Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Bandara²




"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Surabaya please boarding from door A12, Thank you."


Suara yang saat ini terdengar di telinga Murad bersamaan dengan reriuhan dari ribuan manusia yang membawa tas koper menampilkan raut wajah mereka masing-masing.


Bandara Soekarno Hatta, yah, saat ini Murad sudah berjalan tampan keluar dari Starbucks yang berada di bangunan padat manusia itu, udara berpolusi sebentar lagi sudah bisa pemuda itu hirup.


Delapan bulan berlalu begitu saja, Ada duka yang bersembunyi dibalik tawa yang membahagiakan pemuda tampan itu selama ini. Layaknya bumi, perasaan pun selalu berotasi. Bumi akan mengalami pergantian siang dan malam. Tinggal bagaimana manusia mendekat untuk saling berharap atau mendekat untuk saling melupakan.


Murad Earl, kini pemuda itu sudah menyandang gelar yang ia gali selama satu tahun ini, namun di sela kesibukan belajarnya Murad masih terus memantau kabar gadis desa yang selama delapan bulan ini menjadi bahan pemikirannya, siang malam pagi sore Murad selalu mendapat kabar terbaru Hayu Diajeng, sekedar mengobati rasa bersalahnya.


Setelah berjam-jam berada dalam pesawat, Murad sempat memutuskan untuk berhenti sejenak menikmati kopi dengan asisten pribadi dan asisten rumah tangganya. Lalu sekarang ketiganya sudah menuju lobby bandara, di mana kedua saudara Murad sudah menjemput dengan binar rindu di matanya.



"Bang Murad!" Tempik pemuda manja itu berlari menghambur menerjang tubuhnya "Eric kangen elu Bang, lu kenapa gak mau angkat telepon gue sih hah! Lu serius gak nganggep gue adik elu lagi?" Ujarnya dengan nada rindu.


Murad tersenyum lalu membalas pelukan pemuda manja itu, meskipun dingin pada orang yang belum dia kenal tapi Murad termasuk pemuda yang hangat pada keluarganya "Gue takut lu minta oleh-oleh yang bikin gue pusing!" Jawabnya.


"Dasar kakak durhaka lu!" Umpat Eric dengan kaca-kaca di matanya, rindu "Bungsu cengeng!"


"Heh!" Dari belakang Eric suara pekikan congkak terdengar membuat keduanya menoleh dan menatapnya. Di lihatnya Abang tertua mereka menatap tajam wajah adik pertama nya.



Bugh!


Satu jotosan mendarat di perut pemuda tampan itu "Bang! Lu gila hah?" Eric memekik Raka yang meninju Abang lainnya. Dan itu sempat menyedot perhatian orang orang di sekitar sana.


"Sudah hebat lu hah?! Dasar pecundang! Masih butuh duit dari gue! Tapi belagak marah! Kayak udah bisa ngehasilin duit sendiri ajah lu hah!" Tempik Raka dengan satu jotosan lagi di perut Murad.


"Ampun, Bang, ..." Murad meringis sambil membungkuk memegangi perutnya, lalu mendongak memberi senyum pada abangnya, membuat ketiga bersaudara itu tertawa renyah bersamaan. Persaudaraan mereka takkan pernah putus meskipun selama beberapa bulan ini tak saling berkomunikasi, sesungguhnya mereka saling merindu satu sama lain.


"Dasar bodoh! Kulkas konslet!" Umpat Raka pada adiknya dengan tangan yang menampik kepala pemuda itu "Sekarang kita pulang!" Ajaknya lalu Murad mengangguk, setelah itu ketiganya berjalan saling merangkul menuju mobil yang Raka bawa. Sedang Miko dan Ira menuju mobil yang Eric bawa setelah pemuda manja itu memberikan kunci padanya.


Murad duduk di kursi depan sedang Eric duduk di kursi belakang, dan Raka yang mengambil alih kemudi, mobil mewah itu bergerak dengan laju sedang. Di sepanjang perjalanan, pandangan Murad menyibak seluruh gedung tinggi yang sudah sedikit bertambah padahal baru ia tinggal satu tahun saja. Tanah air tercinta masih menjadi kebanggaan nya meskipun polusi di mana mana.


"Gimana kabar Pinkan Bang?" Tanya Murad membuka obrolan, lama juga dia tak mendengar kabarnya.


