagian ibu hamil, meskipun hanya sedikit saja yang tidak bisa menyadari adanya makhluk lain dalam rahimnya, karena beberapa faktor. Mungkin karena tidak adanya perubahan yang signifikan atau bisa jadi pengaruh dari sikologi ibu hamil itu sendiri." Jelas dokter wanita itu menerangkan.
Raka masih mengembangkan senyum bahagia namun masih hanya menyimak saja percakapan keduanya, sepertinya raut wajah Pinkan masih tak percaya dan biarlah sang dokter yang akan meyakinkan isterinya.
"Tapi Dok, sekitar delapan bulan lalu saya periksa di sini dengan dokter yang berbeda saya di vonis interfilitas anovulasi, itu sebabnya saya sudah tidak lagi punya harapan untuk hamil." Sambung Pinkan.
"Oya?" Aryana lumayan menampilkan kerutan di keningnya, pasalnya tidak mungkin dokter-dokter di rumah sakit elit itu melakukan diagnosa yang salah, mereka semua yang bekerja di sana adalah dokter-dokter pilihan.
"Delapan bulan lalu, tapi ngomong-ngomong siapa dokter yang melayani anda saat itu?" Tanyanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Terimakasih dukungannya, silahkan yang sudi mampir juga ke karya baruku.