"Alhamdulillah, dia sudah wisuda, sekarang dia sudah dalam program hamil, secepatnya Baby Zee dapat adik baru." Jelas Raka tersenyum, sesekali melirik sekilas ke arah Murad mengamati raut wajah adiknya yang agaknya sudah tak cemburu padanya.


"Alhamdulillah, semoga cepat ada lagi Baby di rumah kita." Sambung Murad. Sedang di belakang Eric masih sibuk dengan ponselnya sendiri, membalas satu persatu pesan teks dari para fans nya.


Klik, pesan teks yang Murad terima di ponselnya dan langsung ia buka, sudah delapan bulan ini nomor itu kerap sekali menghubungi nya.


📩 "Hari ini Nona Hayu tidak masuk kerja Tuan, sepertinya sakit."


📨 "Suruh isteri mu besuk, cari tahu sakit apa dia." Balas nya dengan raut serius.


Lalu Raka melirik penasaran ke arahnya "Siapa? Pacar mu?" Tanyanya.


"Hah?" Murad menoleh kikuk lalu menyisipkan gawai tipisnya ke saku jaketnya "Bukan, dia kepala cabang pabrik Papi di Solo." Jawabnya jujur.


"Kepala cabang? Sejak kapan lu berhubungan sama orang orang Papi?" Raka mengerutkan keningnya tambah penasaran.


"Sudah lama, sekitar delapan bulan, kayaknya gue tertarik mengunjungi pabrik anakan Papi di Solo, bila perlu tempat kan saja gue di sana, boleh kan?" Pinta Murad.


"Mau ngapain? Setelah ini lu yang akan langsung gantiin posisi bang Raka. Lu sekolah jauh-jauh buat bisa duduk di kursi management top level, bukan kantor cabang!" Sambung Raka setengahnya menolak.


"Sementara ajah, lagian, gue mau bekerja dari bawah dulu, buat pengalaman." Kilah Murad beralasan, padahal sudah ada udang yang bersembunyi nyaman di balik bebatuan.


"Terserah, tapi perlu izin dari Papi juga. Meskipun bang Raka sudah akan menduduki kursi nya. Tatap semua keputusan ada sama Papi." Jelas Raka.


Murad hening, sejatinya di setujui atau tidak, Murad akan tetap meneruskan niatnya, pemuda itu memang memiliki pribadi yang kekeh di balik sikap lembutnya, berbanding terbalik dengan Raka yang meskipun ketus tapi punya pribadi yang penurut.


Sekitar satu jam setengah ketiga putra Baskara berada di bawah atap mobil yang sama, kini ketiganya sudah turun dan berjalan memasuki rumah besar milik ayahnya.


"Surprise!!" Di dalam keluarga lainya menyambut kedatangan Murad dengan raut rindu masing-masing.


Murad mengedarkan pandangan ke seluruh wajah keluarga besar Baskara yang sudah bertambah satu, di lihatnya Pinkan menggendong gadis mungil yang sangat cantik, juga ayah ibunya beserta seluruh asisten rumah tangga di rumah itu menatap senyum ke arahnya.


"Selamat datang Om ganteng!" Baby Zee sudah seceta itu bicaranya.


"Jadi kamu keponakan Om yang dulu ngompol di celana Om huh?" Sapa Murad lalu mengambil alih gadis itu dari gendongan Pinkan.


"Apa kabar Murad?" Tanya Pinkan tersenyum manis padanya.


"Alhamdulillah, baik." Jawab Murad yang juga tersenyum, entah kenapa sudah tak ada rasa lain seperti yang dia rasakan satu tahun lalu kala pertemuan terakhir mereka di kampus waktu itu, bukankah sudah di katakan perasaan manusia juga bisa berotasi tidak terkecuali Murad Earl putra Baskara.


Murad beralih pada Zee "Berapa umur mu Baby?" Tanyanya berhadap-hadapan dalam gendongannya "Dua tahun dua bulan dua hali dua jam lebih dua menit Om." Jawab gadis itu nyengir.



Murad menautkan wajahnya pada hidung gadis itu, gemas "I miss you Baby." Ucapnya terkekeh.


Sejenak keluarga itu melepaskan rindu pada putra kedua Baskara, Irma dan Baskara sendiri sudah sering mengunjungi Murad di Inggris jadi rindu mereka tak sebesar Eric dan Raka yang baru berjumpa setelah satu tahun lamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Terimakasih like nya 🤗